
Malam menjelang fajar adalah saat paling gelap dan sunyi. Seluruh mata seolah tertutup pada saat bersamaan.
Di dalam kamar, Mo Jingtian duduk bersila dengan diselimuti cahaya emas lembut. Itu bukan kekuatan jiwa, melainkan kondisi zen ketika batin dan pikirannya benar-benar bersih dan kosong.
Kedua matanya yang tertutup tiba-tiba terbuka ketika merasakan kedatangan seseorang. “Mo Feng?”
Seorang pria berpakaian hitam langsung berlutut dengan satu kaki. Tangannya ditangkupkan. “Tuan, maafkan aku yang terlambat menemuimu.”
Mo Jingtian melambaikan tangannya. “Kemarilah.”
Pria muda itu berdiri dan melangkah mendekat. Kepalanya menunduk dengan sopan. Mo Jingtian mengamatinya sejenak dengan sorot mata yang tidak terbaca.
“Baguslah kau baik-baik saja. Kelak sebelum benar-benar meraih Kehendak Surga, jangan pernah menghadapi dewa seorang diri,” ucapnya dengan lirih.
Kalimat itu membuat Mo Feng terkejut. Dia akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Mo Jingtian dengan bingung. “Tapi … kenapa?”
Selama ini Mo Jingtian tidak pernah melarangnya menghadapi dewa, meskipun pada akhirnya dia tidak pernah bertarung langsung dengan eksistensi seperti itu. Hanya ketika bertemu Di Honghuo di benua Tongxuan barulah dia benar-benar bertempur.
“Kau hanya perlu mendengarkanku,” ucap Mo Jingtian.
Mo Feng terdiam. Entah kenapa tuannya terlihat emosional. Ada kesedihan jauh di dalam matanya. Begitu samar dan hampir tak terlihat.
“Tuan, ada apa?” Dia bertanya dengan hati-hati. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan dia khawatir sesuatu telah terjadi pada tuannya.
Namun, Mo Jingtian tidak menjawab. Pria itu hanya memerhatikannya sejenak lalu tersenyum ketika mengetahui peningkatan kekuatannya. “Kau sudah menerobos lagi,” ujarnya.
Mo Feng mengangguk. “Setelah sembuh dari luka di benua Tongxuan, aku pergi ke puncak Beifeng Xue dan menemukan ternyata semuanya sudah berubah. Tuan, apakah formasi itu kau yang membuatnya?”
“Jadi, kau masuk ke formasi itu?”
Pria berpakaian hitam itu mengangguk. Saat itu dia memasuki Tanah Reruntuhan Dewa bekas puncak Beifeng Xue. Tidak disangka ternyata dia terperangkap di sebuah formasi yang menguji berbagai emosi negatif di hatinya.
Dia terperangkap dalam dendam, amarah, kebencian, nafsu, dan keserakahan selama berhari-hari. Namun, pada akhirnya dia bisa mengatasi itu. Dan ketika dia keluar dari sana, sebuah pemahaman baru berhasil membawanya untuk menerobos ke tingkat yang lebih tinggi.
“Tuan, formasi itu benar-benar sesuatu yang berharga. Aku mendapatkan beberapa pencerahan karenanya. Bahkan tanpa menggunakan harta berharga, aku bisa menerobos.”
Dalam dunia kultivasi, ada beberapa cara untuk melakukan terobosan. Yang paling mudah adalah dengan menggunakan bantuan item atau harta yang mengandung energi spiritual berlimpah. Seseorang hanya perlu menyerap atau menyempurnakan energi di dalamnya untuk membantu mendobrak pembatas spiritual.
__ADS_1
Sementara itu, cara yang tersulit adalah menggunakan teknik pemahaman spritual yang jauh lebih kompleks. Metode ini bisa memakan waktu yang sangat lama. Bahkan untuk menerobos satu tingkat saja bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Biasanya orang-orang dengan kekayaan terbatas akan menggunakan metode yang kedua. Itu membuat mereka menjadi lambat dalam terobosan. Itulah kenapa ada orang yang hingga usia tuanya tidak mampu hanya untuk menginjak alam duniawi.
Meskipun begitu, ada juga orang-orang yang bisa mencapai level tinggi hanya dengan berbekal pemahaman spiritual. Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai jenius sejati.
Tentu saja Mo Feng tidak menganggap dirinya jenius. Itulah kenapa dia menganggap formasi peninggalan Mo Jingtian begitu hebat. Jika bukan karena itu, mungkin dia tidak akan menerobos dalam waktu dekat.
Mo Jingtian tersenyum. “Mo Feng, hanya mereka yang mampu mengatasi emosi negatif mereka yang akan mengerti bahwa tempat itu adalah tempat yang berharga.”
Dia menatap pria itu dengan sungguh-sungguh, lalu berkata, “Sekarang kau sudah mencapai level 3. Jika kau bisa mendapatkan tingkat pemahaman baru, Kehendak Surga pasti akan turun.”
“Aku tidak tahu bagaimana melakukannya,” jawab Mo Feng dengan lirih.
“Pemahaman tentang dunia, tentang langit dan bumi, tentang nasib baik dan buruk, tidak bisa dicapai hanya karena kau sudah mencapai roh perak atau roh emas.” Mo Jingtian menujuk pada hatinya sendiri. “Kau harus memahami ini dulu.”
Perasaan Mo Feng menjadi rumit ketika mendapatkan petunjuk itu. Dia segera berlutut di lantai. “Tuan, aku mengerti sekarang. Namun, selama Baili Linwu masih menjadi Tuan Pengadilan Surgawi, aku tidak ingin menjadi dewa,” ujarnya dengan tegas.
