Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kutukan Dewa Bumi


__ADS_3

“Qing Yue’er!”


Mo Jingtian berlari menuju ke tempat di mana Qing Yue’er jatuh. Namun, permukaan tanah sudah kembali menutup seolah itu tidak pernah terbuka.


Apa yang akan Di Ming De lakukan pada gadis itu? Tanah adalah wilayah kekuasaan dewa bumi. Pria itu bisa melakukan apa saja selama Qing Yue’er berada di bawah tanah.


Memikirkan itu membuat amarah dan kekhawatiran memenuhi hati Mo Jingtian. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Matanya terpejam, lalu berteriak, “Di Ming De!”


“Hahaha ….” Suara tawa Di Ming De menggema di seluruh taman. Melihat betapa marah dan pedulinya Mo Jingtian pada Qing Yue’er membuatnya merasa senang.


“Apa kau takut sekarang? Keselamatan gadismu itu berada di tanganku. Aku bisa meremukkan tulang-tulangnya, ******* dagingnya, dan menghancurkan kepalanya kapan saja.”


Di Ming De membuka dan membuang topengnya dengan sembarangan. Seringaian mengejek lalu muncul di wajahnya. “Mo Jingtian, aku sarankan lebih baik kau menyerah sekarang.”


“Menyerah?” Mo Jingtian tertawa. Namun, dalam sekejap tawanya berubah menjadi dingin. “Kau yang seharusnya menyerah padaku!”


Dengan marah dia mengangkat tangan kanannya. Sebuah bola cahaya emas muncul lalu dia meremasnya dengan kuat. Setelah itu Di Ming De berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya.


“Apa yang kau lakukan, bajingan!”


Mo Jingtian menggertakkan giginya. “Apa yang aku lakukan? Tentu saja menghancurkanmu!”


Remasannya menjadi semakin kuat pada bola cahaya emas di tangannya. Itu membuat teriakan kesakitan Di Ming De menjadi lebih keras.


Di sisi lain, Mo Tianyu tidak hanya diam. Memanfaatkan situasi ketika Di Ming De ditahan, dia segera menghentakkan kakinya ke tanah. Tanah pun mulai bergetar dan terbelah.


Pria tua itu hendak melompat masuk untuk mencari Qing Yue’er. Namun, tiba-tiba cahaya putih melesat keluar dari dalam tanah. Cahaya itu berubah menjadi sosok yang dia khawatirkan.


“Nak, kau baik-baik saja?” Mo Tianyu segera bertanya untuk memastikan.


Qing Yue’er mengangguk. Dia memegang dadanya yang terasa sedikit sesak. “Aku tidak tahu ternyata tanah bisa membelenggu dan menahan seseorang. Kekuatan dewa benar-benar luar biasa,” ucapnya sambil memerhatikan Di Ming De yang tersiksa.

__ADS_1


Saat dia ditarik ke dalam tanah, tubuhnya benar-benar dihimpit dari segala sisi. Kedua tangan dan kakinya seolah dicengkeram erat. Sulit baginya untuk melawan dan melepaskan diri.


Beruntungnya Mo Jingtian segera melawan Di Ming De dan menyiksanya. Kesakitan dewa bumi membuat kekuatan tanah berkurang. Akhirnya dia bisa melepaskan diri dari sana.


“Kau benar. Kekuatan dewa memang luar biasa. Dibandingkan manusia, dewa tidak membutuhkan senjata apa pun karena alam adalah senjata baginya,” sahut Mo Tianyu.


Qing Yue’er menarik napas panjang. “Guru Mo, aku akan membantu Mo Jingtian.”


“Lakukanlah.”


Dengan cepat, Qing Yue’er meluncur ke sisi Mo Jingtian. Tangan kirinya terangkat ke depan lalu busur cahaya berwarna ungu muncul. Itu busur yang dibentuk dengan kekuatan roh.


Tangan kanannya menarik tali busurnya yang kosong. Kemudian anak panah dengan warna yang senada mulai terbentuk dengan indah.


Angin malam berembus meniup pakaian putih Qing Yue’er. Taburan cahaya ungu mengelilinginya dengan indah. Kulitnya yang putih dan halus seperti giok tampak lebih menawan.


Mo Jingtian menoleh lalu tanpa sadar tersenyum samar. “Sangat indah ….”


Whooshh!


Cahaya ungu meluncur secepat kilat ke arah Di Ming De. Pria yang jiwanya sedang disiksa oleh Mo Jingtian itu tidak bisa menghindar. Panah cahaya langsung menusuk jantungnya hingga dia didorong mundur beberapa langkah.


