
Penatua Bai Xianfeng melihat situasi Mo Jingtian yang tidak menguntungkan. Di tengah-tengah pertempurannya, dia berteriak, “Tuan Muda, pergilah ke samping. Biarkan aku yang menghadapinya!”
“Aku! Biarkan aku saja!” Zi Xian tiba-tiba melangkah maju. Dia tidak mungkin membiarkan pria iblis itu menindas kekasih temannya. Selama dia bisa membantu, dia akan membantu.
Mo Jingtian di sisi lain tetap tenang tanpa terganggu. Dia mendongak ke atas dan melihat segel Qing Yue’er hampir selesai. Itu membuatnya merasa nyaman. Dia akan menunda Yanhong untuk gadis itu.
“Tidak ada yang harus kalian lakukan,” ucapnya pada Zi Xian dan Bai Xianfeng. “Dia akan menyerahkan benda itu padaku.”
“Apa?”
Baik Zi Xian dan Bai Xianfeng tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Apakah Mo Jingtian bercanda? Bagaimana mungkin iblis itu akan memberikan senjatanya pada musuh?
Suara tawa keras tiba-tiba menggema di sana. Itu adalah Yanhong. Dia merasa geli mendengar kata-kata Mo Jingtian dan tidak tahan untuk tertawa.
Apakah pria itu sadar dengan apa yang keluar dari mulutnya? Panah itu adalah pemberian dewa. Bagaimana mungkin dia akan memberikan senjata berharga itu pada orang lain? Pria berjubah merah itu hanya bermimpi!
“Aku akan memberikan panah ini setelah jantungmu bocor!” teriaknya kemudian. Dia berlari ke depan sambil menarik panah itu sedikit ke belakang. Awan merah tampak menyelimuti senjata itu. Aura kedewaannya mulai keluar dan menyebar.
Zi Xian dan Bai Xianfeng menjadi khawatir. Baru sekarang mereka merasakan kekuatan senjata itu yang sebenarnya. Jadi itu memang bukan sejata biasa!
“Menghindarlah!” Zi Xian berteriak. Namun, Mo Jingtian tidak menghindar atau melarikan diri. Dia menyipitkan matanya. Kilatan cahaya emas yang samar muncul di kedua matanya.
Yanhong yang hendak melemparkan senjatanya, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia menjadi seperti patung yang sama sekali tidak bergerak. Ini membuat siapa pun yang melihat menjadi terkejut?
Apa yang sedang terjadi?
Mo Jingtian menatap Bai Xianfeng dan penatua lain yang tertegun. “Kenapa kau hanya diam? Segelnya akan segera selesai. Dorong mereka kembali ke dalam lubang!”
Bai Xianfeng dan yang lainnya langsung tersadar. Mereka mengangguk lalu dengan keras mencoba mendorong pasukan iblis itu kembali ke dalam lubang iblis. Kemenangan semakin dekat dan mereka menjadi lebih bersemangat mengusir iblis-iblis itu.
Sementara itu, Mo Jingtian kembali mengalihkan perhatiannya pada Yanhong. “Berikan itu padaku,” ucapnya tanpa ekspresi.
Sosok Yanhong langsung berjalan ke depan dan memberikan panahnya pada Mo Jingtian. Tanpa penolakan apa pun!
Tentu saja Zi Xian yang melihat itu langsung melebarkan matanya. Bagaimana itu mungkin?
__ADS_1
Mo Jingtian menerima panah itu lalu memerhatikannya selama beberapa saat. Itu memang panah Di Fengxuan. Dia menghela napas. “Apa yang Di Fengxuan katakan padamu? Apakah dia memberi tahu rencana sesuatu?”
“Tidak. Tuan hanya memintaku untuk bertindak dengan bebas, melakukan apa pun tanpa rasa takut.”
“Jadi itulah kenapa kalian mengacaukan orang-orang Tongxuan tanpa rasa khawatir?”
Yanhong tidak menjawab, dan itu berarti benar. Tidak ada yang bisa Mo Jingtian katakan. Dia sudah tahu segalanya dan itu tidak penting lagi.
“Bawa mereka kembali. Tuanmu sudah lama mati.”
Yanhong tidak mematuhi perintah itu. Mo Jingtian menatapnya dengan dingin. “Apa kau ingin aku melakukan apa yang aku katakan sebelumnya?”
Barulah kemudian pria iblis itu berbalik dan memerintah pasukan yang tersisa untuk kembali ke lubang iblis.
Pasukan-pasukan iblis itu menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada pemimpin mereka dan bagaimana pria itu bisa berubah patuh pada Mo Jingtian. Namun, mereka juga tidak bisa membantah Yanhong.
