Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Dekat Kota Nan Zheng


__ADS_3

Malam ini beberapa orang mulai pergi meninggalkan pesisir pantai. Namun, ada juga yang masih tinggal di sana seperti kelompok akademi Surgawi. Mereka baru akan pergi keesokan harinya.


Sementara itu Qing Yue'er sedang menuju kamar gurunya. Dia ingin mengatakan tentang kepergiannya besok. Benar, dia akan pergi dengan Mo Jingtian yang entah ke mana. Pria itu masih belum mengatakan tempat yang dimaksud.


Qing Yue'er memanggil gurunya. “Guru, aku ingin berbicara denganmu.”


Beberapa saat kemudian pintu yang tertutup itu akhirnya terbuka. “Malam-malam begini ada apa?” Mulutnya bertanya, tapi tangannya tampak menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.


“Ah, apa yang sedang Guru sembunyikan? Hmm, apa itu harta yang bisa menghancurkan dunia?” tanya Qing Yue'er sedikit menggoda. Dia mencoba mengintip ke belakang Han Qiong.


“Harta yang menghancurkan dunia, kepalamu! Jika aku memiliki harta seperti mungkin aku hanya tinggal duduk diam sambil mengamati bagaimana dunia bekerja untukku,” ucap Han Qiong dengan mata yang berbinar.


“Baiklah, baiklah. Hentikan khayalanmu. Aku datang ke sini karena ingin berpamitan.” Qing Yue'er menatap gurunya dengan wajah yang lebih serius.


Mendengar itu Han Qiong langsung menatap Qing Yue'er dengan heran. “Berpamitan? Ke mana kamu akan pergi?”


“Aku tidak tahu," gumam Qing Yue'er. Namun, dia segera berkata, “Em, aku tidak bisa memberi tahu pada Guru. Ini mungkin tidak akan lama. Percayalah aku akan baik-baik saja.”


“Baiklah, lagi pula itu adalah hakmu,” ucap Han Qiong. “Sudah selesai bukan? Aku masih sibuk.”


Bibir Qing Yue'er berkedut. “Kalau begitu aku akan pergi.”


Han Qiong mengibaskan salah satu tangannya untuk menyuruh Qing Yue'er pergi. Setelah itu dia kembali menutup pintu sambil bergumam, “Gadis sekarang tidak tahu jika orang tua sedang sibuk.” Dia kembali mengeluarkan benda yang sejak tadi disembunyikan di belakang tubuhnya.


“Dan sekarang dia jadi sering bepergian, padahal belum lama kami baru bertemu,” gerutunya. Saat itu matanya memelotot. “Dia akan pergi? Ke mana? Apakah dengan pria yang tidak jelas asal usulnya itu?”


Han Qiong kembali membuka pintu. Sayangnya Qing Yue'er sudah tidak ada di sana. “Hmm, sudahlah. Aku akan membiarkan dia pergi.”


***

__ADS_1


Keesokan harinya Mo Jingtian datang menemui Qing Yue'er. Masih dengan tampilan yang sederhana, dia berdiri di depan Qing Yue'er. “Kamu sudah bersiap?”


Qing Yue'er mengangguk. Mo Jingtian bertanya, “Apa kamu tidak merasa ingin tahu ke mana aku pergi?”


“Tentu saja aku penasaran. Jadi, ke mana?” tanya Qing Yue'er.


“Bawa temanmu itu. Biarkan dia ikut.” Bukannya menjawab, Mo Jingtian malah memerintah Qing Yue'er.


“Teman yang mana?” Qing Yue'er bertanya dengan bingung. Tentu saja dia harus bertanya karena temannya tidak hanya ada satu. Bukankah begitu? Sayangnya, pertanyaannya tidak segera dijawab oleh Mo Jingtian.


Qing Yue'er memutar bola matanya. Dia bertanya, “Luo Qingqi?” Mo Jingtian menggeleng. “Ming Yuxia? Zi Xian? Ah, tapi dia bukan temanku.” Mo Jingtian masih terdiam.


“Jing Ling?” Akhirnya Qing Yue'er mengeluarkan nama itu yang langsung diangguki oleh Mo Jingtian.


“Benar. Jing Ling,” ucap Mo Jingtian.


“Jadi, kamu tidak mengingat nama mereka.” Qing Yue'er langsung terkekeh. “Jing Ling? Hanya dia yang boleh ikut?”


