
“Jingtian, apa yang harus aku lakukan?” tanya Qing Yue'er.
“Apanya?”
Qing Yue'er yang membaringkan kepala di pangkuan Mo Jingtian langsung bangkit. Dia menatap pria itu dengan serius. “Apakah aku benar-benar harus pergi mencari kehendak surga?”
“Kenapa kamu harus bertanya padaku? Aku tidak akan melarangmu.”
Kedua mata Qing Yue'er langsung memelotot. Mo Jingtian ini sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud. Sejak kemarin dia sudah merasa bimbang tentang masalah ini. Dia takut jika fase penyucian itu terjadi maka seluruh emosinya akan hilang.
“Benar-benar tidak mengerti apa yang aku takutkan?” Qing Yue'er menuntut jawaban.
Akhirnya Mo Jingtian menghela napas. “Aku tahu, tapi jangan cemaskan hal itu. Jika kamu menginginkan pendapatku maka aku hanya akan mengatakan, pergi cari kehendak surga. Penyucian atau apa pun itu bisa ditunda untuk beberapa waktu.”
“Jika aku menundanya apa yang akan terjadi? Dan setelah itu apa yang aku lakukan?”
“Tidak terjadi apa-apa,” jawab Mo Jingtian sekenanya.
Qing Yue'er tiba-tiba ingin memukul pria yang ada di hadapannya ini. Dia bertanya dengan serius tapi Mo Jingtian menjawab seakan tidak peduli sama sekali. “Jingtian, bisakah kamu serius sekarang?”
Mo Jingtian mengangkat alisnya lalu mengangguk setuju. Kemudian Qing Yue'er kembali bertanya, “Jadi, jika aku bisa menerima kehendak surga lalu aku bisa menunda penyucian? Bukankah ini sama saja bohong? Maksudku, bukankah itu berarti aku tidak menjadi dewi?”
Mo Jingtian mengangguk. “Tidak termasuk dewi, tapi kekuatannya akan setara dengan dewi dan itu sudah memiliki kualifiasi untuk menjadi dewi.”
“Apa untungnya?” tanya Qing Yue'er.
“Kamu bisa naik ke Pengadilan Surgawi lalu bertemu dengan ayahmu tanpa harus mengalami penyucian.”
Qing Yue'er merasa tertarik mendengar kenyataan ini. Bukankah ini adalah apa yang dia inginkan? Namun, dia segera menggelengkan kepalanya. Kalau dia memilih jalan ini maka dia akan tetap menjadi manusia. Dan dia tidak akan bisa bersama dengan Mo Jingtian.
“Tidak. Aku tidak bisa melakukannya,” ucap Qing Yue'er.
“Kenapa tidak?” tanya Mo Jingtian.
Qing Yue'er menatap Mo Jingtian. “Apakah pada akhirnya aku tidak akan bisa menjangkaumu?”
“Kenapa tidak?” Mo Jingtian melontarkan pertanyaan yang sama. Dia tidak terlihat terganggu sama sekali. “Kamu harus tahu, aku di sini sekarang. Tidak ada hal yang tidak mungkin.”
“Tapi lihat, ibuku tidak bisa bertemu dengan ayahku. Pada akhirnya mereka hanya saling menderita satu sama lain,” ucap Qing Yue'er dengan nada yang sedikit sedih.
Meskipun ibunya tidak mengatakan bagaimana perasaannya selama ini tapi dia bisa menebaknya. Tidak ada wanita yang akan baik-baik saja ketika berpisah dengan orang terkasih. Sejujurnya dia sedikit takut akan mengalami hal yang sama.
“Yue'er, sekarang dengarkan aku,” ucap Mo Jingtian.
“Apa?”
“Apa kamu percaya padaku?”
Qing Yue'er mengangguk tanpa ragu.
“Kalau begitu maukah kamu melakukan apa yang aku perintahkan?”
Qing Yue'er tidak langsung menyetujuinya. “Memangnya apa yang kamu ingin aku lakukan?”
Mo Jingtian menatap Qing Yue'er dengan lembut. “Pergi dapatkan kehendak surga. Ini adalah langkah pertama, kau tahu?”
