
Qing Yue’er mengerutkan kening ketika melihat pemandangan asing di depannya. Itu seperti sebuah tempat suci di atas langit. Tangga panjang yang dibangun dari awan putih berada tepat di bawah kakinya.
Dia mendongak sambil menahan napas. Tangga di depannya benar-benar tak berujung. Itu seperti tangga menuju surga.
Bagaimana dia bisa ada di sini? Mungkinkah dia sudah mati dan jiwanya berakhir di sini?
Dengan bingung dan penuh waspada Qing Yue’er berjalan menaiki tangga itu. Dia mencoba untuk terbang, tapi tidak berhasil. Ada kekuatan tertentu yang seolah menahannya.
Akhirnya dia menaiki tangga dengan perlahan. Sepanjang jalan, tidak ada satu pun kehidupan yang bisa dia lihat. Tidak ada orang lain, tidak ada makhluk lain. Bahkan tidak ada angin sedikit pun yang bisa dia rasakan.
“Ini pasti benar-benar kematian,” Qing Yue’er bergumam dengan lirih. Perasaannya menjadi sendu. Semua rencananya, semua mimpinya, mungkin tidak akan pernah terwujud.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari belakang. Dia menoleh. Kedua matanya langsung melebar ketika melihat Mo Jingtian. Senyumnya mengembang. Dia segera memanggil, “Mo Jingtian!”
Namun, pria itu mengabaikannya. Dia bahkan tidak menatapnya. Qing Yue’er menjadi heran. “Jingtian, di mana ini?”
Pria itu berjalan melewatinya begitu saja. Benar-benar tidak memedulikannya. Apa Mo Jingtian tidak mendengarnya? Kenapa pria itu mengabaikannya?
Qing Yue’er menjadi bingung. Dia segera mengejar pria itu. Tangannya bergerak menggapai tangan Mo Jingtian. Namun, tidak berhasil. Dia tidak bisa menyentuhnya sama sekali.
Wajahnya menjadi pucat. Apa yang sedang terjadi?
“Mo Jingtian!” Dia mengejar pria itu dengan perasaan tak menentu. Beragam dugaan memasuki otaknya. Namun, tidak satu pun hal baik dalam dugaannya.
Qing Yue’er terus menaiki tangga mengikuti Mo Jingtian sampai tiba di puncak. Di sana tidak ada bangunan besar, istana, atau semacamnya, melainkan hanya altar yang didominasi oleh warna putih.
Altar itu tidak begitu luas. Di tengahnya terdapat patung putih berwujud manusia. Namun, wajahnya tidak terlihat dengan jelas, seolah ada kekuatan khusus yang melindunginya. Ketika melihat patung itu, Qing Yue’er tidak tahan untuk membungkuk dengan hormat.
Di depan patung terdapat papan seperti meja batu yang tidak terlalu tinggi. Di atasnya terdapat kotak putih yang tertutup rapat. Ada ukiran emas yang terlihat begitu indah di setiap sisinya.
Mo Jingtian mengambil kotak itu dan terlihat ragu-ragu. Qing Yue’er tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu, tapi wajahnya tampak penuh beban. Memangnya kotak apa itu?
Tiba-tiba suara yang terdengar selembut angin mememasuki telinganya, “Putraku, kau sudah melakukannya dengan baik.”
Qing Yue’er tersentak mendengar suara itu. Itu tidak seperti suara pria atau wanita. Itu hanya seperti bisikan lembut yang misterius. Dia menjadi semakin bingung. Siapa yang memanggil Mo Jingtian putranya?
__ADS_1
Mungkinkah ….
Kedua matanya langsung melebar. Mungkinkah ini adalah altar khusus untuk berbicara dengan surga dan langit? Mo Jingtian dan jiwanya adalah putra mereka!
Pada saat itu, tiba-tiba Mo Jingtian jatuh berlutut. Ada keluhan dan juga pengaduan di dalam sorot matanya. Pria itu berkata, “Aku tidak ingin menjadi putra siapa pun. Bisakah kau melepaskanku?”
Hati Qing Yue’er bergetar melihatnya. Dia segera mendekati Mo Jingtian lalu ikut berlutut di sisinya. Dia menatap pria itu dengan sendu. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau harus memohon seperti ini?”
Namun, lagi-lagi pria itu tidak mendengarnya. Hatinya menjadi sakit. Dia ingin memeluknya, tapi itu tidak bisa dilakukan. Dia hanya bisa melihatnya mengeluh sendirian.
Kemudian, suara misterius sebelumnya kembali terdengar, “Kau tidak bisa mengatakan itu. Seorang gadis sudah datang dan hadir untukmu. Kau hanya harus meresmikannya.”
Qing Yue’er mengerutkan kening dengan bingung. Gadis? Siapa gadis yang sudah hadir untuk Mo Jingtian?
Pria itu tiba-tiba berteriak, “Berhenti mengontrol kehidupanku! Sungguh, aku benar-benar ... aku memohon kepadamu. Apa kau mau sedikit berbelas kasih?”
Kedua tangan Qing Yue’er mengepal kuat. Kemudian dia menyentuh dan memegang tangan Mo Jingtian meskipun tidak bisa benar-benar melakukannya. Hatinya kembali merasa sakit melihat pria itu begitu marah dan frustrasi.
