Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Semua Orang Memohon


__ADS_3

Keesokan paginya, seorang pelayan masuk ke kamar Qing Yue’er. Dia langsung menjatuhkan panci tembaga di tangannya ketika melihat nona mudanya tidur dengan memeluk Mo Jingtian yang membelakanginya.


Meskipun pria itu membelakanginya dan dia tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia tentu mengenalinya. Siapa orang di Istana Tianjun yang tidak paham pria berambut putih yang sudah lama dikenal sebagai kekasih Nona Qing?


Mulut dan kedua mata pelayan itu terbuka lebar. “Harus … harus … harus memberi tahu para tuan! Ini akan menjadi skandal!” serunya yang lalu berlari keluar dari kamar.


Tak lama setelah itu, orang-orang mulai berdatangan. Qing Yue’er dan Mo Jingtian mengerjapkan mata ketika mendengar kebisingan di sekitar. Semalam mereka benar-benar tertidur.


“Hmm, apa mereka sudah datang?” gumam Qing Yue’er sambil menggosok matanya. Dilihatnya keluarga Xie yang sudah masuk ke kamar. Mereka menatapnya dengan wajah merah, antara marah dan malu.


“Apa yang kalian lakukan?!” teriak Xie Mao yang sudah lama tidak terlihat. Sejak pertempuran dengan klan Liu, dia memang jarang menunjukkan diri. Itu berlaku juga dengan Xie Yang yang sibuk dengan urusan istana.


Mo Jingtian segera menyembunyikan wajahnya, tangannya mencari-cari topengnya yang entah ada di mana. Akan merepotkan jika mereka terserang kutukan Pesona Surgawinya.


Qing Yue’er terbatuk melihat orang-orang itu. Mereka bukan hanya kakek dan ibunya, ada juga Xie Mao, Xie Yang, dan anggota keluarga Xie lain yang tidak begitu dekat dengannya.


Diam-diam dia tersenyum gugup. Keberuntungan macam apa ini? Mereka benar-benar datang sekaligus untuk menghakiminya. Bukankah rencana ini berjalan terlalu lancar?


Dia segera bangun dan menutupi tubuh Mo Jingtian dan juga tubuhnya dengan selimut. Kemudian dia menggeleng dan berpura-pura panik. “Tidak ada apa-apa. Kami tidak melakukan apa pun. Sungguh!”


“Itu yang selalu dikatakan orang yang tertangkap basah!”


Xie Song menatap Qing Yue’er dengan mata menyipit. Dia mungkin tidak keberatan dengan apa yang dilakukan gadis itu. Bagaimanapun juga, dia sudah terbiasa mengetahui mereka berada di dalam kamar yang sama.


Namun, orang lain tidak begitu. Orang-orang seperti Xie Mao, Xie Yang, dan penatua istana tidak akan terbiasa melihat Qing Yue’er tidur bersama seorang pria. Apalagi keduanya belum menikah!


“Kakek, sungguh! Aku berani bersump--”


“Qing Yue’er, jangan mengatakan sumpah palsu. Siapa yang tahu apa yang sudah kalian lakukan malam ini?” Xie Linxi bertanya dengan kecewa.


Dulu dia tidak menyukai Qing Yue’er yang datang dari benua Tongxuan. Namun, sejak gadis itu membantu klan Xie mengalahkan klan Liu, dia menjadi lebih hormat kepadanya.


Hari ini melihat gadis itu ditemukan di tempat tidur bersama seorang pria dan dengan penampilan yang cukup berantakan membuatnya kecewa. Kenapa Qing Yue’er yang memiliki prestise tinggi harus melakukan hal rendahan seperti ini?


“Linxi, kami benar-benar … hanya tidur. Ya, hanya itu!” Dia melirik Mo Jingtian. Pria itu sudah memakai topengnya dan menatapnya dengan jengkel.


“Rencanamu sungguh luar biasa,” desisnya yang hanya didengar oleh mereka berdua.


Qing Yue’er diam-diam menunduk dan tersenyum. “Aku memang pintar,” gumamnya menyanjung diri sendiri.

__ADS_1


Mo Jingtian mendengkus. Dia bangkit berdiri, tapi ikatan tali jubah dalamnya longgar dan itu terbuka begitu saja. Orang-orang yang melihat itu langsung meringis malu melihat penampilannya yang berantakan.


