Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kakek Xie


__ADS_3

Di dalam ruangan yang luas, seorang pria tua sedang berdiri di dekat jendela. Dia memandang ke arah luar yang menampilkan sebuah taman cantik. Melihat tanaman hijau membuat perasaannya yang kalut menjadi lebih baik. Meskipun begitu dia masih akan cemas sepanjang waktu jika memikirkan masalah klannya.


Beberapa wilayah di bawah kekuasaan istana Tianjun sudah diambil alih oleh klan Liu. Jika dia masih belum memiliki solusi yang tepat maka bukan hanya harta klan Xie saja yang direbut, tapi seluruh istana Tianjun pun akan diambil alih oleh klan serakah itu.


“Istriku, jika kamu masih hidup apakah kamu akan memberiku nasihat yang baik?” tanya Xie Song pada udara kosong. Dia tahu pertanyaan ini hanya akan hilang menjadi angin lalu tanpa ada seseorang yang menjawabnya.


“Kakak, apa yang sedang kau pikirkan?” Tiba-tiba sebuah suara datang mengagetkannya.


Xie Song berbalik saat mendengar ada seseorang yang bertanya dari belakang. Itu adalah adik laki-lakinya, Xie Yang. “Aku sedang memikirkan hal-hal,” jawab Xie Song.


“Berhenti berpikir berlebihan. Aku membawa seseorang yang tidak terduga,” ucap Xie Yang.


“Siapa itu?” tanya Xie Song sambil berjalan menuju tempat duduknya.


“Seseorang yang aku rasa sudah lama kamu rindukan,” kata Xie Yang masih bertele-tele. Kemudian dia melanjutkan, “Aku harap Kakak tidak akan mudah percaya dengan apa yang dilihat nanti.”


“Hmm, katakanlah. Aku sedang tidak ingin menebak-nebak,” ucap Xie Song tanpa mau berlama-lama.


“Ini aku, Ayah.” Tiba-tiba suara yang masih sedikit asing tetapi juga nyaman di hati, terdengar setelah pintu masuk terbuka.


Jantung Xie Song langsung berdegup kencang. Apa barusan dia salah dengar? Dia mengalihkan pandangannya pada pintu masuk. Di sanalah dia melihat seorang pria muda yang berjalan masuk diikuti oleh seorang gadis.


Dia menatap lekat pada kedua orang itu. Pria yang tampan serta gadis muda yang luar biasa cantik. Butuh waktu beberapa saat sebelum Xie Song bisa menyadari apa yang sedang terjadi. Xie Wuqing, anaknya yang malang sudah kembali(?)


“Wuqing memberi hormat pada Ayah,” ucap Xie Wuqing sambil membungkuk dalam. Perasaannya menjadi lembut. Jika dia tidak pintar berakting mungkin dia sudah meneteskan air matanya sekarang.


Xie Song terdiam tanpa bisa berkata-kata. Jika benar ini memang Xie Wuqing, apakah gadis cantik itu adalah cucunya? Putri Xie Ying Fei yang terlahir di dunia bawah?


“Qing Yue'er menyapa Kakek.” Qing Yue'er juga membungkuk. Meskipun dia gugup tapi perasaannya berhasil ditenangkan. Bagaimanapun juga ini adalah kepulangannya yang pertama. Dan ini juga pertama kalinya dia bertemu dengan kakeknya. Perasaannya benar-benar bercampur menjadi satu.


Xie Song menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Surga tahu perasaannya saat ini benar-benar terkejut dan tentunya bahagia. Di permukaan dia tampak tenang, tapi hatinya benar-benar melonjak-lonjak.


Dia menatap Xie Wuqing dengan wajah yang sama seperti sebelumnya. Kemudian dia bertanya, “Di mana ayahmu ini menghukummu jika tidak patuh?”


Xie Wuqing berkedip sesaat. Kenapa ayahnya bertanya soal ini? Apa untuk mengujinya? Tanpa pikir panjang dia pun menjawab, “Ruang perpustakaan. Orang lain berpikir aku sedang membaca, padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku sedang dihukum untuk menyalin ribuan peraturan klan.”


Mendengar jawaban itu membuat Xie Song tersenyum lembut. Dia jadi ingat bagaimana Wuqing kecil sering mendapat hukuman darinya. Setelah berpisah bertahun-tahun akhinya dia bisa melihat putranya lagi dalam keadaan yang baik.


Xie Song beralih menatap Qing Yue'er dan menelitinya beberapa saat. “Kemarilah,” pintanya.


Qing Yue'er mengangguk dan langsung bergerak menghampiri Xie Song. Dia bisa melihat wajah kakeknya yang masih segar dan tidak terdapat jenggot putih seperti kakek-kakek lainnya. Tidak ada yang tahu berapa usianya karena orang-orang di sini pasti sudah hidup dalam waktu yang lama.


Wajah kakeknya begitu mirip dengan paman Wuqing. Tentu saja itu karena mereka ayah dan anak. Dia bisa merasakan aura kakeknya yang begitu berwibawa dan berkharisma, sangat pantas dengan gelarnya sebagai kepala istana Tianjun.


