Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Pertempuran Istana Tianjun


__ADS_3

Tujuh cahaya perak kembali melesat ke langit. Di Chengzi, Dewa Matahari bertubuh gempal yang mengikuti Baili Linwu maju ke depan. Di Ziyan yang selalu mengikuti tuannya juga mulai bergerak.


Kedua tangan mereka membentuk segel tangan sambil membaca mantra.Tiba-tiba sebuah bola cahaya berapi yang besar muncul di depan mereka. Bola cahaya itu seperti matahari yang sangat terang, begitu terang hingga wilayah Istana Tianjun itu kembali seperti siang hari.


Di Chengzi mendorong bola cahaya itu hingga menghantam serangan formasi yang datang dari bawah. Suara ledakan yang mengguncang kembali terdengar. Sekarang hampir semua orang di Celestial mengetahui kekacauan ini.


Pria itu mengibaskan lengan bajunya, lalu beberapa bola cahaya muncul lagi. Itu semua bergerak menghantam dinding pelindung hingga retakan-retakan mulai muncul. Tanah di bawah sana ikut bergetar dan terguncang.


Para petinggi istana menjadi ketakutan melihat itu. Mereka tidak henti-hentinya meneteskan keringat dingin. Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya mereka melawan dewa secara langsung.


“Tuan Mo, apa yang harus kita lakukan?” Seseorang bertanya dengan suara bergetar.


“Jangan pedulikan mereka. Lanjutkan formasi ofensif ke empat!” Mo Jingtian kembali memerintah dengan tegas.


Akhirnya orang-orang tua itu kembali melakukan segel tangan. Tujuh pilar raksasa mulai muncul mengelilingi ketiga sosok dewa di langit. Pilar-pilar itu bergerak menyerang mereka seperti pion catur.


Di Ziyan mendengkus. Dia melambaikan tangannya lalu qi spiritual dari ranah roh emas langsung menghancurkan pilar-pilar itu. Bunyi dentuman keras terdengar hingga tujuh kali berturut-turut.


Para petinggi istana sekali lagi menjadi terkejut dan ketakutan. Mereka bahkan belum menginjak roh perak, tapi harus menghadapi dewa-dewa dari roh emas. Bagaimana itu tidak menakutkan?


Namun, Mo Jingtian tidak peduli dengan itu. Dia kembali memerintahkan orang-orang tua itu untuk mengirim formasi ofensif ke enam. Mereka hanya bisa meringis dan mematuhinya.


Serangan kali ini berupa rantai perak yang bergerak untuk membelenggu para dewa. Rantai-rantai itu berukuran tiga kali lipat dari rantai biasa. Itu bergerak di langit seperti ular yang menyerang musuh.


Sekali lagi Di Ziyan menghancurkannya. Bersamaan dengan itu, suara gemuruh terdengar hingga ke seluruh istana diikuti dengan getaran di tanah. Dinding formasi pelindung telah berhasil diruntuhkan oleh Di Chengzi.


Semua orang diselimuti dengan kengerian. Sekarang tidak ada pembatas apa pun lagi yang menghalangi mereka. Dewa-dewa itu bisa membunuh dengan mudah.


Baili Linwu tertawa keras menikmati ketakutan di wajah banyak orang. Dia menatap Mo Jingtian dengan seringaian. “Bagaimana kau bisa berlindung pada manusia-manusia rendahan seperti mereka? Apakah kau benar-benar sudah direduksi menjadi seburuk itu?”


“Teruskan formasi ke tujuh!” Mo Jingtian berseru dengan dingin.


Para petinggi istana itu sudah pasrah. Mereka tidak yakin dengan hasilnya, tapi daripada berdiam diri menunggu kematian, lebih baik tetap berjuang.


Jadi, semua orang menutup mata dan kembali membuat segel tangan. Formasi ke tujuh adalah formasi ofensif yang terakhir. Jika itu tidak berhasil maka kekalahan akan berpihak pada mereka.

__ADS_1


“Lakukan sampai batas kalian, hahaha …. Itu usaha yang sia-sia!” ejek Baili Linwu sambil tertawa keras.


Orang-orang itu mencoba mengabaikannya. Mereka melanjutkan formasi hingga suara auman naga dengan jumlah yang banyak tiba-tiba terdengar. Tujuh ekor naga berwarna perak mulai muncul dan mengepung ketiga dewa di langit.


Itu bukan naga sungguhan, melainkan bentuk dari formasi ofensif terakhir. Meskipun bukan naga asli, aura makhluk abadinya tetap bisa dirasakan. Para kultivator yang mengamati itu dari jauh langsung menahan napas.


“Dikatakan bahwa Formasi Tujuh Perangkap Naga Langit adalah salah satu formasi terhebat di Celestial. Istana Tianjun tidak pernah menggunakannya, bahkan ketika mereka masih bermusuhan dengan klan Liu.”


“Itu karena formasi ini hanya bisa digunakan di Istana Tianjun dan dalam situasi yang darurat. Di luar istana, itu tidak akan berhasil.”


“Sudah lama aku mendengar tentang formasi itu. Akhirnya hari ini bisa melihatnya sendiri.”


“Formasi itu mungkin memang hebat. Namun, lawan mereka adalah dewa. Itu akan sulit.”


“Apakah kita hanya akan melihat dari sini?”


