
Qing Yue'er mematung di depan patung. Mungkin untuk berjaga-jaga dia tidak boleh membocorkan tentang buku itu. Maksudnya, biarkan hanya dia yang tahu. Lagi pula sekarang dia sudah jarang menggunakannya. Saat ini dia sudah lebih mandiri dan tidak akan mengandalkannya.
Sebenarnya dia sedikit kesal juga. Kenapa tidak ada yang memberi tahu padanya mengenai Dewa Alkimia itu. Mo Jingtian juga tidak pernah menceritakan apa pun padanya.
Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. Kenapa dia masih harus teringat pada pria itu?
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Qing Yue'er menyimpan kembali buku rumus itu. Tanpa melakukan apa-apa lagi dia langsung keluar dari ruangan tersebut. Itu hanya sebuah patung jadi dia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Selanjutnya dia pergi mencari sesuatu yang lain, sekalian dia juga ingin mencari petunjuk mengenai dewa yang berasal dari klan Liu. Seharusnya ada catatan atau hal-hal semacam itu yang bisa dia gali.
Sekarang dia pergi menuju tempat paling dalam. Di sana ada bangunan yang tampak lebih tua dari bangunan lainnya. Jika dia tidak salah maka seharusnya ini adalah ruangan untuk mengenang para leluhur klan. Ya, dia akan mencoba memeriksanya.
Qing Yue'er bergerak mendekat. Dia ingin mencoba memasukinya, tapi ternyata tidak bisa. Tempat itu menggunakan kunci yang berupa formasi. Karena dia tidak tahu pola formasi yang digunakan maka dia akan mencoba menggunakan kekerasan untuk membukanya.
Telapak tangannya mengepal erat sebelum dengan cepat mulai memukulkannya ke pintu kayu. Dia mencobanya beberapa kali tapi tidak ada perubahan yang terjadi. Kemudian dia beralih untuk mencoba menggambar formasi dengan acak, hasilnya sungguh mengecewakan. Akhirnya dia pun memanggil Ying Jun untuk membantunya.
“Ini bukan formasi sembarangan,” ucap Ying Jun setelah melihat apa yang terjadi. Dia menatap Qing Yue'er dengan segan. “Jika kita memaksa dengan kekerasan maka ruangan ini yang akan menghilang. Aku rasa ini adalah formasi kelas tinggi.”
“Tidak ada cara lain?” tanya Qing Yue'er.
“Tidak. Kecuali kamu bisa menggunakan formasi untuk membukanya,” ucap Ying Jun.
Qing Yue'er menggosok hidungnya yang tidak gatal. Jadi, sepertinya memang dia tidak bisa memasukinya secara paksa. Baiklah, anggap saja ini adalah kebaikan dan kesopanannya karena tidak menerobos masuk ke ruang leluhur klan lain.
Akhirnya Qing Yue'er bergerak kembali untuk menggeledah seisi istana Shenghuo. Dia menemukan banyak harta yang bisa meningkatkan kultivasi seseorang. Mungkin itu bukan sesuatu yang bisa membantu meningkatkan kultivasinya, tapi itu akan berguna untuk para pasukan klan Xie.
Qing Yue'er membersihkan semua hal-hal yang tersisa di istana Shenghuo. Dia tidak melihat para anggota keluarga atau keturunan klan Liu, sepertinya Ying Jun sudah memberantas mereka semua. Kerja yang bagus!
“Apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Xie Song pada Qing Yue'er.
“Tidak ada, hanya beberapa harta yang bisa kita manfaatkan,” ucap Qing Yue'er.
“Baiklah, itu saja sudah cukup. Kalau begitu kira-kira apa yang akan kita lakukan pada istana Shenghuo ini?”
Qing Yue'er memikirkannya. Istana itu tidak akan begitu berguna baginya dan dia tidak membutuhkannya. Jadi, dia hanya menjawab, “Lakukan apa pun yang Kakek mau. Aku tidak akan ikut campur.”