“Takdirmu tidak akan bisa diubah. Kamu berbeda dari siapa pun ....” Suara misterius itu terdengar semakin samar dan semakin samar hingga akhirnya menghilang.
“Mo Jingtian, apa ini? Aku tidak mengerti kenapa segala hal tentangmu begitu sulit untuk dimengerti,” gumamnya dengan lirih.
Kemudian, Mo Jingtian bangkit. Pria itu mengambil kotak putih yang sudah disimpan. Dia tampak ragu-ragu saat membukanya.
Qing Yue’er merasa ngin tahu mengenai isinya. Apa yang mungkin langit berikan pada Mo Jingtian? Mungkinkah itu harta tertentu?
Dia mencoba mengintip, tapi tiba-tiba kekuatan sedot yang sangat kuat seolah menarik jiwanya. Kesadarannya ditarik pergi dari sana. Kepalanya pusing dan pandangannya menjadi kabur. Dia segera berteriak, “Mo Jingtiaaannn!”
Tubuh Qing Yue’er tersentak. Dia membuka matanya lalu duduk dengan cepat. Napasnya naik turun tidak teratur. Keringat sudah membasahi dahi dan punggungnya.
“Yue’er, akhirnya kau sudah bangun!”
Qing Yue’er melihat kakeknya yang duduk di tepi ranjang dengan wajah semringah. Pria tua itu segera memeluknya dengan erat. “Aku begitu merindukanmu, Nak.”
“Kakek ….” Qing Yue’er memeluk pria tua itu dengan lembut. Dia sedikit terkejut karena sudah kembali ke Celestial. Bagaimana dia bisa kembali?
__ADS_1
Pikirannya langsung tertuju pada Mo Jingtian. Apakah pria itu mengantarnya? Di mana dia? Bagaimana dengan mimpi sebelumnya? Apakah itu hanya mimpi belaka? Apakah pria itu baik-baik saja?
“Kau berteriak memanggil nama Tuan Dewa. Apa kau ingin bertemu dengannya?”
Qing Yue’er sedikit terkejut. Sepertinya kakeknya sudah mengetahui identitas Mo Jingtian. Dengan ragu dia bertanya, “Dia … ada di sini? Apakah dia baik-baik saja?”
Xie Song mengangguk. “Dia yang membawamu kembali. Selama beberapa hari terakhir ini dia menutup diri di menara. Kulihat kekuatannya sangat lemah.”
Qing Yue’er mengerutkan kening. Mo Jingtian tidak pergi ke mana-mana, pria itu ada di istana Tianjun. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia memimpikan itu?
Sudah beberapa kali dia memimpikan hal-hal yang pernah dialami Anak Surga. Itu artinya mimpi sebelumnya juga pernah terjadi. Mungkin Mo Jingtian memang pernah datang ke altar putih itu.
Dia menjadi penasaran, kotak apa yang diberikan oleh langit kepada Mo Jingtian? Dan gadis yang dihadirkan untuknya, apakah itu adalah dia, Qing Yue’er? Lalu apa maksud ‘harus meresmikannya?’
Qing Yue’er terdiam dan mencoba mencerna semua itu. Tidak banyak yang bisa dia simpulkan, tapi yang pasti dia harus menanyakan itu pada Mo Jingtian.
“Kenapa kau melamun? Apakah kau masih merasa sakit?” Xie Song bertanya dengan cemas. Dia memeriksa cucunya dari atas ke bawah lalu memeriksa denyut nadinya juga.
“Kakek, aku baik-baik saja. Aku hanya … aku tidak mengerti bagaimana aku bisa sampai di sini. Apakah seseorang datang bersama Mo Jingtian?”
Xie Song menggeleng. “Ketika dia membawamu pulang, dia hanya sendirian.”
Qing Yue’er mengangguk pelan. Tangannya memegang dadanya yang terasa baik-baik saja. Tidak ada rasa sakit sama sekali, bahkan tidak ada jejak luka sedikit pun. Perasaannya menjadi terkejut.
“Sudah berapa lama aku pingsan? Kenapa aku merasa sangat sehat?”
“Sudah lima hari kau tidak sadarkan diri. Bukankah seharusnya kau merasa senang? Itu artinya lukamu tidak begitu serius sehingga kau merasa sangat sehat,” ucap Xie Song dengan santai. “Baiklah. Aku akan memberi tahu ibumu kau sudah bangun. Aku juga akan memberi tahu Tuan Dewa.”
“Tidak, Kakek. Aku akan pergi menemui pria itu nanti.”
Xie Song hanya mengangguk. Setelah itu dia pun pergi.
Qing Yue’er masih memegang dadanya dengan perasaan bingung. Luka yang menembus dari punggung hingga ke dadanya jelas sangat serius. Dia bahkan sempat berpikir hidupnya akan berakhir.
Bagaimana luka itu bisa hilang begitu saja hanya dalam waktu beberapa hari? Tidak. Kakeknya bahkan tidak tahu seberapa seriusnya luka itu. Itu artinya lukanya sudah sembuh ketika Mo Jingtian membawanya kembali.
__ADS_1
Ini membuatnya bertanya-tanya. Obat ajaib apa yang sudah Mo Jingtian berikan padanya?