Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Situasi


__ADS_3

Qing Yue'er menyipitkan matanya menatap ribuan pasukan boneka wayang yang mulai memasuki wilayah istana Shenghuo. Dia benar-benar tidak menduga ternyata klan Liu memiliki pasukan sebanyak itu. Apakah ini adalah penyesalan yang dibicarakan oleh Liu Shaoqing karena sudah datang menyerang klan Liu?


Omong kosong. Dia tidak akan menyesal. Justru ini akan menjadi permainan lagi baginya. Meskipun ribuan pasukan boneka itu terlihat sangat menakutkan tetapi Qing Yue'er tidak merasa gentar. Darahnya justru berdesir mengalir semakin deras.


“Yue'et, bersiaplah sekarang. Ini akan menjadi pertarungan yang sesungguhnya,” ucap Xie Ying Fei sambil melihat pasukan boneka yang mendekat. Kemudian dia juga memanggil harimau putihnya untuk mulai bersiap.


Qing Yue'er mengangguk mengerti. Dia memanggil Ying Jun untuk ikut berpindah posisi dan masuk ke dalam pertempuran selanjutnya. Setelah itu dia juga memanggil naga emasnya keluar dari dimensi.


“Jinlong, keluar sekarang. Ini sudah waktunya bagimu untuk menggunakan kekuatan,” ucap Qing Yue'er di dalam benaknya.


“Aku! Bagaimana denganku?!” Tiba-tiba suara Taotie juga ikut terdengar di benaknya. Namun, Qing Yue'er masih belum berniat untuk mengeluarkan Taotie sekarang. Baginya, Taotie adalah senjata yang bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Jadi, dia akan mengeluarkan Taotie jika memang benar-benar diperlukan.


“Tunggu saat yang tepat. Diam di sana dan tonton saja pertempuran ini,” ucap Qing Yue'er.


Taotie terdengar seperti mendengus. “Lihat saja, kamu pasti akan membutuhkanku nanti.”


Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa lagi. Saat itu juga dia melihat cahaya emas yang melesat dari dahinya. Kemudian cahaya emas itu berubah menjadi sosok besar yang juga sangat panjang.


Kemunculan naga emas yang begitu tiba-tiba langsung membuat orang-orang semakin terkejut. Saat ini pasukan awal klan Liu memang sudah habis jadi yang tersisa di sana hanyalah pasukan klan Xie. Pasukan klan Xie menatap naga emas itu dengan heran.


“Apakah aku salah melihat? Naga itu keluar dari kening Nona Qing?”


“Kamu tida salah melihat. Aku juga melihat hal yang sama.”


“Kalau begitu apakah gadis itu berarti memiliki dua binatang ilahi? Bukankah dia terlalu serakah?”


“Bukan serakah, bodoh! Itu namanya jenius muda yang tangguh!”


Mereka semua meluangkan waktu untuk membicarakan hal ini sejenak. Tentu saja itu adalah bahan yang bagus untuk menjadi pengurang ketegangan pada perasaan mereka.


Xie Ying Fei juga tidak kalah terkejut dengan kemunculan naga emas itu. Dia tidak menyangka ternyata putri satu-satunya ini memiliki dua binatang ilahi sekaligus. Apalagi yang ini adalah seekor naga. Dia bisa merasakan usia naga itu yang sepertinya masih muda. Jika tumbuh sedikit lebih dewasa pasti itu akan lebih menakjubkan lagi.


Liu Wen mendengus. Meskipun begitu dia masih sempat untuk tertawa. “Ini, ah, sayang sekali. Aku tidak yakin naga itu bisa membunuh pasukan-pasukanku.”


Xie Song mencibir tidak senang. Bagaimanapun juga yang dibicarakan oleh Liu Wen adalah seekor naga yang merupakan binatang ilahi. Ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Kekuatan binatang ilahi tentunya lebih unggul dari binatang kontrak biasa.


“Kamu akan melihatnya sendiri, Liu Wen!”


Sekarang tiga binatang ilahi yang sangat besar tampak berdiri berjajar di barisan depan. Ada phoenix berwarna biru mencolok dengan aura kesombongannya yang mendominasi. Kemudian naga emas yang besar dan panjang, menciptakan ilusi keagungan dewa. Yang terakhir adalah harimau putih yang terlihat kuat tetapi memberikan perasaan menyendiri.


Ketiga binatang itu bekerja sama untuk menghadang pasukan boneka klan Liu. Ketika pasukan boneka itu datang menyerbu, para binatang ilahi langsung bergerak untuk melakukan serangan dari tempat yang berbeda. Ying Jun dan Jinlong menyerang dari udara, sedangkan harimau putih milik Xie Ying Fei bersama dengan pasukan klan Xie menyerang di bagian bawah.


