Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Xie Ying Fei Menghilang


__ADS_3

Qing Yue'er memulai perjalanannya. Dengan pedang di bawah kaki, dia meluncur meninggalkan istana Tianjun. Tubuhnya yang melesat cepat menciptakan cahaya yang samar. Orang lain mungkin bisa melihatnya.


Tujuannya adalah Puncak Awan Abadi. Dari namanya saja dia bisa menebak itu adalah puncak yang selalu diselimuti kabut awan. “Ying Jun, memangnya tempat apa itu? Apakah mungkin milik kelompok tertentu?” tanya Qing Yue'er.


Ying Jun langsung menjawab, “Ya. Itu adalah sebuah perguruan, tetapi sepertinya sedikit spesial. Bukan dibuka untuk umum.”


Hanya orang-orang tertentu. Itulah yang dipikirkan Qing Yue'er. Mungkin tidak seperti akademi atau sekolah yang sebelumnya pernah dia kunjungi. Lalu apa yang Mo Jingtian berikan pada ibunya? Apa tujuan pria itu?


“Kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita,” imbuh Ying Jun.


Qing Yue'er membelai dagunya sendiri. Dia semakin ingin segera sampai, tetapi perlu waktu cukup lama untuknya tiba di sana. Memang puncak itu berjarak jauh dari istana Tianjun. Bagaimanapun juga Celestial adalah tempat yang luas, lebih luas dari benua Tongxuan.


Dengan kekuatan level 8 alam surgawi, kecepatan Qing Yue'er benar-benar menjadi sangat menakjubkan. Tidak bisa dibayangkan jika seseorang memasuki roh perak. Mungkin dia hanya perlu mengedipkan mata, seperti bagaimana jika Mo Jingtian menghilang.


Saat ini hari sudah sore. Ketika pagi ini meninggalkan klan Xie, Qing Yue'er sempat ditahan oleh kakeknya. Namun pria tua itu tidak bisa berbuat banyak hal. Orang tua itu hanya belum cukup puas menghabiskan waktu bersamanya.


Qing Yue'er menoleh ke belakang. Yang dia lihat hanyalah gumpalan awan putih yang sudah dilewatinya. Menara istana Tianjun yang tinggi sudah tidak terlihat lagi. Kemudian Qing Yue'er memutar kepalanya dan kembali menatap ke depan. Apakah ibunya sudah sampai? Itulah yang dia pikirkan.


Kekuatan Qing Yue'er sekarang lebih tinggi dari Xie Ying Fei. Meskipun ibunya sudah berangkat lebih dulu tetapi dia mungkin masih bisa mengejar dengan kecepatannya yang sekarang.


Sudah sejak tadi Qing Yue'er memasang kekuatan rohnya untuk mendeteksi jejak ibunya. Mo Jingtian menyuruhnya untuk mendampingi wanita itu, pasti ada maksud tertentu. Sepertinya pria itu ingin dia melindungi ibunya.

__ADS_1


Sekarang dia sedang mengikuti jejak ibunya yang berupa aura samar. Ada banyak wilayah berbeda yang dilewatinya dan ketika dia tiba di atas hutan lebat, tiba-tiba aura ibunya mulai memudar. Qing Yue'er mengerutkan keningnya heran. Dia mencoba menyebarkan kekuatan rohnya lebih luas lagi. Namun hasilnya nihil.


“Ying Jun, apa mungkin ibuku sengaja menghaous auranya?” tanya Qing Yue'er yang mencoba berpikir positif.


“Tidak ada yang tahu, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”


Pertanyaan Ying Jun membuat Qing Yue'er merasa gelisah. Jika dia terus maju ke depan apakah dia bisa menemukan ibunya? Dia menunduk ke bawah untuk memperhatikan keadaan hutan.


“Aku akan mencoba turun ke bawah,” ucapnya.