Mo Jingtian tersenyum mendengar itu. “Aku tahu, dan aku juga tidak menginginkannya. Fengxi sudah cukup menerima tekanan di sana, aku tidak ingin kau merasakannya juga.”
Dia bangkit lalu menarik pria itu berdiri. “Mo Feng, kejarlah Kehendak Surga. Aku berjanji padamu, Baili Linwu akan dikalahkan dan Tuan Pengadilan Surgawi yang lebih pantas akan segera naik takhta. Pada saat itu … barulah kau akan naik menjadi dewa.”
Janji tuannya tidak akan pernah diingkari. Dia percaya Mo Jingtian cepat atau lambat akan menepatnya. Jadi, dia segera mengangguk patuh. “Aku akan mendengarkanmu, Tuan.”
“Bagaimana dengan tugas yang pernah kuberikan padamu?”
Dengan cepat Mo Feng menyerahkan token perak dan sebuah slip bambu padanya. “Tuan, semuanya siap. Aku juga menerima pesan misterius dari Gunung Xiannu.”
“Gunung Xiannu ….”
Mo Jingtian mengambil slip bambu itu dan membukanya. Sebuah tulisan yang terdiri dari aksara kuno ras peri ditulis dari atas ke bawah dengan tinta hijau gelap. Orang biasa tidak akan tahu makna tulisan-tulisan itu.
Setelah membaca isinya dengan cermat, Mo Jingtian mengangkat sudut bibirnya. “Lin Ruo sudah menyeimbangkan posisinya. Ras peri yang tersisa bisa pergi kapan saja.”
“Itu bagus.” Mo Feng menjadi lebih senang. “Kalau begitu, apakah ada hal yang harus aku lakukan sekarang?”
Tepat pada saat itu, seseorang tiba-tiba datang. Pria berjubah putih mendekat dari pintu masuk dan memberi salam hormat pada Mo Jingtian. “Guru ….”
__ADS_1
“Fengxi, kau juga di sini.”
Di Fengxi mengangguk dengan ekspresi serius. Dia tersenyum dan mengangguk sekilas pada Mo Feng sebelum akhirnya menyatakan tujuannya.
“Guru, Baili Linwu benar-benar sudah tidak bisa bersabar lagi. Malam ini dia mengirim beberapa dewa untuk melakukan pembantaian para kultivator,” tuturnya dengan khawatir.
Mo Jingtian yang mendengar itu tidak begitu terkejut. “Baili Linwu pasti sudah tahu kekuatanku dan itu membuatnya merasa semakin tersudut.”
“Itu benar.” Di Fengxi mengangguk. “Dia ingin segera membangun kekuatan barunya.”
“Bisakah kau menahan dewa-dewa itu?” Mo Jingtian bertanya.
Di Fengxi langsung mengangguk tanpa ragu. “Beberapa dewa sudah bersedia untuk menawarkan bantuan. Aku akan membawa mereka untuk tugas ini.”
“Sangat sulit untuk tidak memprovokasi Baili Linwu, tapi lebih sulit lagi jika harus berdiam diri melihatnya membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Jika dia kembali didorong dan akhirnya menggunakan langkah terakhirnya, perang pasti akan terjadi,” ucap Mo Jingtian.
“Aku tidak keberatan bahkan jika harus berperang melawannya. Namun, Guru tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menarik amarahnya dan memprovokasinya.”
Mo Jingtian menggeleng pelan. “Itu akan sulit. Ketika dia menemukan bahwa kalian memihakku untuk melawannya, dan bahkan berani menggagalkan rencananya, dia akan terprovokasi lagi. Mungkin dia akan segera mengirim pasukan iblisnya untuk membantai orang-orang.”
Dia terkekeh geli ketika memikirkan itu. Jauh sebelum bertemu Qing Yue’er, dia tidak pernah membayangkan akan bertemu hari seperti ini. Namun, ternyata ini sudah sangat dekat.
Napas panjang terhela. “Setidaknya … beri aku waktu. Beri aku waktu untuk bersiap,” lirihnya sambil memejamkan mata.
Di Fengxi dan Mo Feng saling menatap dengan bingung. Apa yang akan pria itu lakukan? Bersiap untuk apa?
“Kalian pergilah. Jika ada pergerakan lain, segera beri tahu aku,” ucap Mo Jingtian pada mereka.
“Baik.” Kedua orang itu tidak banyak bertanya. Mereka segera memberi salam sebelum akhirnya pergi menghilang ke dalam udara kosong.
Sendirian di sana, Mo Jingtian menarik napas panjang. Dia membuka pintu kamar dan berjalan keluar untuk melihat bulan yang hanya bersinar separuh. Pikirannya melayang jauh.
“Baili Linwu disudutkan, tapi aku juga tidak lebih baik. Aku bahkan harus rela kehilangan orang yang aku cintai,” gumamnya.
Dia menoleh dan menatap pintu kamar Qing Yue’er yang tertutup rapat. Sorot matanya menjadi sendu.
“Surga, jika kau bener-benar adil terhadapku, biarkan dia tetap hidup. Aku bisa menanggung kesulitan apa pun kecuali harus kehilangannya.”
__ADS_1
Tepat setelah itu, cahaya putih tiba-tiba bersinar terang dari kamar Qing Yue’er. Kemudian suara tawa puas gadis itu samar-samar terdengar dari dalam.
Mo Jingtian tersenyum kecil mendengarnya. Pasti gadis itu sudah berhasil menerobos.