
Qing Yue’er dan orang-orang yang saat itu ada di paviliun taman bergegas pergi untuk melihat Xie Yingfei. Wanita itu berada di lantai tujuh menara, jadi mereka pun segera naik ke sana.
Sesampainya di lantai tujuh, mereka langsung dibuat terkejut dengan kondisi Xie Yingfei yang aneh. Dia menjerit dan berteriak sambil memegangi kepalanya. Penampilannya benar-benar berantakan.
“Apa yang salah?”
Dengan cepat Qing Yue’er mendekati ibunya. Namun, wanita itu segera mundur dan berteriak, “Jangan mendekat! Jangan mendekat!”
Itu hanya membuat mereka semakin cemas. Asap hitam menyelimuti tubuh Xie Yingfei. Matanya tampak memerah dan dia menahan kesakitan hingga urat-urat di lehernya menegang.
Qing Yue’er tidak mengerti dengan situasi itu. Dia segera bertanya pada pria di sebelahnya, “Jingtian, apa yang sebenarnya terjadi?”
Mo Jingtian mengerutkan kening. Dia mengamati Xie Yingfei dengan intens. “Ini pekerjaan shaman.”
“Shaman?” Mereka menjadi bingung.
Tiba-tiba Xie Yingfei berteriak, “Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!”
Wanita itu membungkuk dan jatuh kesakitan. “Aku tidak tahu di mana kipas itu!”
Qing Yue’er langsung terkejut. Kipas? Perasaannya menjadi tidak tenang. Mungkinkah seorang shaman telah menyerang ibunya dari jarak jauh untuk mencari tahu di mana kipas Shen Feng milik ayahnya?
Ini tidak bisa dibiarkan!
Dengan cepat dia berlari memeluk ibunya. Telapak tangannya yang diselimuti dengan energi spiritual ditempelkan di punggung wanita itu. Dia mencoba mengusir energi hitam yang menyelimuti tubuh ibunya.
Namun, kekuatan dorong yang kuat tiba-tiba memukulnya hingga tubuhnya terlempar jauh. Dia hampir menghantam dinding jika Mo Jingtian tidak segera menahannya. Rasa sesak langsung memenuhi dadanya hingga dia meludahkan seteguk darah.
Mo Jingtian segera membantunya berdiri. Sementara Xie Song menjadi lebih cemas. Jika Qing Yue’er yang bahkan sudah berada di level 2 roh perak tidak bisa membantu Xie Yingfei, lalu apa yang bisa mereka lakukan?
“Tuan Mo, bagaimana ini?”
“Tidak bisa menggunakan energi spiritual biasa.” Mo Jingtian menggeleng pelan. “Yue’er, gunakan kekuatan rohmu. Aku akan membantu dengan kekuatan jiwa,” ujarnya dengan serius.
“Baik.”
Qing Yue’er dengan cepat kembali mendekati ibunya. Kedua tangannya bergerak membentuk segel tangan. Bersamaan dengan itu, Mo Jingtian juga melakukan hal yang sama.
Cahaya emas dan ungu bergerak menyelimuti tubuh Xie Yingfei yang masih terlihat begitu tersiksa. Teriakan dan jeritan wanita itu menjadi semakin keras.
“Tidak, tidak! Berhentiiii …!”
“Bahkan jika kau membunuhku … aku tidak akan mengatakannya!”
__ADS_1
“Aaarrgghh!”
Xie Song mendesah dengan cemas. Dia meremas tangannya sendiri sambil mengamati mereka. Yuan Dawei dan Yuan Yichuan juga hanya diam di belakang. Mereka tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini.
Qing Yue’er terus mengerahkan kekuatan rohnya tanpa peduli dengan teriakan ibunya. Dia bisa merasakan energi gelap yang mencoba menyerang roh dan jiwa wanita itu. Jadi itulah kenapa Mo Jingtian membutuhkan kekuatan rohnya untuk mengusir itu.
Beberapa saat kemudian teriakan Xie Yingfei mulai berkurang dan berhenti. Dia memuntahkan darah beberapa kali dan menangis dengan begitu pilu.
“Jangan … jangan lukai Qing Yexuan,” ucap wanita itu dengan takut. Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Jangan sakiti suamiku!”
Qing Yue’er sedikit terganggu dengan itu. Hatinya menjadi semakin cemas. Apakah orang di sana akan mencelakai ayahnya?
“Jangan pedulikan itu. Terus gunakan kekuatan rohmu!” Mo Jingtian memperingatkan. Akhirnya Qing Yue’er mencoba untuk tetap fokus.
Kemudian Mo Jingtian menggambar lima pola formasi emas secara terpisah. Aura kedewaan menyelimuti formasi-formasi itu yang kemudian bergerak berputar mengelilingi Xie Yingfei.
Pria itu menggumamkan mantra kedewaan lalu formasi-formasi itu bersinar dengan terang. Xie Yingfei menjerit sekali lagi sebelum akhirnya jatuh pingsan. Kabut hitam pun menguap begitu saja dari tubuhnya.
Formasi emas Mo Jingtian ikut lenyap setelahnya. Qing Yue’er akhirnya menghela napas panjang lalu memutus kekuatan rohnya. Tubuhnya sedikit limbung bersamaan dengan kepalanya yang pusing.
Mo Jingtian segera memapahnya. “Tidak apa-apa. Ibumu akan baik-baik saja.”
Qing Yue’er mengangguk pelan. “Terima kasih.”
“Bagaimana? Apa yang terjadi pada kakak?” Xie Wuqing bertanya dengan khawatir pada ayahnya.
“Ayo bawa dia dulu ke kamar,” Xie Song berkata sambil memapah putrinya. Xie Wuqing pun dengan cepat membantunya.
