
Qing Yue'er akhinya kembali ke kediamannya bersama dengan Mo Jingtian. Sejujurnya dia merasa penasaran dengan maksud ucapan Mo Jingtian kepada ibunya. Di ingin bertanya tapi kemudian menjadi ragu.
“Tanyakan sesuatu jika kamu mau,” ucap Mo Jingtian yang seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Qing Yue'er.
“Em, apa yang dimaksud dengan kehendak surga yang kamu katakan?” tanya Qing Yue'er. “Dan aku merasa seperti ... kamu mengerti tentang ayahku. Apa aku salah?”
Mo Jingtian tidak langsung menjawab. Dia membawa Qing Yue'er duduk di dekatnya lalu menatap kedua matanya lekat-lekat. Tatapan mata mereka bertemu hingga beberapa saat sebelum akhirnya Qing Yue'er memutar bola matanya untuk menutupi kegugupannya.
“Kenapa?” tanya Qing Yue'er.
“Apa yang kamu pikirkan tentang ayahmu?” tanya Mo Jingtian tanpa melepaskan tatapan matanya.
Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Jingtian. Aku bahkan tidak tahu apa-apa, hanya tahu dari gambaran sederhana kakek Xie Song saja. Meskipun begitu, aku tidak berharap apa yang dikatakan oleh orang tua tadi adalah kebenaran,” ucapnya dengan jujur.
“Tentu tidak,” kata Mo Jingtian dengan yakin.
Qing Yue'er terkejut. “Apa kau mengenal ayahku?” tanya dia pada akhirnya.
Mo Jingtian tersenyum lembut. “Apa kamu ingin mendengar sebuah cerita?” Bukannya menjawab pertanyaan Qing Yue'er, Mo Jingtian malah melemparkan pertanyaan lain.
“Cerita apa?”
“Yah, ini adalah kisah cinta yang sangat sederhana. Tentang seorang pria yang bertemu dengan wanita cantik yang berbakat. Karena suatu hal yang tidak disengaja, akhinya mereka jatuh cinta satu sama lain.”
Qing Yue'er memiringkan kepalanya sambil menatap Mo Jingtian dengan penasaran. “Lalu mereka memutuskan untuk menikah?”
Mo Jingtian menganggukkan kepalanya. “Sayangnya hubungan mereka adalah sesuatu yang melanggar aturan.”
“Aturan? Aturan apa? Selanjutnya apa yang terjadi?” tanya Qing Yue'er.
“Kemudian si pria harus menanggung hukuman untuk waktu yang tidak diketahui.”
“Bagaimana dengan pasangan wanita? Kenapa si pria tidak melarikan diri saja dengan pasangannya?” Qing Yue'er menatap Mo Jingtian dengan serius.
“Itu sedikit sulit,” ucap Mo Jingtian. Kemudian dia melanjutkan, “Tidak semuanya bisa melarikan diri dari hukuman dan tempat itu bukan sesuatu yang sederhana. Sedangkan pasangan wanita tidak memiliki hal-hal yang cukup untuk membantu prianya.”
Qing Yue'er tertegun sesaat. “Apa mereka memiliki seorang anak?”
Mo Jingtian mengangguk. “Bayi perempuan yang tangguh,” ucapnya yang diakhiri dengan kekehan kecil. “Apa kamu percaya ada kisah seperti ini?”
Qing Yue'er menundukkan kepalanya. Jika dia tidak salah, pasangan yang sedang diceritakan oleh Mo Jingtian adalah ayah dan ibunya. Dia tidak begitu yakin tapi Mo Jingtian tidak akan menceritakan hal-hal yang tidak berguna. Dan jika itu benar maka dia masih memiliki harapan, meskipun itu mungkin tidak akan mudah.
“Seharusnya ada. Itu cerita yang mengesankan,” ucap Qing Yue'er.
“Ya, tapi ada yang lebih mengesankan lagi,” ujar Mo Jingtian dengan serius.
“Apa itu?”
