Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Banyak Omong


__ADS_3

“Qing Yue’er ….” Hua Tian tanpa sadar bergumam. Sudah lama sejak mereka bertemu di Benua Tongxuan, tapi dia masih ingat jelas dengan penampilannya.


Ini tidak seperti mereka telah berpisah selama puluhan tahun, tapi gadis itu memang sudah banyak berubah. Dia berkali-kali lebih memikat dari sebelumnya.


Saat itu kecantikan Qing Yue’er masih sedikit kekanakan. Namun, hari ini dia jauh lebih dewasa. Tubuhnya berkembang lebih cepat daripada usianya. Auranya juga menjadi lebih kuat dan menonjol.


Satu hal yang tidak berubah adalah arogansi dan ketangguhannya. Gadis itu masih sama beraninya seperti dulu. Ratusan pasang mata yang menatapnya sama sekali tidak memengaruhinya.


Hua Tian merasakan dua perasaan yang bertentangan. Kebencian dan kekaguman.


Dia benci karena dulu pernah kalah dari gadis itu hanya karena kemunculan Taotie. Dia juga benci karena gagal mendapatkan binatang ilahi berupa naga emas yang hebat.


Namun, di samping kebenciannya itu dia juga kagum dengan kecantikannya. Tidak ada satu pun gadis di Celestial yang bisa menandinginya. Jika dia dibiarkan tumbuh sedikit lebih dewasa lagi, kecantikannya bisa menghancurkan tiga alam.


Sudah di level apa kultivasinya sekarang? Hua Tian mencoba menyelidiki, tapi dia tidak mendapatkan apa pun. Gadis itu menyembunyikan kultivasinya.


Salah satu sudut bibir Qing Yue’er terangkat. Dia menatap lurus pada Hua Tian. Kebenciannya tersimpan rapat jauh di dalam hati.


Dulu Hua Tian pernah melecehkannya. Pria itu menjambak rambut panjangnya dan merobek bajunya hingga memperlihatkan punggungnya yang halus. Dia benci membiarkan pria lain melihat bagian tubuhnya yang tertutup, meskipun hanya seinci.


Kedua tangannya tanpa sadar terkepal, tapi dia segera terkejut dengan udara dingin dari samping. Dia menoleh dan melihat Mo Jingtian yang menyipitkan mata dengan penuh amarah. Mata emasnya bersinar lembut, tanda-tanda dia akan menggunakan kekuatan jiwanya.


Qing Yue’er segera memegang tangan pria itu dan meremasnya. Mo Jingtian tidak boleh marah sekarang. Mereka tidak perlu terburu-buru.


Pria itu menarik napas panjang lalu dengan posesif menarik pinggang Qing Yue’er. Tindakannya membuat orang-orang tua kolot yang melihat itu langsung mencemooh.


“Betapa tidak tahu malunya!”


“Apakah mereka berdua datang dari Istana Tianjun? Lihat, pakaian itu memang identitas klan Xie.”


“Bahkan jika mereka memiliki hubungan romantis, tidak perlu menunjukkannya di sini! Apa mereka pikir itu begitu hebat?”


Beragam komentar yang tidak mengenakkan terdengar dari tamu-tamu undangan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua yang sudah hidup lebih dari seratus tahun.


Qing Yue’er tidak peduli dengan itu. Dia tersenyum pada Mo Jingtian dan berkata dengan lirih, “Jangan marah.”


“Bajingan itu pernah merendahkanmu. Matanya yang telah melihat apa yang tidak seharusnya dilihat, patut untuk dicongkel. Tangannya yang menyentuh apa yang tidak seharusnya disentuh, pantas untuk dipotong. Dan otak liarnya yang memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan … pantas untuk dihancurkan.”


“Jingtian ….”


“Yue’er, apa kau tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang?” Mo Jingtian mengalihkan tatapan tajamnya pada Hua Tian. Pria keturunan Hua itu sedikit menyusut.


“Dia membencimu, tapi juga mengagumimu.” Sorot matanya semakin dingin. “Dia menginginkan tubuh dan kecantikanmu yang sempurna.”


Qing Yue’er menatap Mo Jingtian dengan rumit. Kemudian dia memegang tangan pria itu dan menggandengnya ke depan. “Tidak perlu terburu-buru. Tunggu sampai nanti,” bisiknya.


Hua Yanzhi berdiri dari tempat duduknya. Dia sudah mendengar tentang putri Xie Yingfei yang namanya sudah beberapa kali menggemparkan Celestial. Meskipun belum pernah melihatnya secara langsung, dia bisa mengenalinya.


“Kakak, itu cucu Xie Song.”


Hua Mingshan menatap Qing Yue’er dengan penuh ketertarikan. Dia tidak begitu peduli dengan keintiman pasangan itu. Ada hal lain yang lebih penting baginya.

