
Tangan Qing Yue'er dikibaskan dan sitar milik Mei Yiran langsung dilempar ke dalam dimensinya. Dia menatap Du Xun yang saat ini masih belum percaya pada penampilannya. Mungkin keyakinannya sedikit goyah setelah melihat usia Qing Yue'er yang masih muda.
'Bisakah gadis itu dipercaya?' Seperti itulah pikiran Du Xun.
"Apa kau meragukanku?" tanya Qing Yue'er masih dengan santai. Dia dapat membaca pemikiran pria itu dari ekspresi wajahnya.
"Bisakah kau meyakinkanku?" Du Xun balas bertanya. Tentu saja dia tidak mengetahui tingkat kekuatan Qing Yue'er. Itulah kenapa dia tiba-tiba merasa tidak yakin.
Mendengar pertanyaan Du Xun membuat Qing Yue'er terkekeh. Dengan sekali gerakan dia sudah membawa Du Xun untuk pergi menjauh dari tempat itu. Kecepatannya lebih terlihat seperti angin.
Beberasa saat kemudian dia berhenti di depan halaman istana yang luas. "Aku ingin bertemu dengan rajamu, juga Guru Besar Heng Yuan yang kamu bicarakan."
Du Xun menatap Qing Yue'er dengan rumit. Dia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran gadis itu. Bukannya dia cepat pergi dari sini malah ingin bertemu dengan raja? Apa dia gila?
"Ayo, aku tidak bisa menunggu terlalu lama," ucap Qing Yue'er dengan pasti.
"Tapi ...." Du Xun hendak menolak permintaan Qing Yue'er. Namun gadis itu mengangkat salah satu tangannya ke udara. Hal itu menandakan bahwa dia tidak mau mendengarkan penjelasan Du Xun.
"Katakan saja bahwa aku mencuri sitar itu. Jangan mengatakan kebenarannya," ucap Qing Yue'er.
Du Xun sempat ragu sesaat. Namun sepertinya keinginan gadis muda tersebut tidak bisa dicegah. Jika dia tidak menurutinya mungkin gadis itu akan memakai caranya sendiri untuk membuat orang-orang datang keluar menemuinya. Akhirnya mau tidak mau dia pergi untuk memanggil raja Xirei dan Guru Besar Heng Yuan.
Sementara itu Qing Yue'er mencari sesuatu yang bisa dijadikan tempat duduk. Dia melihat deretan kotak batu yang ada di sana. Tanpa berpikir lebih jauh dia pun duduk di sana dengan nyaman.
Jing Ling dan Qi Rong mengikuti arah kepergian Qing Yue'er. Meskipun gadis itu bergerak dengan cepat, mereka berdua masih bisa menentukan ke mana arah perginya gadis itu.
Mereka pun sampai di halaman istana yang luas. Tempat itu memang sedikit berbeda. Kemungkinan halaman yang luas itu biasa dipakai untuk mengadakan upacara-upacara penting, pasalnya di pinggiran ada beberapa bekas pembakaran dupa yang mungkin masih terlihat baru.
__ADS_1
Kedua orang itu menghampiri Qing Yue'er yang saat ini sedang bersantai. Tentu saja mereka merasa heran. Ke mana perginya pria paruh baya yang di bawa oleh Qing Yue'er? Kenapa dia malah bersantai di sana?
"Xinyu, apa kau sudah mendapatkan sitar itu?" tanya Jing Ling.
Qing Yue'er terkekeh. Dia melambaikan lengan bajunya untuk membuat Jing Ling dan Qi Rong kembali terlihat. Memang sejak tadi mereka masih berada di bawah perlindungan kekuatan roh Qing Yue'er.
"Ya, tapi ini masih belum selesai. Kamu akan segera mengetahui kebenarannya," ucap Qing Yue'er.
"Kapan kita akan pulang?" tanya Qi Rong tiba-tiba.
"Itu mungkin tidak akan lama," ucap Qing Yue'er.
Setelah itu dia melihat Qi Rong yang ikut duduk di batu yang tidak jauh dari Qing Yue'er. Pria itu nampak menarik napasnya dalam-dalam, setelah beberapa saat dia mengembuskannya lagi. Kali ini udara yang keluar dari lubang hidungnya adalah sesuatu yang berwarna emas.
Setelah itu dia kembali menghirup napas. Namun kali ini dia tidak mengembuskannya. Dia tersenyum puas dan terlihat begitu lega.
Jing Ling yang melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Qi Rong langsung melotot. Dia terkejut. Apa yang digunakan oleh pria itu adalah sebuah teknik pernapasan. Namun dia tidak tahu apa persisnya.