“Seorang pria yang bertemu dengan gadis jelek di dalam kolam Yin—”
“Kamu menyebutku jelek, heh?!” Qing Yue'er berseru memprotes Mo Jingtian dengan keras, bahkan sebelum pria itu selesai berbicara. Kemudian dia mendorong Mo Jingtian dengan keras hingga pria itu jatuh berbaring.
__ADS_1
“Aku tidak berkata jika gadis itu adalah kamu,” ucap Mo Jingtian menolak mengakuinya.
Dia sedikit terkejut dengan Qing Yue'er yang tiba-tiba mendorongnya seperti itu. Tidak biasanya gadis itu bersikap kasar. Belum lagi pulih dari keterkejutannya tiba-tiba gadis itu mencengkeram dagunya dengan erat sambil menatapnya dengan cara yang berbeda.
“Kamu bilang aku jelek?” tanya Qing Yue'er sambil menyeringai. Kedua matanya menatap Mo Jingtian sambil menggigit bibirnya sendiri. Kemudian sedikit demi sedikit dia mulai mendekatkan wajahnya pada Mo Jingtian.
Entah kenapa sikap Qing Yue'er yang berani dan agresif itu justru membuat Mo Jingtian sedikit ... gugup? Ya, biasanya dia yang menggoda gadis itu dan dia tidak terbiasa jika situasinya terbalik seperti sekarang.
“Hahaha.” Tawa keras langsung meledak dari mulut Qing Yue'er. “Kenapa wajahmu menjadi tegang, heh?”
Ini adalah pemandangan yang sangat langka. Jadi, seperti itu. Pria dingin dengan dominasi kuat seperti Mo Jingtian ini ternyata masih bisa merasa tegang dan gugup. Bagaimana ini tidak lucu? Qing Yue'er benar-benar tidak bisa menahan tawanya.
Mo Jingtian berkedip sesaat. Kemudian dia langsung membalikkan posisinya hingga gadis itu yang berada di bawahnya. Dengan sedikit nada ancaman dia berkata, “Sepertinya Yue'er kecil sudah tumbuh lebih dewasa sekarang.”
Qing Yue'er langsung menghentikan tawanya seketika. Dia menahan Mo Jingtian agar tidak mendekat padanya. “A—apa yang akan kau lakukan?”
“Menurutmu?”
Qing Yue'er tidak bisa menjawabnya. Dia hanya menatap Mo Jingtian dengan takut-takut. Ya, tentu saja dia tidak mau jika pria di atasnya ini bertindak di luar batasnya.
Tuk!
Tiba-tiba Mo Jingtian mengetuk dahi Qing Yue'er hingga membuat gadis itu tersentak. “Jangan berpikir sesuatu yang tidak-tidak,” ucap Mo Jingtian sambil berdiri.
Wajah Qing Yue'er langsung memerah. Kemudian dia bangun, berpura-pura tidak ada sesuatu yang terjadi. Dia terdiam cukup lama hingga mendengar Mo Jingtian berkata, “Besok mulailah untuk menyusun rencana. Akan lebih baik jika kamu bisa bertindak lebih awal dari klan Liu.”
Qing Yue'er mengangguk. “Aku akan mendengarkanmu.”
Qing Yue'er tidak menahan pria itu pergi. Sebenarnya ada banyak yang membuatnya bertanya-tanya dan ingin memikirkannya. Mendengar apa yang sudah Mo Jingtian ceritakan sungguh membuat dia ingin mengetahui lebih banyak hal lagi.
Kenapa Mo Jingtian bisa mengetahui tentang ayah dan ibunya? Mungkinkah seseorang menceritakan padanya? Selain itu, apakah mungkin Mo Jingtian saling mengenal dengan ayah dan ibunya?
Tidak, sekarang fokusnya adalah orang tuanya dulu. Jika itu memang kisah cinta tentang ayah dan ibunya maka di mana ayahnya menerima hukuman dan aturan apa yang dilanggar? Bukan hanya itu, identitas apa yang disandang ayahnya hingga kelihatannya seperti sangat sulit dijangkau?
