Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Pulang


__ADS_3

Qing Yue'er dan Mo Jingtian terus turun ke bawah hingga kaki mereka menginjak dasar jurang. Itu tanah yang terasa sangat normal. Tidak seaneh keadaan Jurang Iblis. Namun, tentu saja tempat itu begitu gelap hingga Qing Yue'er berinisiatif untuk menyalakan api roh.


Ketika api di tangan kiri Qing Yue'er menyala, keadaan jurang langsung terpampang dengan sempurna. Beberapa tanaman perdu yang tingginya hanya sekitar satu atau dua meter tampak tumbuh dengan baik. Ini cukup mengherankan mengingat di sana tidak ada cahaya matahari yang masuk.


“Luar biasa,” ucap Qing Yue'er dengan takjub.


“Mari kita tidak perlu berlama-lama. Ada sesuatu yang akan membantumu meningkatkan kekuatan lebih cepat.” Mo Jingtian berkata sambil berjalan memegang tangan Qing Yue'er.


Entah kenapa Qing Yue'er merasa kalau Mo Jingtian saat ini tidak terlihat santai. Seperti ingin cepat-cepat mendapatkan harta yang ada di sini(?)


Dengan sedikit heran dia bertanya, “Kenapa aku merasa kamu terburu-buru?”


“Apa aku terlihat seperti itu?” tanya Mo Jingtian, sedikit acuh tak acuh.


Qing Yue'er mengangkat kedua bahunya. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya mengikuti ke mana Mo Jingtian akan membawanya. Ini cukup mengherankan karena pada kenyataannya tidak ada sesuatu yang cukup membahayakan. Entah itu karena memang tidak ada bahaya atau keberadaan Mo Jingtian yang membuat bahaya itu tidak berani mendekat.


Setelah melangkah beberapa saat Qing Yue'er dapat melihat sebuah tempat yang mungkin lebih terlihat seperti sebuah singgasana. Singgasana itu terbuat dari batu berwarna abu-abu yang terlihat sangat cantik.


Kedua alis Qing Yue'er langsung terangkat. Dia tidak bisa mendeteksi jenis batu apa itu dan selama ini dia belum pernah melihatnya juga. Seperti yang Ying Jun katakan, itu mungkin memang warisan kuno sehingga batu itu sudah tidak ada di zaman sekarang ini.


Mo Jingtian tampak mendekati singgasana tersebut. Kemudian dia mengukir sesuatu di permukaan batunya. Tiba-tiba saja asap hijau menembak lurus ke depan bergerak ke arah Mo Jingtian. Tepat ketika asap hijau hampir menjangkau Mo Jingtian, sosoknya menjadi transparan dan asap hijau melewatinya begitu saja.


Sementara itu Qing Yue'er bergerak ke samping untuk menghindari asap hijau itu. Tentu saja gerakannya cepat karena asap hijau itu juga bergerak dengan cepat.


“Apa itu?” tanya Qing Yue'er ingin tahu.

__ADS_1


“Racun dari zaman kuno,” ucap Mo Jingtian.


Qing Yue'er mengangguk mengerti. Jadi, asap itu merupakan sesuatu untuk melindungi harta yang mungkin tersimpan di dalam singgasana. Akan tetapi, apakah hanya sebatas itu? Kenapa perlindungannya tidak begitu kuat?


Saat dia sedang berpikir dia melihat sebuah kotak yang tiba-tiba keluar dari dalam batu singgasana. Kotak itu bergerak naik ke atas hingga melayang di udara tepat di depan Mo Jingtian. Tanpa menunggu lama pria itu langsung mengambilnya.


Tepat setelah Mo Jingtian mengambil kotak tersebut, kabut hijau langsung keluar dari setiap sudut jurang. Qing Yue'er menjadi waspada. Ternyata racun kuno itu tidak hanya sebatas itu karena sekarang setiap sudut jurang mulai mengeluarkan kabut racun.


Tiba-tiba dia merasakan Mo Jingtian yang menariknya dan dengan gesit membawanya naik kembali untuk keluar dari jurang. Meskipun pergerakan racun cukup cepat tapi Mo Jingtian bahkan lebih cepat lagi.


