Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Direnggut


__ADS_3

Dalam ruangan yang tampak remang-remang, sebuah sangkar besar tergantung di bawah atap. Jika seseorang melihatnya, mungkin mereka akan merasa heran. Itu karena sangkar tersebut bukan berisi hewan atau makhluk menakutkan, melainkan seorang gadis muda yang cantik.


Gadis itu tampak sangat berantakan dengan beberapa luka lebam ataupun berdarah. Namun wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan hanya ada seringai kecil yang seakan sedang mencemooh musuhnya.


Bai Fu'er tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa hari yang lalu saat dia sedang dalam perjalanan menuju Aula Bela Diri, tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang hingga membuat kesadarannya menghilang.


Ketika dia membuka mata, pemandangan yang disuguhkan menjadi seperti ini. Sangkar besi yang mengurungnya tanpa ada celah baginya untuk melarikan diri. Namun setelah seseorang muncul dan memberikan penyiksaan untuknya, dia menjadi tahu.


"Apa kau masih akan tersenyum seperti itu? Jika anak itu datang ke tempat ini, jangan pernah berpikir kalian akan selamat!" Seorang lelaki dewasa membentaknya dengan keras. Dia adalah orang yang telah memberikan siksaan selama dua hari terakhir.


"Bodoh! Apa kamu pikir dia akan repot-repot menjemputku? Aku rasa kalian lebih baik cepat membunuhku atau kerja keras kalian akan berakhir sia-sia," ucap Bai Fu'er dengan tenang.


Pria itu mendengus tidak senang, namun setelah itu tawanya yang kejam menggema di seluruh ruangan. "Jangan berharap untuk mati begitu mudah. Aku tidak akan membunuhmu sebelum tuanku membalaskan dendamnya!"


Tap tap tap.


Suara langkah kaki menghentikan pembicaraan mereka. Seorang pria lain dengan balutan pakaian hitam mendekati pria sebelumnya. Kemudian dia membisikkan sesuatu yang membuat mata mereka bersinar dengan keserakahan.


***


Sementara itu Qing Yue'er dan Ji Fan melakukan perjalanan cepat untuk menuruni gunung. Kota Chang terletak di bawah Pegunungan Sembilan Abadi. Mereka hanya membutuhkan waktu setengah hari sebelum sampai di pusat kota.


Namun ada masalah lain yang menjadi kendala, mereka tidak tahu dimana Bai Fu'er ditahan. Tidak mungkin bukan jika mereka harus memeriksa setiap sudut kota?


"Kemana kita harus mencari? Apa kamu yakin para penatua tidak akan mengejar kita?" tanya Ji Fan dengan cemas. Mereka sudah melarikan diri dari akademi, pasti para penatua tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


"Tentu saja mereka mengejar kita," jawab Qing Yue'er sembari membuka kertas surat yang sebelumnya mereka dapatkan dari anak panah.


"Lalu bukankah kita harus cepat pergi? Mereka mungkin akan segera menemukan kita." Ji Fan berkata dengan cepat.

__ADS_1


Sebenarnya dia tidak mengerti kenapa Qing Yue'er masih tampak tenang seperti biasa. Bai Fu'er ditangkap dan tidak tahu bagaimana keadaannya, lalu mereka juga sedang dicari oleh penatua akademi.


Lebih parahnya lagi mereka tidak tahu musuh seperti apa yang sedang mengawasi pergerakan mereka. Tapi Qing Yue'er tidak terlihat cemas sama sekali. Mungkinkah anak itu memiliki kartu lain di tangannya?


"Aku sudah menghilangkan aura kita. Sepertinya mereka tidak akan menemukan kita dengan mudah," ucap Qing Yue'er sambil membolak-balikkan kertas di tangannya untuk untuk memeriksa lebih lanjut. Namun dia tidak menemukan catatan mengenai lokasi ataupun keterangan lain.


Qing Yue'er mengendus bau kertas itu sebelum merasakan aura yang terpancar dari benda tersebut. "Apa kamu tahu dimana lokasi yang terdapat banyak kayu cendana?"


"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Ji Fan dengan cepat, kemudian dibalas anggukan oleh Qing Yue'er.


"Ikuti aku!" Ji Fan bergerak cepat untuk memimpin jalan. Dia sudah beberapa kali mengikuti senior untuk turun gunung. Jadi pengetahuannya tentang kota Chang lebih banyak daripada Qing Yue'er.


Mereka melakukan perjalanan yang cukup cepat, melintasi banyak keramaian kota Chang. Setelah beberapa saat akhirnya Ji Fan membawa Qing Yue'er ke sebuah gerbang lain di sisi barat kota.