Qing Yue'er mengurut keningnya sejenak. Dia harus berhenti memikirkan ini atau rambutnya akan mulai rontok. Bertanya pada Mo Jingtian pun belum tentu akan dijawab. Dia tahu pria itu sering bermain dengan kata-kata hanya untuk mengalihkan hal-hal yang tidak ingin dijawab.
Mungkin ada baiknya dia menunggu sampai ibunya memberi tahu secara lengkap. Lagi pula dia yakin masih ada banyak hal yang belum dia ketahui. Ini termasuk identitas Mo Jingtian yang bahkan belum bisa diketahui secara pasti.
Kenapa begitu sulit untuk menjangkaunya? Namun, dia harus segera melangkah lagi. Dia yakin ini tidak akan lama sebelum dia bisa mengetahuinya.
“Yue'er, keluarlah. Biarkan kakek berbicara sesuatu denganmu.”
Tiba-tiba Qing Yue'er mendengar kakeknya memanggilnya dari luar. Dia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh orang tua itu hingga mau datang menemuinya ke sini. Sedikit penasaran jadi dia langsung keluar untuk menemuinya.
Setelah dia sampai di luar, Xie Song langsung memegang kedua pandaknya lalu tersenyum lembut. “Jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Xie Mao. Dia memang seperti itu.”
Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. Bahkan, dia sudah lupa dengan itu. Pikirannya sudah sibuk untuk memikirkan masalahnya sendiri. Dia tidak memiliki ruang lagi untuk memasukkan ucapan Xie Mao ke otaknya. Anggap saja ucapan Xie Mao hanya kentut semata.
“Kakek, aku tidak memikirkannya. Jadi, jangan mencemaskanku,” ucap Qing Yue'er.
Xie Song terkekeh. “Bagus kalau begitu. Cucuku memang pintar.” Dia mengangguk-anggukan kepalanya dengan puas. Kemudian dia bertanya, “Kamu belum pergi melihat-lihat istana Tianjun bukan? Bagaimana kalau kakek mengajakmu?”
__ADS_1
Qing Yue'er tersenyum dan mengangguk. “Itu bagus.”
Sebenarnya dia penasaran dan ingin melihat-lihat menara istana Tianjun yang tinggi. Katanya itu adalah tempat untuk melakukan pelatihan dan meningkatkan kekuatan. Jadi, dia ingin pergi ke sana juga.
Xie Song mengangguk lalu mulai mengajak Qing Yue'er pergi. Sebenarnya ada banyak yang bisa dia tunjukkan. Namun, karena sekarang adalah malam hari jadi dia hanya menunjukkan beberapa tempat yang paling penting bagi kehidupan klan Xie.
Qing Yue'er merasa takjub. Istana Tianjun ini sangat luas. Dia tidak mengunjungi semua tempat tetapi dia bisa mengira-ngira. Ini adalah tempat yang cocok jika ditinggali oleh orang-orang yang memang ingin hidup menetap. Namun, untuk orang seperti dia, sepertinya ini juga hanya sebuah persinggahan.
Setelah beberapa saat akhirnya dia tiba di tempat yang dia inginkan. Menara berwarna putih yang menjulang tinggi sudah ada di hadapannya. Ada banya lampu-lampu yang diciptakan dari kekuatan roh. Di malam hari itu terlihat sangat bagus.
Yang membuatnya takjub adalah udara di sekitarnya yang terasa sedikit sakral. Belum lagi bagian temboknya yang banyak tertulis aksara kuno. Jadi, dia pikir tempat ini memang diciptakan untuk sebuah kedamaian. Orang-orang mungkin menghindari membuat kekacauan di sana.
Xie Song menghela napas dengan semangat. Wajahnya terlihat begitu bangga. “Ini adalah salah satu tempat terbaik di istana Tianjun. Meskipun banyak istana lain yang juga memiliki menara seperti ini tapi klan Xie adalah yang pertama. Ikut denganku. Biarkan aku mengajakmu melihat-lihat isinya.”
Qing Yue'er mengangguk dengan senang. Dia tidak tahu kalau klan Xie ini yang menjadi pelopor pendirian menara. Ya, ini cukup menarik. Setidaknya klan Xie ini memang memiliki nama.
