
Setelah masalah sitar selesai, Qing Yue'er dan dua lainnya langsung pergi ke penginapan. Itu adalah penginapan yang sama dengan yang ditempati oleh Qi Rong. Mereka akan beristirahat sebelum memikirkan apa yang akan dilakukan untuk waktu selanjutnya.
Qing Yue'er berbaring di atas tempat tidur sendirian. Perasaannya menjadi lega. Akhirnya dia bisa mengistirahatkan tubuhnya secara layak. Sudah lama dia tidak bersantai seperti ini.
Sekarang sudah lewat tengah malam, tapi dia masih belum mengantuk. Akhirnya dia mencoba untuk bermeditasi.
Hampir saja menutup mata, tiba-tiba dia merasakan fluktuasi energi dari dimensinya. Karena merasa tidak biasa, dia pun pergi ke dimensinya untuk memeriksa.
Setelah sampai di depan gua, dia bisa melihat Ying Jun yang sedang bermeditasi di depan pintu masuk. Itu berarti fluktuasi energi bukan disebabkan olehnya, lalu apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Qing Yue'er bergegas masuk ke gua. Dia ingin memeriksa jika sewaktu-waktu ada sesuatu yang salah. Setelah dia tiba di dalam, tubuhnya langsung kaku.
Dia melihat pria yang sudah lama menghilang kini ada di dalam gua. Pria itu duduk bersila dengan mata yang terpejam. Tangannya bergerak cepat untuk membentuk segel tangan yang begitu rumit. Wajahnya berkerut seperti sedang menahan kesakitan.
Ekspresi wajah Qing Yue'er langsung berubah. Tatapan matanya menjadi sendu. Apakah pria itu terluka?
Qing Yue'er tidak berani mengganggu Mo Jingtian. Dia hanya mengamatinya dari kejauhan. Diam-diam hatinya diselimuti oleh kekhawatiran. Jadi apa yang sebenarnya pria itu lakukan selama ini? Kadang-kadang dia ingin bertanya tapi dia selalu menahannya. Dia tahu itu bukan sesuatu yang pantas dia tanyakan.
Ekspresi wajah Mo Jingtian masih kesakitan. Dia menghentikan segel tangannya dan seketika darah merah menyembur dari mulutnya. Kedua matanya langsung terbuka. Mata emas yang sudah lama tidak terlihat oleh Qing Yue'er pun terungkap. Wajahnya yang tampan menjadi sedikit pucat.
Dia melihat gadis kecil yang sudah lama dia rindukan. Bibirnya langsung tersungging membentuk senyuman tipis.
Melihat senyum di wajah Mo Jingtian bukan membuat Qing Yue'er senang. Dia malah merasakan sesuatu yang sesak di dadanya. Sudah berapa kali pria itu menerima luka dan kesakitan? Jika dia sendiri tidak datang ke sini apakah dia akan tahu kalau Mo Jingtian sedang terluka?
__ADS_1
"Bagaimana agar aku bisa membantumu?" tanya Qing Yue'er. Dia masih berdiri jauh dari Mo Jingtian. Melihat pria itu terluka membuatnya ikut merasa sakit.
"Apa aku pernah meminta bantuanmu?" tanya Mo Jingtian dengan santai.
Mata Qing Yue'er langsung berkedip setelah menerima pertanyaan itu. Selama ini Mo Jingtian selalu memiliki urusan yang tidak pernah dia ketahui dan selama itu pula pria itu tidak pernah meminta bantuan padanya.
"Kenapa baru sekarang kamu datang?" Qing Yue'er tidak menjawab pertanyaan Mo Jingtian, sebaliknya dia malah melemparkan pertanyaan.
"Kemarilah," ucap Mo Jingtian.
Qing Yue'er akhirnya berjalan mendekati Mo Jingtian. Dia duduk di sebelah pria itu dan mengamati wajah yang masih sedikit pucat. "Bagaimana kamu bisa terluka? Apakah selama ini kamu selalu menanggungnya sendirian?"