“Setelah itu apa yang harus aku lakukan?”
__ADS_1
“Aku tidak akan mengatakannya sekarang, tapi kamu harus tahu satu hal. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu pahami sekarang. Jika kamu benar-benar percaya padaku maka kamu bisa mengikuti apa yang aku katakan.”
Qing Yue'er menatap Mo Jingtian selama beberapa saat. “Kalau begitu aku akan mendengarkanmu,” ucapnya. Dia tahu Mo Jingtian adalah orang yang lebih mengerti tentang kondisi dan situasi di luar sana. Dan dia juga percaya pria itu tidak akan pernah menyesatkannya.
“Ya, hanya lakukan itu. Aku yakin kamu akan mengerti nanti,” kata Mo Jingtian sambil mengusap kepala Qing Yue'er. “Yue'er, aku ingin memberimu pesan. Aku harap kamu akan mengingatnya.”
“Apa itu?”
“Apa sesuatu pernah terjadi di dasar kolam Yin Yang?” tanya Mo Jingtian.
Qing Yue'er mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang pernah terjadi di sana atau tidak. Kemudian ingatannya jatuh pada situasi aneh yang terjadi saat dia bersama dengan Ying Jun.
Saat itu suara dengungan yang bisa merampas kesadarannya datang dari dasar kolam. Kemudian Ying Jun bergerak untuk menyelam ke dasar kolam hanya untuk melakukan segel yang tidak diketahui. Setelah itu Ying Jun kehilangan kesadarannya selama beberapa saat.
Qing Yue'er menatap Mo Jingtian dengan serius. “Apakah ada sesuatu di dasar kolam?”
Mo Jingtian mengangguk. “Awalnya aku tidak tahu jika akan ada manusia yang bisa masuk ke dalam dimensi. Jadi, aku meletakkan apa pun yang aku mau di sana, termasuk benda itu. Tidak disangka ternyata kamu bisa masuk ke dalam dimensi.”
“Benda itu? Benda apa?” tanya Qing Yue'er dengan penasaran.
“Dengan berat hati aku harus mengatakan, Yue'er, kamu tidak bisa mengetahuinya sekarang,” balas Mo Jingtian yang sedikit terkekeh.
Qing Yue'er sedikit terlena melihat Mo Jingtian yang terkekeh. Meskipun hanya sebentar tapi dia tidak bisa berpaling darinya. Pria itu sungguh sangat layak untuk dikagumi keindahannya. Qing Yue'er segera menggelengkan kepalanya. Sepertinya Pesona Surgawi milik Mo Jingtian mulai bekerja padanya.
Dia langsung berdehem lalu bertanya, “Kalau begitu ada apa dengan itu? Apa kamu ingin aku melakukan sesuatu?”
Mo Jingtian menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin kamu berhati-hati,” ucapnya. Dia sedikit menyesal karena meletakkan benda itu di sana. Dia takut jika sewaktu-waktu segelnya melemah dan itu mungkin akan melukai Qing Yue'er.
Dia pernah berpikir untuk memindahkannya. Namun, itu tidak mungkin. Risikonya akan terlalu tinggi, baik untuknya atau bahkan untuk orang lain. Belum lama ini dia sering memeriksanya hanya untuk memperkuat segelnya. Mungkin nanti dia akan membiarkan Qing Yue'er mempelajarinya.
“Aku pasti akan berhati-hati,” ucap Qing Yue'er untuk meyakinkan Mo Jingtian. Meskipun dia merasa ingin tahu tapi dia tidak memaksa Mo Jingtian untuk memberi tahu. Lagi pula dia yakin suatu hari nanti dia akan mengetahuinya sendiri.
Mo Jingtian mengangguk. Namun, dia tetap di sana dan tidak berniat untuk pergi. Hal itu membuat Qing Yue'er memelotot. “Apa yang kamu lakukan di sini? Orang lain akan melihatmu.”
“Itu bukan masalah,” ucap Mo Jingtian.
Tok, tok, tok.
