
Qing Yue'er mengikuti Shangguan You yang melangkah di atas awan putih untuk mendekati bangunan di sana. Dia tidak melihat seorang pun yang berkeliaran di tempat itu. Namun, di sini memang sangat tenang. Ini seperti tempat tinggal para abadi.
Setelah tiba di depan bangunan, Qing Yue'er baru menyadari bahwa bangunan itu tidak memiliki pintu tertutup. Sayangnya meskipun begitu, dia masih tidak mampu melihat ke kedalaman rumah. Dia sendiri tidak berani mengedarkan kekuatan rohnya untuk menjelajah. Bukannya apa, itu adalah bentuk rasa sopannya pada orang yang lebih tua dan terhormat.
Shangguan You berlutut di depan bangunan. "Guru, muridmu ada di sini."
Senyap. Tidak ada jawaban apa pun. Qing Yue'er menatap Shangguan You dengan penasaran. Han Qiong pernah bilang jika gurunya sangat sulit ditemui. Mungkin sekarang mereka juga akan mengalami kesulitan untuk menemuinya.
"Apa dia tidak mau menemui kita?" Qing Yue'er bertanya dengan cara berbisik.
"Aku tidak yakin," ucap Shangguan You. Kemudian dia kembali mencoba berbicara pada gurunya. "Guru, Shangguan You di sini bersama dengan murid Han Qiong."
Angin berdesau menguraikan rambut hitam Qing Yue'er. Sesaat kemudian sebuah suara tua terdengar dari kedalaman bangunan. "Siapa yang mengizinkanmu membawa orang asing?"
Shangguan You hendak menjawab tapi segera dicegah oleh Qing Yue'er. Dia ingin mengatakan sendiri tujuannya. Orang lain mungkin tidak tahu, tapi dia datang ke sini dengan tujuan yang penting. Bukan karena dia sangat mengagumi kakek guru seperti alasan palsu yang dia katakan pada Shangguan You.
Akhirnya dia pun berkata, "Aku hidup dengan kesendirian. Tidak ada orang yang benar-benar kupercayai. Namun, aku tidak bisa membiarkan hal itu terbuang sia-sia. Waktuku mungkin tidak akan tersisa banyak. Jadi siapa pun yang menemukan tulisan ini cermatilah petunjuk-petunjukku."
Shangguan You menatap Qing Yue'er dengan bingung. Apa gadis ini sedang melamun? Kenapa dia mengatakan kata-kata yang tidak masuk akal? Namun, saat dia sedang berpikir dengan heran tiba-tiba dia mendengar suara gurunya lagi.
"Gadis, kamu boleh masuk."
"...."
Shangguan You tertegun. Apa dia tidak salah dengar? Dia tidak mengerti kenapa gurunya mengizinkan Qing Yue'er hanya dengan kalimat yang sepertinya sedang menceritakan nasib seseorang. Jika dia tahu hal ini maka dia sudah mengatakan kalimat seperti itu dari dulu. Dan sekarang karena dia sudah tahu bagaimana cara menemui gurunya maka dia bisa menggunakannya di masa depan bukan?
Qing Yue'er tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Shangguan You. Mungkin pria tua itu terkejut karena dia dipersilakan masuk untuk menemui gurunya. Apa pun itu dia tidak memedulikannya. Sekarang dia fokus pada dirinya yang melangkahkan kaki memasuki bangunan itu.
Dia melewati ambang pintu dan dihadapkan pada ruangan yang sangat asing. Ketika pertama kali masuk, apa yang ada di depannya adalah lorong yang mengarahkannya untuk lebih masuk ke dalam. Tanpa ragu dia pun melangkah mengikuti lorong hingga berakhir di ruangan yang tertutup.
Dia tidak dapat melihat banyak hal karena ada sebuah tirai yang menutup ruangan itu. Jadi ketika dia sampai, dia hanya bisa melihat bayangan seseorang yang yang duduk bersandar di sebuah kursi. Terlalu samar, dia tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Qing Yue'er membungkuk untuk memberi salam. Bagaimanapun juga orang itu adalah kakek guru baginya. "Xinyu menyapa Kakek Guru."
