
Xie Yingfei menemui Qing Yue’er segera setelah mendapatkan kabar kepulihannya. Dia tersenyum sambil membawa semangkuk tonik yang bisa menambah vitalitas tubuh seseorang.
“Yue’er, kau pergi begitu lama dan kembali dalam kondisi terluka. Aku sungguh mencemaskanmu,” ucap wanita itu sambil duduk di tepi tempat tidur. Dia meniup sesendok ramuan panas sebelum akhirnya menyodorkannya pada putrinya.
Qing Yue’er tersenyum lalu menerima suapan obat itu. Dia memeluk ibunya, menyandarkan kepalanya di pundaknya. “Maafkan aku, Ibu. Kepergianku ke Benua Tongxuan sungguh mendadak.”
“Baguslah kau bisa kembali dengan selamat.” Xie Yingfei kembali menyuapi putrinya dengan penuh kasih sayang. Kemudian dia menyentuh alis gadis itu yang mengingatkannya pada Qing Yexuan.
“Situasi di Celestial juga tidak begitu baik. Kau harus berhati-hati,” ucapnya dengan lembut.
“Aku mengerti, Ibu.” Qing Yue’er tersenyum tipis. Dia tiba-tiba teringat dengan satu hal, mengenai pernikahannya dengan Mo Jingtian. Haruskah dia memberi tahu ibunya?
Seolah mengerti keraguan putrinya, Xie Yingfei pun bertanya, “Ada apa?”
Qing Yue’er menggigit bibirnya dengan ragu. Dulu ibunya begitu menentangnya memiliki hubungan khusus dengan seorang pria. Jika dia mengatakan ingin menikah dengan Mo Jingtian, wanita itu pasti akan marah.
“Yue’er?”
“Uhm, itu ….” Qing Yue’er berdeham. “Ibu, bagaimana menurutmu dengan usiaku sekarang?”
Xie Yingfei mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”
Qing Yue’er menunduk. “Aku sudah cukup lama mengenal Mo Jingtian,” ucapnya dengan lirih.
“Yue’er, katakan dengan jelas.”
Perasaan Qing Yue’er sedikit tidak nyaman. Dia takut apa yang dia katakan akan membawa perselisihan untuk mereka lagi. Dia tidak ingin hubungannya dengan ibunya menjadi buruk.
Xie Yingfei tersenyum melihat keraguan Qing Yue’er. Dia memegang tangan gadis itu dengan lembut. “Kau sudah dewasa. Jika kau ingin mengambil langkah dalam hidupmu, kau bisa melakukannya.”
Qing Yue’er langsung menatap ibunya dengan tidak percaya. “Bagaimana jika aku ingin menikah?”
Senyum di bibir Xie Yingfei tidak luntur. Wanita itu membelai kepala putrinya dengan lembut. “Aku tidak akan menghalangimu. Dulu aku juga keras kepala menikahi Yexuan, dan aku tahu bagaimana perasaanku saat itu.”
Dia menggenggam tangan Qing Yue’er dan menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Tapi kau harus tahu, setiap langkah yang kau ambil pasti memiliki risiko. Entah kau akan berakhir bersamanya atau justru kehilangannya, apakah kau merasa siap?”
Qing Yue’er menggeleng. “Aku tidak siap. Aku pasti tidak akan siap kehilangannya. Dan dia pasti tidak akan siap kehilanganku. Tapi aku masih harus melakukannya, Ibu. Aku harus.”
“Ada apa?” Xie Yingfei menatap gadis itu dengan bingung. “Apa yang mendesakmu seperti ini?”
Tiba-tiba Qing Yue’er memiliki dorongan untuk menangis dan mencurahkan segalanya, tapi dia menahannya. Alih-alih menangis, dia justru tersenyum. “Ini sangat penting. Hanya dengan menikahiku kekuatan Mo Jingtian akan kembali. Apa Ibu percaya?”
Xie Yingfei mengerutkan kening. Dia mengangguk dengan pelan. “Kalau begitu menikahlah. Menikahlah dan hiduplah dengan bahagia.”
Qing Yue’er menatap ibunya dengan sendu. Seandainya wanita itu tahu bahwa pernikahan itu akan mempertaruhkan nyawanya, apakah dia masih akan setuju?
“Terima kasih, Ibu.”
Xie Yingfei tersenyum. “Habiskan obatnya. Meskipun kau sudah sembuh, tubuhmu pasti masih lemah. Kau harus beristirahat.”
