Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Afrodisiak


__ADS_3

Waspada 18+


Mendengar kalimat itu Bai Yin Xue menjadi waspada. Dia melihat sekeliling dan tatapannya jatuh pada pembakaran dupa di sudut ruangan. Dia benar-benar ceroboh dan mulai mengutuk, "Sial!"


Asap dupa itu mengandung afrodisiak atau obat perangsang. Dia sebelumnya tidak berfikir kalau Putra Mahkota akan melakukan hal menjijikkan semacam itu padanya. Jadi dia tidak mengantisipasi hal ini.


Bai Yin Xue mundur, tubuhnya terasa panas bergejolak. Dia mengeluarkan belati dari pinggangnya dan menerkam kearah Ling Xiao. Tapi energinya benar-benar berkurang, kekuatan spiritualnya melemah. Serangannya segera dihindari oleh Ling Xiao. Kultivasi Ling Xiao sudah menembus alam bumi jadi akan sulit untuk mengalahkannya. Apalagi sekarang dia terkena afrodisiak yang menekan kultivasinya.


Bai Yin Xue merasa frustasi. Tubuhnya semakin tidak terkendali. Dia merasa panas disetiap inci tubuhnya meminta untuk disentuh. Wajahnya sudah sangat memerah.


Ling Xiao tertawa terbahak-bahak kemudian berjalan mendekati Bai Yin Xue. "Kamu tidak bisa mengakhiri perjodohan ini karena malam ini kamu akan jadi milikku ha ha."


Bai Yin Xue tidak bisa berteriak, bagaimanapun Putra Mahkota adalah penguasa disini. Dia tidak akan dibela walaupun dia menjadi korban. Tidak ada pilihan lain akhirnya Bai Yin Xue mengeluarkan mutiara batin secara diam-diam dan hendak menghancurkannya untuk memanggil pamannya, tapi itu segera disambar oleh Ling Xiao.


"Bajingan!" Bai Yin Xue berteriak marah. Tubuhnya semakin bergejolak merasakan gairah, nafasnya memburu cepat.


Ling Xiao mendekati Bai Yin Xue lalu dengan paksa memeluknya dan menciumnya dengan brutal. Bai Yin Xue menggeliat saat merasakan sentuhan dari lawan jenisnya. Obat afrodisiak itu benar-benar terlalu kuat membuatnya hampir kehilangan kendali untuk mendesah.


"Ling Xiao aahhh lepaskannhh."


Ling Xiao tidak mempedulikannya. Dia terus menelusuri leher putih itu dan menghirup bau wanginya dalam-dalam. Kemudian dia merobek pakaian Bai Yin Xue dengan kasar. Kulit seputih salju itu terpapar didepannya seperti menggodanya untuk melakukan sesuatu lebih jauh.

__ADS_1


Situasinya menjadi semakin berbahaya. Dengan rasionalitasnya yang tersisa Bai Yin Xue hanya bisa membisikkan satu nama,


"Mo Jingtian."


Bai Yin Xue tidak berharap bisikannya akan didengar, tapi orang itu benar-benar muncul. Pria itu menendang tubuh Ling Xiao menjauh dari Bai Yin Xue. Wajahnya sedingin es yang membekukan sel-sel tubuhnya. Dia meraih tubuh Bai Yin Xue yang sudah berantakan dan mengangkatnya dikedua lengannya. Matanya menatap Ling Xiao dengan niat membunuh.


Ling Xiao segera merasakan bahaya. Tubuhnya bergetar ketakutan dan hanya bisa mengeluarkan dua kata, "Siapa kamu?!"


"Jangan pernah berfikir untuk berani menyentuhnya." Pria bertopeng itu mengucapkan setiap kalimat dengan tajam. Lalu pria itu menghilang menjadi ketiadaan.


"Sialan! Siapa pria itu? Berani-beraninya membawa Xue'er!" Ling Xiao berkata dengan marah.


Mo Jingtian membawa Bai Yin Xue kembali kekamarnya. Tubuh dalam genggamannya bergetar sedari tadi. Tangan ramping itu terus menyentuh wajah halus milik pria itu. Efek afrodisiak itu memang sangat kuat.


Mo Jingtian menghela nafas. "Gadis, jangan menggodaku seperti ini."


Dia hendak berdiri ketika lengannya ditarik oleh paksa oleh Bai Yin Xue. Hal ini menyebabkan dia terjatuh dan secara tak terduga bibir mereka bertemu. Bai Yin Xue yang sudah benar-benar kehilangan rasionalitasnya mencium bibir itu dengan rakus.


Mo Jingtian "..."


'Gadis, jangan membuat hal-hal menjadi sulit bagiku. Pertahananku sungguh tidak sekuat itu.' Dia meratap didalam hatinya. Sesuci apapun pria jika dia disuguhkan dengan hal semacam ini pasti akan goyah hatinya.

__ADS_1


Mo Jingtian segera menyingkir dari gadis itu. Ini terlalu berbahaya pikirnya. Dia memberi ketukan ringan didahi Bai Yin Xue. Kemudian gadis itu menjadi sedikit tersadar.


Mo Jingtian menyodorkan pil untuk ditelan. Bai Yin Xue menerima dan segera menelannya. Setelah beberapa saat akhirnya dia benar-benar tersadar.


Bai Yin Xue menatap kosong sejenak. Dia memeriksa tubuhnya lalu dengan kecepatan kilat menutup tubuhnya dengan selimut. Dia menunjuk pada Mo Jingtian dan berkata dengan tergagap,


"Kamu ... kamu ...."


"Apa?" Mo Jingtian menatap tanpa ekspresi.


"Huuaaa kamu melihatnya!!" Bai Yin Xue meratap ingin menangis.


"Aih melihat apa? Kamu bahkan tidak berterima kasih padaku. Kamu harus tahu betapa tersiksanya aku." Mo Jingtian berkata dengam sedih.


Bai Yin Xue terlalu malu untuk melihat pria ini jadi dia sembunyi dibalik selimutnya.


Mo Jingtian terkekeh. Sungguh penampilan yang langka. Biasanya gadis ini akan begitu acuh tak acuh tapi sekarang dia bertindak begitu imut dimatanya. Dia menepuk kepala yang ada dibalik selimut itu kemudian berkata, "baiklah, beristirahat dengan baik. Aku akan pergi."


"Mo Jingtian." Bai Yin Xue memanggil pria itu dengan lembut dari balik selimut.


"Mn." Mo Jingtian mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Terima kasih." Suara Gadis itu terdengar lagi.


Mo Jingtian mengangkat sudut bibirnya menjadi senyuman. Kemudian dia menghilang kedalam kekosongan.


__ADS_2