Orang yang duduk di balik tirai itu tidak bergerak. Namun, suaranya tetap terdengar di telinga Qing Yue'er. "Jadi kamu murid Han Qiong?"
__ADS_1
"Itu benar," jawab Qing Yue'er.
"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?" Orang itu bertanya secara langsung. Sepertinya dia sudah menebak maksud kedatangan Qing Yue'er.
"Tentang rune batu," kata Qing Yue'er, "rumah batu dan Jurang Iblis. Aku yakin Kakek Guru mengetahui apa maksudku."
"Aku rasa kamu menemui orang yang salah."
"Maksudnya?"
Orang itu tidak langsung menjawab. Qing Yue'er bisa melihat pria tua itu yang mengangkat kepalanya. Tiba-tiba dia merasakan bahwa kakek gurunya itu sedang menatapnya dari dalam. Cara menatap yang begitu teliti hingga terasa seperti sedang dikuliti oleh orang lain.
"Jadi kamu sudah pernah datang ke Jurang Iblis?" tanya kakek guru.
Qing Yue'er tidak bisa menggelengkan kepala. Dia hanya bisa mengangguk dan mengakuinya dengan jujur. "Ya, aku pernah datang ke tempat yang mengerikan itu."
"Lalu di sana kamu masuk ke dalam rumah batu, melihat banyak tulisan dan rune. Dan juga ...," kata kakek guru dengan suara yang sedikit digantung, "kotak batu."
Rasa kagum langsung masuk ke hati Qing Yue'er. Dia merasa terkejut karena orang tua itu benar-benar bisa mengetahui semua tanpa dia harus menceritakan rinciannya. Ini sebenarnya cukup menakutkan. Seseorang mungkin tidak bisa benar-benar menyimpan rahasia di depan orang itu. Ada rasa gugup di dalam dirinya. Dia takut orang tua itu bisa menemukan rahasia-rahasia terpendamnya.
Qing Yue'er ragu-ragu apakah harus mengatakan sejujurnya atau tidak. Seharusnya jika kakek guru sudah mengetahuinya, dia tidak perlu bertanya bukan? Apa mungkin dia tidak dapat melihatnya?
Benar apa yang ada dalam pikiran Qing Yue'er. Orang tua itu memang tidak bisa melihat melalui Qing Yue'er. Dia hanya mampu menelisik di permukaan, tidak mampu mengetahui secara rinci. Sebenarnya dia cukup terkejut. Seolah ada sesuatu yang mengahalangi penglihatannya. Rasanya ada kekuatan tertentu yang mencegah orang lain menelisik ke dalam diri Qing Yue'er. Namun dia sendiri tidak tahu apa itu.
Ini cukup menarik. Sepertinya gadis itu memang bukan gadis biasa. Dan Han Qiong telah menemukan bibit yang bagus. Kemudian dia pun menutup mata. "Kenapa kamu merasa ragu? Kamu mungkin membukanya dan menemukan suatu teka-teki, lalu kamu berlari ke sini untuk menanyakan beberapa hal."
Qing Yue'er mengangguk. "Itu kebenarannya."
"Sayangnya aku sendiri tidak pernah bisa membuka kotak itu." Ucapan ini membuat Qing Yue'er tertegun. Jadi sebenarnya orang ini tidak mampu membuka kotak batu? Bagaimana mungkin?
Jika dinilai dari segi kekuatan, Qing Yue'er sangat yakin jika orang tua itu pasti jauh lebih kuat. Mungkin mendekati alam surgawi? Ah, itu benar-benar menakutkan. Meskipun begitu, ternyata orang itu masih tidak mampu membuka kotak batu? Kenyataan ini berhasil mengejutkan Qing Yue'er.
Sepertinya kriteria untuk membuka kotak batu itu bukan pada kekuatan seseorang. Lalu apa itu? Dia sendiri membuka kotak batu menggunakan tetesan darahnya. Mungkinkah itu karena sebuah garis darah? Hanya ini yang memungkinkan jawabannya.
"Aku hanya berhasil memasuki rumah batu dan tidak mampu membuka kotak batu yang ada di sana. Itu pun sudah bertahun-tahun yang lalu," ucap kakek guru.