Dia segera berbalik dan mengikat tali jubahnya dengan kuat. Amarahnya berusaha untuk ditahan. Sementara Qing Yue’er harus menahan tawa ketika melihat situasi itu.


“Langit benar-benar memberkatiku,” pikirnya.


Saat itu, suara Xie Mao yang berapi-api terdengar, “Sudah kuduga! Mereka pasti sudah melakukan hal-hal yang tidak pantas. Jika masalah ini tersebar keluar, Istana Tianjun benar-benar akan menanggung malu!”


Xie Yingfei menggigit bibirnya dengan resah. Dalam situasi ini, dia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah Qing Yue’er benar-benar melakukan hal-hal yang tidak pantas? Dia tidak percaya.


Mo Jingtian menarik napas dalam-dalam. Dia akhirnya berbicara dengan serius, “Yue’er memang benar. Kami tidak melakukan apa pun. Jika kalian tidak percaya padanya, setidaknya percayalah padaku.”


Xie Mao menggeleng-geleng. “Tuan Dewa yang Terhormat, maaf jika kami begitu lancang. Masalahnya … semuanya sudah seperti ini. Kau tidak mungkin pergi begitu saja dan membiarkan kehormatan gadis kami hancur bukan?”


Itu benar-benar membuat Mo Jingtian tidak bisa berkata-kata. Selama ini dia selalu bisa menjaga diri dari seorang wanita dan membatasi interaksi. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sekali pun.


Xie Yang menghela napas panjang. Dia menatap Xie Song dengan serius, “Kakak, bahkan jika mereka tidak melakukan apa pun, masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka sudah tidur bersama. Ini akan menjadi kerugian Yue’er jika hubungannya tidak segera diresmikan.”


‘Ini adalah kerugianku!’ Ingin sekali Mo Jingtian berteriak seperti itu. Gadis itu yang sudah merencanakan ini untuk memaksanya menikah. Tidak bisakah mereka melihat kelicikannya?


“Itu benar.” Xie Mao mengangguk setuju dengan Xie Yang. “Kesalahan seorang pria sangat mudah dimaklumi. Tapi jika nama seorang gadis sudah rusak dan tercemar, siapa yang mau menjadikannya seorang istri?”


“Selain itu ….” Dia menatap Mo Jingtian dengan sedikit permintaan maaf. “Tuan Mo, statusmu begitu luar biasa. Apa yang akan orang pikirkan jika mengetahui bahwa seorang dewa menghabiskan malam dengan gadis manusia biasa tanpa ikatan yang sah?”


Xie Yingfei sedikit tersentak mendengar itu. “Dia benar,” gumamnya dengan perasaan rumit.


Sementara itu, Xie Song menutup matanya sambil mengurut keningnya yang pusing. Semalam dia sudah mencemaskan Istana Guang. Itu baru ditenangkan dan paginya harus menghadapi masalah ini. Dia mendesah sedih.


“Jika kalian tahu manusia tidak boleh menikah dengan dewa, kenapa kalian masih harus melakukan ini? Apa belum cukup kalian melihat masalah di Celestial sehingga ingin membuat masalah sendiri di istana ini?!” dia memarahi keduanya.


“Kakek, itu kalian yang terlalu kolot dan berprasangka buruk. Aku dan Mo Jingtian hanya berbagi tempat tidur yang sama. Kenapa kami harus menikah?” ucap Qing Yue’er tanpa terlihat bersalah. Dia berpura-pura cemberut sambil memeluk lututnya sendiri.


Tentu saja kata-kata dan sikapnya itu membuat orang-orang tua di sana semakin marah. Bukannya meminta maaf karena telah membuat malu, gadis itu justru menyebut mereka kolot dan berprasangka buruk?


“Bagus sekali, Qing Yue’er. Kau benar-benar gadis paling menyebalkan dari seluruh keturunan keluarga Xie!” Xie Mao akhirnya menggeram marah.


“Tidak peduli apa, kalian harus menikah!”


Qing Yue’er yang mendengar itu langsung berbinar. Namun, dengan cepat dia mengubah ekspresinya. “Tapi, bagaimana jika Mo Jingtian mendapatkan hukuman langit?”