__ADS_1


Dia segera berdiri dari kursinya. “Sudah lama aku mendengar tentang kembalinya putri Xie Yingfei. Akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung.”


Qing Yue’er tersenyum santai pada Hua Mingshan. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu sebuah kotak persegi panjang kecil muncul di atasnya.


“Ini adalah apa yang kakekku titipkan. Jadi … selamat ulang tahun, Tuan Hua.”


Hua Yan yang tidak menyukai Qing Yue’er segera mengambil kotak itu dengan waspada. Dia hendak membukanya, tapi ayahnya segera memperingatkannya agar bersikap sopan. Pria paruh baya itu mendengkus dan membiarkan pelayan membawa hadiah itu ke belakang.


Hua Mingshan menarik napas panjang. “Nona Qing, aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi antara kau dan cucuku Hua Tian di masa lalu. Itu pasti terjadi karena kecerobohannya. Tolong jangan menyimpannya ke dalam hati.”


“Ayah!” Hua Yan langsung berseru. Bagaimana ayahnya bisa mengatakan ini di depan banyak orang? Bahkan jika Hua Tian telah membuat kesalahan, seharusnya Hua Mingshan tidak menyebutkannya pada saat ini.


“Kenapa? Anak-anak muda memang sering ceroboh dan membuat beberapa kesalahan. Itu bukan hal memalukan untuk mengakui,” kata Hua Mingshan dengan santai.


Pria tua itu hanya tahu kalau Hua Tian pernah mencoba merebut naga emas dari Qing Yue’er di Benua Tongxuan. Namun, dia tidak tahu apa saja yang terjadi hari itu dan apa saja yang cucunya lakukan pada Qing Yue’er.


“Ayah, tidak perlu berdebat dengan Kakek sekarang.” Hua Tian yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya. Dia menatap ke depan dengan dingin, bukan pada siapa-siapa melainkan hanya udara kosong.


Sudut bibir Qing Yue’er kembali terangkat. “Ini malam yang baik bukan? Betapa tidak menyenangkannya jika harus diisi dengan pertengkaran,” ucapnya dengan santai.


Hua Yan mendengkus, sementara Hua Mingshan tersenyum. “Nona Qing, kau benar. Kalau begitu silakan duduk di kursi barisan depan.”


“Baik.”


Qing Yue’er dan Mo Jingtian duduk bersama. Meja mereka tak jauh dari Yuan Yichuan. Calon penerus Istana Rongyao itu langsung tersenyum.


“Sudah cukup lama aku tidak melihatmu, Nona Qing. Sungguh tidak menyangka aku akan menyaksikanmu membawa seorang pria ke sini.”


Yuan Yichuan terkekeh.


“Aku tidak bercanda,” lanjut Qing Yue’er. Dia menatap pria itu dengan tenang. “Tapi bukan pertunjukan ini yang kumaksud.”


Ekspresi Yuan Yichuan sedikit berubah. “Nona Qing, apa maksudmu?”


Qing Yue’er menunduk lalu tersenyum. Diam-diam kelingkingnya mengait kelingking Mo Jingtian di bawah meja. Pria itu hanya meliriknya tanpa mengatakan apa-apa.


“Tuan Muda Yuan, lebih baik kau tidak berlama-lama di sini,” lanjutnya. “Tentu saja jika tidak ingin terlibat suatu bencana.”


Yuan Yichuan terkejut. Dia tidak mengerti dengan maksud Qing Yue’er. Apakah akan ada bencana di perjamuan ini? Tapi bencana apa?


Pada saat itulah perjamuan akhirnya dimulai. Hua Mingshan menyampaikan beberapa kata kepada tamu-tamunya dan mempersilakan mereka untuk menikmati segala hal yang disajikan.


Arak dan anggur dituangkan. Piring-piring makanan, kue, buah dan juga manisan disajikan oleh para pelayan. Semua makanan itu mengandung energi spiritual yang bagus untuk kultivator.


Qing Yue’er menatap makanan di meja dengan penuh minat. Tiba-tiba seorang gadis pelayan datang dan hendak menuangkan anggur ke cangkir Mo Jingtian. Tangannya tampak sedikit gemetar. Wajahnya menunduk, menyembunyikan pipinya yang merah merona.


Dia mendengkus, lalu menutup cangkir itu menggunakan tangannya. “Tuan Muda Yuan tampaknya sedikit kesepian. Kenapa kau tidak datang saja ke mejanya?”


“.…”


Yuan Yichuan yang mendengar itu tidak bisa berkata-kata. Dia sudah membawa pelayan dan tidak membutuhkan pelayan lain. Apa gadis Qing itu bahkan tidak bisa melihatnya?!

__ADS_1


Qing Yue’er tersenyum lalu menuangkan anggur ke cangkir miliknya sendiri dan milik Mo Jingtian. Pria di sebelahnya itu menatapnya dengan mata yang cerah.


