
Sementara itu, di dalam kamar Qing Yue’er memungut bunga peony biru yang layu. Dia mencolok bagian kelopaknya berkali-kali sampai akhirnya tangkainya mulai menggeliat.
“Jangan menyentuh Nyonya ini!”
“Oh, Nyonya ….” Dia mengangguk beberapa kali lalu mengguncang bunga itu dengan keras. “Nyonya Peony, apakah tidurmu sangat nyenyak?”
Bunga itu langsung berteriak, “Berhenti! Kau membuatku pusing!”
Qing Yue’er terkekeh dan merasa terhibur. Dia kembali mencolok kelopak bunga itu hingga Nyonya Peony itu memakinya dengan marah.
“Nyonya, kenapa kau bisa berbicara?” tanya Qing Yue’er yang akhirnya berhenti mengganggunya.
“Karena aku bukan bunga biasa! Aku adalah bunga spiritual. Jika aku bisa bertahan hidup sampai usia 500 tahun, aku akan berubah menjadi manusia seperti kalian,” ucap peony biru itu dengan bangga.
“Lalu berapa usiamu sekarang?”
Bunga itu mendengkus bangga. “Tiga bulan lagi. Tiga bulan lagi aku tepat berusia 500 tahun!”
Qing Yue’er tidak percaya dengan pengakuan itu. Dia memerhatikan fitur bunga itu dengan baik, tapi itu tidak terlihat seperti tanaman tua. Seluruh bagiannya tampak layu karena sempat terpengaruh oleh kutukan Di Ming De.
“Tidak meyakinkan sama sekali,” komentarnya.
“Diam kamu! Aku lihat ada sesuatu yang istimewa di tubuhmu,” kata bunga biru itu.
“Hmm?” Qing Yue’er menjadi heran. “Sesuatu yang istimewa apa itu?”
“Tidak tahu,” jawab bunga itu dengan malas.
“Oh, tidak tahu.” Qing Yue’er menyeringai lalu kembali mencolok bunga itu sampai puas. Tentu saja Nyonya Peony itu memakinya dengan marah.
“Benar-benar gadis penindas! Aku menyesal sudah pergi bersamamu!”
Qing Yue’er tertawa pelan. Kemudian ekspresinya berubah menjadi datar. “Aku memang suka menindas. Aku bahkan menindas calon suamiku,” ucapnya tanpa ekspresi.
“Pria yang malang!” ejek bunga itu.
Pada saat itu, pintu kamar tiba-tiba diketuk. Qing Yue’er bergerak untuk membukanya dan melihat kakeknya yang berdiri sambil tersenyum. “Kakek?”
Perhatiannya tertarik pada kotak putih di tangan pria tua itu. Kedua matanya langsung melebar. Itu adalah kotak yang muncul di dalam mimpinya. Di sana dia melihat Mo Jingtian menerima kotak itu di sebuah altar putih.
“Kakek, itu ….”
__ADS_1
Xie Song tersenyum. “Tuan Mo memintaku untuk memberikan ini padamu. Kenapa kau begitu terkejut? Mungkinkah kau sudah mengetahui isinya?”
Qing Yue’er menggeleng. Dia tidak mengetahui isinya. Terakhir kali dia ingin mengintip isinya, tapi mimpi itu berakhir begitu saja. Itu juga yang membuatnya penasaran.
“Aku tidak tahu apa isinya, tapi itu tidak terlihat asing,” jawabnya dengan pelan. Perasaannya menjadi terkejut sekaligus takjub. Lagi-lagi dia dimimpikan sesuatu yang pernah terjadi.
“Tuan Mo mengatakan ini adalah pemberian orang tuanya. Bagaimana jika kau membukanya?” Xie Song mengulurkan kotak itu ke depan.
Qing Yue’er akhirnya menerimanya. Mo Jingtian adalah adalah Anak Surga. Dia bisa mengerti kenapa pria itu memilih mengatakan itu merupakan pemberian orang tuanya alih-alih pemberian langit.
“Aku akan membukanya nanti,” ucap Qing Yue’er. Tangannya memegang kotak itu dengan erat.
“Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi.” Xie Song berbalik pergi. Namun, ketika Qing Yue’er hendak menutup pintu, pria itu menoleh.
“Jika kau tidak sibuk, temuilah Tuan Mo. Jangan membiarkannya terlalu sedih.”
Qing Yue’er mengangguk pelan. Dia tidak ingin Mo Jingtian kesepian dan sedih. Namun, hatinya merasa bersalah dan belum siap untuk menemuinya.
Setelah kakeknya benar-benar pergi, dia pun kembali ke kamar. Duduk di tempat tidur, dia memangku kotak putih berukir itu. Perlahan dia membuka tutupnya.
Sebuah jubah putih yang disulam dengan benang emas dilipat rapi di dalam kotak. Tangan Qing Yue’er sedikit bergetar ketika menyentuhnya. Itu begitu halus sampai rasanya seperti dia hanya menyentuh untaian benang sutra.
Pada saat itu tiba-tiba cincin cahaya di jari kirinya tampak berkilauan. Itu seperti cincin tersebut telah menemukan jiwanya yang lain.