__ADS_1


Xie Song, Xie Mao dan Xie Yang saling menatap satu sama lain. Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu secara serentak membungkuk dan memohon pada Mo Jingtian.


“Tuan Dewa, tolong putuskan sesuatu. Apakah kau bersedia menanggung hukuman langit dengan menikahi Qing Yue’er? Jika kau benar-benar mencintai dan menghargainya, tolong lakukanlah.”


Mo Jingtian memejamkan matanya dengan perasaan tidak menentu. Kedua tangannya terkepal erat. “Bagaimana jika aku menolak?”


Ketiga orang itu langsung turun dan berlutut tanpa ragu. Xie Song menatap lantai dengan ekspresi tak terbaca. Tujuannya meminta Mo Jingtian menikahi Qing Yue’er bukan untuk reputasi klan Xie, melainkan untuk kebahagiaan Qing Yue’er.


Bukankah sebelum hal ini terjadi, gadis itu sudah sangat ingin menikah dengan pria itu? Maka biarkan dia, kakeknya, berlutut dan memintanya.


Xie Yingfei yang melihat itu menjadi sedih. Dia akhirnya ikut berlutut. Bukankah keinginan Qing Yue’er lebih penting?


Terlepas apakah malam sebelumnya adalah malam yang direncanakan atau tidak, dia sudah tahu gadis itu menginginkan pernikahannya. Entah bagaimana nasib pernikahan itu nanti, dia akan menyerahkannya pada takdir.


Mo Jingtian tidak bisa berkata-kata melihat tindakan mereka. Dia akhirnya menoleh kepada Qing Yue’er. “Apa kau puas sekarang?”


Gadis itu menunduk. “Kita harus menikah,” ucapnya dengan suara rendah.


“Qing Yuer!”


Kedua kaki Qing Yue’er akhirnya turun dari tempat tidur. Dia berdiri lalu berjalan ke sisi kakeknya yang masih berlutut. Tanpa menatap Mo Jingtian, dia ikut berlutut di lantai.


Kedua mata Mo Jingtian memerah. “Apa yang kau lakukan?!” teriaknya dengan marah. Namun, Qing Yue’er hanya menunduk dan terdiam.


Mo Jingtian merasa kakinya lemah. Dia begitu marah dan sedih sampai tidak bisa berkata-kata. Tangannya meraba sisi ranjang sebelum akhirnya duduk di sana dengan tatapan sedikit linglung.


“Kalian begitu menginginkan pernikahan itu?” tanyanya dengan lirih.


“Tuan, kalian sudah lama bersama. Menikah sekarang atau nanti tidak akan membuat perbedaan. Kenapa tidak dilakukan sekarang sehingga Istana Tianjun juga akan baik-baik saja?” Xie Song bertanya sambil menunduk.


“Tapi bagaimana jika dengan menikah denganku, nyawa Qing Yue’er berada dalam bahaya?”


Xie Song dan Xie Yingfei langsung mendongak menatap Mo Jingtian. Apa maksud pria itu?


Mo Jingtian menatap Qing Yue’er dengan sendu meskipun gadis itu tidak mau menatapnya. “Selama ini aku selalu menolak permintaannya untuk menikah. Bukan karena aku tidak mencintainya, tapi karena nyawanya menjadi taruhan. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu?”


Orang-orang yang mendengar itu langsung terkejut. Mereka juga sudah mendengar kabar tentang Qing Yue’er yang selalu mengejar Mo Jingtian. Jadi, itu tidak sesederhana seorang gadis yang mengejar pujaan hati.


Tapi kenapa nyawa Qing Yue’er menjadi taruhan?

__ADS_1


“Yue’er, kenapa kau tidak ….” Xie Song hendak memprotes Qing Yue’er, tapi gadis itu menatap lurus ke depan dengan ekspresi keras. Tekadnya terlihat begitu jelas. Keinginan dan keputusannya tidak ingin dibantah siapa pun.


Akhirnya pria tua itu menarik napas dalam-dalam. Dia tersenyum tipis. “Jika itu yang diinginkan cucuku, jika dia bahkan tidak peduli dengan hal-hal itu … maka aku akan merestuinya.”


__ADS_2