Sementara itu, Qing Yue’er sudah merasa lebih baik. Rasa pusingnya berkurang. Dia berjalan mendekati Yuan Dawei sambil digandeng oleh Mo Jingtian.
“Tuan Yuan, maaf kau harus melihat situasi yang tidak menyenangkan ini,” ucapnya dengan nada menyesal.
“Tidak perlu meminta maaf. Ini sungguh sesuatu yang tidak terduga. Aku bahkan baru pernah melihat serangan semacam ini,” ucap pria itu dengan serius. Ada banyak pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya.
Qing Yue’er mengangguk. “Aku juga baru melihatnya. Jingtian, apa shaman itu? Kenapa kemampuannya sepertinya mengerikan?”
Mo Jingtian menghela napas lalu menjelaskan, “Shaman atau dukun agung memiliki akses ke dunia roh. Mereka bisa menggunakan roh-roh jahat maupun baik untuk tujuan-tujuan tertentu. Biasanya mereka melakukannya dengan ritual-ritual khusus.”
“Selain itu, mereka juga bisa meramal dan menyembuhkan. Kemampuannya bekerja seperti sihir. Itulah kenapa shaman bisa melakukan serangan dalam jarak yang jauh. Sejujurnya eksistensi seperti ini sangat jarang ditemukan,” lanjutnya.
Mereka yang mendengar itu menjadi terkejut, terutama Qing Yue’er. Bukankah itu terlalu menakutkan? Dia tidak menyangka akan bersinggungan dengan seorang shaman. Ini pasti ulah Baili Linwu.
“Ini benar-benar berbahaya. Bagaimana jika mereka menyerang ibuku lagi?”
__ADS_1
“Sulit untuk mencegahnya. Namun, aku akan mencoba mengatur beberapa perlindungan nanti.”
Qing Yue’er mengangguk pelan. Dia beralih menatap Yuan Xin’er, lalu mengangkat tangannya. Kekuatan rohnya yang berwarna ungu menggumpal dan dipadatkan menjadi bentuk busur panah kecil.
“Nona Yuan, hari ini mungkin kita tidak bisa membandingkan kekuatan roh. Namun, aku ingin memberitahumu di mana tingkatku,” ucapnya. Kemudian busur panah ungu itu berubah menjadi galaksi kecil yang sangat indah.
“Jika kau masih ingin melakukannya, kita bisa mencobanya lain waktu,” lanjutnya.
Yuan Xin’er tidak bisa berkata-kata setelah melihat itu. Dia terkejut melihat kekuatan roh Qing Yue’er yang berada di level ungu. Itu membuatnya merasa malu.
“Tidak diperlukan lagi. Aku jelas tertinggal di belakangmu,” ucapnya dengan lirih. “Tapi aku memiliki sedikit kebingungan dengan beberapa formasi. Mungkin aku akan meminta petunjuk darimu di lain waktu.”
Qing Yue’er tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Yuan Dawei akhirnya meminta izin untuk pamit. Dia tidak ingin mereka mengganggu Qing Yue’er atau yang lainnya lagi karena saat ini situasinya tidak begitu baik mengenai Xie Yingfei.
“Sampaikan pada kakekmu, aku akan kembali lagi lain kali. Semoga ibumu baik-baik saja.”
“Terima kasih, Tuan Yuan,” jawab Qing Yue’er dengan sopan.
“Nona Qing ….” Yuan Xin’er tampak sedikit ragu. “Tolong ucapkan terima kasihku pada Tuan Muda Xie. Aku akan menunggunya datang ke kediaman.”
Qing Yue’er tersenyum. “Akan kukatakan kepadanya. Dia pasti senang.”
Yuan Xin’er tersenyum malu. Kemudian mereka pun mengucapkan selamat tinggal. Qing Yue’er meminta seorang bawahan untuk mengantar mereka sampai ke depan.
Sementara itu, di tengah-tengah hutan lebat, seorang pria dengan pakaian cokelat yang aneh terdorong beberapa kali ke belakang. Kalung yang dirangkai dengan tulang-tulang binatang terguncang di lehernya.
Wajahnya yang kecokelatan dan dipenuhi dengan goresan warna hitam itu tampak menakutkan. Dia memakai hiasan kepala dengan bulu-bulu burung yang panjang dan tanduk rusa yang bercabang.
Tangan kanannya memegang tongkat yang diatasnya dihiasi dengan tengkorak manusia. Dia menggeram lalu dengan marah menghentakkan tongkat itu ke tanah. Suara jeritan binatang-binatang langsung terdengar dari seluruh hutan.
“Bagaimana? Itu tidak berhasil?” Seorang pria bertanya dari samping. Dia memakai jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Bahkan wajahnya pun disembunyikan.
“Ada yang melindunginya. Seseorang dengan kekuatan jiwa dan kekuatan roh yang kuat. Aku bisa merasakan aura kedewaan juga. Selama mereka masih ada di sekitar, akan sulit untuk menyerang wanita itu.”
Pria berjubah hitam itu mendengkus dingin. “Itu pasti Mo Jingtian.”
“Aku bisa mencobanya lagi.”
“Tidak sekarang, Shaman Agung. Tunggu aba-aba dariku.”
Pria berpenampilan aneh yang dipanggil Shaman Agung itu langsung mengangguk. “Jangan ragu datang mengunjungiku, Yan Diyu. Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk membantumu, maka aku akan melakukannya.”
Yan Diyu yang tak lain adalah Baili Linwu itu tertawa keras. Tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan berjalan pergi dengan tawa yang menggema di seluruh hutan.
__ADS_1