Qing Yue'er menundukkan kepalanya. Melihat kakek ini membuat dia ingat dengan kakek lain yang pernah merawatnya di bumi. Meskipun pada kenyataannya kehidupannya di bumi hanyalah sebuah persinggahan, tapi dia tetap tidak bisa melupakannya begitu saja.

__ADS_1


Xie Song meminta Qing Yue'er mendekat. Gadis di depannya itu memiliki kecantikan yang luar biasa. Sepertinya Xie Ying Fei sudah menurunkan kecantikannya pada putrinya. Dia tersenyum dan membiarkan Qing Yue'er duduk di sebelahnya.


“Bagaimana? Apa selama ini kamu hidup dengan baik?” tanya Xie Song dengan lembut.


Qing Yue'er menatap kakeknya sambil tersenyum. “Yue'er hidup dengan baik. Sangat baik.”


“Gadis pembohong,” ucap Xie Song sebelum merangkul Qing Yue'er dengan hangat.


“Maafkan kakekmu ini yang tidak pernah sesekali menemuimu. Aku senang karena kamu mau kembali ke sini tanpa menunjukkan kebencian padaku,” katanya. Jujur saja dia merasa bersalah jika mengingat masa lalu. Dia bahkan tidak melihat seperti apa rupa Qing Yue'er sewaktu bayi. Apakah dia masih seorang kakek yang baik?


Qing Yue'er menggelengkan kepalanya. “Itu adalah masa lalu. Lagi pula Yue'er tidak pernah menyalahkan siapa pun. Semuanya karena keadaan yang memang tidak memungkinkan,” ucapnya perlahan.


“Kamu benar-benar gadis baik,” puji Xie Song. Dia bisa berkata seperti itu karena belum tahu bagaimana Qing Yue'er bersikap kejam terhadap musuhnya. Kata ‘baik’ mungkin sedikit kurang cocok untuknya.


Xie Song memanggil Xie Wuqing untuk mendekat. Dia juga ingin mengamati putranya lebih teliti. “Kemarilah. Biarkan aku berbicara dengan kalian berdua,” ucap Xie Song. “Xie Yang, kamu pergilah. Aku akan berbicara dengan mereka.”


“Tapi, apa itu baik-baik saja? Jadi, mereka benar-benar ....”


“Ya. Ini adalah putra dan cucuku yang sudah lama pergi. Jadi, jangan membuat keributan yang tidak-tidak. Dan aku juga ingin menyembunyikan masalah ini sebentar. Jangan sampai klan Liu mengetahuinya.” Xie Song sedikit memperingatkan Xie Yang.


Xie Yang menatap Qing Yue'er dengan perasaan yang rumit. Selama ini dia tidak tahu kalau putri Xie Ying Fei masih hidup. Tidak ada seorang pun yang pernah membicarakannya. Bahkan, Xie Song atau Xie Ying Fei pun tidak pernah mengungkit masalah keturunan itu. Siapa yang menduga ternyata mereka menyembunyikannya dengan sangat baik.


Meskipun begitu dia juga tidak bisa bicara banyak hal. Dia tidak memiliki ketidaksenangan atau kebencian. Itu baik-baik saja selama cucu Xie Song tidak banyak menyebabkan masalah. Apa lagi di situasi yang carut-marut seperti sekarang.


Sementara itu Xie Song mengamati tingkat kekuatan putra dan cucunya. Sejujurnya dia terkejut setelah melihat perbedaannya. Mereka berdua sama-sama berada di level 1 alam surgawi, tetapi usia mereka memiliki selisih perbedaan beberapa tahun. Itu adalah sesuatu yang masih harus diperhatikan.


“Bagaimana kamu bisa lebih lambat dari Yue'er? Sepertinya kamu harus lebih banyak berlatih lagi,” ujar Xie Song pada Xie Wuqing.


“Ayah, kamu tidak bisa membandingkanku dengan Yue'er. Hais, Ayah harus melihatnya lebih lama lagi sehingga tahu bagaimana perbedaannya,” protes Xie Wuqing. Bahkan, jika dia harus menyempurnakan banyak harta, pasti dia masih kesulitan untuk menyamakan diri dengan kecepatan Qing Yue'er.


“Oh, benarkah?” Xie Song menatap Qing Yue'er. Tiba-tiba matanya sedikit berkilat. Jari-jarinya bergerak untuk mengusap dahi Qing Yue'er perlahan. “Seseorang membuatkan dimensi untukmu?” tanya Xie Song.


Qing Yue'er sedikit terkejut karena Xie Song bisa mengetahuinya. Memang sebelum masuk ke istana Tianjun, mereka sudah mengembalikan penampilan aslinya. Jadi, simbol phoenix itu sudah terpampang dengan jelas. Meskipun begitu, dia masih terkejut. Pasti kakeknya ini memiliki kekuatan yang luar biasa.


“Sebenarnya aku hanya beruntung. Ketika aku bangun ternyata aku sudah memiliki dimensi ini,” ucap Qing Yue'er.


