
Sementara itu setelah Mo Jingtian meninggalkan Qing Yue'er, dia pergi menuju ke tempat yang jauh. Dia naik ke langit hingga melihat tangga yang dibangun dari awan putih. Itu tangga yang panjang dan dia tidak bisa terbang melewatinya. Jalan satu-satunya adalah berjalan kaki.
Cukup lama dia naik hingga melihat puncaknya. Di sana tidak ada bangunan besar, istana atau semacamnya, melainkan hanya altar yang didominasi oleh warna putih. Di tengahnya terdapat patung putih dengan wajah yang tidak begitu jelas. Di depan patung itu terdapat papan putih seperti meja yang tidak terlalu tinggi.
Di atas papan itu terdapat kotak putih yang tertutup rapat. Ada ukiran emas yang terlihat indah di setiap sisi-sisinya. Mo Jingtian mengambil kotak itu, tetapi dia tidak berani membukanya. Terakhir kali datang ke sini, dia menerima cincin cahaya. Itu bukan sebuah masalah besar baginya.
Namun, Mo Jingtian khawatir jika isi di dalam kotak akan jauh lebih dari itu. Dia mengambil kotak tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati. Napasnya terhela panjang. Tiba-tiba dia mendengar suara selembut angin yang memasuki telinganya, “Putraku, kau sudah melakukannya dengan baik.”
Mo Jingtian langsung mengangkat kepalanya. Namun dia tidak melihat apa pun. Suara itu tidak terdengar seperti suara wanita, tidak seperti suara pria juga. Itu benar-benar seperti suara angin yang terdengar sangat misterius.
Dia akhirnya jatuh berlutut. Ada keluhan dan juga pengaduan di dalam sorot matanya. Dia berkata, “Aku tidak ingin menjadi putra siapa pun. Bisakah kau melepaskanku?”
“Kau tidak bisa berkata seperti itu. Seorang gadis sudah datang dan hadir untukmu. Kau hanya harus meresmikannya.”
Mo Jingtian akhirnya menggertakkan gigi dengan marah. “Berhenti mengontrol kehidupanku! Sungguh, aku benar-benar ... aku memohon padamu. Apa kau mau sedikit berbelas kasih?
“Takdirmu tidak akan bisa diubah. Kamu berbeda dari siapa pun ....” Suara itu terdengar semakin samar dan semakin samar hingga akhirnya menghilang. Yang tersisa hanyalah keheningan panjang.
Mo Jingtian tidak ingin bergerak. Untuk waktu yang sangat lama dia hanya berdiam diri. Barulah setelah beberapa saat dia bergerak mengambil kotak putih yang sudah disimpan. Dia menatap kotak putih itu, lalu dengan sedikit ragu dia mulai membukanya.
Pakaian putih bersama dengan jubah putih sudah terlipat rapi di sana. Terdapat sulaman naga emas yang terlihat sangat indah. Kemudian ada juga jepit rambut panjang yang terbuat dari emas murni tersemat di sana. Seharusnya itu adalah set pakaian yang bagus, tetapi Mo Jingtian tidak merasa bahagia.
“Aku tidak mungkin melakukan ini,” gumamnya dengan sedikit linglung. Pada saat itu tiba-tiba seseorang penepuk pundaknya dengan pelan.
“Ayo, pulang. Jangan meratap di sini.”
Mo Jingtian segera mendongak. Dia terkejut melihat gurunya yang tiba-tiba muncul di sana. Gurunya sudah enggan keluar karena akan memakan terlalu banyak kekuatan, dia tahu itu. Namun, hari ini pria tua itu mau datang ke altar ini hanya untuk mengajaknya pulang.
“Guru, apa yang harus aku lakukan?” tanya Mo Jingtian. Untuk kali ini dia benar-benar ingin mendengarkan saran orang lain. Dia sedikit hilang arah.
“Apa lagi? Bawalah gadis itu menemuiku. Aku memiliki beberapa hal yang ingin disampaikan,” balas sang guru.
“Guru, jangan beritahu dulu tentang ini.” Maksud Mo Jingtian adalah kotak yang baru saja dia dapatkan.
