Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Di Shi


__ADS_3

Di tempat yang jauh, Mo Jingtian memejamkan matanya di sebuah peviliun putih. Kepalanya disangga dengan tangan kanannya. Dia terlihat seperti sedang tidur.


Di Fengxi di belakangnya menghela napas panjang. “Apakah Di Shi ini sedang mempermainkan kita? Kenapa dia masih belum keluar?”


“Kenapa kau begitu cemas?” Mo Jingtian menjawab dengan santai.


“Guru, sudah beberapa hari kita menunggu. Selain itu, besok malam perjamuan di Istana Guang akan dilaksanakan. Kita tidak boleh terlambat datang ke sana, kan?”


“Hmm …. Kita tidak akan terlambat. Tunggu saja. Beri waktu untuk Di Shi menyelesaikan masalahnya.”


Di Fengxi menjadi gusar. Orang kepercayaan peviliun mengatakan kalau Di Shi meminta mereka menunggu selama beberapa saat. Siapa yang tahu beberapa saat yang dimaksud adalah berhari-hari?


“Masalah apa yang sedang dialami Di Shi sehingga dia menunda begitu lama? Apa Guru mengetahuinya?”


Mo Jingtian tidak membalas. Kedua mata emasnya tiba-tiba terbuka. “Dia datang.”


Suara langkah kaki terdengar dari kedalaman paviliun. Seorang pria berjubah perak berjalan keluar. Wajahnya tegas dengan alisnya yang seperti pedang. Ada bekas luka di pipinya yang membuatnya terlihat lebih garang.


Pria itu menatap Mo Jingtian dan Di Fengxi secara bergantian. Akhirnya dia membungkuk pada Mo Jingtian yang duduk di kursi tamu. “Maaf sudah membuat Di Futian menunggu lama.”


Mo Jingtian melambaikan tangannya. “Aku tidak menyangka seorang Di Shi bisa terluka seperti ini.”


Terakhir kali Di Shi keluar adalah pada pertempuran pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa istana di Celestial. Itu seratus ribu tahun yang lalu ketika jumlah istana bukan hanya lima, melainkan sembilan.


Pertempuran itu cukup besar. Empat istana maju bersama-sama, menuntut dewa untuk menunjukkan lebih banyak kasih sayang pada mereka. Itu adalah pertempuran terbodoh yang bahkan Mo Jingtian tidak sudi turun tangan.


Pada akhirnya Di Shi dan beberapa dewa perang yang lain menjadi marah. Mereka meratakan empat istana tanpa ampun. Namun, siapa yang tahu ternyata pria itu mengalami luka serius..


Di Shi menghela napas. “Di Futian, apa kau tahu? Beberapa tahun terakhir ini aku baru mengerti kenapa pertempuran seperti itu bisa meledak.”


Sebelah alis Mo Jingtian terangkat. “Apa seseorang sudah memprovokasi manusia-manusia bodoh itu?”


“Benar.”


Di Fengxi yang mendengar itu menjadi penasaran. Dia sudah pernah mendengar cerita tentang pertempuran itu. Namun, tidak banyak yang bisa dia dengar karena para dewa merasa itu adalah pertempuran konyol yang tidak patut dibesar-besarkan.


Berbeda dengan dia, Mo Jingtian justru terkekeh. “Ke mana saja kau selama ini? Di Shi, aku tidak tahu dewa perang sepertimu benar-benar tidak berguna.”


Kedua mata Di Fengxi sedikit melebar mendengar kata-kata itu. Guru, bukankah kau tidak memiliki kultivasi apa pun sekarang? Bahkan jika Di Shi terluka, dia masih bisa membunuhmu dengan satu pukulan. Kenapa kau sama sekali tidak menahan kata-katamu?


Di Shi terbatuk. Wajahnya sedikit merah. “Di Futian, kau masih sama kejamnya seperti dulu.”


Mo Jingtian tersenyum mengejek. “Itulah kebenarannya. Kau bahkan tidak tahu kekacauan apa yang sudah terjadi di luar sana.”


“Kekacauan? Apa yang terjadi?” Di Shi duduk di kursi lain. “Fengxi, duduklah. Kau tidak perlu sungkan di sini.”