“Calon Suami, setelah kita menyelesaikan masalah di sini, jangan lupa segera persiapkan hal-hal untuk acara pernikahan kita,” ucapnya sambil memberikan cangkir anggur Mo Jingtian. Matanya mengerling manis.


Pria tampan itu langsung terbatuk. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Qing Yue’er terkekeh melihatnya. Dia mengangkat lengan bajunya lalu berpura-pura meminum anggur miliknya.


Mo Jingtian menunduk lalu melakukan hal yang sama. Pada saat itu, Hua Tian tiba-tiba datang mendekat. Di tangannya juga ada secangkir anggur yang masih penuh.


“Nona Qing, sudah lama sejak kita bertemu bukan? Bagaimana jika kita bersulang?”


“Bersulang?” Sudut alis Qing Yue’er terangkat. Kemudian dia menatap manja pada Mo Jingtian. “Calon Suami, apa aku boleh minum seteguk lagi?”


Ekspresi Hua Tian sedikit berubah. Jadi, pria berambut putih yang selalu menunjukkan tatapan dingin itu bukan hanya kekasih Qing Yue’er, tetapi juga calon suaminya?


“Tidak. Akhir-akhir ini kesehatanmu sedikit buruk. Jangan minum terlalu banyak.”


Jawaban Mo Jingtian membuat Hua Tian semakin tidak senang. Dia tersenyum mengejek. “Nona Qing, sepertinya kau benar-benar menemukan pria yang mencintaimu. Tapi … apa yang akan dia pikirkan jika tahu bahwa bagian tubuhmu sudah pernah diperlihatkan pada ‘pria lain?’”


Orang-orang yang mendengar itu langsung terkejut. Apa maksud kata-kata Hua Tian? Mungkinkah Nona Qing dan tuan muda keluarga Hua itu pernah memiliki “sesuatu” di masa lalu? Hal itukah yang membuat Hua Mingshan sebelumnya meminta maaf pada Qing Yue’er?


Mo Jingtian menatap Hua Tian dengan dingin. Sementara Qing Yue’er tersenyum santai. “Tuan Muda Hua, aku sudah berbaik hati dengan tidak menyebutkan hal-hal itu, tapi kau justru mengatakannya di sini. Apa kau ingin mereka tahu bahwa kaulah yang sudah secara paksa merobek pakaianku?”


“Apa?!”


Orang-orang menjadi semakin terkejut. Hua Tian merobek pakaian Nona Qing? Itu benar-benar tindakan yang tidak pantas!


Suara bisikan-bisikan yang mencemooh langsung terdengar di sekitar. Wajah Hua Tian menjadi merah menahan marah sekaligus malu. Bukan situasi seperti ini yang dia inginkan!


“Tuan Muda Hua, aku sarankan kau tidak mengatakan atau melakukan apa pun lagi. Calon suamiku mengetahui segala hal yang sudah kau lakukan. Sebelum dia marah, lebih baik kau duduk dengan patuh di samping ayah dan kakekmu,” ucap Qing Yue’er sambil tersenyum.


Hua Tian mengepalkan tangannya. Dia akhirnya mengamati Mo Jingtian yang sejak tadi hanya diam. Senyum penuh cemoohan muncul di bibirnya.


“Tidak memiliki kultivasi. Hahah, apa yang bisa dibanggakan? Penampilannya yang tidak jelas?”


“Hua Tian ….” Senyum di wajah Qing Yue’er lenyap. Kedua tangannya mengepal erat. “Awasi kata-katamu sebelum kau menyesal.”


Pria itu tertawa mengejek. Dia menenggak araknya lalu berkata, “Aku mengatakan yang sebenarnya, Nona Qing. Perjamuan ini hanya khusus untuk ahli alam surgawi, tapi dia … benar-benar tidak pantas ada di sini.”


Mo Jingtian diam-diam tersenyum dingin. Dia mengambil kacang polong di atas meja lalu mengamati benda bulat hijau itu tanpa ekspresi.


“Aku tidak pantas ada di sini?”


“Bukankah begitu?” Hua Tian menyeringai dingin. Dia menatap semua orang lalu berteriak, “Ayahku telah mengundang tamu-tamu terhormat dari seluruh Celestial. Semuanya adalah orang-orang hebat yang sudah menginjak alam surgawi, tapi pria ini ….”


Dia tertawa. “Tuan-Tuan yang terhormat, bukankah orang seperti ini hanya akan merendahkan status kalian?”


Qing Yue’er menggertakkan giginya dengan marah. Bjingan itu tidak bisa ditoleransi lagi. Dia berdiri dari tempat duduknya.


Namun, sebelum dia melakukan sesuatu, tiba-tiba cahaya hijau melesat dari bawah meja menuju wajah Hua Tian. Sepersekian detik kemudian, suara jeritan pria itu terdengar hingga seluruh taman.


Darah merah memercik dari matanya yang berlubang.

__ADS_1


__ADS_2