__ADS_1
“Tidak. Aku ingin menemuinya,” ucap Qing Yue’er yang kemudian turun dari tempat tidur. Dia meminum semua tonik dari ibunya lalu bergegas keluar kamar.
“Anak ini ….” Xie Yingfei terkekeh. Dia pun membawa mangkuk kosong itu keluar.
Qing Yue’er pergi ke menara istana Tianjun. Di sepanjang jalan ada banyak pelayan yang langsung menyapanya dengan hangat. Dia tersenyum pada mereka dengan hati riang. Hari ini dia sudah mendapatkan restu dari ibunya. Tentu saja suasana hatinya menjadi sangat bagus.
“Selamat datang kembali, Nona Muda!” seru dua orang pria muda yang berjaga di pintu menara.
Qing Yue’er tersenyum manis pada mereka hingga wajah mereka memerah malu. Dia terkekeh. “Apa kalian tahu di mana Mo Jingtian? Pria tampan berambut putih itu.”
“Ah, Tuan Mo ada di lantai teratas.”
“Terima kasih.”
Dengan cepat Qing Yue’er naik ke lantai teratas menara. Dia membuka pintu yang tertutup, lalu segera melihat Mo Jingtian yang sedang bermeditasi di lantai.
Penampilan pria itu tampak sedikit berbeda. Dia tidak memakai jubah merah seperti biasanya, melainkan jubah putih yang sederhana.
Kedua mata Qing Yue’er langsung berbinar. Jubah putih itu membuat Mo Jingtian tidak terlihat mencolok. Dia seperti seorang abadi berhati bersih yang jauh dari konflik dunia.
Tepat di belakang pria itu ada patung kedewaannya. Dulu ketika Xie Song ingin menunjukkan patung dewa di ruangan ini, patung itu sudah diledakkan oleh Mo Jingtian. Hari ini akhirnya Qing Yue’er bisa melihatnya setelah kakeknya membuat patung yang baru.
Hatinya bergetar. Patung itu begitu agung dan selaras dengan Mo Jingtian yang menutup mata dengan tenang. Wajah yang sama, topeng yang sama, postur tubuh yang sama.
Qing Yue’er tersenyum menyeringai. Diam-diam dia mendekati patung itu lalu mengambil selembar kertas kuning yang disimpan di dekatnya. Dia membakar kertas itu dan berbisik, “Aku ingin menikah. Bisakah kau membantuku?”
Kertas itu mengeluarkan untaian cahaya emas yang samar. Cahaya emas itu terbang ke arah Mo Jingtian. Kedua mata yang tertutup itu langsung terbuka. Pria itu menatap untaian cahaya emas di depannya.
“….”
Qing Yue’er dengan cemberut kembali membakar kertas kuning. Dia berbisik lirih, “Kekasihku begitu kejam sehingga tidak mau menikahiku. Kalau begitu tolong biarkan dia mengubah keteguhan hatinya.”
Mo Jingtian menatapnya dengan datar. Dia langsung menolak cahaya emas yang mendekatinya. Tangannya dikibaskan dan cahaya emas itu dibubarkan begitu saja.
Ini membuat Qing Yue’er mendecakkan lidahnya. Kedua tangannya berkacak pinggang. Dia menatap patung di depannya lalu mengomel, “Kau sungguh tidak berguna! Untuk apa kakekku memelihara patung sebesar ini di sini jika tidak bisa memberiku manfaat? Bahkan kau tidak bisa mengabulkan permintaan-permintaanku!”
Ying Jun tertawa keras di dalam dimensinya. “Nona, jika orang lain melihatmu, mereka akan mengutukmu karena tidak hormat kepada dewa.”
Qing Yue’er mendengkus. Dia melirik Mo Jingtian dengan sebal. “Dewa apa? Dia hanya pria bodoh yang keras kepala.”
“Apa?” Mo Jingtian mengangkat sudut alisnya. Dia berdiri lalu berjalan mendekati Qing Yue’er. Sorot matanya tampak sedikit dingin. “Apa kau baru saja menyebutku bodoh?”
“Ya!” Qing Yue’er mengakuinya dengan keras. “Bukankah itu benar? Aku tidak diragukan lagi adalah gadis unggulan. Aku tidak jelek, aku juga cukup kuat. Keluargaku orang-orang hebat dan kaya. Siapa yang mau menolakku? Hanya orang bodoh,” ucapnya dengan nada mengejek.
Mo Jingtian mengepalkan tangannya. Dia menutup matanya sebentar. “Kau baru bangun. Kenapa tidak beristirahat dan malah berjalan-jalan ke sini?”
