Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Leluhur Yin Hu? Old Zu?


__ADS_3

Qing Yue'er masih berdiri di jembatan ketika tubuhnya tiba-tiba melayang. Dia merasa sangat kaget dan hendak berontak. Tapi kemudian dia menyadari siapa yang sedang menggendongnya.


"Mo Jingtian, tu-turunkan aku." Wajah Qing Yue'er memerah saat menyadari ternyata Mo Jingtian yang membawanya.


Pria itu tidak menjawabnya, hanya menampilkan senyuman samar dan terus membawa Qing Yue'er menuju asrama.


Qing Yue'er samar-samar mencium bau darah dari tubuh kokohnya. Dia sedikit mengerutkan keningnya.


"Apa kamu terluka?"


Alis Mo Jingtian sedikit terangkat. "Tidak."


"Kamu bau darah, aku tidak menyukainya."


Mo Jingtian terdiam. Mulutnya bergerak dengan ringan, tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Tapi kemudian bau darah itu menghilang.


"Bagaimana sekarang?" Mo Jingtian menatap wajah Qing Yue'er.


"Sudah hilang. Turunkan aku, Jingtian!" Qing Yue'er berontak dalam gendongannya.


"Sebentar lagi sampai."


Benar saja, asramanya sudah terlihat tidak jauh dari mereka.


"Apa kamu baru saja menggumamkan mantra?"


Mo Jingtian melihat wajah antusias Qing Yue'er. Sudah pasti gadis itu ingin mengetahui mantra apa yang dia gunakan.


"Kamu ingin mempelajarinya?"


Mata Qing Yue'er langsung berbinar. "Apa aku bisa?"

__ADS_1


"Tentu saja, tapi..." kata-katanya berhenti.


"Tapi apa?"


"Kamu harus memberiku sebuah ciuman." Mo Jingtian melirik wajah merah Qing Yue'er.


"Kamu hanya memanfaatkanku." Qing Yue'er memukul wajah Mo Jingtian yang terlihat tidak bersalah.


Mo Jingtian terkekeh. Kemudian dia mulai memberitahu beberapa mantra ringan kepada gadisnya untuk dipelajari. Seperti mantra untuk menghapus bau dari tubuh, mantra untuk merubah penampilan, mantra untuk merubah pakaian, atau mantra untuk merapikan suatu tempat.


Qing Yue'er dengan senang mendengarkannya. Mungkin ini bukan mantra yang luar biasa. Tapi jelas mantra dasar inilah yang paling berguna dalam kehidupan duniawinya.


"Terima kasih." Qing Yue'er tersenyum


"Tidak perlu ada terima kasih diantara kita."


Wajah Qing Yue'er kembali memerah.


Setelah tiba di kamar, Qing Yue'er menceritakan apa yang baru saja dia alami. Dia juga menunjukkan buku yang diberikan oleh manusia mumi.


Qing Yue'er berkedip. Pria itu bahkan hanya berkomentar seperti itu, tidak menanyakan hal-hal lain.


"Aku tidak tahu, tapi aku merasa jalanku semakin sulit. Banyak sekali hal yang masih menjadi misteri." Suara Qing Yue'er menjadi sendu.


Kadang dia masih merindukan kenyamanan hidup di bumi. Dia tidak tahu harus menceritakan perasaannya pada siapa. Tapi dia merasa nyaman dengan pria ini. Dia ingin membagikan keluh kesahnya.


Mo Jingtian memahami perasaan Qing Yue'er. Dia memeluk tubuh gadis itu. Tangannya mengusap rambutnya dengan lembut.


"Tidak apa-apa. Jangan memikirkannya."


"Ada hal yang ingin aku beritahu kepadamu. Tapi, ini masih belum waktunya."

__ADS_1


Mo Jingtian menatap Qing Yue'er. "Aku menunggumu untuk menceritakannya."


"Jingtian, kamu pergi sangat lama kali ini. Apa kamu juga memiliki masalah?" Qing Yue'er memandang pria yang sedang memeluknya, "sebenarnya aku sangat penasaran tentang kamu."


Mo Jintian berkedip. "Aku hanya sampah. Tidak ada yang spesial tentangku."


Qing Yue'er tidak puas dengan jawabannya. Bagaimana ada sampah sekuat itu? Jika Mo Jingtian adalah sampah, lalu bagaimana dengan dia? Bukankah itu lebih buruk dari sampah?


"Aku tidak mempercayaimu."


Mo Jingtian terkekeh. "Siapa aku, itu tidak penting. Kamu yang seharusnya memikirkan siapa sebenarnya kamu ini?"


"Kamu benar."


Di kedalaman puncak ke-9, wanita rubah yang telah mendorong Qing Yue'er jatuh, sedang menyipitkan matanya. Dia menatap ke arah asrama putra yang berada di puncak ke-2.


"Apa kamu merasakannya? Ada aura kuat disana." Dia berbicara kepada orang tua di belakangnya.


"Itu benar. Apa orang rendahan ini perlu menyelidikinya?"


Wanita rubah itu menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja. Sepertinya dia tidak membawa permusuhan. Tapi kamu harus ingat untuk menjaga gadis itu dengan benar."


Pria tua mengerutkan keningnya. "Leluhur Yin Hu, bukankah dia sudah dilemparkan ke jurang? Apa mungkin dia masih hidup?"


"Dia tidak akan mati. Jika dia mati disini, akademi kita akan hancur."


Pria tua itu bergidik. Kata-kata leluhurnya selalu benar. Mungkinkah gadis itu memiliki latar belakang yang menakjubkan?


Wanita rubah itu berbalik menatap si pria tua. "Oh benar, bagaimana dengan Old Zu?"


"Untuk saat ini dia sedikit lebih diam. Biasanya dia akan selalu membuat penatua lain merasa jengkel. Entah angin apa yang menabraknya," jawab si pria tua.

__ADS_1


"Biarkan saja, seorang spiritualis dunia memang sangat langka. Jadi wajar kalau dia suka berbuat semaunya."


Pria tua hanya mengangguk setuju.


__ADS_2