Jika Jing Ling merasa penasaran, maka Qing Yue'er hanya memutar bola matanya. Dia sudah tahu Qi Rong selalu melatih Teknik Pernapasan Penyu. Ya, teknik itulah yang akan membantu memelihara kemalasannya bahkan hanya untuk bernapas.
"Teknik Pernapasan Penyu. Apa kau ingin melatihnya juga?" Qi Rong menjawab pertanyaan Jing Ling.
Jing Ling yang pernah mendengar nama teknik itu pun hanya menatap Qi Rong dengan datar. Tidak disangka ternyata tingkat kemalasan pria itu akan seakut ini.
Penggunaan teknik itu sebenarnya adalah untuk sesuatu yang darurat, seperti ketika seseorang pergi ke tempat-tempat yang tidak memungkinkan untuk bernapas. Ya, itu adalah teknik untuk memanjangkan napas seseorang. Namun pria itu menggunakannya untuk sehari-hari. Betapa anehnya.
"Lupakan saja. Aku hanya tidak mengerti. Jika kita bisa hemat pernapasan, kenapa kita harus membuang energi hanya untuk menarik napas dalam ratusan kali di setiap harinya?" Qi Rong bertanya sambil mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Terserah kau saja," ucap Jing Ling dengan mengejek. Dia juga ikut duduk di kotak-kotak batu yang sederet dengan Qing Yue'er.
Tak selang lama, aura yang terasa kuat datang mendekat dari kejauhan. Qing Yue'er menyunggingkan senyum senang. Sepertinya ini akan menyenangkan.
Jing Ling dan Qi Rong yang ikut merasakan aura itu langsung mengerutkan kening. Rasa penindasan menyelimuti tubuh mereka, membuat tubuh mereka sedikit bergetar.
"Haruskah kita melarikan diri? Tidakkah kita sedang mencari kematian?" Jing Ling bertanya pada Qing Yue'er dengan cemas. Aura itu terasa begitu kuat dan jauh di atasnya.
"Tidak. Kita akan tetap di sini dan menunggu mereka menemui kita," ucap Qing Yue'er dengan santai. Sepertinya dia tidak memiliki kekhawatiran sama sekali.
Mendengar jawaban Qing Yue'er yang terlalu santai, tentu saja membuat Jing Ling merasa ingin meneteskan air mata. Di saat dia merasa cemas, gadis itu bahkan hanya tersenyum dengan senang. Surga, mereka tidak akan mati di sana 'kan? Itu tidak akan etis jika mereka mati karena keberanian yang mirip dengan kebodohan.
Whoosshh whoossh!
Beberapa bayangan hitam melesat dari kejauhan dan berhenti tak jauh dari keberadaan Qing Yue'er. Bayangan itu berakhir dengan membentuk sosok-sosok yang sebagian masih terlihat asing di mata Qing Yue'er dan kedua temannya.
Dua orang wanita yang pernah Qing Yue'er lihat juga hadir di antara mereka. Kedua wanita itu adalah Mei Yiran dan kakaknya, Mei Xin.
Mei Yiran melotot saat melihat Qing Yue'er. Dia tidak menyangka jika gadis yang mengacaukannya di kota Nan Zheng akan tiba di sini untuk membuat kekacauan. Apakah dia mencarinya sampai menemukan dia di sini?
Menyadari tatapan mata Mei Yiran yang tidak biasa, Mei Xin pun menjadi penasaran. "Apa kau mengenalnya?"
"Hmm!" Mei Yiran mendengus tidak senang. "Aku tidak mengenal identitasnya, tapi aku memang tahu dialah yang mengacaukan pekerjaanku di kota Nan Zheng."
Kedua alis Mei Xin mengerut. Kedua matanya menatap Qing Yue'er dengan tajam. Dia ingin meneliti seberapa kuat gadis itu sehingga berani membuat masalah di keluarga kerajaan.
Namun setelah memeriksa beberapa saat, dia tidak menemukam sesuatu yang spesial. Dia bahkan tidak mengetahui pada tingkat mana kultivasi Qing Yue'er berada. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa melihat gadis itu untuk pertama kali saja sudah membuat dia merasa jengkel.
__ADS_1
Sebenarnya bagi seorang wanita, untuk membenci Qing Yue'er adalah sesuatu yang sangat mudah. Tanpa melakukan apa pun, mereka akan iri hati ketika melihat kecantikan Qing Yue'er. Apalagi jika ditambah dengan sikap acuh tak acuhnya, pasti mereka yang sombong akan langsung membenci keberadaan Qing Yue'er.
Diam-diam Mei Xin mendengus. Seseorang seperti Qing Yue'er mau tidak mau harus merasakan sedikit pelajaran darinya.