Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kakek Guru


__ADS_3

Setelah pengumuman dari akademi disampaikan, para penatua juga membagikan token untuk perburuan roh yang akan diadakan seminggu lagi. Qing Yue'er menerima token itu, dia memeriksanya tapi tidak ada yang spesial. Tidak ada rune batu seperti token kekerabatan Han Qiong.


Mengingat rune batu itu, Qing Yue'er harus bekerja lebih keras lagi. Apa mungkin lebih baik dia menanyakan langsung pada Han Qiong? Apa itu tidak akan membuat pria tua itu merasa curiga kepadanya?


Qing Yue'er melamun, sehingga dia ditepuk oleh Luo Qingqi. "Ayo pergi."


Akhirnya Qing Yue'er kembali ke dalam pikirannya. Dia pergi dan berjalan beriringan dengan Luo Qingqi untuk kembali ke asrama. Mungkin karena interaksinya dengan paman Wuqing terlalu dekat jadi banyak sekali murid-murid yang menatapnya dengan aneh. Namun seperti biasa dia tidak memedulikannya.


Setelah tiba di asrama, Qing Yue'er memikirkan cara untuk bertemu dengan paman Wuqing tanpa harus diketahui orang lain. Barusan mereka hanya bertemu sebentar, dia ingin membicarakan banyak hal dengannya. Namun sepertinya paman Wuqing merupakan seseorang yang cukup populer di akademi, jadi dia harus mencari momen yang tepat jika ingin bertemu dengannya.


"Saudari Luo, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Qing Yue'er.


"Tanyakan saja, aku kan memberitahu apa yang seharusnya aku tahu." Luo Qingqi berkata sambil mengelap bilah pedang yang mungkin sedikit kotor.


"Apa ada seorang murid di sini yang bernama Yan Xiao?"


Luo Qingqi langsung menoleh ke arah Qing Yue'er. Dia tidak tahu kenapa gadis itu dengan enaknya bisa bertanya tentang senior di sini. Belum lagi sikapnya tadi bisa begitu dekat dengan Xie Wuqing. "Kenapa kamu ingin tahu?"


"Ada hal yang harus aku berikan padanya. Oh, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku sungguh memiliki urusan dengannya." Qing Yue'er segera menjelaskan, dia tidak mau jika harus dicap murahan lagi. Padahal sebelumnya itu hanyalah bagaimana dia memperlakukan pamannya. Mungkin ini salahnya juga karena tidak memberitahu kebenaran pada orang lain.


"Yan Xiao ya ... dia adalah seorang senior di sini. Aku ragu kamu bisa menemuinya dengan bebas," ucap Luo Qingqi.


Qing Yue'er menghela napas. "Lalu kamu pasti tahu bukan di mana dia sering berada?"


"Aku tidak begitu mengetahuinya. Dikabarkan kalau akhir-akhir ini dia akan segera keluar dari meditasi pintu tertutupnya."


"Hmm, baiklah. Terima kasih untuk informasinya." Qing Yue'er mengucapkan terima kasih. Bagaimana pun juga dia memiliki titipan dari Daoist Black Three, dan dia harus menyampaikannya pada cucu pria tua itu. Lalu sekarang apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu?


Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Qing Yue'er memutuskan untuk pergi menemui Han Qiong. Sepertinya dia harus menanyakan langsung mengenai rune batu yang misterius. Dia juga tidak ingin berada di akademi ini terlalu lama, jadi lebih cepat akan lebih baik.


Qing Yue'er berlalu keluar dari asrama. Dia melewati jalan yang cukup panjang sebelum akhirnya tiba di kediaman Han Qiong. Kemarin dia sudah langsung diangkat menjadi murid khusus Han Qiong jadi dia bisa bebas menemui gurunya tersebut.


"Guru, muridmu datang," ucap Qing Yue'er di depan pintu. Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan Xiao Mo keluar untuk menemuinya. Kali ini dia tidak diminta menyiangi tanaman lagi, tapi langsung disuruh untuk masuk.


Qing Yue'er berjalan masuk mengikuti Xiao Mo dan berakhir di halaman belakang. Han Qiong sedang bersantai sambil membuka-buka gulungan yang bertumpukan di atas meja. Jika dibanding-bandingkan, tentu saja Han Qiong berbeda dari Zu Tiankong.

__ADS_1


Guru yang satu ini memang lebih terlihat seperti guru yang sebenarnya dan tentunya memang jauh lebih kuat dari guru Zu. Namun Qing Yue'er juga merasa heran, sikap Han Qiong saat ini sangat berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu. Apa mungkin dia memiliki banyak sikap yang akan disesuaikan dengan tempatnya?


"Xiao Mo, bisakah kamu pergi dulu? Aku ingin membicarakan hal penting dengan guru," bisik Qing Yue'er pada Xiao Mo. Anak itu memicingkan mata padanya, tapi sesaat kemudian dia benar-benar pergi.


Qing Yue'er mendekati Han Qiong dan membungkuk. "Murid ini menyapa Guru."


Han Qiong mengangkat kepalanya dari gulungan di tangannya. Dia melambaikan tangannya, menyuruh Qing Yue'er untuk mengabaikan formalitas. Kemudian dia juga menyuruh Qing Yue'er untuk duduk. "Ada apa?"


"Guru, aku ingin menanyakan satu hal," ucap Qing Yue'er dengan serius.


