Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Pergi


__ADS_3

“Gadis, kamu harus tahu keberadaan Taotie sudah terekspos maka mungkin kedepannya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap Duan Mu.


Qing Yue'er langsung mengangguk. Dia juga tahu ini, tapi sepandai-pandainya dia menyimpan pada akhirnya juga akan diketahui oleh orang lain. Jadi, dia tidak begitu mempermasalahkannya.


“Kakek Duan, bukankah ada dua Pulau Langit yang tidak diketahui sebagai milik siapa? Apakah itu benar-benar tidak memiliki tuan?” tanya Qing Yue'er mengalihkan pembicaraan.


“Orang-orang memang tidak tahu siapa pemiliknya. Namun, itu memang sudah turun-temurun diketahui sebagai tanah terlarang. Maksudnya, tanah terlarang yang berarti jangan dimasuki oleh siapa pun.”


Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya. “Apakah itu karena ada sesuatu yang disimpan di dalamnya?”


“Tidak ada yang tahu. Lagi pula tidak ada yang bisa masuk ke sana. Mungkin ada, pada akhirnya tidak ada yang bisa kembali.”


Qing Yue'er mengangguk mengerti. Dia menenggak anggur terakhirnya hingga habis. Setelah itu dia meletakkan wadahnya dengan keras di meja. “Terima kasih sudah memberiku sesuatu yang baik,” ucapnya.


Duan Mu menggosok dagunya. “Ah, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong aku ingin tahu, di mana kamu pertama kali bertemu dengan Taotie?”


“Apa ini hal yang penting?” tanya Qing Yue'er.


“Tidak begitu penting.” Duan Mu terkekeh. “Aku hanya ingin tahu.”


“Di alam bawah,” jawab Qing Yue'er tanpa menyebutkan detailnya. “Kalau begitu aku juga ingin tahu, siapa yang sudah menyegelnya?”


“Ini ....” Orang tua itu tampak ragu-ragu sebentar. “Pengadilan Surgawi, tentu saja. Memangnya siapa yang mau melakukan perbuatan baik seperti itu?”


Qing Yue'er mengangguk. Dugaannya memang benar, pasti dewa-dewa itu yang sudah mengunci Taotie. Namun kenapa harus di alam bawah? Seharusnya mereka tahu, di alam bawah tidak ada manusia yang benar-benar kuat. Seandainya saat itu bukan dia yang menghadapi Taotie mungkin benua Tongxuan sudah hilang ditelan Taotie.


Ah, tapi ini mungkin bukan urusannya juga. Akhirnya Qing Yue'er bangkit lalu berjalan menuju tepian jurang. Dia mengintip ke bawah dan melihat sungai yang mengalirkan air cukup deras. Sungai itu berada jauh di bawah sana, tapi Qing Yue'er bisa melihat kejernihannya.

__ADS_1


“Apa kau tahu apa yang ada di bawah sana?” tanya Duan Mu.


“Bukankah itu sungai?” Qing Yue'er bertanya dengan heran. Sudah jelas-jelas itu memang sungai.


Duan Mu terkekeh. “Polos sekali pikiranmu. Tentu saja ada hal lain di sana.”


“Ah? Apa itu?” Qing Yue'er menatap Duan Mu dengan penasaran.


“Sebuah dunia yang masih tersembunyi,” jawab Duan Mu.


“Maksudmu dunia lain?” tanya Qing Yue'er dengan heran. Dia kembali meneliti perairan itu, tapi dia tidak menemukan keganjilan apa pun. Apakah orang tua ini sedang berbicara omong kosong?


“Tentu saja matamu belum bisa melihatnya. Tunggu sampai kamu mampu melihatnya maka kamu bisa berkunjung ke sana.” Duan Mu berbicara dengan tenang.


Qing Yue'er tidak begitu yakin, tapi dia akan membuktikannya nanti. Apakah benar-benar ada dunia di bawah sana atau hanya bualan Duan Mu saja. Setelah itu dia melihat ke langit dan ternyata matahari sebentar lagi akan tenggelam. Sepertinya dia harus segera pergi.


