Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Darah dan Air Mata


__ADS_3

Jing Ling mencoba menenangkan perasaannya. Di satu sisi dia merasa senang karena memiliki sebuah bakat bawaan yang mungkin hanya dimiliki oleh sedikit orang di dunia. Menjadi salah satu dari mereka tentu saja membuat dia merasa istimewa.


Namun di sisi lain dia merasa tidak tenang. Gadis itu mengatakan agar tidak mengkhawatirkan Xinyu, nnamun bagaimana bisa? Bahkan dia pergi tanpa berpamitan, bagaimana dia bisa tetap tenang?


Jiang Yini berdiri merapikan penampilannya. Dia berjalan mendekati Jing Ling yang mungkin masih merasa terkejut.


"Ayo pergi, tidak ada lagi yang bisa dilakukan," ajaknya.


"Tapi bagaimana jika dia kembali ke sini? Apakah gua ini tidak bisa dibuka lagi hingga beberapa tahun kedepan?" tanya Jing Ling.


"Emm ...." Jiang Yini tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri belum tahu apakah tempat ini bisa dibuka pada waktu yang belum ditentukan.


"Baiklah. Mungkin orang yang telah membawanya akan memiliki pandangan yang benar," gumam Jing Ling sebelum akhirnya mengambil langkah kakinya.


Tinggal di tempat ini tidak memiliki manfaat apa-apa. Bahkan dia tidak tahu apakah Xinyu bisa kembali atau tidak. Daripada dia membuang waktu dengan menunggu sesuatu yang tidak pasti, lebih baik dia melakukan hal lain yang lebih penting.


Akhirnya mereka pergi meninggalkan Danau Kunpeng. Perjalanan kembali hanya ada mereka berdua karena Jiang Yu telah pergi lebih dulu untuk mengurus masalah klan.


Kematian para tetua telah menyebabkan beberapa masalah. Sekarang klan mereka dalam keadaan paling rentan. Jika sewaktu-waktu ada orang yang berniat menyerang maka sudah bisa dipastikan mereka akan kalah.


"Nona Jing, aku benar-benar meminta maaf atas menghilangnya Nona Xinyu. Apa kau ingin kami melakukan pencarian?" Jiang Yini berkata dengan nada penyesalan. Dia tidak berharap kalau salah satu dari tamunya akan menghilang tepat di Danau Kunpeng.


Ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi. Kebanyakan jika seseorang mengalami kecelakaan maka itu akan terjadi saat melewati banyak mekanisme. Tidak ada yang terjadi tepat di perairannya.


Hal ini membuat dia menyimpulkan. Pasti ada seseorang yang membawa gadis itu pergi, dan itu bukan makhluk iblis yang menjadi pelindung danau. Ditambah dengan kemunculan seseorang yang menyamar sebagai Xinyu, pasti itu ada kaitannya.


"Tidak perlu. Aku rasa aku hanya perlu menunggu. Kita juga tidak tahu pada tingkat seperti apa orang yang telah membawa Xinyu pergi," ucap Jing Ling.

__ADS_1


"Kalau begitu tinggallah di kediaman ini. Kamu akan menjadi tamu sesuka yang kau mau." Jiang Yini menawarkan kebaikan sebagai bentuk rasa bersalahnya.


"Aku akan menerimanya," ucap Jing Ling setelah menghela napas.


***


Qing Yue'er tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Di tempat suram seperti Jurang Iblis tidak ada siang mau pun malam. Sepanjang hari langit tetaplah sama, hitam dan keruh.


Dia sudah berusaha mengalahkan gerombolan iblis yang datang. Tubuhnya sudah lelah dan banyak ternodai oleh darahnya sendiri. Qi spiritual dalam tubuhnya pun semakin habis. Namun iblis-iblis itu seakan tidak ada habisnya.


Jika dia menghabisi sepuluh maka akan datang sepuluh, mati dua puluh maka akan datang dua puluh. Jika terus seperti ini maka dia hanya akan berakhir menuju kematian.


