Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Guru yang Kejam


__ADS_3

“Tuan, Nona, maaf jika kedatanganku telah mengganggu kalian,” ucap Mo Feng sambil membungkuk hormat.


“Hmm. Apa yang kau bawa?” Mo Jingtian langsung bertanya. Dia mengangkat sebelah alisnya saat menatap guci porselen di tangan Mo Feng. Dia tidak bisa memeriksa itu tanpa kekuatan spiritual.


Mo Feng segera berlutut dan memberikan guci itu pada tuannya. Dia menunduk dengan ekspresi yang rumit. Meskipun sudah terbiasa, dia tetap ragu-ragu untuk mengatakannya. “Tuan, Mo Yu ….”


“Mo Yu?”


Mo Jingtian akhirnya menghela napas panjang. Bahkan tanpa Mo Feng melanjutkan kata-katanya, dia sudah mengerti maksudnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengambil guci itu dan menyimpannya.


“Siapa yang sudah membunuhnya?” dia bertanya pada Mo Feng.


“Itu karena dia menyelamatkanku.” Qing Yue’er berkata dengan lirih. Kejadian hari itu masih membuatnya merasa tidak nyaman. Bagaimanapun juga dia telah berutang nyawa pada Mo Yu tanpa tahu bagaimana harus membayarnya. 


“Siapa yang mencelakaimu?”


“Di Feng Xuan,” jawab Mo Feng. “Dialah yang selama ini telah membuka pintu gerbang dunia bawah. Dia menyerang Nona Qing di Tongxuan Timur. Beruntung saat itu Mo Yu datang tepat waktu.


 


“Tapi dia kehilangan nyawanya karena itu.” Qing Yue’er menatap Mo Jingtian dengan rumit. “Apa kau tidak menyalahkanku?”


Mo Jingtian menggeleng. Dia menatap guci porselen itu dengan lembut. “Dia telah melakukan tugasnya dengan baik. Ini sama sekali bukan salahmu. Jika ada seseorang yang harus disalahkan, itu adalah Di Feng Xuan.”


Dia tersenyum pada Qing Yue’er. “Jangan merasa sedih. Siklus hidup dan mati itu singkat bagi mereka para manusia. Mungkin kau akan melihatnya bereinkarnasi nanti,” ucapnya dengan santai.


Qing Yue’er tidak bisa berkata-kata. Apakah reinkarnasi sungguh semudah itu? Kenapa Mo Jingtian mengatakannya dengan begitu mudah?


“Lupakan tentang itu. Lebih baik kau belajar membuat segel yang kuat,” kata Mo Jingtian.


“Jadi, kau akan mengajariku?” Qing Yue’er menatap pria itu dengan mata berbinar.


“Tentu saja. Memangnya siapa yang lebih layak dari aku?” Nada bicaranya acuh tak acuh. Arogansinya terlihat begitu alami dan normal.


Qing Yue’er terkekeh. “Baiklah.”


Kemudian dia menatap Mo Feng yang masih ada di sana. Dia berkata, “Tolong beri tahu aku di mana lokasi gerbang-gerbang iblis itu berada.”

__ADS_1


Mo Feng sepertinya sudah mempersiapkan itu. Dia langsung menyerahkan gulungan kertas pada Qing Yue’er. Ketika dibuka, itu langsung menunjukkan peta yang sudah ditandai dengan tinta merah. Tinta merah itulah lokasi di mana gerbang-gerbang iblis berada.


Kening Qing Yue’er berkerut dalam ketika melihat titik-titiknya. Semuanya berada di tempat tersembunyi dengan medan yang sulit. Iblis-iblis mungkin tidak akan kesulitan merangkak dari sana. Namun, bagi manusia, itu akan menjadi situasi yang sulit.


Di Feng Xuan ini benar-benar telah memilih tempat secara matang. Pria itu pasti sudah merencanakan ini agar orang-orang kesulitan untuk menemukan dan menutup gerbang iblis. Benar-benar licik.


“Biarkan mereka yang mengurus iblis-iblis itu. Kau hanya perlu menyegel gerbang itu jika waktunya sudah tiba,” kata Mo Jingtian dengan tenang.


“Aku mengerti.” Qing Yue’er mengangguk. Dia akan mendengarkan instruksi Mo Jingtian.


“Mo Feng, pergilah. Tetap awasi pergerakan mereka. Bawa beberapa orang untuk membantumu,” perintah Mo Jingtian.


“Baik.” Mo Feng mengangguk. Dia ingin pergi, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Dia menatap Mo Jingtian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada banyak pikiran yang mengganggunya.


“Ada apa?”


Mo Feng menghela napas lalu menunduk. “Tuan, Nona Qing mengatakan kalau kau terluka di Celestial.”


“Kau sudah melihatku baik-baik saja sekarang. Hanya kekuatan spiritualku yang disegel.”


Meskipun Mo Jingtian terdengar santai, Mo Feng tidak bisa setenang itu. Dia merasa marah pada Baili Linwu dan dewa-dewa busuk di pengadilan surgawi. Kedua tangannya mulai terkepal ketika memikirkan itu.


“Segera. Mereka pasti akan segera hancur,” ucap Qing Yue’er dengan dingin. Dia menggertakkan giginya dengan kuat. Rasanya sungguh ingin ini segera berakhir. Dia ingin mengambil ayahnya kembali dan menghancurkan mereka yang telah melukai orang-orang terkasihnya.