“Nona, Nyonya Xie ingin bertemu.”
Qing Yue'er menatap pintu itu. Ternyata hanya seorang pelayan. Dia pikir itu seseorang yang lebih penting. Akhirnya dia berseru, “Ya, aku akan datang!”
Dia menoleh pada Mo Jingtian. “Aku akan pergi sekarang,” ucapnya yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Mo Jingtian. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Qing Yue'er segera keluar dari kediamannya.
***
Xie Ying Fei diam menunggu kedatangan Qing Yue'er. Ada hal yang ingin dia sampaikan. Seperti yang sudah dia janjikan, jika mereka bisa kembali dengan kemenangan maka dia akan menunjukkan sosok Qing Yexuan pada Qing Yue'er. Sekarang karena mereka benar-benar pulang dengan kemenangan maka dia akan menepati janjinya.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu olehnya akhirnya datang. Gadis yang sangat senang mengenakan pakaian putih itu berjalan memasuki kamarnya.
“Aku pikir Ibu mengambil waktu untuk beristirahat,” ucap Qing Yue'er.
Xie Ying Fei tersenyum. “Tidak, aku tidak bisa beristirahat sebelum aku menepati janjiku.”
Qing Yue'er langsung menatap penasaran. “Janji yang mana?”
“Kamu ingin melihat seperti apa sosok ayahmu bukan? Aku sudah berjanji untuk menunjukkannya padamu,” kata Xie Ying Fei sambil berjalan menuju dinding. Kemudian dia menggeser lentera yang terpasang di dinding. Seketika sebuah pintu langsung muncul di sana.
__ADS_1
“Ayo, ikut denganku,” ajaknya.
Kedua mata Qing Yue'er menjadi berbinar. Dia langsung berjalan mendekati pintu tersembunyi itu. Rasanya semakin tidak sabar untuk segera masuk.
Xie Ying Fei memimpin Qing Yue'er di depan. Mereka memasuki ruangan yang tidak terlalu luas tetapi juga tidak begitu sempit. Ruangan itu memiliki beberapa lentera yang terpasang di dinding.
Apa yang menarik perhatian Qing Yue'er adalah sebuah patung yang berada di tengah-tengah ruangan. Dia mengamatinya sejenak. Kenapa rasanya seperti akrab? Apakah dia pernah melihatnya?
Ingatan Qing Yue'er tiba-tiba jatuh pada Sekte Angin Utara. Tidak salah lagi. Ini adalah patung yang sama. Ya, itu adalah patung Dewa Angin yang dipuja oleh Sekte Angin Utara. Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini? Qing Yue'er tidak bisa tidak terkejut. Mulutnya hanya bisa terbuka tanpa bisa berkata-kata.
“Qing Yexuan adalah Dewa Angin yang hanya mengganti marganya menjadi Di, seperti nama marga dewa lainnya. Jadi kamu harus tahu, setiap dewa pasti memiliki marga Di.”
“Dia ....” Qing Yue'er menunjuk pada patung Dewa Angin tanpa memperhatikan penjelasan ibunya.
“Tentu saja orangnya bukan ini,” ucap Xie Ying Fei dengan sedikit kekehan. “Ya, kau tahu ini hanya patung yang biasanya digunakan untuk melakukan permintaan. Kenapa? Apa kamu pernah melihatnya?”
Qing Yue'er mengangguk. Dia benar-benar tidak menyangka ternyata dia sudah pernah melihat seperti apa penampilan ayahnya. Ya, meskipun itu hanya patung yang bahkan wajahnya tertutup oleh kipas lipat.
Xie Ying Fei berjalan mendekati Qing Yue'er. Kemudian dia memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke tembok. Sebuah lukisan besar terlihat memenuhi sebagian dindingnya.
Kali ini Qing Yue'er tidak bisa tidak terpesona. Lukisan ini sangat berbeda dengan lukisan Mo Jingtian yang disimpan oleh kakeknya. Pria di sana tentu saja sosok yang sangat berbeda dengan penampilan Mo Jingtian yang mencolok.