“Kalian … benar-benar keparaattt!”


Qing Yue’er kembali menarik busur panahnya. Kemudian panah ke dua dan ketiga meluncur menusuk masing-masing pergelangan tangan Di Ming De. Tubuhnya terseret ke belakang dan dipakukan ke dinding Istana Guang.


Suara teriakan kesakitan dan amarah Di Ming De menggema di sana. Pria itu benar-benar marah karena telah dikalahkan oleh Mo Jingtian yang tidak memiliki kultivasi dan oleh Qing Yue’er yang jauh lebih muda darinya.


Dia juga murka karena gagal melaksanakan tugas dari Baili Linwu. Tidak ada kultivator di sini dan ritual pengorbanan darah yang telah direncanakan tidak akan bisa dia lakukan malam ini.


Dia menggertakkan giginya lalu tertawa terbahak-bahak. “Mo Jingtian, kau mungkin bisa mengalahkanku dan membunuhku. Namun, masih ada banyak dewa yang akan membantu Tuan Pengadilan Surgawi. Meskipun bukan sekarang, ritual pengorbanan darah itu pasti akan terjadi! Hahaha ….”

__ADS_1


“Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan satu pun darah kultivator dikorbankan demi kekuatan Baili Linwu!”


Mo Jingtian meremas cahaya emas lebih kuat. Di Ming De menjerit. Wajahnya menjadi pucat pasi seperti mayat. Darah merah menyembur dari mulutnya dan membasahi jubah hitamnya.


“Mo Jingtian …. Aku adalah dewa,” ucap Di Ming De sambil tersengal.


“Lalu apa? Kau harus tahu aku sudah banyak membunuh dewa-dewa iblis sepertimu.” Mo Jingtian tersenyum dingin.


Di Ming De menatap Mo Jingtian dengan penuh kebencian. Matanya menjadi merah. “Baik. Karena kau begitu keras kepala, aku akan membuat kematianku melibatkan banyak orang.”


Setelah itu, dia menghentakkan kakinya ke tanah. Mulutnya mengutuk, “Bumi tidak pernah mengkhianatiku. Sejak malam ini, siapa pun yang lewat akan tergoda untuk datang ke tempat ini. Mereka akan tenggelam. Jiwa dan darah mereka hancur dan mengalir seperti sungai. Tidak akan ada yang bisa pergi!”


Tiba-tiba angin berembus kencang. Langit berkilat dan bergemuruh. Bumi terguncang dan tanahnya mulai retak-retak. Semua rumput mengering, pohon-pohon berguguran dan mati.


Qing Yue’er tahu ini pertanda bahaya. Jadi, dia segera menarik Mo Jingtian terbang ke langit. Guru Mo juga segera terbang setelah menarik bunga peony biru yang mencolok.


Mereka mengamati situasi di bawah dengan serius. Halaman taman yang sebelumnya sangat hijau dan indah itu berubah menjadi tanah mati. Keadaan itu terus menjalar dan merambat hingga keluar dari halaman taman.


“Ini tidak baik.” Qing Yue’er mengerutkan kening. Jika itu tidak dihentikan, maka tanah yang mati itu mungkin akan terus menjalar hingga keluar dari Istana Guang.


“Aku akan mencoba menghentikan ini,” ujar Mo Tianyu dengan serius.


“Guru, gunakan Segel Pemutus Delapan Kemalangan. Jangan menginjak tanah di sekitar.”


Mo Tianyu mengangguk. Dia melemparkan bunga peony biru di tangannya kepada Qing Yue’er. Setelah itu sosoknya meluncur pergi untuk menghentikan kutukan Di Ming De yang terus menyebar.


Mo Jingtian dengan dingin meremas dan menghancurkan bola cahaya emas di tangannya. Suara teriakan dan jeritan Di Ming De menggema di tengah kesunyian malam. Beberapa saat kemudian, suara mengerikan itu akhirnya lenyap.


Mereka bisa melihat tubuh Di Ming De yang luruh dan jatuh ke tanah. Tubuhnya secara perlahan dilahap oleh tanah di sekitarnya hingga tak terlihat.


Beberapa saat kemudian, darah merah tiba-tiba keluar dari retakan tanah di sekitar. Itu benar-benar mengalir seperti anak sungai.

__ADS_1


Qing Yue’er tidak bisa berkata-kata melihat situasi itu. Apakah kutukan Di Ming De sang Dewa Bumi benar-benar terjadi?


__ADS_2