__ADS_1


Di Fengxi yang sejak tadi hanya berdiri akhirnya mengangguk patuh. Dia ikut duduk bergabung dengan kedua dewa yang jauh lebih senior.


“Nah, sekarang katakan padaku apa yang sudah terjadi dan … kenapa aku tidak bisa merasakan energi spiritual di tubuhmu?” Di Shi bertanya dengan serius.


Mo Jingtian tersenyum. Dia mengusap lehernya dengan lembut lalu belenggu hitam yang tersembunyi langsung muncul. Di Shi yang melihat itu menjadi terkejut.


“Bagaimana mungkin?!”


Di Shi sungguh tidak menyangka suatu hari akan melihat belenggu iblis menempel di leher Mo Jingtian. Dewa Kehancuran baginya selalu menjadi dewa yang tidak tersentuh. Lalu siapa yang bisa menyentuhnya dengan hal menakutkan seperti itu?


Belenggu iblis bukan hal yang bisa dilepaskan. Selama ini itu adalah senjata paling menakutkan baik untuk kaum iblis maupun dewa.


“Pengadilan Surgawi sudah tidak seperti dulu lagi, Di Shi. Keagungannya sudah lama hilang,” kata Mo Jingtian dengan lirih.


“Tapi kenapa? Apakah Tuan Pengadilan Surgawi sudah ….”


“Mati?” Mo Jingtian tertawa. “Tidak. Dia masih hidup.”


“Dialah yang sudah melakukannya,” Di Fengxi dengan cepat memberi tahu. Namun, Mo Jingtian justru menatapnya dengan tajam.


“Di Fengxi, apa kau tahu? Semua dewa memiliki dua wajah yang berbeda atau bahkan lebih. Kau harus berhati-hati ketika mengatakan sesuatu,” tegur Mo Jingtian dengan datar.


“Maaf. Fengxi ceroboh.”


“Apa maksud kalian? Aku bukan orang yang akan bersikap palsu. Aku hanya … ini sedikit sulit dipercaya,” ucap Di Shi dengan bingung. Bagaimana Tuan Pengadilan Surgawi bisa menggunakan segel dari suku iblis?


Di Shi menggeleng pelan. Mo Jingtian mengalami hal besar seperti itu. Seharusnya seluruh pengadilan surgawi tahu. Namun, dia bahkan tidak pernah mendengarnya. Pasti seseorang dengan sengaja telah memblokir berita agar dia tidak mengetahui apa pun.


Jika begitu, kemungkinan besar hal yang sama juga dialami dewa perang yang lain. Mereka diisolasi dari berita tentang pengadilan surgawi. Untuk tujuan apa hal seperti ini dilakukan?


“Pengadilan Surgawi berubah, keadilan dewa perlu dipertanyakan. Di Shi, kau bagaimanapun adalah seorang dewa perang. Aku harap kau tidak mengecewakan dunia.”


“Aku tahu.” Di Shi menunduk. “Apakah kau datang khusus untuk memberi tahu hal-hal ini?”


Mo Jingtian menggeleng. Kemudian dia mengulurkan tangannya di atas meja. Ujung jarinya bergerak menggambar sesuatu di udara kosong. Itu tanpa jejak apa pun. Di Shi mencoba memerhatikannya dengan kening berkerut.


Beberapa saat kemudian Mo Jingtian bertanya, “Apa kau ingat tentang ini?”


Di Shi langsung mengangguk. “Di masa lalu pada periode pertempuran pemberontakan empat istana, Istana Guang bersama klan Hua-ku hampir terseret karena membuat kesalahan. Jadi, aku menghukum mereka dengan merampas itu dan membuangnya di tempat yang jauh.”


“Apa itu benar-benar benda milikmu?”


“Bukan.” Di Shi teringat dengan masa lalu yang sangat jauh. “Di Futian, itu adalah benda yang sangat kuno. Benda ini muncul pada periode yang jauh sebelum tatanan tiga alam menjadi seperti ini. Aku mendapatkannya karena ketidaksengajaan.”


Mo Jingtian yang mendengar itu menjadi semakin tertarik. “Aku pernah mendengar bahwa dunia ini pernah hancur sebelum akhirnya terbentuk kembali dengan tatanan yang berbeda.”