Pria yang bernama Qing Yexuan itu tampak berdiri menghadap ke sebuah jurang. Rambut hitamnya terlihat seperti tertiup angin. Aura keagungannya bisa Qing Yue'er rasakan. Sejujurnya ada aura yang sedikit mirip dengan yang ada di lukisan Mo Jingtian. Mungkinkah itu adalah aura kedewaan?
Qing Yue'er tidak tahu. Dia terus mengamati lukisan tersebut. Di bagian belakang sosok ayahnya itu terdapat sebuah gambaran dari kediaman yang terlihat sangat sederhana. Ada banyak bunga prem yang bertebaran di tanah. Tidak bisa dipungkiri, ayahnya ini juga ternyata pria yang tampan.
“Ibu, bagaimana ibu bisa bertemu dengan ayah? Itu pasti luar biasa,” puji Qing Yue'er. Dia tidak sadar jika dia sendiri juga sudah bertemu dengan sosok pria yang bahkan mungkin lebih luar biasa dari ayahnya.
“Ini memang sesuatu yang luar biasa. Aku tidak akan pernah melupakannya,” ucap Xie Ying Fei sambil mengamati lukisan itu dengan saksama. Senyum manis tampak tersungging di wajahnya yang cantik.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Xie Ying Fei.
Qing Yue'er tersenyum. Sejujurnya dia merasa senang sekaligus takjub. Ya, memiliki ayah berstatus seperti itu tentunya akan membuat siapa pun merasa senang. Namun, bukan itu fokusnya. Dia senang karena akhirnya mendapat gambaran lebih jauh tentang ayahnya.
“Aku sangat senang. Aku tidak menyangka ternyata patung dewa yang kulihat di alam bawah tak lain adalah sosok ayahku,” ucap Qing Yue'er.
Xie Ying Fei tersenyum. “Ternyata ada orang yang masih menyematkan permintaan padanya.”
“Itu pasti karena ayah adalah sosok yang mengagumkan,” ucap Qing Yue'er dengan senang.
Xie Ying Fei langsung mengusap kepala Qing Yue'er dengan lembut. Setidaknya sekarang dia memiliki putri yang sudah kembali. Itu membuatnya merasa jauh lebih kuat. Seperti yang orang-orang katakan, seorang anak adalah sumber kekuatan bagi orang tuanya.
Qing Yue'er berdehem. Dia teringat pada patung Dewa Alkimia yang dia lihat di istana Shenghuo. Dengan hati-hati dia pun bertanya, “Ibu, bolehkah aku mengetahui tentang dewa yang berasa dari klan Liu?”
Xie Ying Fei langsung menatap Qing Yue'er dengan heran. “Apa kamu melihat sesuatu?”
Qing Yue'er mengangguk. “Aku melihat patung Dewa Alkimia. Apakah itu dia?” tanya Qing Yue'er yang membutuhkan jawaban dari ibunya.
Hening. Xie Ying Fei tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Setelah beberapa saat barulah dia mengangguk. “Benar, Dewa Alkimia adalah dewa yang berdiri di belakang klan Liu. Aku tidak begitu mengenal karakternya karena umurku terpaut jauh darinya. Jadi, aku hanya mendengar tentang desas-desusnya saja.”
Qing Yue'er menunduk. Akhirnya dia mendapatkan kebenarannya. Tidak tahu apakah ini sebuah berkah atau kutukan. Secara tidak langsung dia adalah pewaris ilmu Dewa Alkimia karena dia sudah menemukan bukunya dan menggunakan beberapa tekniknya juga.
Memang sulit untuk mengakuinya. Apalagi dia tidak tahu apakah mereka akan menjadi musuh atau tidak. Saat ini dia hanya bisa berharap, semoga Dewa Alkemis itu tidak akan memusuhinya. Bagaimanapun juga di masa depan mereka pasti akan bertemu. Ya, dia yakin akan hal ini.
***
Sini kujitak kalian yang pada mikir Mo Jingtian adalah ayah Qing Yue'er 🤣
__ADS_1
Hah, sudah ya. Author mau istirahat.
Jangan lupa vote, like dan komen 🤗