Perasaannya menjadi rumit. Kapan Mo Jingtian menerima cincin dan jubah pengantin itu? Mungkinkah sebenarnya pria itu sudah lama mengetahui takdir pernikahan mereka yang sudah diatur oleh langit?
Dia mengambil jepit rambut emas yang juga diletakkan di dalam kotak. Itu terbuat dari emas murni. Begitu indah dengan hiasan bunga-bunga putih dan mutiara kecil.
Diam-diam dia menghela napas. Semua barang-barang itu tidak memiliki cela. Itu adalah item kedewaan yang tentunya jauh lebih berharga daripada milik manusia yang termahal sekalipun.
“Sudah berapa lama dia menyimpan semua ini?” gumamnya dengan lirih. Dia meletakkan jepit itu kembali lalu menutup kotak di pangkuannya dengan perlahan.
Senyum tipis muncul di bibirnya. “Ini seharusnya sesuatu yang menggembirakan. Mendapatkan perawatan khusus dari penguasa langit dan bumi adalah hal yang tidak bisa dinikmati semua orang.”
Qing Yue’er akhirnya menyimpan kotak itu dengan hati-hati lalu berjalan keluar dari kamar. Awalnya dia ragu untuk menemui Mo Jingtian, tapi sekarang tidak lagi.
Dia membuka pintu kamar Mo Jingtian tanpa permisi. Pria itu masih duduk dalam posisi yang sama seperti ketika Xie Song datang. Namun, kedua matanya terpejam. Tangannya memegang guci anggur yang sudah kosong.
“Jingtian ….”
Pria itu tidak menyahut, tapi Qing Yue’er tahu Mo Jingtian mendengarnya. Keningnya berkerut dalam. Dia memerhatikan guci-guci anggur di meja yang sebagian sudah kosong.
__ADS_1
“Kau ini …. Kenapa tidak mengajakku?” tanyanya yang kemudian duduk di depan Mo Jingtian. Dia membuka salah satu guci anggur di meja lalu membenturkannya ke guci di tangan pria itu.
“Bersulang!” serunya dengan penuh energi. Setelah itu, dia segera menenggak isinya dengan cepat.
Rasa pahit tiba-tiba meledak di mulutnya. Dia langsung memelotot dan menyemburkan itu dengan sembarangan. Meja di depannya menjadi basah.
“Pei!” Dia mengusap mulutnya. “Pahit sekali ….”
Kedua mata Mo Jingtian akhirnya terbuka. Pria itu menatapnya dengan datar. “Sembarangan sekali.”
“Apa?”
“Sembarangan. Tidak sopan menyembur di depan calon suami,” kata pria itu dengan datar.
Qing Yue’er langsung melebarkan mata. Dia menatap Mo Jingtian dengan berbinar “Kau bilang apa? Kau akhirnya mau mengakuinya?!”
Mo Jingtian menatapnya dengan sinis. Dia berdiri dari tempat duduknya, lalu memerintah, “Bersihkan mejanya! Aku tidak mau mengangkat istri yang tidak kompeten.”
Setelah itu, dia berjalan keluar meninggalkan Qing Yue’er yang terperangah tanpa bisa berkata-kata. Apa-apaan!
“Tunggu, tunggu!” Dia segera mengejar Mo Jingtian. Namun, pria itu terus berjalan tanpa memedulikannya.
“Wey, Mo Jingtian! Apa kau sekarang akan bertingkah menjadi suami yang dingin dan kejam?!’
Pria itu tetap berjalan tanpa berpaling. Qing Yue’er mendengkus, lalu menyeringai. Dalam satu kedipan mata sosoknya menghilang lalu muncul tepat di depan langkah Mo Jingtian.
Kedua mata Mo Jingtian melebar. Tanpa bisa dicegah tubuhnya langsung menabrak tubuh Qing Yue’er. Gadis itu hampir jatuh ke belakang, tapi dia segera menariknya dengan kuat.
Secara alami tubuh Qing Yue’er langsung menabraknya. Dia terhuyung dan jatuh ke lantai dengan posisi gadis itu menindihnya. Kedua mata mereka sama-sama melebar.
“Qing Yue’er!”
Qing Yue’er berdeham. Dia cepat-cepat bangun dan menarik Mo Jingtian berdiri. “Jingtian, jangan marah. Aku sungguh minta maaf untuk semalam.”
Mo Jingtian hanya mendengkus. Qing Yue’er lalu menarik-narik lengan baju pria itu sambil menunjukkan ekspresi memelasnya. Matanya berkedip-kedip, berusaha bersikap imut.
Mo Jingtian yang melihat itu hanya bisa mengerang. Hatinya menjadi lembut. “Baik, baik, baik. Apa yang kau inginkan sekarang, Nona?”
Qing Yue’er tersenyum. Dia langsung menarik tangan pria itu pergi. “Tidak baik mengurungkan diri di kamar. Aku akan membawamu ke suatu tempat.”
“Ke mana?”
__ADS_1
“Kau akan tahu nanti,” ucap Qing Yue’er sambil menyeringai.