Xie Song mengangguk. “Aku merasa lega sekarang. Kamu kembalilah ke klan, biarkan aku mengurus semua sisanya. Ibunya juga sudah kembali belum lama ini.”
Qing Yue'er menganggukkan kepalanya. Akhirnya dia kembali ke klan. Namun, dia meninggalkan Ying Jun dan Jinlong di sana untuk berjaga-jaga jika ada hal tak terduga yang sewaktu-waktu terjadi. Sedangkan Taotie, dia langsung mengirimnya kembali ke dimensi.
Dia yakin setelah ini Celestial mungkin akan gempar dengan kemunculan Taotie untuk kedua kalinya. Namun, dia hanya bisa berharap semoga tidak ada dewa yang mengejarnya. Lagi pula sekarang Taotie tidak membuat banyak keributan, tidak melukai orang-orang secara acak.
Qing Yue'er langsung menghilang di tempat. Sejak tidak ada dewa yang datang maka kemungkinan tidak akan ada dewa yang ikut campur pada masalah pertempuran ini. Sekarang fokusnya adalah istana Tianjun. Jangan sampai dia kembali dengan keadaan istana yang kacau.
***
Sementara itu di istana Rongyao, Yuan Shan bersama seorang pria tua duduk di lantai atas menara. Jendela yang terbuka lebar membuat siapa pun bisa menyaksikan keadaan langit di kejauhan. Tentu saja mereka di sana untuk menyaksikan pertempuran yang terjadi di wilayah istana Shenghuo.
Yuan Shan menatap ke kejauhan dengan tatapan menerawang. “Pada akhirnya klan Liu kalah. Ini sungguh satu hasil yang mengejutkan.”
__ADS_1
“Hmm. Aku lebih tertarik dengan Taotie itu,” ucap Yuan Long dengan mata yang terpejam.
“Taotie muncul melahap Pulau Langit milik klan Liu. Dan sekarang muncul lagi untuk ikut menghabisi pasukan klan Liu. Ini hanya berarti bahwa Taotie itu memihak klan Xie,” ucap Yuan Shan sambil membelai dagunya.
“Ya, tidak tahu siapa yang sudah membawa Taotie dan menundukkannya. Seharusnya itu orang yang hebat, perlu banyak usaha untuk menundukkan Taotie. Bahkan, dewa harus mengisolasinya di tempat tersembunyi,” ucap Yuan Long yang masih memejamkan mata.
Meskipun mereka bisa melihat keadaan pertempuran dari jauh tetapi mereka tidak bisa melihat semua detailnya. Yang mereka lihat hanya kemunculan sesuatu yang besar atau mencolok.
“Bukan hanya itu, Paman. Aku rasa bukankah itu sama seperti sedang menentang dewa? Atau mungkin dewa yang dengan sengaja melepaskannya?” Yuan Shan menatap Yuan Long untuk meminta pendapat.
“Itu tidak mungkin. Dewa tidak akan membebaskan makhluk serakah seperti itu,” ucap Yuan Long.
“Kalau begitu ... ah, ini sedikit mengejutkan. Apakah kita perlu waspada?” tanya Yuan Shan.
“Waspada selalu diperlukan. Namun, jika orang yang menguasai Taotie adalah seseorang dari klan Xie maka itu tidak terlalu buruk. Mereka bukan klan yang akan menggunakan segala cara untuk mencari kekuasaan.”
Yuan Shan mengangguk setuju. Memang benar, selama ini klan Xie memiliki riwayat yang cukup baik. Mereka akan memperlakukan seorang kawan dengan sopan, tetapi akan memperlakukan musuh dengan cara yang cukup kejam.
“Lalu, ini tentang boneka-boneka wayang. Dari mana mereka muncul? Jumlahnya benar-benar bukan hal yang sepele. Jika tidak ada tiga binatang ilahi itu pasti klan Xie akan mengalami banyak kesulitan,” ujar Yuan Shan dengan kerutan samar.
Yuan Long terdiam sesaat. “Siapa yang akan tahu? Kamu harus menyelidikinya, Yuan Shan. Boneka-boneka itu mungkin adalah hasil buatan Liu Wen. Dan kamu harus memastikannya lenyap tanpa ada yang tersisa.”