Qing Yue'er sendiri tidak hanya diam mengamati. Dia mencengkeram trisulanya dan bergerak seperti angin hanya untuk melemparkan diri ke tengah-tengah pasukan boneka. Di sana dia bergerak dengan acak untuk menjatuhkan boneka-boneka dengan kekuatannya sendiri.


Xie Song melihat pergerakan Qing Yue'er dari tempatnya berada. Gadis itu terlihat seperti gasing yang berputar-putar ke segala arah. Setiap jalur yang dilaluinya pasti akan meruntuhkan beberapa boneka dalam sekali jalan. Itu memang gerakan yang besar.


Melihat bagaimana peluang akhir pertempuran, sepertinya bukan hal yang mustahil bagi klannya untuk bisa menghancurkan pasukan boneka itu. Mungkin akan membutuhkan waktu, tapi selama dia bisa melenyapkan Liu Wen di sini maka boneka-boneka itu tidak akan memiliki kesempatan untuk bangkit lagi.


Akhirnya Xie Song menatap Liu Wen dengan perasaan yang sedikit sumringah. Dia kembali mengangkat kapaknya dan mengulangi gerakan yang sama. Dia akan mencoba untuk menyerang Liu Wen menggunakan teknik yang sama seperti sebelumnya.


Langit yang sebelumnya sudah menjadi terang kini berubah kembali menjadi gelap. Pusaran awan hitam kembali terbentuk dan akar petir besar mulai muncul lagi di langit.

__ADS_1


Liu Wen yang melihat ini langsung menyipitkan matanya. Sepertinya Xie Song akan menyerangnya lagi. Ini tidak bisa dibiarkan. Dengan gerakan cepat dia pun membentuk segel tangan sambil menggumamkan mantra. Matanya menatap Xie Song dengan sengit seolah ada percikan api yang bisa keluar.


Mengesampingkan pertempuran para pasukan, mereka berdua bertarung lagi untuk menentukan sebuah akhir. Akar petir yang sangat besar kembali turun dari langit menuju Liu Wen. Aura yang datang terasa sangat menakutkan.


Saat itu tiba-tiba sebuah lubang hitam raksasa terbentuk di atas Liu Wen. Lubang hitam yang dibentuk oleh Liu Wen itu terlihat seperti mulut raksasa yang siap menghadang kedatangan kilat petir. Ketika petir besar itu turun dengan kecepatan gila tentu saja itu hanya berakhir masuk ke dalam lubang yang entah berakhir di mana.


Liu Wen tertawa terbahak-bahak mengejek Xie Song. “Xie Song, petirmu itu benar-benar omong kosong. Serangan pamungkas apanya? Begini saja petirmu sudah lenyap!” serunya dengan nada yang menjengkelkan. Meskipun dia sendiri harus mengeluarkan banyak kekuatan untuk menciptakan lubang hitam, tapi hasilnya benar-benar membuatnya merasa puas.


“Aku tidak percaya kamu begitu sulit untuk dibunuh. Jangan terlalu percaya diri dulu, Liu Wen. Kita lihat sampai mana kamu bisa menghindari petirku!”


Xie Song tidak merasa putus asa. Sebaliknya dia kembali mengerahkan kekuatannya untuk menyerang Liu Wen. Kilatan petir yang besar kembali muncul di langit dan dengan cepat turun ke bawah untuk menyerang Liu Wen.


Namun, hal yang sama kembali terulang. Liu Wen menciptakan lubang raksasa lagi yang membuat petir itu terbuang sia-sia. Kali ini situasi Liu Wen benar-benar berada di atas Xie Song. Dia tersenyum lebar. “Apa kamu masih belum lelah sekarang?”


Xie Song mulai merasa sedikit frustrasi. Dia pikir dia akan bisa mengalahkan Liu Wen. Namun, sepertinya dia tidak memiliki kesempatan. Dia merasa tubuhnya sedikit melemah. Menggunakan teknik bela diri itu benar-benar menguras banyak energinya. Apalagi dia melakukannya hingga beberapa kali.


Mengetahui keadaan lemah Xie Song, Liu Wen tidak hanya menikmatinya dengan senang. Dia harus mengambil kesempatan ini untuk menunjukkan kekuatan pamungkasnya. Selagi Xie Song dalam keadaan lemah, dia harus menggunakannya untuk melepaskan serangan maut.


Liu Wen kembali menggumamkan mantra. Kali ini apa yang terbentuk adalah sesuatu yang berbeda. Ribuan anak panah muncul di belakangnya bersiap untuk diluncurkan. Bibir Liu Wen terangkat menjadi seringaian lalu dengan satu lambaian tangan ribuan panah itu langsung melesat ke arah Xie Song.


Whosh whosh whosh!


