
Rombongan klan Gong akhirnya keluar dari istana Tianjun dengan kemuraman di wajah masing-masing. Mereka merasa malu karena baru saja mendapat penolakan. Klan Gong adalah klan besar di Celestial. Siapa yang berani menolak keinginan tuan mudanya? Hanya gadis Qing itu yang berani.
Xie Song menatap Qing Yue'er dengan takjub, tetapi juga ada sedikit kecemasan. “Yue'er, apa ini akan baik-baik saja?”
“Kakek, jangan takut. Jika kita bisa mengalahkan klan Liu itu berarti kita juga bisa mengalahkan klan Gong,” ucap Qing Yue'er dengan tenang. Kemudian dia menatap kakeknya dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan.
“Aku lebih khawatir mereka tidak akan punya tempat untuk pulang,” ucapnya.
Xie Song tidak tahu apa maksud ucapan Qing Yue'er. Saat itu tiba-tiba Xie Ying Fei berlari masuk. Wajahnya terlihat mengkhawatirkan sesuatu. “Kudengar orang-orang klan Gong baru datang ke sini? Mereka mencoba meminang Yue'er?”
“Hais. Kau datang terlambat,” gerutu Xie Song.
“Maaf, aku baru selesai dari meditasi rutinku,” ungkap Xie Ying Fei. Kemudian dia menatap Qing Yue'er. “Bagaimana? Apa kau menolaknya?”
Qing Yue'er mengangguk. Tentu saja dia menolak. Gong Lanjiang calon penerus klan? Apa spesialnya itu? Bahkan Paman Wuqing juga akan menjadi penerus klan. Tidak ada yang menarik bagi Qing Yue'er.
“Aku sudah merasa curiga dengan ucapan Gong Lanjiang saat kita berada di Puncak Awan Abadi. Ternyata anak itu sudah merencanakan ini,” ucap Xie Ying Fei. Dia mengembuskan napas panjangnya, sedikit tidak habis pikir.
Pada saat itu tiba-tiba langit yang cukup jauh dari istana Tianjun menghitam. Bunyi dentuman keras beberapa kali terdengar mengguncang Celestial. Xie Song dan Xie Ying Fei menjadi terkejut. Mereka segera keluar diikuti oleh Qing Yue'er di belakang.
“Apa yang terjadi?!” Xie Song bertanya penasaran. Bunyi dentuman itu terdengar dari arah utara. Dia melihat ke langit utara dan menyaksikan asap hitam yang membubung tinggi dengan begitu tebal.
“Di mana itu? Apa ada kebakaran atau apa?” Xie Wuqing yang baru datang pun merasa terkejut sekaligus heran. Dia mendengar suara dentuman dan merasakan tanah yang sedikit mengguncang. Hal itu menuntunnya datang ke sini.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Xie Song. Kemudian dia pun menyipitkan matanya untuk menelisik apa yang sebenarnya terjadi.
“Itu klan Gong,” ucap Xie Ying Fei tiba-tiba. Kemudian dia langsung menatap Qing Yue'er dengan penuh selidik. “Kau tahu ini?”
Qing Yue'er menggelengkan kepalanya dengan lemah. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sepertinya dia mengerti apa yang sedang terjadi. Hanya saja belum bisa memastikan kebenarannya.
Xie Ying Fei merasa skeptis dengan jawaban Qing Yue'er. Dia menaruh kecurigaan pada seseorang, tetapi tidak berani menyebut nama itu.
Bukan hanya keluarga Xie saja yang merasa terkejut dan heran. Sebagian besar orang di Celestial pun merasakan hal yang sama. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di langit utara, atau lebih tepatnya di klan Gong. Tiba-tiba saja mereka mendengar dentuman dari sana.
Akhir-akhir ini mereka tidak mendengar ada masalah besar di klan Gong. Hanya saja kemarin ada kabar tentang Tuan Muda Gong Lanjiang yang katanya hari ini pergi ke klan Xie untuk mencoba melamar putri Xie Ying Fei. Kalau begitu kenapa tiba-tiba saja mereka menerima serangan?