Guru Mo Jingtian tersenyum. “Tidak. Aku hanya orang luar bagi kalian. Namun, kau tidak bisa terlalu lambat memberi tahu dia. Murid, jangan sampai Baili Linwu bergerak lebih cepat darimu.”
Mo Jingtian mengangguk mengerti. Dia akhirnya menyimpan kotak putih itu lagi. Kemudian dia mendengar gurunya mengembuskan napas panjang. “Waktu itu aku tidak percaya dengan cincin yang kau dapatkan. Sekarang aku melihat sendiri bagaimana kau didesak.”
“Aku juga sedikit tidak percaya pada awalnya.”
Kemudian Mo Jingtian meraba cincin cahaya yang meredup. Itu satu pasang dengan yang dia berikan pada Qing Yue'er. Ini adalah cincin pemberian langit. Gadis itu pasti tidak tahu. Dulu saat dipasangkan ke jari Qing Yue'er juga dia tidak memberi tahu kebenarannya.
“Aku akan melakukan semuanya sebaik mungkin,” ucap Mo Jingtian.
Setelah itu mereka berdua pun pergi meninggalkan altar putih. Mo Jingtian pergi mengantar gurunya pulang sebelum akhirnya dia kembali untuk menemui Qing Yue'er.
Tentu saja kedatangan Mo Jingtian membuat Qing Yue'er merasa terkejut. Dia baru turun dari perahu ketika melihat pria itu datang di seberangnya. “Bukankah kau akan pergi? Kenapa kembali lagi?” tanya Qing Yue'er heran.
“Aku sudah selesai,” ucap Mo Jingtian.
__ADS_1
“Secepat itu?” Qing Yue'er sedikit tidak percaya. Jika bukan karena aura khusus Mo Jingtian, mungkin dia akan curiga kalau pria itu bukan Mo Jingtian.
“Mm.” Mo Jingtian mengangguk. “Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.”
“Kemana?” tanya Qing Yue'er.
“Kau akan tahu nanti.” Mo Jingtian tidak akan mengatakannya di sini. Dia memegang tangan Qing Yue'er dan mereka berdua langsung menghilang begitu saja.
Qing Yue'er merasakan perasaan melayang selama beberapa saat. Setelah itu dia merasakan kakinya berpijak dan sekarang dia sudah berada di tempat yang sama sekali berbeda. Itu adalah ruangan batu yang tertutup. Qing Yue'er bisa merasakan aroma cendana di sana.
Namun, bagaimanapun cara dia melihat, tempat itu terlihat seperti sebuah pemakaman. Kenapa Mo Jingtian membawanya ke sini? Ada banyak pertanyaan di kepala, tetapi dia hanya diam mengikuti ke mana Mo Jingtian melangkah.
Setelah melewati banyak belokan akhirnya mereka sampai di ruangan yang di tengahnya terdapat peti batu guru Mo Jingtian. Namun, sekarang pria tua itu sudah keluar. Bukan lagi hanya berbaring di dalam peti.
Qing Yue'er menatap Mo Jingtian penuh tanda tanya. Dia tidak tahu siapa pria tua itu dan merasa belum pernah melihatnya. Menyadari kebingungan Qing Yue'er, akhirnya Mo Jingtian berkata, “Dia adalah guruku.”
Tentu saja Qing Yue'er merasa terkejut. Dia tidak pernah berpikir jika dia akan dipertemukan dengan guru Mo Jingtian. Apalagi di situasi seperti sekarang yang tidak begitu mendukung. Saat ini dia tidak terlihat seperti gadis yang bisa diandalkan.
Qing Yue'er merasa sedikit gugup. Kemudian dia segera membungkuk hormat. Dia tidak tahus berkata apa, tetapi untungnya pria tua itu tidak tampak galak atau menakutkan.
“Hmm.” Guru Mo Jingtian yang bernama Mo Tianyu tampak menggosok dagunya. “Gadis, jangan gugup. Duduklah.”
Akhirnya Qing Yue'er duduk di kursi batu yang ada di sana. Untungnya Mo Jingtian tidak pergi ke mana-mana jadi dia tidak terlalu gugup. Jika dia sendirian mungkin akan berbeda jadinya.