Xie Ying Fei menyadari bahaya yang mengancam ayahnya. Dia langsung bergerak mendekati area berbahaya. Tentu saja dia tahu Xie Song mungkin akan kesulitan menghadapi ini apalagi dengan kondisinya yang lemah.


Dinding transparan muncul melindungi sosok Xie Song. Ribuan panah yang menakutkan itu seketika menghantam dinding dengan keras. Karena jumlahnya yang terlalu banyak, dinding itu tidak bisa menahannya terlalu lama.


Xie Ying Fei sendiri segera meluncurkan serangan qi spiritual pada Liu Wen. Cahaya putih terang bergerak melesat ke depan.


“Hahaha, menyerahlah kalian! Hasilnya sudah sangat jelas. Meskipun pasukanku akhirnya mati tapi selama aku masih berdiri di sini maka klan Liu dan istana Shenghuo-ku masih akan baik-baik saja.” Liu Wen berkata dengan kesombongan.


“Tapi selama aku ada di sini kata-katamu hanya akan berakhir menjadi kentut!”


Qing Yue'er berkata dengan keras. Dia sudah meninggalkan medan pertempuran boneka. Sebelumnya dia sudah menyadari ketegangan di sisi kakeknya jadi dia memilih untuk memeriksanya. Ternyata kondisinya memang kurang baik. Liu Wen itu memiliki banyak teknik yang mungkin sulit untuk ditangani oleh kakeknya.


Xie Ying Fei menggelengkan kepalanya pada Qing Yue'er. Dia tidak ingin gadis itu ikut campur pada urusan Liu Wen. Pria itu tidak akan mungkin bisa diseimbangi. Selisih kekuatan mereka terlalu jauh. Namun, siapa Qing Yue'er? Gadis nakal seperti dia tidak akan mungkin mudah menurut pada perintah orang lain, sekalipun itu ibunya sendiri.


“Hanya anak kemarin sore tapi ucapannya begitu arogan!” cemooh Liu Wen. Dia menatap Qing Yue'er sejenak lalu mengerutkan keningnya tidak senang. “Apakah itu kamu yang kemarin sudah membunuh pasukan klan Liu di ruang bawah tanah?!”


Qing Yue'er mengangguk mengakuinya dengan senang hati. “Benar, apakah ada masalah dengan itu?”


Jawaban gamblang itu membuat Liu Wen merasa marah. Bagaimana bisa gadis itu begitu mudahnya bertanya apakah itu bermasalah baginya. Tentu saja itu masalah! Namun, dia tidak perlu begitu marah. Sekarang karena semua musuhnya berkumpul di sana maka dia akan lebih mudah untuk menumbangkan semuanya.


“Yue'er, jangan katakan apa-apa lagi. Cepat pergi dari sini! Biarkan kakekmu ini yang akan menghadapi Liu Tua ini!” Xie Song tiba-tiba berseru dan memerintahkan Qing Yue'er pergi dari tempat ini. Setidaknya jika gadis itu pergi maka dia akan merasa lebih lega.


“Siapa yang akan pergi? Xie Song, Xie Song. Jangan bodoh, tidak akan ada seorang pun yang bisa pergi dari istana Shenghuo,” ucap Liu Wen dengan kejam.


Qing Yue'er tiba-tiba terkekeh di tengah suasana yang tegang. Dia menatap kakeknya dengan serius. “Aku tidak berniat untuk pergi dari sini, Kakek.”


“Yue'er ....” Xie Ying Fei sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya segera dia urungkan.


“Taotie, apa kau ingin bersenang-senang sekarang?” tanya Qing Yue'er pada Taotie.

__ADS_1


“Tentu saja! Aku melihat banyak sekali makanan di luar!” jawab Taotie dengan antusiasme yang tinggi. Sejak tadi dia sudah menahan diri untuk tidak keluar dari dimensi. Bagaimanapun juga dia harus mengikuti ucapan Qing Yue'er untuk menjaga keselamatannya.


Qing Yue'er tersenyum. “Kalau begitu keluarlah sekarang. Lahap semuanya.”


Liu Wen tidak tahu bahaya yang akan segera mendekat. Dia malah menganggukkan kepalanya dengan puas karena Qing Yue'er lebih memilih tetap di sana bukannya pergi seperti yang diminta oleh Xie Song. Ini berarti dia bisa mengambil langkah untuk menghancurkan mereka semua dalam sekali jalan.


Namun, pikirannya itu segera tersita ketika melihat langit yang tiba-tiba berfluktuasi. Awalnya dia hanya mengerutkan keningnya, tapi setelah makhluk sebesar gunung muncul di langit, matanya tidak bisa tidak terbelalak. Mulutnya langsung ternganga lebar.


“Taotie ....”