“Aku akan melakukannya.” Yuan Shan mengangguk setuju.
Kemudian Yuan Long membuka matanya yang sudah tua. Dia menatap Yuan Shan dengan serius. “Kamu juga harus menyelidiki siapa orang yang sudah mengeluarkan Taotie. Cari tahu siapa pendatang baru klan Xie.”
“Baik, Paman. Aku akan mencari tahu semuanya,” jawab Yuan Shan.
Bukan hanya mereka berdua yang mendiskusikan masalah ini. Hal yang sama juga terjadi di istana-istana lain. Mereka semua merasa penasaran dengan pertempuran itu. Apalagi kemunculan Taotie, binatang ilahi lalu pasukan boneka-boneka wayang itu yang semuanya sungguh menarik untuk dibicarakan.
Bahkan, hal yang tidak berbeda juga terjadi di istana air milik Dewa Air Di Moxie. Saat ini sosoknya tampak memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Setelah beberapa saat matanya terbuka dengan pelan.
Dia melihat sosok lain yang berdiri tidak jauh darinya. Itu adalah wanita yang mengenakan jubah cyan serta hiasan perak di rambutnya. Wanita itu memberikan sebuah salam padanya.
“Di Liying, apa akhinya trisula itu sudah memiliki tuannya?” tanya Di Moxie.
“Benar. Aku sengaja tidak memberi tahu masalah ini pada siapa pun,” balas Di Liying.
“Tidak apa-apa. Itu akan lebih baik.” Di Moxie menganggukkan kepalanya setuju.
“Namun, trisula itu jatuh pada gadis ... putri Xie Ying Fei dengan dia. Bagaimana ini masih baik-baik saja?”
Di Moxie menatap Di Liying sesaat. Kemudian dia beralih menerawang ke kejauhan. “Trisula itu yang memilihnya sendiri. Apa yang bisa dilakukan? Lagi pula itu sudah bukan milikmu lagi.”
Di Liying menganggukkan kepalanya. “Itu memang benar. Sebenarnya aku datang ke sini bukan untuk masalah trisula.”
“Pasti tentang klan Liu dan klan Xie, bukan?”
Di Liying kembali menganggukkan kepala. Sebagai sesama penerima kehendak surga maka penglihatan mereka tidak akan jauh berbeda. Dan saat ini yang menjadi topik mencolok adalah pertempuran dua klan itu.
__ADS_1
“Klan Liu lenyap, apa kira-kira klan Xie akan baik-baik saja?” tanya Di Liying.
“Tidak ada yang tahu. Aku tidak bisa memprediksi masa depan seperti itu.”
“Lalu Taotie? Bukankah ini sebuah masalah bagi kita?”
Di Moxie menggelengkan kepalanya. “Ini juga bukan urusanku. Kamu mungkin harus bertanya pada orang-orang di Pengadilan Surgawi.”
Di Liying tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia masih belum berniat menanyakan ini pada Pengadilan Surgawi. Lagi pula dia masih ingat jika gadis itu sepertinya mengenal Di Futian. Dia mungkin tidak bisa dengan gegabah membicarakan hal ini pada dewa-dewa lainnya.
“Mungkin lebih baik diam dan menjadi pengamat yang baik,” gumam Di Liying yang akhirnya berbalik pergi setelah memberikan salam.
***
Saat ini Qing Yue'er akhinya tiba di dalam klannya. Tidak ada hal buruk yang terjadi di sana. Ini membuat dia merasa lebih senang. Akhirnya misi balas dendamnya telah selesai dengan baik. Meskipun pada akhinya dia tidak benar-benar merasa lega.
Ya, dia masih merasa waspada dengan dewa yang berdiri di belakang klan Liu. Tidak ada yang tahu apakah dewa itu akan diam atau justru mencarinya untuk membalaskan dendam lagi. Ah, rumit sekali.