Qing Yue'er terkejut. Kota Nan Zheng adalah kota tempat Jing Ling berasal. Pantas saja Mo Jingtian memintanya untuk mengajak Jing Ling. Namun, untuk apa dia mengajaknya ke sana? Dia berpikir sejenak. Apakah ada hal penting yang tidak dia ketahui? Atau mungkin yang telah dia lupakan?


Tiba-tiba kedua mata Qing Yue'er langsung berkilat. “Apakah kita akan pergi ke jurang itu? Jurang yang berada di dekat kota Nan Zheng?”


“Benar.” Mo Jingtian mengangguk. “Ada beberapa hal yang mungkin berguna untukmu.”


Qing Yue'er langsung tersenyum senang. “Aku akan memanggil Jing Ling! Kamu tunggu saja di depan penginapan!” Qing Yue'er berseru sambil berlari keluar kamar. Tentu saja dia merasa sangat antusias. Apalagi Ying Jun pernah berkata jika jurang itu merupakan warisan kuno. Pasti ada sesuatu yang menunggu untuk diambil.


Mo Jingtian hanya tersenyum melihat betapa senangnya Qing Yue'er. Kemudian dia sendiri bergerak keluar penginapan.


Qing Yue'er mengetuk pintu kamar Jing Ling hingga beberapa kali. Tanpa menunggu lama Jing Ling langsung keluar. “Kenapa kamu datang?” tanya Jing Ling dengan heran.

__ADS_1


“Jing Ling, aku akan pergi ke kota Nan Zheng,” ucap Qing Yue'er. “Apa kamu mau ikut denganku?”


Jing Ling tampak terkejut. “Sekarang?” tanya dia yang langsung diangguki oleh Qing Yue'er.


Ini terlalu tiba-tiba. Jing Ling masih belum percaya. Bagaimanapun juga jarak antara tempat ini dengan kota Nan Zheng tidaklah dekat. Bisa dikatakan jauh. Bukankah Qing Yue'er terlalu mendadak?


“Aku ingin ikut tapi aku harus berbicara dulu dengan guru-guru,” ucap Jing Ling.


“Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu.”


Jing Ling langsung mengangguk senang. “Baik, aku tidak akan lama.” Dia langsung melesat pergi menemui orang-orang yang harus diberi tahu tentang kepulangannya.


Qing Yue'er tidak menunggu lama sampai Jing Ling kembali muncul. Cepat sekali anak itu, pikir Qing Yue'er.


“Aku sudah bicara dengan Luo Qingqi dan Ming Yuxia juga. Sekarang aku sudah bisa ikut denganmu,” ucap Jing Ling dengan cepat. Dia benar-benar merasa senang karena akhirnya akan kembali ke kota kelahirannya.


“Bagus. Ayo pergi,” ajak Qing Yue'er.


Mereka berdua pun akhinya pergi keluar penginapan. Di sana mereka melihat Mo Jingtian yang sudah menunggu. Jing Ling terkejut dengan kehadirannya hingga berbisik, “Aku pikir pamanmu yang akan ikut, tapi ternyata orang ini.”


Qing Yue'er tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Dia menatap Mo Jingtian dan bertanya, “Bagaimana kita akan pergi ke sana?”


Mo Jingtian berjalan ke tempat yang cukup terbuka. Kemudian dia mengukir formasi di udara sebelum melemparnya ke tanah. Setelah itu udara di atasnya mulai mengalami perubahan. Tak selang lama, sebuah pintu transparan muncul di atas formasi.


Jing Ling langsung terpana. “Woah, sehebat itu?!” Dia menatap Mo Jingtian dengan tatapan mengagungkan. Bukankah ini adalah pintu yang akan memotong jarak dan waktu? Jadi bepergian ke mana pun pasti akan sangat mudah. Ini benar-benar hebat!


Mo Jingtian menatap Qing Yue'er. “Masuklah. Ini akan lebih cepat.”


Qing Yue'er mengangguk. Sebenarnya dia juga terkejut, tapi tidak seterkejut Jing Ling. Lagi pula kurang lebih dia sudah memahami Mo Jingtian. Akhirnya dia menarik Jing Ling dan mendorongnya untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia menggandeng Mo Jingtian untuk masuk bersama-sama.

__ADS_1


Setelah mereka semua masuk, pintu transparan itu langsung memudar. Hari itu kebetulan tidak ada banyak orang yang tersisa di tempat ini. Jadi, tidak ada yang melihat mereka menghilang melalui pintu transparan itu.


__ADS_2