“Hah. Tunggu!” Ying Jun mencoba menahan Qing Yue'er. “Ini bukan hutan sembarangan. Kita tidak bisa masuk begitu saja.”


“Hutan apa itu?” tanya Qing Yue'er.


Qing Yue'er menahan napasnya. “Mayat hidup?”


Diam-diam Ying Jun mengangguk. “Itu adalah salah satu dari ras yang ada di dunia ini. Jumlahnya sangat sedikit, tapi kau harus tahu itu sangat berbahaya. Dia sedikit sulit dihadapi.”


“Aku tidak akan masuk,” kata Qing Yue'er. “Aku akan melihat di luar hutan. Jika tidak ada tanda-tanda keberadaan ibuku maka aki tidak akan masuk.”


“Emm. Itu baik-baik saja.” Ying Jun mengangguk setuju.

__ADS_1


Akhirnya Qing Yue'er segera meluncur turun ke bawah. Hanya dalam sekejap dia sudah sampai di luar hutan. Udaranya terasa sedikit lebih dingin dan ada bau kematian yang bisa dirasakan oleh siapa pun, termasuk Qing Yue'er.


Tidak ada suara lolongan binatang buas, tidak ada geraman atau cicitan tikus. Bahkan suara angin pun tidak bisa didengar, sepertinya angin pun enggan mengunjungi hutan itu. Semuanya benar-benar terasa sangat mati. Hanya berdiri di luar saja Qing Yue'er sudah merasa merinding.


“Benar-benar ada tempat seperti ini,” gumamnya.


“Tentu saja ada dan ini belum seberapa,” ucap Ying Jun.


Qing Yue'er tidak menanggapi. Dia mengedarkan kekuatan rohnya mencari jejak ibunya. Dia tidak menemukannya, tetapi ada hal yang menarik perhatiannya. Sebuah jepit rambut yang terbuat dari giok cantik tergeletak di antara rerumputan. Ketika melihat itu, perasaan Qing Yue'er menjadi tidak nyaman.


“Bukankah ini milik ibuku?” Entah kepada siapa Qing Yue'er bertanya. Dia langsung merasa khawatir. Apalagi ada jejak darah pada jepit rambut itu. Mungkinkah seseorang mencoba mencelakai ibunya?


“Aku harus masuk ke dalam,” ucap Qing Yue'er.


“Tidak mungkin!” Ying Jun segera berteriak.


Qing Yue'er mengembuskan napas panjang. Tidak mungkin aura ibunya akan menghilang begitu saja. Dan lagi, tidak mungkin japit rambut ibunya ada di sana tanpa alasan. Dia takut ada seseorang yang mencoba mencelakai ibunya dan membawa masuk secara paksa ke dalam hutan itu.


“Ying Jun, aku akan memeriksanya ke dalam. Itu tidak akan lama. Jadi jangan khawatir, lagi pula kau bisa menolongku,” ucap Qing Yue'er dengan yakin.


Ying Jun mendengus. “Aku tidak berpikir seperti itu.” Sebenarnya dia berpikir jika ini mungkin tidak sesederhana kelihatannya. Memangnya siapa yang ingin mencelakai Xie Ying Fei? Klan Liu sudah musnah, lalu klan lain? Kalaupun iya mereka pasti tidak akan berani masuk ke dalam hutan. Klan-klan itu kebanyakan berisi orang-orang lemah.

__ADS_1


Meskipun begitu Ying Jun tidak mengatakannya. Ini hanya asumsinya saja yang belum tentu benar. “Kau harus berhati-hati,” ucap Ying Jun pada akhirnya.


Qing Yue'er mengangguk dengan serius. Kali ini dia mungkin akan masuk ke dalam sarang mayat hidup. Namun dia tidak begitu takut. Lagi pula bukan sekali dua kali dia pergi menentang bahaya. Dengan gerakan cepat, akhirnya dia melompat dan masuk ke dalam hutan.


__ADS_2