Dari sana mereka melihat hamparan hijau hutan cendana yang terlihat sangat luas. Bahkan bau wangi khas dari tanaman cendana menguar di udara memasuki penciuman mereka.


"Aku hanya menebaknya dari aroma kertas ini." Qing Yue'er menjawab sambil berlalu mendekati hutan cendana. Mungkin karena hari sudah sore jadi tidak ada orang yang terlihat di tempat itu.


Kemudian mereka segera memasuki hamparan hijau untuk memulai pencarian. Qing Yue'er mengandalkan kekuatan rohnya untuk mencari sesuatu yang terasa janggal.


***


"Apa yang kalian lakukan?!" Bai Fu'er segera mundur ketika dua pria mulai mendekatinya. Kali ini dia sudah dikeluarkan dari sangkar besi, namun semuanya hanya membuat dia merasa tidak nyaman. Apalagi saat melihat tatapan mata mereka yang sangat tidak bermoral.


"Apa lagi jika bukan memanfaatkan kecantikan sepertimu?" jawab pria berbaju hitam dengan membelai dagu Bai Fu'er.


Bai Fu'er langsung memalingkan muka untuk menghindari sentuhannya. Perasaannya menjadi tidak menentu. Ketakutannya bukan terletak pada kematian, namun tentang kehormatannya sebagai wanita.


Dia adalah gadis yang menjunjung tinggi pada derajat wanita. Tidak mungkin baginya untuk membiarkan para b*jingan itu mengotorinya. Namun semuanya harus disayangkan karena kekuatannya tidak memadai untuk melawan mereka.

__ADS_1


Tubuhnya bergetar saat dia mencoba meluncurkan serangan berkali-kali. Sayangnya usahanya berakhir dengan sia-sia. Sedikit demi sedikit dia merasakan pakaiannya yang mulai terbuka.


"Hahaha!!"


Sebuah tawa yang terdengar kejam bergema di ruangan panas itu. Bai Fu'er mendongak dan langsung menatap penuh kebencian pada dua pria paruh baya yang baru saja masuk. Seandainya dia memiliki kemampuan, maka dia sudah melemparkan dua orang itu ke dalam api pembakaran.


"Lakukan!! Lakukan apa pun yang kalian inginkan pada gadis itu!" Jiang Shu berseru dengan penuh kesenangan.


"Saudaraku, apa kau tak ingin melakukannya juga?" Feng Ming berbicara dari belakang Jiang Shu. Dia juga memiliki wajah yang sumringah, terutama karena target mereka akan segera datang.


"Tidak, aku pikir ada yang lain yang lebih menggoda. Dia adalah gadis yang sempat membuat Yi'er merasa cemburu," jawab Jiang Shu sambil terkekeh.


Bai Fu'er mengerutkan kening. Setelah mencerna maksud Jiang Shu, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Orang yang pertama kali membuat Jiang Yini tidak senang adalah Ji Fan. Dia ingat dulu Ji Fan sedang menyamar sebagai perempuan. Lalu apakah maksud Jiang Shu dia menginginkan kecantikan Ji Fan?


Bai Fu'er tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Jiang Shu dan Feng Ming bertanya-tanya.


"Bermimpilah! Kamu tidak akan pernah mendapatkannya!" seru Bai Fu'er yang diiringi dengan tawa. Keinginan konyol seperti itu tidak akan pernah tercapai.


Jiang Shu mendengus tidak senang. Siapa yang berani berpikir dia tidak mampu mendapatkan apa yang dia mau? Dia adalah kepala klan besar Jiang. Tidak perlu diragukan lagi tentang kemampuannya untuk mendapatkan sesuatu.


Lalu dia berseru dengan keras kepada dua pria yang saat ini hanya memandang tubuh Bai Fu'er dengan serakah. "Cepat lakukan sesuatu!!"


"Aaahhh!!"


Tidak selang lama, teriakan yang tak berujung keluar dari mulut Bai Fu'er. Air mata yang sedari tadi sudah ditahan akhirnya terjatuh membasahi kulitnya yang terpampang sempurna.


Hatinya benar-benar tenggelam. Akhirnya kesucian yang dia jaga harus direnggut oleh seorang b*jingan yang tidak bermoral. Saat ini dia sungguh ingin menutup semua inderanya agar dia tidak merasakan apa pun.


Tubuhnya meronta melawan guncangan dari orang lain. Namun lagi-lagi dia tidak dapat melakukannya. Saat ini dia benar-benar membenci dirinya sendiri. Seandainya dia telah menjadi kuat mungkin semuanya tidak akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2