Akhirnya mereka yang masih hidup kembali ke dalam lubang iblis. Para penatua mengambil kesempatan itu untuk segera mundur.
Mo Jingtian mendongak ke atas dan melihat Qing Yue’er sudah selesai. “Sekarang!”
Qing Yue’er menjejakkan kakinya ke pusat segel, lalu mendorongnya dengan kuat. Pola segel itu langsung meluncur jatuh ke bawah. Itu dengan sempurna menutup lubang iblis tanpa celah.
“Tidak baik berada di tempat ini terlalu lama. Kita harus cepat pergi,” ucap Qing Yue’er yang merasa lelah. Ini sudah malam. Dia sudah menghabiskan seluruh kekuatannya, baik dantian maupun inti kekuatan rohnya.
“Benar. Ayo turun gunung terlebih dahulu.”
Mereka bersama-sama pergi meninggalkan puncak gunung. Jika gunung itu meledak, mereka mungkin akan mengalami lebih banyak kesulitan.
Qing Yue’er menggunakan sisa kekuatannya untuk menuruni puncak gunung dengan pedang terbang. Dia juga merasakan kelelahan Mo Jingtian. Pria itu sudah terlalu banyak menggunakan kekuatan jiwanya.
Dia memutuskan untuk berhenti di sebuah desa kecil yang ada di kaki gunung. Para penatua dan Zi Xian juga mengikutinya.
“Aku ingin bermalam di sini. Kalian bisa kembali ke rumah kalian,” ucap Qing Yue’er pada mereka.
Bai Xianfeng segera menggeleng. “Tidak. Kita semua kelelahan dan membutuhkan istirahat.”
__ADS_1
“Benar. Aku mengenal seseorang yang tinggal di sini. Mungkin kita bisa bermalam di sana,” ucap Zi Xian. Dia adalah gadis yang senang berpetualang. Tentu saja kenalannya ada begitu banyak.
“Terima kasih,” ucap Qing Yue’er dengan lirih. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan sakit. Tanpa sadar tangannya mencengkeram lengan Mo Jingtian.
Pada saat itu tubuhnya tiba-tiba melayang. Dia menjadi terkejut karena Mo Jingtian mengangkat tubuhnya dengan cepat.
“Jingtian ….”
“Kau sudah bekerja keras. Waktunya beristirahat,” bisik Mo Jingtiang sambil menatap wajah pucat gadis dalam gendongannya.
Qing Yue’er tidak bisa menahan senyumnya. Akhirnya dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Mo Jingtian. Tidak peduli dengan apa yang orang lain akan pikirkan.
Zi Xian berdeham melihat pasangan itu. “Baiklah. Sekarang silakan ikuti aku,” ujarnya sambil memimpin jalan.
Mereka bergerak menyusuri jalanan desa yang sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Sepertinya orang-orang di sini juga sudah melarikan diri dari para iblis.
“Haih, apa yang bisa diharapkan dari tempat ini? Ah, lupakan saja. Tempati rumah mana pun yang kalian mau!” ujar Zi Xian dengan santai. Tanpa merasa bersalah, dia mendobrak pintu rumah yang berada di sisi jalan dan masuk dengan bebas.
Para penatua di sana hanya bisa menggeleng. Seperti apa karakter Zi Xian, bagaimana mereka tidak tahu?
Bai Xianfeng menatap Mo Jingtian dan berkata, “Kau juga bisa melakukan itu.”
Tanpa mengatakan apa-apa Mo Jingtian berbalik lalu berjalan menuju rumah yang memiliki serambi luas. Dia menendang pintu kayu yang sudah reyot hingga terbuka, lalu segera masuk.
Tidak ada siapa pun di rumah itu. Perabotannya begitu sederhana dan kuno. Itu juga bukan rumah yang besar, tapi cukup untuk bermalam sementara.
“Yue’er ….” Dia menunduk dan menemukan gadis itu jatuh ke dalam kondisi trans. Antara tidur dan tenggelam dalam meditasi.
Dia tersenyum lalu dengan hati-hati membaringkan Qing Yue’er di atas bangku panjang. Perasaannya menjadi lega sekarang karena mereka sudah berhasil menutup seluruh lubang iblis dengan selamat.
“Tuan, apakah setelah ini kita akan kembali ke Celestial?” Vermillionnya tiba-tiba bertanya dari dalam dimensi.
“Ya. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di sana selama aku pergi.”
“Jangan khawatir. Ada banyak orang yang waspada di sana. Aku lebih khawatir denganmu. Apakah kau baik-baik saja, Tuan?”
__ADS_1
Mo Jingtian menghela napas. “Aku hanya merasa sedikit lelah. Berjaga-jagalah di luar. Aku perlu bermeditasi.”
“Baik.”