Tidak ada yang bisa menebaknya dengan benar. Namun, karena banyaknya asap yang keluar membuat mereka berpikir itu adalah kebakaran atau konflik internal. Untuk saat ini semua orang hanya akan menunggu gosip selanjutnya.
Sementara itu, rombongan Gong Lanjiang yang sedang dalam perjalanan kembali, merasa begitu terkejut. Mereka sudah menempuh setengah jarak perjalanan dan hanya setengah lagi dia akan sampai. Namun, mereka tiba-tiba melihat bagaimana ledakan itu terjadi di depan sana.
Mereka melihat bagaimana langit biru mulai terkontaminasi oleh asap hitam. Kemudian asap lebih tebal lagi tampak membubung ke langit.
Karena jarak mereka sudah lumayan dekat, mereka bisa merasakan getaran di tanah secara lebih jelas. Bahkan bunyi ledakan itu sempat membuat mereka merasa pengang.
“Paman, itu ... itu apa yang sedang terjadi?! Bukankah itu arah istana Meide?!” Gong Lanjiang bertanya pada pamannya. Wajahnya menyiratkan banyak ketakutan. Perasaan marah yang sebelumnya disebabkan oleh Qing Yue'er seketika menghilang.
__ADS_1
“Kita harus cepat kembali!” Gong Liufeng mendapatkan firasat buruk. Sepertinya ada hal besar yang terjadi di istana Meide.
Akhirnya rombongan mereka langsung bergegas cepat kembali. Ketika sudah tiba di sana, semua orang tidak bisa tidak tercengang. Istana yang mereka tinggal dalam keadaan baik-baik saja kini sudah tidak bisa lagi digambarkan dengan kata ‘baik-baik saja.’
Bangunan besarnya dipenuhi oleh kobaran api dan jerita tangis dari orang-orang yang terjebak di dalam. Ada banyak reruntuhan-reruntuhan yang terlempar hingga bermeter-meter jauhnya. Itu pasti akibat ledakan yang sebelumnya terdengar.
Menara istana Meide yang tinggi menjulang pun sudah dilalap api dan hanya menunggu sebentar lagi untuk mencapai kehancuran. Ada banyak potongan anggota tubuh manusia yang tergeletak di tanah. Beberapa sudah hangus, beberapa lagi berdarah.
Gong Lanjiang tidak bisa melihat pemandangan menakutkan itu. Kesedihan, kebingungan dan keputusasaan mulai merasuki hatinya. Tubuhnya gemetar dan harus memaksakan diri untuk melangkah.
“Apa yang kalian tunggu?! Cepat padamkan apinya!” Gong Liufeng yang lebih berpengalaman akhirnya berteriak marah. Orang-orang dalam rombongan bukannya bergegas memadamkan api malah sejak tadi hanya meratap kebingungan.
“Lanjiang, cepat gunakan kekuatanmu dan padamkan itu!”
Akhirnya Gong Lanjiang tersadar dan segera bergerak melesat ke depan. Dia mengeluarkan qi spiritual dan mengubahnya menjadi sumber air untuk memadamkan api. Selama beberapa saat, dia tidak merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, setelah dia menghabiskan banyak energi ternyata api di sana tidak berkurang sedikit pun.
Hal ini membuat Gong Lanjiang kebingungan. Dia mencobanya lagi, tetapi tidak ada hasil apa pun. Itu hanya menguras kekuatannya saja.
“Paman! Apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak bisa memadamkan apinya!” Gong Lanjiang berteriak keras menanyakan pada Gong Liufeng. Namun, pria yang ditanya juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka sama-sama tidak bisa memadamkan kobaran api.
“Ayah! Ayah! Apa kau mendengarku?” Gong Lanjiang memanggil ayahnya hingga beberapa kali. Ayahnya adalah kepala klan, kekuatannya tidak bisa diremehkan. Seharusnya tidak akan terjadi apa pun padanya. Setidaknya itulah yang Gong Lanjiang harapkan.
“Uhuk!”
Tiba-tiba Gong Lanjiang mendengar suara terbatuk-batuk dari belakang bangunan. Dia segera berlari ke sana dan memeriksa siapa yang masih hidup.
