Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Mengundang Seseorang


__ADS_3

Setelah meninggalkan Pulau Langit, Hua Yan pergi ke belakang klan Hua. Dia pergi ke ruang pribadinya sendirian. Itu adalah gua yang biasanya dia pakai untuk melakukan meditasi pintu tertutup.


Setibanya di dalam, dia memastikan tidak ada orang yang mengawasinya. Setelah yakin, barulah dia melukis formasi pemanggilan di udara.


Tangannya bergerak dengan cepat sebelum akhirnya terbentuklah sebuah formasi yang terlihat asing. Tak lama kemudian gua yang awalnya sangat lengang tiba-tiba mulai bergetar.


Hua Yan menanti dengan sabar. Beberapa saat kemudian akhirnya apa yang dia tunggu datang.


“Hmm? Kenapa kamu memanggilku?”


Hua Yan membungkuk satu kali. Kemudian dia berkata, “Aku ingin melaporkan satu hal.”


“Apa itu?”


“Xie Ying Fei baru saja memaksa masuk ke salah satu dari dua Pulau Langit yang misterius.”


“Lalu?”


“Dia menghancurkan formasi pelindung menggunakan sebuah benda yang aneh dan berkekuatan luar biasa,” tutur Hua Yan.


“Benda apa itu? Jangan bertele-tele!” suara yang tidak berwujud itu terdengar tidak sabar.


“Kipas, itu adalah sebuah kipas lipat. Sebelumnya aku belum pernah melihat benda itu. Dan anehnya orang lain tidak bisa melihat kipas itu, hanya aku yang bisa melihatnya.”

__ADS_1


“Hahah .... Bagus. Kamu memberikan informasi yang bagus. Hahaha ....” Tawa itu menggema di seluruh gua. Namun, semakin lama suara tawa itu semakin kecil dan seakan menjauh.


Hua Yan sedikit merinding. Tawa itu terdengar menakutkan. Setelah beberapa saat dia memberanikan diri untuk bertanya, “Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisakah Tuan menepati janjimu untuk membantuku melenyapkan klan Xie?”


“....”


Tidak ada respons apa pun. Itu membuat Hua Yan mengerutkan keningnya. Sepertinya orang itu sudah pergi dan mengabaikannya begitu saja. Hal ini membuat dia menjadi ragu. Apakah orang itu benar-benar akan membantunya?


***


Saat ini hari sudah mulai menggelap. Sudah beberapa waktu sejak Mo Jingtian mengirim peri jamur. Dia bisa mendengar suara pertempuran di kejauhan. Peri-peri jamur itu memang lumayan bisa diandalkan.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Mo Jingtian beranjak dari duduknya. Dengan malas dia bergerak untuk melihat pertikaian mereka.


“Berhenti! Aku datang ke sini bukan untuk mengganggu siapa pun. Aku hanya ingin mencari seseorang.” Xie Ying Fei berkata dengan suara yang masih terdengar sopan meskipun sedikit terengah-engah. Sepertinya dia tidak ingin bertempur lebih lanjut dengan peri jamur.


Xie Ying Fei menghela napas panjang. “Kalau begitu aku ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu.”


Peri jamur mendengus. “Apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Apa kalian melihat seorang gadis yang masuk?” tanya Xie Ying Fei. Kemudian dia langsung memberi tahu ciri-ciri Qing Yue'er pada mereka.


Peri jamur tidak mungkin memberi tahu kebenarannya. Mereka masih memikirkan jawabannya ketika Mo Jingtian akhirnya tiba di sana.

__ADS_1


Xie Ying Fei langsung menyipitkan matanya saat melihat kemunculan Mo Jingtian. Dia tidak tahu kenapa pria itu bisa ada di sana dan apa yang sedang dilakukan. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan Qing Yue'er?


“Tuan Muda Jing, bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Xie Ying Fei yang merasa heran sekaligus waspada.


“Yue'er ada bersamaku. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” ucap Mo Jingtian. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Xie Ying Fei.


“Bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu? Aku tidak tahu asal-usulmu jadi bagaimana aku bisa yakin kalau kamu tidak memiliki niat buruk pada putriku?” tanya Xie Ying Fei dengan nada yang cukup tajam.


Mo Jingtian terkekeh. “Kamu benar. Sudah sepantasnya kamu khawatir, tetapi apa kamu pernah berpikir di mana letak kesalahanmu?”


Xie Ying Fei terdiam. Dia tidak bisa berbicara selancar sebelumya. Pria di depannya jelas-jelas terlihat lebih muda darinya. Namun entah kenapa kehadirannya membuat dia merasa rendah diri.


“Kamu harus melihat ke belakang dan renungkan kesalahanmu. Apa kamu pikir gadis itu akan lari tanpa alasan?” Mo Jingtian mendalamkan suaranya.


Xie Ying Fei menunduk. Semua berawal dari pembicaraannya waktu itu. Seperti yang Xie Song katakan, seharusnya dia tidak ikut campur pada perasaan pribadi Qing Yue'er. Dia yang terlalu memikirkan dirinya sendiri.


“Bukan hanya itu saja. Bukankah kamu mengeluarkan kipas Sheng Feng?”


Kedua mata Xie Ying Fei langsung membola. Dia mengangkat kepalanya, lalu menatap Mo Jingtian dengan tajam. “Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Apa yang aku tidak tahu?” jawab Mo Jingtian dengan acuh tak acuh.


“....”

__ADS_1


Xie Ying Fei ingin berbicara, tetapi tiba-tiba Mo Jingtian mengangkat tangannya sebagai isyarat agar dia menutup mulut.


Beberapa saat kemudian Mo Jingtian menghela napas panjang. “Kamu benar-benar mengundang seseorang.”


__ADS_2