Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Minum Bersama Duan Mu


__ADS_3

“Sudah dua kali aku melihatmu,” ucap Duan Mu dengan santai. Dia tidak terlihat seperti seorang musuh. Meskipun begitu Qing Yue'er tidak bisa melepas penjagaannya.


“Dua kali?”


Duan Mu mengangguk. “Pertama, yaitu ketika ibumu mendorongmu masuk ke Jurang Iblis. Saat itu aku pikir kamu tidak akan bisa keluar lagi. Lagi pula kamu masih sangat lemah, saat itu. Namun, ternyata aku menilaimu terlalu rendah. Kamu jelas tidak sepolos kelihatannya.”


Qing Yue'er cukup terkejut mendengarnya. Saat itu di dia pikir tidak ada orang lain, hanya ada dia dan ibunya. Namun, orang tua ini bisa mengetahui tentang kepergiannya ke Jurang Iblis. Mungkin benar orang ini memang melihatnya.


“Dan belum lama ini aku melihatmu mengendalikan Taotie. Hah, betapa luar biasanya itu?” Duan Mu terkekeh. Sebenarnya dia juga terkejut karena Qing Yue'er ternyata datang ke Celestial di tahun ini. Itu sedikit terlalu cepat menurutnya.


Dan yang tidak kalah mengejutkan adalah gadis itu berani melawan klan Liu. Bahkan, dimulai di hari pertama kepulangannya. Ini adalah gerakan yang besar. Orang-orang Celestial pasti mencoba mengorek identitas Qing Yue'er.


Memang, ini terlalu mencolok. Mungkin bukan hanya orang Celestial saja yang ingin tahu tentang Qing Yue'er. Pengadilan Surgawi juga bisa saja ingin mengetahui satu dua hal. Tidak tahu ini hal baik atau buruk, tapi karena dia masih termasuk kerabatnya maka dia mungkin akan memberikan beberapa kata.


“Ngomong-ngomong selamat untuk kemenanganmu,” ucap Duan Mu. Kemudian dia mengambil guci anggur yang selalu digantung di ujung tongkatnya. “Mau minum denganku?”


Qing Yue'er sedikit ragu. Kemudian Duan Mu terkekeh sebelum berkata, “Aku bukan orang jahat.”


Akhirnya Qing Yue'er mengangguk dan saat itu juga pandangannya menjadi kabur. Sesaat kemudian dia sudah tiba di tempat yang berbeda. Sebuah kediaman sederhana yang berada tak jauh dari sebuah jurang. Dari sana Qing Yue'er bisa mendengar suara aliran air dari dasar jurang itu. Mungkin di bawah sana ada sungai yang jernih.


Apa yang membuat Qing Yue'er merasa akrab adalah keadaan dan pemandangannya. Semilir angin menerbangkan helaian rambutnya. Guguran bunga prem yang tampak seringan kapas jatuh mendarat di kepalanya. Benar, dia tidak asing dengan pemandangan ini. Di mana dia pernah melihatnya?


Qing Yue'er berpikir sejenak. Setelah beberapa saat dia langsung menatap Duan Mu dengan mata menyipit. Tidak salah lagi. Ini adalah pemandangan yang terlukis bersama dengan sosok ayahnya di dinding ruangan rahasia ibunya. Darah di dalam tubuh Qing Yue'er langsung berdesir.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kemarilah, ini cuaca yang bagus. Jangan menyia-nyiakannya,” ucap Duan Mu sambil berjalan menuju kediaman yang terbuat dari kayu.


Qing Yue'er mengikutinya hingga mereka berakhir di tempat duduk yang berada di beranda rumah. Dia langsung duduk di sana, di depan Duan Mu.


“Ini adalah anggur yang sangat baik, sangat langka dan sangat mahal. Di dunia ini hanya orang-orang beruntung yang bisa menemukannya, aku termasuk di dalamnya.” Dengan percaya dirinya Duan Mu sedikit membual. “Namun, aku rasa aku harus membiarkanmu merasakannya.”


Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya. Kemudian dia mengambil anggur yang disodorkan oleh Duan Mu. Tutupnya langsung dibuka lalu aroma yang sangat harum dan menenangkan langsung tercium di udara. Ini membuat Qing Yue'er merasa sedikit lebih nyaman. Kelihatannya itu anggur yang bagus.

__ADS_1


Di atas meja tidak ada mangkuk atau sesuatu yang lebih kecil. Jadi, Qing Yue'er langsung mendekatkan bibirnya pada mulut guci. Cairan dingin langsung membasahi tenggorokannya. Rasa manis yang sangat pas terasa tertinggal di lidahnya. Ada juga sedikit rasa pahit, tapi itu justru menambah ciri khasnya.


