Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Cincin Cahaya


__ADS_3

“Yue'er, apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?” tanya Xie Ying Fei.


Qing Yue'er tidak langsung menjawab. Dia juga masih belum tahu harus dari mana dia memulai. Jadi dia hanya berkata, “Aku masih tidak tahu seperti apa kehendak surga dan bagaimana cara mendapatkannya.”


Xie Ying Fei tersenyum. Kemudian dia membawa Qing Yue'er keluar dari ruangan rahasia yang digunakan untuk mengenang suaminya. Dia sudah cukup dengan menunjukkan ruangan itu.


Setelah kembali ke kamar, dia berkata, “Kehendak surga bukanlah sesuatu yang memiliki bentuk secara pasti. Ah, bagaimana aku harus menjelaskannya?” Dia tampak menimbang-nimbang pikirannya.


Setelah beberapa saat barulah dia melanjutkan, “Ini mungkin sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh batin seseorang. Itu akan memanggil dan hanya akan dipahami melalui kesadaran jiwa manusia.”


Qing Yue'er menganggukkan kepalanya dengan ragu. Mungkin itu lebih seperti sebuah ilham. Kalau begitu dia hanya akan mengikuti apa kata hatinya. Terutama sekarang dia harus meningkatkan kekuatannya lebih banyak lagi.


“Kalau begitu pada tingkat manakah kehendak surga bisa datang?” tanya Qing Yue'er.


“Dari riwayat yang aku baca, mereka harus melewati alam surgawi terlebih dahulu. Mungkin kamu harus memasuki roh perak,” ucap Xie Ying Fei.


Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya dengan penasaran. “Roh perak? Apakah itu level di atas alam surgawi?”


“Itu benar.” Xie Ying Fei menganggukkan kepalanya. “Bagi para pencari kehendak surga, alam surgawi bukanlah apa-apa. Mereka harus memasuki ranah roh perak.”


“Aku mengerti,” ucap Qing Yue'er.


Xie Ying Fei menatap Qing Yue'er dengan serius. “Yue'er, sekarang kamu sudah 18 tahun lebih bukan?”


Qing Yue'er mengangguk. “Ada apa dengan itu?”


“Apa kamu memiliki seorang pria yang sudah mengikat hatimu?” tanya Xie Ying Fei dengan penasaran. Sebenarnya di Celestial umur 18 tahun adalah umur yang cukup untuk mulai mempertimbangkan masalah pernikahan. Itulah kenapa dia bertanya seperti ini.

__ADS_1


Bukan, bukan karena dia ingin Qing Yue'er segera menikah. Justru dia ingin mencegahnya. Dalam hal ini mungkin dia terkesan sedikit egois. Namun, ini akan menjadi masalah jika nanti gadis itu benar-benar naik menjadi dewi. Apalagi jika pasangannya adalah seorang manusia normal.


Diberi pertanyaan seperti itu membuat Qing Yue'er sedikit tersentak. Kenapa ibunya harus menanyakan hal itu? Apakah dia harus jujur sekarang?


“Ah, jangan merasa takut. Aku hanya ingin mengingatkanmu, Putriku. Ini bukan hal yang sepele. Aku harap kamu bisa memikirkannya dengan baik. Menikah sekarang akan membuat masalah lain di hari pengangkatanmu.” Xie Ying Fei menambahkan.


Qing Yue'er tersenyum canggung. Tentu saja saat ini dia tidak memikirkan masalah mengenai pernikahan. Woah! Itu masalah yang belum dia sentuh. Sepertinya ibunya ini terlalu banyak memikirkan hal-hal.


“Ibu, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jangan khawatirkan hal ini,” ucap Qing Yue'er lalu tersenyum.


“Kalau begitu, Jing Tian itu ....”


Qing Yue'er menggaruk hidungnya. Pada saat itulah tiba-tiba sebuah lingkaran cahaya tampak bersinar di jari manisnya. Qing Yue'er ingin segera menyembunyikan itu, tapi Xie Ying Fei sudah terlebih dahulu melihatnya.