Qing Yue'er tersenyum kecil. Sungguh tidak menyenangkan. Pergi bersama Mo Jingtian membuatnya tidak banyak melakukan sesuatu. Pria itu melakukan semuanya dengan baik hingga membuatnya tidak memiliki ruang untuk melakukan bantuan apa pun.


Ketika mereka naik kebetulan bertemu dengan orang-orang yang merasa penasaran dengan bunyi ledakan. Orang-orang itu lalu menatap rakus pada kotak yang ada di tangan Mo Jingtian. Melihat hal itu Qing Yue'er segera berkata, “Turun ke bawah. Masih banyak harta yang tersisa.”


“Benarkah?” Mata mereka langsung berbinar. Kemudian tanpa menunggu lagi mereka langsung berbondong-bondong turun ke dalam jurang.


Mo Jingtian tersenyum samar. Tangannya yang berada di pinggang Qing Yue'er semakin menariknya mendekat. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Tak selang lama mereka pun tiba di atas jurang. Saat ini hari sudah sedikit gelap, itu cukup menguntungkan bagi Qing Yue'er. Orang lain tidak akan mudah melihat mereka.


Mo Jingtian menyerahkan kotak itu pada Qing Yue'er lalu berkata, “Simpan ini dan gunakan dengan baik.”


“Kamu bahkan belum membukanya. Bagaimana kamu bisa tahu apa isinya? Bagaimana kalau ternyata persepsimu salah?” tanya Qing Yue'er.


“Apa kamu takut isinya ular berbisa?”

__ADS_1


Qing Yue'er terkekeh. “Sejak kapan kamu suka bercanda?”


“Aku tidak.” Mo Jingtian menggelengkan kepalanya.


Kemudian Qing Yue'er menerima kotak itu. “Aku akan membukanya nanti,” katanya sambil tersenyum. Tidak ada ucapan terima kasih, seperti yang sudah mereka janjikan dulu.


Qing Yue'er menyimpan kotak itu ke dalam dimensinya. Dia tidak akan membukanya sekarang. Butuh waktu yang tepat untuk membuka harta yang tidak biasa. Sehingga dia akan bisa memeriksanya dengan lebih teliti.


“Ayo pergi ke Linxiang,” ucap Mo Jingtian tiba-tiba.


Kepala Qing Yue'er yang sedikit tertunduk langsung terangkat menatap Mo Jingtian. Pria itu juga sedang menatapnya dengan lembut. Perasaan Qing Yue'er menjadi sedikit bergetar. “Linxiang ya?” gumamnya dengan tatapan menerawang.


Di wilayah kerajaan Linxiang-lah keluarga Bai tinggal. Semuanya berawal dari tempat itu. Ada sentimen tertentu jika mengingat tempat tersebut. Ya, di sana ada keluarga dan kerabatnya. Dia mungkin memang harus pergi ke sana.


“Aku tidak menyangka kamu akan mengajakku pulang ke tanah Linxiang,” ucap Qing Yue'er dengan senang.


“Kamu memang harus pulang sebelum benar-benar berangkat ke Celestial. Setelah itu pasti akan sulit untuk menemui mereka lagi,” ucap Mo Jingtian.


Qing Yue'er tersenyum. Kemudian dia melompat ke dalam pelukan Mo Jingtian. “Jingtian, aku sangat senang sekarang.”


Mo Jingtian tersenyum kecil melihat Qing Yue'er seperti ini. Dia membalas pelukan gadis itu dan berkata, “Aku senang jika kamu senang.”


“Kalau begitu ayo pergi sekarang,” ajak Qing Yue'er sambil menatap mata Mo Jingtian. Pria itu mengangguk dan mereka pun mulai bergerak menuju tanah kerajaan Linxiang yang tidak akan begitu jauh dari kota Nan Zheng.


Setelah Qing Yue'er tiba di kerajaan Linxiang nanti, mungkin dia akan terkejut dengan perubahan yang tidak terduga. Semuanya mungkin berbeda dengan apa yang dia bayangkan.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan vote ya.


__ADS_2