“Ayah!” Gong Lanjiang segera mendekati ayahnya dan menatap nanar pada keadaan pria itu. Pria yang sebelumnya sangat kuat dan berwibawa, sekarang sudah dipenuhi dengan ketakutan dan keputusasaan. “Ayah, aku akan membantumu!”
Gong Lanjiang menyalurkan qi spiritual dan memulihkan sedikit keadaan ayahnya. Itu benar-benar menakutkan perasaannya. Bagaimanapun juga dia masih banyak bergantung pada pria itu.
“Siapa yang melakukan ini?! Siapa, Ayah? Aku, aku tidak akan membiarkan dia pergi dengan mudah!”
“Hentikan omong kosongmu itu! Kau tidak memiliki apa pun lagi, siapa yang bisa kau kalahkan?” Ayah Gong Lanjiang yang bernama Gong Luyao menatap anaknya dengan perasaan tidak senang.
“Memangnya siapa orang itu? Apa orang yang sangat kuat hingga kita tidak akan bisa mengalahkannya?” tanya Gong Lanjiang. Dia belum merasa ingin menyerah.
“Bodoh! Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa memiliki anak sebodoh dirimu! Jika dia hanya orang biasa, apa kau pikir dia akan mampu membuat istana kita menjadi seperti ini?!” Gong Luyao akhirnya menyerahkan kertas yang sudah mati-matian dia lindungi agar tidak terbakar. “Buka matamu dan baca ini!”
Gong Lanjiang akhirnya menerima kertas dari ayahnya dan segera membuka isinya. Di sana tertulis kalimat yang tidak begitu panjang, tetapi ketika dibaca entah kenapa membuat Gong Lanjiang tidak berani membantah.
“Sebuah peringatan karena seseorang sudah berani mendekati gadisku.”
Tangan Gong Lanjiang yang memegang kertas tampak gemetar. Peringatan? Bahkan setelah menghancurkan klan Gong, orang itu mengatakan ini hanya sebuah peringatan? Lalu bagaimana dengan hukuman yang sesungguhnya? Bukankah itu akan lebih menakutkan daripada ini?
“Ini semua gara-gara kerakusanmu! Jika kau tidak terlalu memaksa seorang gadis maka klan Gong kita tidak akan hancur seperti ini!” Gong Luyao ingin terus memarahi anaknya, tetapi dia tidak memiliki terlalu banyak kekuatan. Dia terbatuk beberapa kali dan segera meludahkan seteguk darah merah.
__ADS_1
“Ayah! Maafkan aku, sungguh! Jangan pergi, aku hanya memilikimu di sini!” Gong Lanjiang berlutut di samping ayahnya. Meskipun dia sering kali kesal pada aturan sang ayah, jauh di dalam hatinya dia tidak mau kehilangan sosok orang tua itu.
Gong Luyao menghela napas sedih. “Lupakan tentang gadis Qing itu. Aku rasa gadis yang dimaksud adalah dia. Kau benar-benar .... Aku tidak akan mati sekarang, Lanjiang. Jangan menangis seperti gadis cengeng!”
“Aku tidak tahu ada seseorang yang sudah memiliki Qing Yue'er. Jika aku tahu, aku tidak mungkin memaksakan ini,” balas Gong Lanjiang dengan lirih.
“Pada dasarnya kau harus mengubah sifat burukmu. Lihat, tidak ada lagi yang tersisa di sini. Api itu .... kenapa tidak mau padam, heh?!” Gong Luyao berteriak marah. Dia mendorong Gong Lanjiang menjauh dan mencoba berdiri dengan tertatih-tatih.
“Liufeng, apa ini benar-benar tidak mau padam?”
Gong Liufeng menggelengkan kepalanya dengan pasrah. “Tidak. Ini akan menjadi lautan api abadi. Mungkin tidak akan pernah padam untuk selamanya.”