“Apa itu?” tanya Xie Ying Fei. Dia memegang tangan Qing Yue'er lalu mengamatinya dengan serius. Itu adalah benang cahaya yang mengikat jari Qing Yue'er. Dia langsung menatap Qing Yue'er dengan mata menyipit. Setelah itu dia kembali bertanya, “Bisakah kamu menjelaskan ini padaku?”


Qing Yue'er meringis meratapi hal ini. Tidak biasanya cincin cahaya itu bersinar. Ada apa ini? Kenapa waktunya sangat tidak tepat?


“Siapa yang memberikannya? Apakah itu Jing Tian?” tanya Xie Ying Fei.


Meskipun merasa ragu pada akhirnya Qing Yue'er tetap mengangguk. “Ya, itu dia. Namun, Ibu jangan cemas. Aku tidak memikirkan pernikahan itu sekarang—”


“Bukan itu.” Xie Ying Fei menggelengkan kepalanya, memotong pembicaraan Qing Yue'er. “Cobalah periksa apakah dia masih ada di sini.”


Qing Yue'er menatap ibunya tidak mengerti. Jadi, dia bertanya, “Maksud Ibu?”


“Periksa dia. Benda ini tidak akan bersinar begitu saja, pasti ada alasannya,” ucap Xie Ying Fei.

__ADS_1


Qing Yue'er akhirnya mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibunya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi dia langsung kembali ke kediamannya hanya dengan menutup mata.


Ketika matanya terbuka dia sudah muncul kembali di tempat di mana sebelumnya dia mengobrol dengan Mo Jingtian. Namun, pria itu sudah tidak ada di sana. Itu membuat Qing Yue'er bertanya-tanya. Apakah Mo Jingtian kembali ke kediamannya sendiri?


Tanpa berpikir lama dia langsung menyeberang ke kediaman Mo Jingtian yang disiapkan oleh paman Wuqing. Namun, di sana juga tidak ada siapa-siapa. Akhirnya dia beralih mencarinya ke dalam dimensi.


Qing Yue'er tiba di depan kolam Yin Yang. Tidak ada siapa pun di sana, di luar juga tidak ada. Jadi ke mana Mo Jingtian pergi?


Cincin cahaya di tangan Qing Yue'er tiba-tiba berkedip beberapa kali sebelum akhirnya kembali berubah menjadi transparan. Sejujurnya ini membuat Qing Yue'er sedikit cemas. Dia menatap lubang yang ada di atas kolam Yin Yang. Haruskah dia memeriksa ke dimensi Mo Jingtian?


Sebenarnya dia jarang pergi ke sana meskipun dia sudah mengantongi izin dari pemiliknya. Namun, kali ini sepertinya dia harus ke sana. Tanpa menunggu lebih lama dia pun langsung menembus penghalang dimensi.


Pemandangan di sana masih sama seperti sebelumnya. Lautan api berkobar di mana-mana. Qing Yue'er mencari ke segala tempat, mungkin pria itu ada di dimensinya sendiri. Namun, hingga beberapa saat pencarian, dia masih belum menemukannya.


Qing Yue'er sedikit bertanya-tanya. Seharusnya tidak ada hal buruk yang terjadi, 'kan?


***


Sementara itu di tempat yang jauh di sana, sebuah bencana besar sedang terjadi. Hujan petir terjadi di atas lautan yang kini terguncang hebat. Gunung api yang berada di tepi laut tampak mengeluarkan lelehan cairan merah menyala hingga jatuh ke atas laut.


Benang cahaya putih bergerak dari langit dengan kecepatan mengerikan hanya untuk menjangkau satu sosok merah yang terbang melayang.


“Terkutuk! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa dan kau sudah datang menyeretku,” ucap Mo Jingtian dengan dingin. Kali ini penampilannya terlihat sedikit berantakan. Dia mendongak menatap langit yang terlihat suram.


“Sudah sejauh ini dan kamu masih saja buta.” Dia mendecih dengan jijik. “Baik, aku memang tidak terburu-buru, tapi aku pasti akan menunjukkan padamu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu, kamu bisa menentukan siapa yang sebenarnya bersalah. Apakah aku ... atau orang terkutuk itu.”


***

__ADS_1


Hayo, kemarin saya libur up. Ternyata udah pada nungguin ya 🤭


Jangan lupa like, komen dan vote ya.


__ADS_2