Bukan hanya Liu Wen yang tercengang. Xie Song dan Xie Ying Fei pun hampir tidak percaya dengan apa yang muncul di langit. Mereka tentu saja terkejut. Bagaimana mungkin Taotie muncul di sana? Apakah mereka mungkin salah melihat?


“Hahaha.” Mulut Taotie yang sangat lebar mengeluarkan tawa yang menggemparkan. “Bagaimana kabar kalian? Ah, sudah lama aku menahan rasa lapar.”


“....”


Bibir Qing Yue'er sedikit berkedut. Sepertinya baru beberapa hari yang lalu Taotie menelan Pulau Langit milik klan Liu. Itu sama sekali bukan waktu yang lama. Apakah itu benar-benar tidak membuat kenyang sama sekali? Pantaa saja di masa lalu makhluk itu banyak meresahkan alam Celestial.


“Kamu! Jadi, itu benar-benar kamu yang sudah menelan Pulau Langitku?!” Liu Wen memelotot pada Taotie. Awalnya dia tidak percaya jika itu memang perbuatan Taotie. Namun, sekarang makhluk itu benar-benar muncul di depannya. Bagaimana mungkin dia tidak percaya pada kenyataan yang terpampang jelas seperti ini?


“Benar, itu benar. Terima kasih, itu benar-benar membuatku senang. Namun, itu masih belum bisa menyelesaikan rasa laparku.”


Liu Wen hampir memuntahkan darah mendengar ucapan Taotie. Bagaimana bisa makhluk itu dengan mudahnya mengatakan terima kasih? Ini adalah Pulau Langit! Tempat yang begitu berharga baginya. Bukannya makanan yang dengan sukarela dia berikan pada orang lain!


“Aku akan berterima kasih lagi karena kamu sudah menyediakan makanan lain untukku! Terima kasih, aku akan memakannya sekarang!”


Dengan cepat sosok besar Taotie langsung meluncur turun menuju lautan pasukan boneka klan Liu. Memang ada banyak yang sudah mati karena pekerjaan para binatang ilahi, tapi itu baik-baik saja sekalipun dia hanya memakan mayat para boneka wayang.


“Tidaaakk!” Liu Wen menjerit ketika melihat pasukan bonekanya yang beterbangan masuk ke mulut besar Taotie. Itu adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, bagaimana Taotie dengan mudahnya memakan itu semua? Ini membuatnya hampir menjadi gila!


Xie Song dan Xie Ying Fei yang melihat ini benar-benar merasa takjub sekaligus bahagia. Bagaimana Taotie ini bisa datang tepat waktu? Oh, ini sungguh sebuah keberuntungan. Mungkinkah dewa benar-benar membantu mereka?


Jika pihak klan Xie merasa sukacita yang sangat dalam, maka Liu Wen merasakan hal yang sebaliknya. Dia menatap Qing Yue'er dengan curiga. “Gadis, apakah ini semua adalah perbuatanmu?!”


Qing Yue'er mengangkat kedua bahunya. “Bukan urusanmu.”


Liu Wen menyipitkan matanya. Diam-diam tangannya bergerak untuk mengambil kertas kecil dari balik lengan bajunya. Dia hendak membakar kertas itu, tapi Qing Yue'er berhasil melihatnya.


Trisula di tangannya langsung melesat dengan kecepatan kilat ke arah Liu Wen. Orang itu tidak dalam keadaan siap, tubuhnya berhasil menghindar tetapi tangannya tergores oleh ujung trisulanya yang tajam.


Kertas di tangan Liu Wen langsung jatuh sebelum bisa terbakar. Qing Yue'er akhinya bisa menghela napas. Jika dia terlambat sedikit pasti Liu Wen ini sudah mengundang dewa atau siapa pun itu untuk membantunya.


Qing Yue'er menyipitkan matanya. “Taotie, segera lenyapkan orang ini!”


“Aku datang!” teriak Taotie dengan keras. Kemudian sosok besarnya langsung bergerak ke arah Liu Wen.


“Kakek, ibu, mundur sekarang,” pinta Qing Yue'er pada Xie Song dan Xie Ying Fei yang langsung disetujui.


“Jangan mendekat ke sini atau aku akan menelanmu ke dalam lubang hitam raksasaku!” ancam Liu Wen pada Taotie. Dia merasakan perasaan bahaya yang tiba-tiba merasuk ke hatinya. Situasi benar-benar sudah terbalik. Ini sama sekali tidak benar. Namun, dia masih belum begitu putus asa. Lubang hitamnya pasti bisa menelan Taotie, 'kan?


***

__ADS_1


Hari ini kalau lancar mungkin saya akan update dua atau tiga bab lagi. Silakan ditunggu.


__ADS_2