__ADS_1
Qing Yue'er menunduk untuk memikirkan sesuatu. "Apa Kakek Guru ingin mengetahui isinya?"
"Jadi kamu memang sudah membukanya." Kakek guru bergumam. Dia menganggukkan kepala dengan perasaan puas. Generasi muda yang tidak mengecewakan. "Aku akan mendengarnya jika kamu mau mengatakannya."
Qing Yue'er tersenyum. "Berdiri di atas lembah, dia adalah sesuatu yang paling suci. Dia putih dan indah. Sayangnya, sikapnya terlalu arogan." Dia mencoba mengamati perubahan yang terjadi pada orang tua itu. Sayangnya orang itu masih tidak banyak beraksi.
"Itu terlalu sulit." Hanya kalimat itu yang terdengar dari arah dalam. Namun, setelah beberapa saat dia berbicara lagi, "Dia putih dan indah. Seberapa banyak makhluk yang putih dan indah di dunia ini? Bahkan kamu sendiri dengan jubah ini akan putih dan indah. Seekor bangau juga putih dan indah, botol poselen pun bisa putih dan indah. Namun, tidak semua yang putih dan indah adalah sesuatu yang suci."
Qing Yue'er menggeleng tidak setuju. "Bukan itu yang membuatnya terlalu rumit."
"Kamu memiliki pemikiran yang lain?" tanya kakek guru.
"Ya. Di sana tertulis kalimat yang menyangkal kesuciannya karena sifatnya yang terlalu arogan. Apa Kakek Guru berpikir itu masih sesuatu yang suci?" Qing Yue'er tersenyum samar. "Maksudku, aku rasa tidak ada sesuatu yang suci tetapi juga arogan pada waktu yang bersamaan."
Kakek guru akhirnya mengeluarkan tawa yang keras dan khas. Kemudian tirai yang menghalangi interaksi mereka langsung tersibak. Qing Yue'er langsung melihat bagaimana rupa orang yang ada di dalam. Dia adalah seorang pria tua yang memakai pakaian putih. Rambut dan jenggotnya pun sudah memutih. Namun, wajahnya masih terlihat segar dan terdapat udara keabadian di sekelilingnya.
Qing Yue'er langsung merasa penghormatan di hatinya pada saat pertama kali melihat. Dia tidak bisa menolak untuk membungkuk sekali lagi dengan perasaan yang lebih tulus.
"Duduklah," ucap orang tua itu.
Qing Yue'er pun menurut dan duduk di kursi yang ada di seberang kakek guru. Dia merasa senang karena diperlakukan dengan hormat ketika diminta untuk duduk. Mungkin hanya orang-orang tertentu yang bisa berhadapan langsung dengan orang tua itu.
"Namamu Xinyu?" tanya kakek guru yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Qing Yue'er.
"Apa yang kamu katakan memang benar sekali. Jika sesuatu memiliki sifat arogan maka itu tidak bisa dikatakan suci. Namun, tidak semua hal seperti itu."
Qing Yue'er menatap kakek guru dengan bingung. Dia masih tidak mengerti apa maksudnya. Menyadari kebingungannya, kakek guru pun tersenyum. "Sosok yang tinggi dan berkuasa ... tidak. Lebih tepatnya sosok yang abadi dan jauh dari kehidupan duniawi adalah sesuatu yang tetap dinilai suci."
"Kenapa begitu?" tanya Qing Yue'er.
"Karena untuk menjadi kuat seseorang harus mengorbankan banyak hal. Di masa lalu mungkin akan dilihat kotor, tapi di masa depan ketika ia sudah menjadi abadi maka semua keburukannya seakan terhapus."
Qing Yue'er akhirnya mengerti. "Kalau begitu sosok yang dimaksud oleh orang bernama Hua adalah sesuatu yang hidup. Dan kemungkinan terbesar adalah sesuatu selain manusia."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Sekarang giliran kakek guru yang bertanya.
__ADS_1
"Aku tahu, itu bukan manusia." Qing Yue'er berkata dengan yakin. Dia sudah memikirkan semua hubungan-hubungannya dengan cermat. Dan sekarang dia sudah menemukan perkiraan jawabannya!