Meskipun begitu, saat ini dia masih belum mau memikirkannya. Kebahagiaan ini tidak boleh dikotori dengan ketakutan. Ya, lagi pula untuk saat ini dia tidak akan mungkin bisa melawan kekuatan dewa. Apa pun yang terjadi dia hanya bisa membiarkannya terjadi dengan alami.
Ketika dia sedang melamun tiba-tiba pamannya datang menghampirinya. Pria itu langsung mencengkeram pundaknya erat-erat. “Apa kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka atau sakit? Ayahku tidak mengizinkanku pergi dan menyuruhku untuk menemani paman Xie Yang. Jadi, aku tidak tahu apa saja yang terjadi di sana.”
Qing Yue'er pura-pura meringis dan memukul cengkeraman tangan Xie Wuqing. “Paman, lepaskan aku. Jika kamu bertanya seperti itu maka aku akan menjawab ini,” ucap Qing Yue'er sambil menunjuk pundaknya.
“Apa aku menekan lukamu? Ke sini, biarkan aku memeriksanya,” ucap Xie Wuqing dengan serius.
“Hah, lupakan. Sejujurnya aku baik-baik saja. Tidak ada yang terluka.”
Xie Wuqing menatap Qing Yue'er untuk memeriksa apakah ada kebohongan. Namun, mata hitam itu hanya menatapnya dengan polos. Akhirnya dia percaya. “Kalau begitu pergilah untuk beristirahat.”
Qing Yue'er mengangguk sambil tersenyum. Akhirnya dia pun meneruskan langkahnya kembali menuju kediamannya. Setibanya di sana dia langsung menggunakan mantra untuk membenarkan penampilannya.
Jubah yang sudah memiliki banyak noda darah itu langsung lenyap digantikan dengan pakaian putih yang terlihat lebih santai. Tatanan rambutnya juga sudah berubah. Yang awalnya diikat kini dibiarkan tergerai begitu saja. Dia terlihat lebih segar sekarang. Itu semua berkat mantra yang diberikan oleh Mo Jingtian.
Qing Yue'er menghela napas. Lagi-lagi pria itu muncul di pikirannya. Kenapa sulit sekali untuk sekadar menyisihkannya dari otaknya?
Dia melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Matanya hanya menatap langit-langit dengan pikiran yang tidak tahu ke mana. Kemudian dia memejamkan kedua matanya. Seharusnya dia tidak membutuhkan tidur, tapi saat ini dia benar-benar ingin terpejam.
Saat Qing Yue'er sedang menutup mata, tiba-tiba sosok merah muncul diam-diam dari udara tipis. Orang itu datang mendekati gadis itu. Tangannya bergerak untuk membelai puncak kepala Qing Yue'er.
“Kamu melakukannya dengan sangat baik. Sekarang aku sudah mengabulkan permintaanmu bukan? Aku tidak ikut campur,” ucap Mo Jingtian dengan pelan. Setelah mengatakan itu, dia berniat menarik tangannya menjauh.
Tiba-tiba kedua mata Qing Yue'er terbuka. Dengan gesit dia menahan tangan Mo Jingtian yang seakan bisa pergi kapan saja. Qing Yue'er menggelengkan kepalanya sambil menatap Mo Jingtian dengan sorot penyesalan.
“Aku bersalah, Jingtian. Aku ... tidak akan mengusirmu lagi.”
Mo Jingtian sedikit terkejut dengan kejadian tiba-tiba ini. Dia menatap Qing Yue'er lekat-lekat. Pada akhirnya dia meloloskan senyum kecil. “Kenapa kamu berubah pikiran?”
Qing Yue'er menunduk malu. “Aku tidak bisa. Rasanya sangat sulit,” ucapnya pelan. Kemudian dia melanjutkan, “Aku tahu kita tidak selalu bersama setiap saat, tapi kemarin rasanya sangat berbeda.”
__ADS_1
Mo Jingtian tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya terdiam lalu menarik gadis itu ke dalam rengkuhannya. Dia memejamkan matanya sejenak. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, tidak ada. Setidaknya itulah yang dia percaya.