‘Itu tidak akan lama lagi,’ gumamnya dalam hati.


Malam ini juga Qing Yue’er fokus belajar untuk membuat segel yang kuat. Mo Jingtian telah memberikan petunjuk dan dia ingin segera mencobanya. Jadi sekarang di halaman belakang, dia membungkuk sambil memegang pedang.


Ujung pedangnya yang tajam menyentuh tanah. Qi spiritual yang bercampur dengan kekuatan roh mengalir dari tangannya menuju ujung pedang itu. Dengan cepat dia bergerak, menarik ujung pedang itu hingga menggambar pola khusus berukuran besar di permukaan tanah.


Sambil melakukan itu, bibirnya bergerak membaca mantra panjang. Sesekali dia melakukan kesalahan saat mengucapkan mantra, dan itu membuat Mo Jingtian menatapnya dengan tajam. Pria itu berdiri sambil melipat tangan di dada. Sikapnya benar-benar terlihat seperti seorang guru yang kejam.


Namun, Qing Yue’er berpura-pura tidak melihat. Mantra untuk membuat segel itu benar-benar masih asing. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar dan merapalkannya. Tentu saja dia masih akan melakukan kesalahan.


Ketika dia selesai merapalkan mantra, pola di tanah sudah selesai dibuat. Keringat bercucuran di dahi dan punggungnya. Dia terkejut setelah mengetahui bahwa aktivitas ini ternyata bisa menguras energi spiritual di tubuhnya.


Dia menarik napas panjang, lalu menegakkan punggungnya. Senyum semringah muncul di wajahnya. Dia menunggu pola segel di tanah itu beraksi. Namun, hingga beberapa saat, tidak ada apa pun yang terjadi.

__ADS_1


“….”


“Kenapa tidak ada apa pun?” Dia bertanya dengan heran. “Apakah ini gagal?”


Mo Jingtian mendengkus. Dia langsung menjawab dengan sarkas, “Kau melakukan kesalahan saat merapalkan mantra. Bagaimana mungkin itu akan berhasil?”


“Hanya sedikit kesalahan,” bela Qing Yue’er.


“Itu tetap tidak akan berhasil. Segel ini bukan segel rendahan yang bisa memaklumi kesalahan pembuatnya.”


“Ya, ya, ya, ya ….” Qing Yue’er hanya mengiakan itu. Mo Jingtian dalam mode serius adalah seseorang yang tidak boleh dibantah. Lebih baik dia tidak melawannya.


“Lakukan sekali lagi!” perintah pria itu.


Qing Yue’er akhirnya mengulangi aktivitas itu lagi. Dia kembali menuangkan kekuatan roh dan qi spiritualnya ke dalam pedang. Setelah itu dia mulai bergerak menggambar pola khusus di tanah lagi.


Kali ini dia membuat kesalahan lebih sedikit daripada sebelumnya. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Mo Jingtin merasa puas. Pria itu mengerutkan keningnya. Karena saat ini dia tidak mengenakan topeng, ekspresinya yang muram terlihat begitu jelas.


Dia sudah bersiap untuk mengomel, tapi Qing Yue’er segera menghentikannya. “Tunggu! Kau harus memaklumiku. Kenapa kau begitu tidak sabaran?”


“Aku sangat sabar. Jika ini bukan kamu, percayalah aku sudah lama menendang murid yang lambat seperti ini,” ucap Mo Jingtian dengan datar.


“Haiiih??” Qing Yue’er tidak bisa berkata-kata. Apakah Mo Jingtian selalu seperti ini ketika mengajari seorang murid? Siapa yang mungkin mau menjadi muridnya?


Dia mendengkus dengan sebal. Bagaimanapun juga dia adalah gadis jenius yang mudah mempelajari sesuatu. Jika dia lambat, itu bukan karena dia bodoh atau tidak mampu. Itu karena yang dia pelajari adalah sesuatu yang bukan kapasitasnya.


“Kenapa? Bukankah kau menginginkan bimbingan dariku?” Mo Jingtian mengangkat sebelah alisnya.


“Itu …. Itu memang benar. Tapi—"


“Apa karena kau sudah lama tidak belajar sehingga kau menjadi pemalas? Atau karena aku yang menjadi gurumu sehingga kau tidak bisa menjadi serius?”


Qing Yue’er meringis mendengar itu. Mulut Mo Jingtian sungguh bisa menjadi kejam bahkan kepadanya. Sejak kapan dia seperti ini? Apakah kehilangan kekuatan spiritual telah mengubah sikapnya?


“Baiklah, Tuan Mo yang terhormat.”


Dia menyeka keringat di dahinya. Meskipun Mo Jingtian terdengar kejam, tapi yang dikatakan itu benar. Dia sudah lama tidak belajar pada seorang guru. Selama di Celestial dia bahkan tidak memiliki seorang guru. Mungkin itu juga yang membuatnya tidak mendapatkan kemajuan dalam beladiri dan kemampuan yang lain.

__ADS_1


“Aku mengerti,” gumamnya dengan ekspresi yang lebih serius.


Mo Jingtian diam-diam tersenyum. Mungkin dia terdengar menekan dan memaksa Qing Yue’er, tapi dia tahu apa yang dia lakukan. Gadis itu adalah spiritualis dunia. Dengan mendorong kekuatan rohnya sampai ke batas, dia ingin gadis itu mencapai terobosan baru.


__ADS_2