Mo Tianyu tersenyum ramah. “Jadi sudah berapa lama kau mengenal Jingtian?”
“Mungkin sudah sekitar empat tahun,” jawab Qing Yue'er. Dia menurunkan pandangan, tidak berani menatap langsung pada pria tua itu.
“Tuan Guru mengetahui tentang ayahku?” tanya Qing Yue'er.
Mo Tianyu langsung terkekeh. “Tentu saja. Siapa di sini yang tidak mengetahui Dewa Angin? Aku hanya penasaran, apakah kipas Sheng Feng ada bersama ibumu?”
Qing Yue'er merasa ragu sejenak. Setelah beberapa saat barulah dia berkata, “Sebenarnya kipas itu sudah ada di tanganku.” Kemudian dia beralih menatap Mo Jingtian. “Aku menunggu instruksi Mo Jingtian untuk membukanya.”
Mo Tianyu mengangguk mengerti. “Jika kau mau kita bisa membukanya di sini.”
Mo Jingtian mengangguk pada Qing Yue'er, yang menandakan persetujuan. Dia juga ingin tahu kira-kira apa yang disembunyikan oleh Qing Yexuan di dalam kipas. Lagi pula tidak ada orang asing di sana dan tidak ada yang mungkin menguping mereka.
Akhirnya Qing Yue'er mengeluarkan kipas Sheng Feng. Kemudian dia meletakkannya di atas meja batu. “Aku tidak tahu bagaimana caranya.”
Mo Jingtian mengambil kipas itu, lalu menuangkan kekuatannya ke sana. Perlu beberapa waktu sampai akhirnya dia menemukan gagasan. “Coba teteskan darahmu di sini.”
Qing Yue'er segera menurut. Dia merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Dia menggigit jarinya dengan keras, lalu sebelum darahnya menetes dia langsung membawanya ke atas kipas. Darah merah pun menetes ke permukaan kipas.
Ketiga orang itu langsung mengamati kemungkinan apa yang akan segera terjadi. Pada saat itu, tiba-tiba kipas Sheng Feng yang terbuka lebar mulai menampilkannya gambar bergerak seperti sebuah klip video.
Qing Yue'er melihat seorang pria yang berdiri di dekat rumah kayu sambil memegang kipas. Itu tidak lain adalah kipas Sheng Feng. Perasaan Qing Yue'er menjadi sangat antusias. Itu pasti ayahnya dan rumah yang ada di belakang adalah rumah yang sebelumnya sempat dia kunjungi.
Benar. Itu adalah rumah di mana dia duduk sambil menenggak anggur bersama dengan Duan Mu. Sekarang dia menjadi yakin jika Duan Mu itu bukan sembarang orang. Mungkin ia mengenal ayahnya atau bagaimana persisnya, dia tidak tahu.
__ADS_1
Setelah itu gambar menunjukkan seseorang yang berbeda. Ayah Qing Yue'er tampak membungkuk hormat pada pria yang Qing Yue'er tidak tahu siapa identitasnya. Namun, ketika melihat ini, Mo Jingtian dan gurunya langsung saling memandang.
Pria yang diberi hormat oleh Qing Yexuan memakai pakaian yang sudah lusuh dan tua. Namun, hanya dari gambarnya saja Qing Yue'er bisa merasakan kekuatannya. Sepertinya tidak kalah dari Mo Jingtian.
Kemudian gambar di kipas itu berubah lagi. Kali ini menampilkan pria asing itu yang membawa Qing Yexuan ke sebuah tempat. Tempat itu dipenuhi oleh bunga, lebih tepatnya itu merupakan taman bunga yang sangat luas.
Pria itu kemudian menggali tanah dan mengeluarkan kotak. Kotak itu segera dibuka dan menampilkan sebuah kunci. Tidak ada yang tahu itu kunci apa. Beberapa saat kemudian gambar di dalam kipas pun menghilang, lalu digantikan dengan baris sebuah kalimat.
“Kunci pembebasan raja iblis.”
Qing Yue'er merasa terkejut dengan semua ini. Dia menatap Mo Jingtian penuh pertanyaan. “Ini ... bisakah aku mengetahui kemungkinan apa yang terjadi?”