Gong Lanjiang yang mendengar ini hanya bisa terdiam di tanah. Tidak ada apa pun yang bisa diselamatkan dari klan Gong. Tidak satu pun. Penyesalan mulai merambat ke dalam hatinya. Seharusnya dia masih bisa tinggal di istana yang besar, seharusnya dia masih bisa menikmati orang-orang yang melayaninya, seharusnya dia masih bisa hidup dengan tenang.
Namun, itu tidak akan pernah bisa dia dapatkan lagi hanya karena sifat buruknya. Hanya karena keinginannya yang serakah.
“Apa yang sudah aku lakukan?” Tiba-tiba pertanyaan itu diputar berkali-kali di dalam otak dan turun untuk mencekik lehernya. Gong Lanjiang merasa sesak napas. Bukan karena seseorang sedang mencekiknya, tetapi karena rasa penyesalan yang terlalu besar dan membuatnya kesulitan bernapas.
Api abadi itu tidak akan pernah padam. Dan selamanya akan mengingatkan dia pada kesalahan dan kehilangan yang teramat besar.
***
Berita tentang kehancuran klan Gong langsung menyebar. Orang-orang masih terkejut dengan kejadian mendadak ini. Pelakunya tidak terungkap dan itu membuat mereka menebak-nebak.
Di dalam klan Xie, Xie Song juga masih menebak siapa yang sudah berani melakukan itu. Tiba-tiba dia teringat pada ucapan Qing Yue'er sebelumnya. Gadis itu mengatakan, lebih khawatir jika rombongan Gong Lanjiang tidak akan memiliki tempat untuk pulang. Kemudian hal ini tiba-tiba terjadi.
Xie Song mengusap dagunya. “Mungkinkah gadis itu sudah menebak tentang ini?” Dia tidak tahu. Jika itu benar, maka .... Xie Song tidak tahu bagaimana harus berkomentar.
Sementara itu, pelaku dibalik terciptanya api abadi sedang berbaring malas di dalam dimensinya sendiri. Kobaran api menghiasi dimensi yang luas. Warna merah benar-benar mendominasi tempat itu. Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki mendekat. Dia berpura-pura menutup mata dengan damai.
“Jingtian, katakan padaku sekarang. Apa kau yang sudah melenyapkan klan Gong?” Terdengar suara itu dari samping. Mo Jingtian tidak mau mengatakan apa-apa dan hanya menutup mata tanpa mau menghadapi Qing Yue'er.
“Ada apa denganmu? Apa kau sedang mengabaikanku?” Qing Yue'er menjadi heran.
“Apa kau akan memarahiku?” tanya Mo Jingtian.
“Apa aku terlihat seperti seseorang yang sedang marah?” Qing Yue'er balas bertanya. Tentu saja dia tidak akan mempermasalahkan jika itu memang Mo Jingtian yang sudah melakukannya. Lagi pula dia sendiri juga membenci Gong Lanjiang. “Aku justru merasa senang.”
Mo Jingtian akhirnya membuka matanya. Dia menatap Qing Yue'er dengan saksama. “Kau senang?”
Qing Yue'er mengangguk. Kemudian dia tersenyum menggoda. “Apa itu tandanya Tuan Mo yang terhormat baru saja merasa cemburu?”
Mo Jingtian tidak mau mengakuinya. Dia menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku hanya ingin memberi pelajaran karena sikapnya yang semena-mena.” Dia beralibi.
Qing Yue'er membulatkan mulutnya untuk ber-oh panjang. Sorot matanya tampak tidak percaya pada jawaban yang baru saja dia dengar. “Kalau begitu, apa tidak ada seseorang yang selamat di sana? Aku baru mendengar kabar jika api itu tidak bisa dipadamkan.”
__ADS_1
“Memang tidak akan bisa padam, bahkan jika air di laut tumpah. Aku memastikan kepala klan Gong tidak mati,” balas Mo Jingtian. “Api itu akan bagus untuk memperingatkan orang lain agar tidak bermain-main dengan sembarang gadis,” imbuhnya tanpa ekspresi.
Jujur saja Qing Yue'er merasa cukup tersanjung. Pria itu tidak akan mengatakannya, tetapi dia tahu bahwa Mo Jingtian tidak merasa senang melihat ada pria lain yang mendekatinya.