“Baiklah, tetap berhati-hati meskipun kamu sudah berhasil mengalahkan klan Liu.” Duan Mu memberikan pesan yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Qing Yue'er.


Gadis itu tampak memberi salam pada Duan Mu. Setelah itu dia langsung melesat ke langit untuk melihat lingkungan di sekitar kediaman tersebut. Dia melesat hingga beberapa jauhnya ke atas, ternyata kediaman yang baru disinggahinya itu terlihat begitu transparan. Sepertinya itu tempat yang disembunyikan oleh sebuah formasi.


Qing Yue'er melihat ke kejauhan. Dia bisa melihat menara tinggi dari masing-masing istana di Celestial. Tempat ini berada jauh dari mereka semua. Jadi, cukup terpisah dari keramaian.


Kali ini Qing Yue'er tidak akan pulang ke istana Tianjun. Tentu saja, dia masih belum mau bertemu dengan ibunya. Dia tidak kekanakan bukan? Dia pikir seseorang pasti akan berpikir hal yang sama sepertinya. Jadi, dia hanya berlalu pergi ke dalam dimensinya.


***


Di permukaan laut, sebuah tangan muncul sedikit demi sedikit sebelum akhirnya kepala pemiliknya menyembul keluar. Tawa keras langsung bergema, memecah keheningan di lautan luas dan kosong. Cuaca yang sebelumnya sangat buruk kini sudah berubah menjadi lebih cerah.

__ADS_1


Sosok merah keluar dari permukaan air. Jubahnya sudah basah dan terdapat noda darah yang warnanya senada dengan warna jubahnya. Dia berdiri sedikit tertatih tapi tawanya masih keluar dari bibirnya.


“Tidakkah kamu lelah hanya untuk mengurusku?”


Mo Jingtian mendecih. Kemudian dia mengibaskan lengannya. Seketika penampilannya langsung berubah kembali menjadi normal. Tidak ada jejak-jejak luka sama sekali.


Tiba-tiba sebuah titik cahaya melesat dari kejauhan. Titik itu berhenti tak jauh dari Mo Jingtian lalu berubah menjadi sosok yang sudah tidak asing. Dia tak lain adalah Di Moxie.


“Sudah cukup, Jingtian. Kamu harus berhenti,” ucap Di Moxie yang langsung dibalas dengan tawa oleh Mo Jingtian.


“Sudah sejauh ini aku melangkah, bukankah itu hanya akan sia-sia jika aku harus berhenti sekarang? Di Moxie, terima kasih untuk nasihatnya, tapi kau tahu aku selalu keras kepala.”


Di Moxie menatap Mo Jingtian dengan tenang. Dia hanya berbicara untuk kebaikan, tapi pria itu tidak mendengarnya. Memang, tidak bisa dipungkiri ini adalah kejadian yang cukup menakjubkan. Bahkan, setelah berkali-kali mendapatkan hukuman, Mo Jingtian masih baik-baik saja.


“Sepertinya aku tidak bisa menolongmu lebih jauh, kamu memiliki pilihanmu sendiri,” ucap Di Moxie.


“Memang tidak bisa dan tidak ada yang bisa, mungkin,” gumam Mo Jingtian. Kemudian dia menatap Di Moxie sambil berkata, “Aku tidak menyangka kamu akan datang ke sini.”


Di Moxie tidak mengatakan apa-apa. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia datang ke sini. Mungkin dia hanya akan melihat hukuman yang dihadapi Mo Jingtian. Namun, kedatangannya ternyata sudah terlambat. Pria itu sudah selesai.


“Aku akan pergi sekarang,” ucap Mo Jingtian sebelum akhirnya menghilang begitu saja, meninggalkan Di Moxie dengan bunyi deburan ombak di sekitarnya.


***


Semoga besok bisa update teratur lagi.


Jangan lupa like, vote dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2