“Pasti pria itu yang menciptakannya,” tebak Xie Wuqing yang langsung menarik minat Xie Song.


“Pria siapa?” tanya Xie Song dengan penasaran.


Qing Yue'er menginjak kaki pamannya untuk mencegah pria itu berbicara banyak hal. Untuk saat ini dia tidak ingin kakeknya mengetahui keberadaan Mo Jingtian. Entah kenapa dia masih belum ingin mengungkapkannya. Nalurinya berkata seperti itu.


“Ya, ya, itu ....” Xie Wuqing merasa kakinya menjadi mati rasa. Apakah gadis itu menggunakan banyak kekuatan untuk menginjaknya?


“Hahah, jangan dengarkan dia. Paman memang senang membual. Mungkin dia akan menjawab tentang dewa, dewa, dewa. Bukankah itu hanya omong kosong?” Qing Yue'er tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Xie Song tersenyum lalu berkata, “Bagaimana itu bisa menjadi omong kosong? Siapa yang akan tahu tentang takdir seseorang?”


Mendengar ini membuat Qing Yue'er terdiam. Kemudian dia tersenyum. “Kakek memang benar.” Siapa yang tahu takdir seseorang? Kenyataannya dia memang sudah bertemu dengan seseorang seperti Mo Jingtian.


“Kakek, di mana ibu? Bisakah aku bertemu dengannya?” tanya Qing Yue'er untuk mengalihkan pembicaraan.


“Ah, ibumu tidak ada di tempat ini. Dia memang sering pergi, aku juga tidak tahu apa persisnya yang dia lakukan.” Xie Song menghela napas panjang. “Aku hanya takut dia akan menemui orang-orang yang tidak seharusnya dia temui.”


“Memangnya siapa yang tidak seharusnya ibuku temui?”


“Yaah, kamu akan tahu nanti,” jawab Xie Song.


“Kalau begitu ....” Qing Yue'er tampak ragu-ragu sejenak. “Ayahku, di mana dia? Kenapa aku tidak pernah mendengar apa pun? Dia juga tidak pernah menemuiku, tidak seperti ibuku yang pernah menemuiku meskipun hanya sebentar,” ucap Qing Yue'er. Dia memang ingin mengetahui tentang masalah ini.


Xie Song menjadi ragu. Dia menatap Qing Yue'er dengan rasa bersalah. “Cobalah untuk membicarakan ini dengan ibumu. Aku juga tidak tahu banyak hal mengenai ayahmu.”


Qing Yue'er tentu saja terkejut. Kenapa kakeknya tidak mengetahui tentang ayahnya? Apa maksudnya?


“Apa mungkin ayahku sudah ....” Qing Yue'er tidak bisa melanjutkan ucapannya. Lidahnya menjadi kelu. Kata-katanya terasa seperti tersangkut di tenggorokan.


Xie Song memegang tangan Qing Yue'er dengan lembut. “Jangan berpikir yang tidak-tidak sebelum ibumu menceritakan semuanya.”


Xie Wuqing setuju dengan ayahnya. “Benar. Jangan berpikir yang tidak-tidak.”


Akhirnya Qing Yue'er mengangguk. Dia menatap kakeknya dengan serius. “Kakek, kami mendengar akan ada perang antara klan Xie dengan klan Liu. Apa ini benar?”


“Ini belum bisa dipastikan. Masih ada satu wilayah yang menjadi target klan Liu. Jika mereka memang mengambil wilayah itu maka perang mungkin akan pecah,” ucap Xie Song.


“Satu wilayah? Di mana itu?” Qing Yue'er bertanya lagi.


“Itu adalah Pulau Langit. Aku tidak akan diam jika itu terjadi. Mereka menargetkan harta warisan klan Xie dan sedikit demi sedikit mulai merongrong pondasi klan kami. Itu benar-benar .... Ah, apa yang bisa kuperbuat?” tanya Xie Song yang lebih terdengar seperti sebuah keluhan.


Kekuatan klan Xie dan klan Liu memang setara. Itu juga yang membuat perebutan ini banyak membuang waktu hingga bertahun-tahun. Baru-baru ini klan Liu memiliki banyak kemajuan, tentu saja klan Xie yang menjadi sedikit kewalahan.


Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu. “Kepala Istana, Nyonya Xie Ying Fei sudah kembali. Tapi ....”


“Tapi apa?” tanya Xie Song tanpa membuka pintu.


“Sepertinya dia terluka,” jawab seseorang yang berada di luar pintu.


Mendengar ini membuat Qing Yue'er sontak berdiri. “Aku akan menemui ibu,” ucapnya dengan cemas.


“Kita pergi bersama,” kata Xie Song bersamaan dengan Xie Wuqing. Mereka berdua juga merasa khawatir. Bagaimanapun juga Xie Ying Fei jarang terluka.


Tanpa berlama-lama akhinya mereka bertiga segera keluar dari ruangan dan bergerak untuk menemui Xie Ying Fei.

__ADS_1


__ADS_2