Dia mengikuti kakeknya masuk ke menara yang tidak memiliki pintu tertutup. Udara yang nyaman langsung menyentuh kulitnya. Energi spiritual yang padat langsung bisa dia rasakan dengan cukup jelas. Ini membuatnya heran dan bertanya-tanya tentang asal-usul energi spiritual itu.
Menara milik klan Xie terdiri dari 9 lantai. Lima lantai pertama adalah tempat yang bebas untuk dimasuki. Di sana terdapat banyak buku, kitab, catatan penting serta slip bambu yang isinya bisa dipelajari. Semuanya berguna untuk pengetahuan dan juga untuk meningkatkan kekuatan.
Untuk lantai 6, 7 dan 8 hanya orang-orang tertentu yang diizinkan masuk. Di sana terdapat tekanan lain yang tidak bisa diatasi oleh sembarang orang. Namun, jika seseorang bisa bertahan di sana dalam waktu yang lama maka kekuatannya akan ditingkatkan dengan bantuan tekanan yang berasal dari aksara kuno.
“Kalau begitu apa isi lantai ke 9?” tanya Qing Yue'er.
Xie Song tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat barulah dia berkata, “Sebenarnya itu mungkin bukan tempat yang begitu hebat. Namun, itu adalah tempat yang sedikit rahasia. Hanya orang-orang terdekat atau orang-orang yang dipercaya yang mungkin mengetahuinya.”
Qing Yue'er menjadi penasaran. “Tempat yang rahasia?”
Xie Song menganggukkan kepalanya. “Alam Celestial adalah tempat yang kental dengan kedewaan. Orang-orang menjunjung nama mereka untuk meminta bantuan. Mungkin dewa tidak bekerja terang-terangan, tapi keberadaannya bukan hal yang bisa diabaikan.”
Qing Yue'er semakin penasaran. Apa yang dibicarakan kakeknya adalah sesuatu yang sakral, yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Jadi, dia ingin mengetahuinya lebih banyak.
“Lalu, apakah dewa bisa mengabulkan permohonan seseorang? Apa benar ada hal seperti itu?”
Xie Song tersenyum lembut. “Dewa adalah orang yang diangkat untuk terhubung dengan semesta. Dewa memang bukan yang paling tinggi karena surga dan alam semesta masih berada di atasnya.”
Sesaat Qing Yue'er tidak bisa berkata-kata. Betapa menakjubkannya jika bisa terhubung dengan alam semesta. Sejujurnya dia sedikit merinding mendengar ini. Ternyata di dunia ini tidak seperti bagaimana dia hidup di dunia modern.
“Kalau begitu manusia benar-benar bisa menjadi dewa?” tanya Qing Yue'er.
“Tentu saja bisa. Orang-orang yang menerima kehendak surga adalah seseorang yang dipilih untuk menjadi dewa. Mereka menjalani pengangkatan dan penyucian diri. Namun, itu pasti hal yang sulit.”
Qing Yue'er menganggukkan kepalanya. “Kakek menjelaskan sepanjang ini, apakah ada hubungannya dengan lantai ke 9?”
Xie Song menatap Qing Yue'er dengan serius. Kemudian dia mengangguk. “Ada satu dewa yang namanya benar-benar kami junjung tinggi. Namun, itu sesuatu yang sensitif untuk dipublikasi karena riwayatnya. Jadi, kami memilih meletakkan patungnya di lantai menara paling tinggi agar tidak diketahui oleh banyak orang.”
Rasa penasaran Qing Yue'er semakin diaduk. Siapakah dewa yang dimaksud oleh kakeknya? Memangnya apa yang terjadi jika orang lain mengetahui dewa yang namanya dijunjung oleh klan Xie? Bukankah itu hak setiap orang untuk memilih dewa mereka?
“Kamu pasti bingung.” Xie Song terkekeh. “Kalau begitu biar kutunjukkan langsung.”
“Baik,” ucap Qing Yue'er dengan cepat.
__ADS_1