Mo Jingtian menatap ke dalam manik mata hitam Qing Yue'er. Kalimat yang menyenangkan pun keluar dari mulutnya. "Aku merindukanmu."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Qing Yue'er berseru. Namun, tidak dipungkiri wajahnya tampak memerah setelah mendengar ungkapan Mo Jingtian.
"Kamu pembohong." Qing Yue'er berkata dengan pelan. Dia bisa merasakan energi dalam tubuh Mo Jingtian yang terasa sangat lemah. Baru kali ini dia melihat pria itu dalam kondisi seperti ini.
Dia pikir Mo Jingtian tidak akan bisa terluka, tetapi ternyata dia salah. Semakin tinggi seseorang maka badai yang menghampirinya pun akan semakin kuat. Tidak ada makhluk yang benar-benar tanpa masalah bahkan jika itu dewa sekalipun.
Lagi-lagi Mo Jingtian menyunggingkan senyum. Dia menarik Qing Yue'er ke dalam pelukannya. Rasa sakit yang dia rasakan sudah tidak dipedulikan lagi.
Qing Yue'er merasa tubuhnya menjadi kaku. Namun, setelah beberapa saat tangannya balas memeluk tubuh kokoh yang sudah sangat lama pergi. Aroma cendana yang lembut langsung tercium di hidungnya.
__ADS_1
"Aku akan membantu memulihkan energimu," ucap Qing Yue'er.
"Aku merindukanmu," ucap Mo Jingtian sekali lagi. Dia masih belum mau melepaskan gadis itu sebelum dia mau membalas ucapannya.
Hati Qing Yue'er terasa hangat. Dengan wajah memerah, dia pun membalas, "Ya, aku tahu dan aku merasakan hal yang sama."
Mo Jingtian merasa perasaan lega. Mungkin baru kali ini dia memiliki perasaan seperti ini. Semua orang harus tahu bahwa dia bukan seseorang yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. Namun, dia akan menjatuhkan hatinya pada satu pilihan yang mungkin akan berlangsung selamanya.
Cukup lama mereka dalam posisi itu. Kemudian Qing Yue'er melepaskan diri dan mengulangi apa yang sebelumnya ia katakan. "Aku akan membantumu memulihkan energi."
Tanpa menunggu persetujuan Mo Jingtian, Qing Yue'er mulai menyalurkan qi spiritual dari tubuhnya. Beruntung dantiannya selalu penuh, apalagi setelah menyerap inti spiritual dari Beruang Ying Yang.
Sayangnya kedalaman dantian Mo Jingtian adalah sesuatu yang tidak bisa diukur lagi. Hanya dalam sekejap, Qing Yue'er telah menghabiskan setengah qi spiritualnya. Namun tidak ada tanda-tanda perbaikan dalam tubuh Mo Jingtian.
Hal itu membuat Qing Yue'er merasa cemas. Ketika dia ingin mengulangi lagi, Mo Jingtian langsung menghentikannya.
"Kamu sudah melakukannya dengan baik, tapi ini hanya akan sia-sia. Jangan khawatir, aku hanya perlu beristirahat selama beberapa saat," ucapnya.
Akhirnya Qing Yue'er hanya bisa menurut. Maksud dari beristirahat kemungkinan adalah menutup diri dalam meditasi. Dan itu akan memakan waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu sekarang," ucap Qing Yue'er.
"Ini sudah larut. Pergilah tidur. Masih ada yang harus kamu lakukan esok hari." Mo Jingtian berkata dengan lembut. Dia menanamkan kecupan lembut di kening Qing Yue'er. Untuk saat ini dia akan tetap di sini.
__ADS_1
Dengan enggan Qing Yue'er kembali ke kamarnya. Dia mencemaskan keadaan Mo Jingtian, tapi untuk saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantu. Mungkin lebih baik dia kembali menata rencananya. Dia harus bisa cepat menjadi kuat. Ada banyak hal yang menantinya di masa depan.
Mo Jingtian menatap kepergian gadisnya. Dia menghela napas. Rasa sakit yang sudah hilang kini kembali merasuki tubuhnya. Ini adalah luka lama yang kembali tergores. Dia tidak mau membuat Qing Yue'er semakin mencemaskannya. Mungkin seharusnya memang dia tidak pergi ke sini.