"Tanyakanlah."


Qing Yue'er mengambil token batu yang diberikan oleh Han Qiong. Dia menunjukkan rune yang terukir di sana. "Guru, kenapa ada rune ini di sini?"


Han Qiong menatap Qing Yue'er sesaat. Dia merasa heran karena tiba-tiba ada seseorang yang bertanya mengenai rune tersebut, apalagi itu adalah seorang gadis muda yang masih terbilang asing. Selama ini tidak pernah ada orang yang menanyakan masalah ini padanya. "Kenapa kamu menanyakan masalah ini?"


"Ini sulit dijelaskan, tapi aku memang sudah pernah melihatnya," ucap Qing Yue'er.


"Hmm, apa kau tahu ini adalah sesuatu yang sangat krusial?" Han Qiong bertanya.


"Sebenarnya ini adalah rune turun temurun dari kakek guru. Tidak semua rekan seperguruanku dibebaskan menggunakan rune tersebut."


Qing Yue'er tertegun. "Lalu ... apa kakek guru masih hidup?"


Han Qiong terkekeh. "Tentu saja, tapi dia hidup begitu jauh dan jarang bertemu dengan orang lain. Bahkan terkadang dia tidak mau menemuiku jika aku datang berkunjung."


"Guru, bisakah murid ini menemui kakek guru?" tanya Qing Yue'er. Meskipun dia mungkin sedikit lancang, tapi dia memiliki tekad untuk menemukan makna rune itu. Dia harus mendapatkan warisan dari orang misterius yang bernama Hua.


"Kenapa kamu begitu penasaran dengan rune ini? Bukannya aku tidak mau mempertemukanmu dengannya, tapi ini memang sulit untuk menemuinya. Kakek guru sering melakukan meditasi pintu tertutup, dan itu juga membuatnya semakin sulit," ucap Han Qiong. Dia menjadi heran dengan niat Qing Yue'er, kenapa gadis itu begitu ingin tahu tentang rune tersebut.


Qing Yue'er tersenyum malu. "Lalu, apa kakek guru memiliki merga Hua?"


"Tidak, guruku bukan bermarga Hua." Han Qiong menggelengkan kepala.


Qing Yue'er hanya bisa menghela napas. Dia merasa sedikit kesulitan, setidaknya masalah rune sepertinya masih belum bisa diungkit untuk sekarang. Mungkin dia harus mencari tahu sendiri siapa guru Han Qiong dan di mana dia tinggal. Kemudian dia akan mendatanginya tanpa sepengetahuan Han Qiong.

__ADS_1


Jika itu memang tidak sopan, maka Qing Yue'er tidak peduli. Yang terpenting dia tidak melakukan tindakan kejahatan yang menyimpang. Dia hanya ingin menanyakan rune pada kakek guru, itu saja.


Karena tidak dapat menggali lebih jauh, akhirnya Qing Yue'er memutuskan untuk pergi. Dia berpamitan pada Han Qiong dan pergi ke belakang akademi. Dia ingin mencari tempat untuk melakukan pelatihan fisik. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu.


***


Di sisi lain, Qin Yang sedang mengganggu Xie Wuqing. Dia masih merasa terkejut karena akhirnya rekannya itu mau berinteraksi dengan seorang gadis. "Wuqing, kamu benar-benar ... ah, kamu benar-benar memilih seorang gadis yang tepat."


Xie Wuqing terkekeh. "Bagaimana menurutmu? Dia luar biasa bukan?"


"Ya, jika kamu tidak akan mendekatinya maka biarkan aku yang melakukannya," ucap Qin Yang sambil menulis sesuatu di kertas.


Mendengar ucapan itu membuat Xie Wuqing memukul kepala Qin Yang. Dia masih ingat dengan pria berambut putih yang pernah menemuinya dan mengatakan akan menjaga Qing Yue'er dengan baik. Dia tidak begitu yakin, tapi instingnya mengatakan bahwa seorang pria tidak boleh mendekati Qing Yue'er.


"Jangan berharap. Lebih baik kamu tidak melakukan hal buruk padanya," ucap Xie Wuqing.


"Kenapa? Apa karena kamu merasa cemburu?"


Xie Wuqing mengalihkan pandangannya dan menatap Qin Yang dengan serius. "Apa kamu ingin mendengar kebenaran?"


"Apa itu? Kenapa kamu begitu serius?" Qin Yang menjadi serius juga.


"Dia adalah saudaraku," ucap Xie Wuqing dengan acuh tak acuh.


"...."


"Apa kau serius?!" Qin Yang berseru tidak percaya. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Jadi ternyata alasan Xie Wuqing mau berinteraksi dengan gadis itu adalah karena mereka bersaudara?


"Aku tidak pernah berbohong," ucap Xie Wuqing.


Qin Yang akhirnya mendengus. "Huh, ternyata kamu masih sama saja."


Xie Wuqing terkekeh. Dia merasa senang karena sudah membuat Qin Yang salah memahaminya. "Tapi ini adalah sesuatu yang tidak diketahui orang lain, aku harap kamu akan menyimpannya untuk dirimu sendiri."


Qin Yang mengangguk. "Memangnya siapa yang akan menggosipkanmu dengan gadis itu? Aku tidak akan membicarakannya lagi."

__ADS_1


"Bagus."


__ADS_2