__ADS_1


“Kau benar. Dan benda itu adalah peninggalan Dewa Kuno bernama Bing Yu di periode itu. Apa kau bisa menebak asal usulnya? Ini adalah kisah yang sangat menarik.”


“Tunggu dulu.” Di Fengxi menatap mereka dengan bingung. “Benda apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti.”


Di Shi terkekeh kecil. Dia mengabaikan pertanyaan Di Fengxi dan terus melanjutkan ceritanya.


“Di masa itu, Bing Yu adalah dewa tertinggi yang terhormat. Dia memiliki kekasih yang kekejamannya menyerupai iblis. Meskipun penuh pertentangan, mereka adalah pasangan yang saling mencintai.


“Berkat cinta itu, kekasihnya akhirnya bertaubat dan naik menjadi seorang dewi. Kemudian dewi ini melakukan penebusan dosa di Aula Tiantang. Namun, hukumannya terlalu berat dan dia hampir sekarat.


“Dewa Bing Yu tidak ingin melihat kekasihnya mati. Dia mengorbankan umurnya untuk menahan hukuman surga. Ini membuat sang dewi menangis. Air mata yang dipenuhi rasa sakit, cinta dan penyesalan itulah yang akhirnya melahirkan benda ini.”


“Itu … kisah yang menyentuh,” kata Di Fengxi. “Jadi, di era itu dewa juga bisa merasakan cinta.”


Di Shi mengangguk. “Dewa di masa itu tidak sama seperti kita. Mereka murni dari ras dewa, ini ras yang sama sekali berbeda dengan manusia.”


“Aku mengerti.” Di Fengxi mengangguk-angguk paham. Dia masih harus mempelajari pengetahuan dari mereka.


“Rasa sakit, cinta, dan penyesalan. Itu memang kisah cinta yang menyentuh. Lalu … apa kau tahu apa sebenarnya kegunaan benda itu?” tanya Mo Jingtian.


Di Shi menggeleng pelan. “Aku tidak sepenuhnya tahu. Bukankah aku pernah memberi tahu beberapa manfaatnya padamu di masa lalu?”


“Itu masih terlalu samar. Aku ingin jawaban pasti.”


Salah satu alis Di Shi terangkat. “Mungkinkah kau menyimpan benda itu?”


“Bukan aku.” Mo Jingtian menghela napas. “Kupikir dengan datang langsung padamu bisa membuatku mengambil keputusan tanpa rasa takut. Ternyata aku salah.”


“Keputusan apa?” Di Shi tidak mengerti.


Mo Jingtian menutup matanya. “Lupakan saja.” Dia berdiri dari tempat duduknya. Udara malam tiba-tiba terasa dingin baginya. “Fengxi, ayo kembali.”


“Tunggu dulu.” Di Shi masih merasa ingin tahu lebih banyak mengenai masalah Mo Jingtian maupun Pengadilan Surgawi yang berubah. Namun, Mo Jingtian menggeleng.


“Mengenai masalahku, kau tidak perlu tahu. Sementara Pengadilan Surgawi, kau bisa menyelidikinya. Hanya jika kau ingin mengatakan sesuatu padaku, datanglah ke Istana Tianjun. Ingatlah untuk tidak mencolok.”


Setelah mengatakan itu, sosok Mo Jingtian dan Di Fengxi langsung menghilang. Di Shi mengerutkan kening dengan perasaan rumit.


“Seberapa banyak kekacauan yang sudah terjadi hingga sejauh ini? Sepertinya aku harus mencari tahu.”


***


Sementara itu, Qing Yue’er duduk di dalam kamarnya dalam posisi lotus. Dia menatap mutiara di tangannya dengan serius lalu menarik napas panjang.


Ying Jun sudah memberitahunya bahwa menerobos ke ranah roh perak tidak akan mudah. Dia harus melewati kesengsaraan surgawi. Jika tidak berhasil, nyawanya akan terancam bahaya.

__ADS_1


Seluruh area kamar sudah dikunci dan dilindungi dengan array formasi pelindung. Jika kesengsaraan surgawi benar-benar datang, itu mungkin bisa melindunginya dan mencegahnya merusak bagian istana Tianjun yang lain.


Dia memejamkan matanya dalam-dalam. Tanpa ragu lagi dia segera menelan mutiara merfolk itu secara utuh.


__ADS_2