“Jangan datang ke sana. Ikut campur dalam pertempuran dewa hanya akan membahayakan nyawamu!”


Mereka yang bisa mengamati itu dari jauh akhirnya hanya bisa menahan diri. Sementara para penatua dari sekte dan akademi di Celestial menonton itu dari kediaman masing-masing.


Gerakan mereka begitu cepat. Orang biasa hanya bisa melihat kilatan-kilatan yang bergerak ke sana kemari di atas langit malam.


Suara ledakan, auman, dan gemuruh memenuhi udara. Gelombang awan di langit menjadi kacau seperti badai. Satu per satu bentuk naga perak mulai dihancurkan.


Semua orang harus tahu bahwa setiap naga terhubung dengan kekuatan penatua. Jadi, ketika naga itu dihancurkan, mereka pun ikut terluka. Inilah salah satu kelemahan formasi Tujuh Perangkap Naga Langit.


Mo Jingtan mengerutkan kening melihat itu. Sementara Baili Linwu tertawa terbahak-bahak. “Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya? Perjuangan kalian hanya akan sia-sia!”


Dia menatap Mo Jingtian dengan dingin. Tangan kanannya dikibaskan lalu kekuatan opresif yang penuh dengan penindasan langsung menyelimuti Mo Jingtian.


“Jangan lupa, aku adalah Tuan Pengadilan Surgawi! Semua dewa harus tunduk kepadaku!” teriaknya dengan dingin. Dia mencoba menekan pria di bawah itu dengan kekuatan dewanya.


Perasaan Mo Jingtian menjadi semakin tidak senang. Penindasan itu membuatnya merasa sesak. Tubuhnya seperti ditekan dengan gunung raksasa. Kedua matanya langsung berkilat dengan cahaya emas.


“Tuan Pengadilan Surgawi tidak akan bisa menghancurkan Anak Surga,” ucapnya dengan dingin. Kedua matanya ditutup. Kemudian tangannya mulai bergerak melakukan segel.

__ADS_1


Baili Linwu menjadi waspada. Mo Jingtian tidak memiliki kultivasi. Namun, pria itu bisa menggunakan kekuatan jiwa yang bahkan tidak terlihat mata.


Jadi, dia segera berteriak pada Di Chengzi, “Tunggu apa lagi?! Cepat serang dia!”


Belum juga Di Chengzi bergerak, rasa sakit seolah meledak di kepala Baili Linwu. Dia langsung berteriak sambil memegangi kepalanya. Mulutnya menyemburkan darah dan hidungnya juga meneteskan darah merah.


“Mo Jingtian!” Baili Linwu menggeram keras. Matanya memerah karena rasa sakit yang bercampur dengan ledakan amarah. Dia mengangkat tangannya yang gemetaran.


“Berlutut sekarang!” teriaknya sambil mengibaskan tangannya.


Mo Jingtian langsung terdorong mundur. Kekuatan penindasan memaksanya untuk berlutut, tapi dia dengan keras kepala menolaknya. Lututnya bergetar, tubuhnya gemetar. Wajahnya yang berada di balik topeng berubah pucat.


Baili Linwu menjadi semakin murka melihat pria itu tetap berdiri tegak. Dia berteriak lagi antara menahan kesakitan yang menggerogoti jiwanya dan juga usaha mengirimkan penindasan kepada Mo Jingtian.


“Aaarrgghhh! Bajingaannn! Kau harus tunduk kepadaku!”


Darah merah langsung menyembur dari mulut Mo Jingtian hingga menodai pakaian putihnya. Dia hendak jatuh berlutut dengan satu kaki, tapi kekuatan yang tak terlihat tiba-tiba menariknya berdiri.


“Bukan Anak Surga yang harus berlutut pada Tuan Pengadilan Surgawi. Tuan Pengadilan Surgawi-lah yang harus berlutut dan bersujud kepada Anak Surga!”


Suara gadis yang penuh kedinginan terdengar dari belakang. Mereka semua langsung menoleh dan melihat gadis berpakaian putih yang berjalan memasuki halaman istana dengan kepala terangkat.


Kebencian, amarah, dan kedinginan menyelimuti sosoknya. Wajah cantik dan mungilnya tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan. Hanya ada keberanian dan tekad.


“Yue’er ….” Mo Jingtian menatap gadis itu dengan rumit. Suara retakan halus tiba-tiba terdengar dari topengnya. Benda itu hancur lalu jatuh ke tanah begitu saja.


Sosok Qing Yue’er langsung melesat cepat menghampiri Mo Jingtian. Dia memeluk pria itu dan menariknya hingga membelakangi orang-orang. Tangannya dikibaskan, lalu wajah tampan yang pucat itu menjadi samar.


Dia mendongak dan tersenyum menatap pria itu. “Tidak ada seorang pun yang diizinkan melihat wajahmu kecuali aku.”


Perasaan Mo Jingtian menjadi hangat. Sementara Baili Linwu justru teriritasi. Dia begitu marah hingga memuntahkan darah.


Bagaimana mereka masih bisa bersikap manis pada situasi sekarang?!


“Hmmph! Apakah itu putri Qing Yexuan? Berani-beraninya datang dan langsung mengatakan hal seperti itu padaku! Aku akan menghancurkannya bersama kekasihnya itu!”

__ADS_1


__ADS_2