Qing Yue'er meringis. Tempat yang sama mungkin telah terpukul hingga berkali-kali. Trik yang dia gunakan tidak bisa disembunyikan di depan puluhan iblis. Jadi sekarang dia hanya akan bergerak dengan liar.


Tempat yang awalnya dia anggap sebagai tempat pelatihan telah berubah menjadi neraka yang sesungguhnya. Dia tidak mengerti kenapa ibunya memasukkan dia ke tempat ini.


"Datang semuanya! Kalian yang masih bersembunyi juga datanglah!" Qing Yue'er berteriak penuh kemarahan. Kedua matanya memerah, bahkan dia bisa merasakan sudutnya yang menjadi basah.


Boomm boomm!


Ledakan terdengar di mana pun dia mendarat. Darah iblis terciprat ke segala arah, menciptakan kabut darah yang mungkin membuat orang lain bergidik ngeri.


Woossh!


Tiba-tiba serangan datang dari belakang tanpa bisa dihindarkan. Qing Yue'er diterbangkan jauh hingga tubuhnya menabrak bebatuan. Rasa sakit di dadanya membuat mulutnya meludahkan darah segar.


"Hahaha!"

__ADS_1


Qing Yue'er tertawa keras. Dia mencoba bangkit tapi tubuhnya menolak untuk menurutinya. Akhirnya dia hanya terduduk dengan tubuh melemas. Pandangannya menerawang jauh dengan pikiran yang berkecamuk.


Darahnya, keringatnya dan tetesan air matanya tidak akan sia-sia. Dia telah berjuang hingga akhir batasnya. Jika dia ditakdirkan untuk mati maka itu bukanlah penyesalan. Melewati dua dunia yang berbeda sudah menjadi suatu keistimewaan bagi hidupnya.


Mungkin hanya ada satu yang memberatkan hatinya. Itu adalah sosok pria dingin dengan mata lembutnya. Setelah ini mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Mereka terlalu jauh. Dia tahu dia tidak akan bisa memantaskan diri untuk bersanding dengannya.


Matanya tertutup. Dia sudah lelah. Mungkin sekarang sudah saatnya untuk menerima kekalahan.


"Bodoh! Cepat bangun! Kamu hanya akan menjadi pecundang jika harus berhenti di sini!" Ying Jun berteriak dalam benaknya. Sebelumnya Taotie sudah mencoba keluar untuk membantu, sayangnya akses antar dimensi sepertinya telah ditutup sepenuhnya.


Qing Yue'er hanya terkekeh. Dia melihat para iblis yang bergerak ke arahnya dengan ekspresi garang di wajah masing-masing. Mereka marah karena ada manusia yang membunuh puluhan kawan-kawannya. Tidak ada yang akan dilepaskan begitu saja.


"Cepat bangkit, bodoh! " Taotie ikut berseru untuk membuat Qing Yue'er bangkit. Sayangnya itu tidak berpengaruh sama sekali.


"...."


Mata Qing Yue'er kembali tertutup. Rasa lelah telah menghinggapi jiwa dan raganya. Mungkin kematian akan membuatnya berhenti merasakan lelahnya perjuangan.


"Kamu tidak bisa membiarkan orangtuamu memendam penyesalan. Pergilah ke utara."


Tiba-tiba suara yang berbeda datang ke telinganya. Hati Qing Yue'er tersentak. Dia seperti baru mendapat sebuah pencerahan. Benar, masih ada orangtua dan klan yang harus dia temui. Tidak, mungkin dia masih belum boleh menyerah.


Kedua mata yang tertutup langsung terbuka dengan sorot penuh tekad. Pada saat itulah sebuah cakar yang panjang dan tajam tiba di depan wajahnya.


Qing Yue'er segera menghindar ke samping. Jika dia terlambat sedetik saja mungkin kepalanya sudah digaruk menjadi gilingan daging.


Dengan gerakan yang cepat Qing Yue'er melompat dan pergi melarikan diri ke arah utara. Dia tidak ragu sama sekali. Itu adalah suara Mo Jingtian yang menyuruhnya pergi ke sana. Mungkin akan ada titik terang dari kegelapan ini.

__ADS_1


__ADS_2