Mo Tianyu menggertakkan gigi dengan marah. “Sudah jelas si Baili Linwu itu ingin membebaskan raja iblis. Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan? Aku benar-benar tidak bisa memahaminya.”
Sementara itu Mo Jingtian masih diam berpikir. Baili Linwu tidak mungkin membebaskan raja iblis tanpa alasan. Apakah mungkin mereka memiliki hubungan tertentu? Atau mungkin hanya ingin memanfaatkan untuk hal lain?”
“Apa pun itu, jangan sampai Baili Linwu mengetahui hal ini,” ucap Mo Jingtian. “Aku akan mencari tahu lebih lanjut.”
“Lalu kipas ini? Apa yang harus kulakukan?” tanya Qing Yue'er.
“Kau yang akan menyimpan sendiri atau kau ingin aku menyimpannya?” tanya Mo Jingtian.
Qing Yue'er berpikir sejenak. Itu adalah kipas ayahnya. Sepertinya dia harus menyimpannya sendiri. Bukan karena tidak memercayai orang lain, dia hanya ingin memiliki kenang-kenangan dari ayahnya, setidaknya satu.
“Aku akan menyimpannya sendiri,” kata Qing Yue'er.
Mo Jingtian mengangguk. “Tapi kau harus hati-hati. Aku yakin Baili Linwu, maksudku Tuan Pengadilan Surgawi, tidak akan menyerah untuk mendapat kipas itu.”
“Aku mengerti.” Qing Yue'er mengangguk. Dia benar-benar tidak menyangka jika saat ini dia yang hanya gadis berusia 18 tahun, tengah memegang benda yang sedang diperebutkan oleh Tuan Pengadilan Surgawi. Rasanya benar-benar luar biasa.
Tiba-tiba dia teringat pada pria asing yang bersama dengan ayahnya. Kelihatannya Mo Jingtian dan gurunya mengetahui identitas pria itu. Karena penasaran, akhirnya dia bertanya, “Pria itu siapa dia? Yang bersama dengan ayahku.”
“Itu adalah Tuan Pengadilan Surgawi yang lama,” ucap Mo Tianyu. Di masa lalu dia pernah satu kali bertemu langsung. Itu adalah salah satu ingatan yang sangat berkesan baginya. “Sayang sekali setelah Tuan Pengadilan Surgawi berganti, semuanya mulai berjalan dengan salah.”
Qing Yue'er mengerutkan kening. Jika itu benar-benar seperti yang Mo Tianyu katakan, maka semuanya berawal dari Tuan Pengadilan Surgawi yang sekarang. Lalu kenapa bisa Baili Linwu yang diangkat menjadi Tuan Pengadilan Surgawi? Qing Yue'er benar-benar merasa semuanya begitu memusingkan.
Dia terdiam selama beberapa saat, lalu bertanya, “Kalau begitu, di mana Tuan Pengadilan Surgawi yang lama?”
“Mungkin sudah mengambil waktu untuk beristirahat. Bagaimanapun juga aku tidak mengetahui keberadaannya,” ujar Mo Tianyu. Qing Yue'er hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Guru, hal apa yang ingin Guru bicarakan?” tanya Mo Jingtian tiba-tiba. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan gurunya pada Qing Yue'er. Orang tua itu sudah dua kali ingin bertemu dengan gadisnya.
Mo Tianyu menghela napas. Kemudian dia menatap Qing Yue'er dan Mo Jingtian secara bergantian. Demi apa pun, dia bisa melihat kedua orang itu memang sangat cocok. Mungkin inilai bagaimana cara langit menentukan hidup keduanya.
Setelah beberapa saat dia bertanya pada Qing Yue'er, “Gadis, apa kau pernah mendengar tentang Anak Surga?”
Qing Yue'er yang ditanya seperti itu langsung terkesiap. Anak Surga adalah seseorang yang sudah beberapa kali datang ke dalam mimpinya. Dia benar-benar ingin tahu siapa anak itu dan kenapa masuk ke mimpinya. Apakah orang tua itu akan memberi tahu tentang Anak Surga?
***
__ADS_1
Malam ini ada update lagi, kalau otak author lancar 🤣