“Bagaimana?” tanya Duan Mu dengan penasaran.


Qing Yue'er menatap Duan Mu lalu bertanya, “Siapa pemilik rumah ini?”


Duan Mu sedikit mendengus. “Tentu saja aku, siapa lagi?”


Qing Yue'er terdiam. Apa mungkin dia yang salah? Ya, seharusnya kediaman dengan pemandangan indah seperti ini tidak hanya ada satu, 'kan? Mungkin di dunia ini ada beberapa dan ini adalah salah satunya. Tentang lukisan ayahnya ... entahlah.


Orang ini mengaku sebagai pamannya. Paman dari pihak siapa? Tiba-tiba Qing Yue'er menjadi penasaran dengan identitas orang ini.


“Gadis, kamu belum menjawab pertanyaanku,” ucap Duan Mu.


“Ini memang anggur yang bagus,” jawab Qing Yue'er. “Apa namanya?”


“Tidak ada nama, aku tidak tahu. Aku sempat memberinya nama Anggur Ciptaan Dewa, Anggur Surgawi, Anggur Keagungan ....”


Duan Mu terkekeh. “Kamu bertindak seolah-olah hanya orang miskin yang tidak memiliki uang.”


Qing Yue'er diam. Dia menenggak anggurnya lagi. “Pak Tua, siapa namamu? Bagaimana aku harus memanggilmu?”


“Namaku adalah Duan Mu, orang-orang memanggilku Duan Tua. Ya, seperti yang aku katakan sebelumnya, kamu bisa memanggilku paman Duan. Aih, tapi karena aku sudah tua jadi kamu mungkin lebih cocok memanggilku kakek.”


“Jadi, paman atau kakek?” Qing Yue'er mendengus lalu kembali menenggak anggurnya. “Pak Tua, kamu mengenal ibuku?”


Duan Mu mengangguk. “Siapa di sini yang tidak mengenal ibumu? Tentu saja aku tahu dia.”


“Bagaimana dengan ayahku?” tanya Qing Yue'er.


“Aku tidak tahu,” balas Duan Mu dengan singkat. Kemudian dia mengerutkan keningnya sebelum mengalihkan pembicaraan. “Kenapa kamu begitu gelisah? Sesuatu mengganggu pikiranmu?”

__ADS_1


Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. Kemudian dia kembali menenggak anggurnya. Itu sensasi yang sangat menyenangkan. Dia merasa baik-baik saja sekarang. “Hanya sedikit masalah,” ucapnya.


Duan Mu menghela napas. Kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Matanya menerawang ke kejauhan. “Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana ibumu bersikap padamu. Aku rasa dia akan terlalu keras.”


Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di mana Mo Jingtian?


“Seperti bagaimana dulu dia mendorongmu,” lanjut Duan Mu.


“....”


“Tapi seharusnya kamu tidak mempermasalahkannya. Maksudku, aku tahu kamu bisa menyikapi semua ini dengan baik.” Duan Mu menatap Qing Yue'er. “Jadi, kau mendengarkanku atau tidak?”


Qing Yue'er mengangkat kepalanya. “Bisakah aku datang ke sini lagi lain kali?”


Duan Mu menghela napasnya lagi. “Ya, ya, lakukan sesukamu. Lagi pula ini jarang ditempati.”


Qing Yue'er tersenyum senang. Sejujurnya sejak datang ke tempat ini dia merasa nyaman. Semilir anginnya, aroma harum dan manis dari bunga premnya, serta suara riak air di bawah sana. Itu menenangkan kegelisahannya. Lain kali mungkin dia akan datang ke tempat ini lagi.


***


Xie Ying Fei sedang mencoba menyeka pedangnya ketika tiba-tiba kedua bawahan wanita yang dikirim olehnya itu muncul. Dia mengerutkan keningnya. Sepertinya mereka baru pergi sebentar kenapa sudah kembali?


“Nyonya, kami minta maaf ....”


“Apa yang terjadi?”


Kedua wanita itu saling menatap sebelum akhirnya berkata, “Kami tidak menemukan apa-apa. Tidak ada jejak, tidak ada aura.”


Xie Ying Fei sedikit heran. “Tidakkah kalian terlalu cepat? Mungkin kalian kurang teliti?”


“Tidak. Benar-benar tidak ada apa-apa. Semuanya menunjukkan ketiadaan. Pria itu seolah-olah tidak pernah ada di sini, tidak pernah muncul di istana Tianjun,” ucap salah satu wanita dengan yakin.

__ADS_1


Xie Ying Fei langsung terdiam. Kenapa Jing Tian ini begitu misterius? Sebenarnya siapa dia? Semakin memikirkannya membuat dia semakin bingung.


__ADS_2