Qing Yue’er menjadi semakin jengkel melihat ketenangan pria itu. “Tentu saja aku ingin menemuimu! Apa kau tidak merindukanku? Atau … mungkinkah kau sudah tidak menyukaiku lagi karena aku mendesakmu menikahiku?”
Pria itu menatapnya dengan datar tanpa mengatakan apa-apa. Qing Yue’er lalu tersenyum manis. Dia memeluk lengan pria itu dengan manja.
__ADS_1
“Jingtian, ibuku sudah mengizinkanku menikah. Jadi, kapan kau akan menikahiku?”
“….”
Mo Jingtian tidak tahu harus mengatakan apa. Tiba-tiba dia lebih menyukai Qing Yue’er yang dingin dan tidak berperasaan, daripada Qing Yue’er yang menunjukkan senyum manis untuk membujuknya menikah.
“Jingtian—”
“Mm, kurasa aku masih memiliki urusan lain.” Mo Jingtian melepaskan diri dari Qing Yue’er lalu berjalan cepat keluar dari ruangan itu.
Qing Yue’er mendengkus lalu menyeringai. Pria itu tidak akan bisa menghindarinya. Dia dengan cepat mengikutinya menuruni tangga. “Jingtian, kenapa kau meninggalkanku begitu saja?!”
Langkah kaki Mo Jingtian menjadi semakin cepat. Pria itu menunduk dengan tegang. Qing Yue’er tersenyum di belakangnya. “Jingtian, apa kau ingin membiarkan cucu pemimpin istana Tianjun ini merendahkan mertabatnya dengan terus mengejarmu seperti ini?!”
“….”
“Jingtian!”
Mo Jingtian terus menuruni menara, melarikan diri dari Qing Yue’er yang terus mengejarnya. Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang memerhatikannya dan berbisik-bisik membicarakannya.
Apakah Qing Yue’er begitu ingin menikah sampai tidak peduli dengan reputasinya? Ini membuat Mo Jingtian heran. Jika orang luar tahu tentang ini, mereka pasti akan mengolok-olok gadis itu.
“Jingtian, kenapa kau harus melarikan diri dari kekasihmu? Aku tidak akan memakanmu atau apa,” kata Qing Yue’er sambil menahan kekehannya. Bagaimana pria itu bisa begitu konyol? Apa dia begitu takut akan didesak menikah?
“Yue’er, berhentilah mengejarku. Aku masih memiliki urusan dan kau harus kembali beristirahat!” perintah Mo Jingtian tanpa keramahan. Jika kekuatannya masih ada, dia pasti sudah lama melarikan diri dan bersembunyi darinya.
“Kalau begitu antarkan aku ke kamar! Aku merindukanmu, Jingtian. Aku ingin tidur di pelukanmu!”
Mo Jingtian yang mendengar itu langsung menggertakkan giginya. Dia bahkan bisa mendengar suara cekikikan dari para pelayan yang mendengar kata-kata Qing Yue’er. Apakah gadis itu sengaja melakukannya?
“Jingtian, atau jika kau tidak mau pergi ke kamarku, aku yang akan pergi ke kamarmu. Jangan khawatir, ibuku sudah merestui pernikahan kita. Dia tidak akan mengomel dengan ini!”
Ekspresi Mo Jingtian menjadi semakin gelap. Dia menghentikan langkahnya di ujung tangga lalu berbalik menghadap Qing Yue’er yang berjarak beberapa tingkat darinya. “Kapan aku mengatakan kita akan menikah?”
“Itu, baru saja,” jawab Qing Yue’er sambil tersenyum. Benar-benar gadis tak tahu malu!
Mo Jingtian menatapnya dengan tajam. “Yue’er, jangan konyol. Sampai Baili Linwu belum dikalahkan, kita tidak akan pernah—”
Sebelum Mo Jingtian menyelesaikan kalimatnya, Qing Yue’er berpura-pura tergelincir dari tangga. Dia jatuh dan berteriak keras. Pria itu dengan khawatir segera menangkap tubuhnya dengan menahan pinggang rampingnya.
Qing Yue’er tidak melewatkan kesempatan itu. Dia dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Mo Jingtian. “Aku tahu kau memang begitu memedulikanku dan mencintaiku.”
Dia menyeringai, lalu dengan cepat mencium bibir pria itu. Cup!
“….”
“Qing Yue’er!” Mo Jingtian menahan geramannya. Dia menoleh ke sekitar dan melihat ada banyak anggota istana yang melihat mereka. Gadis-gadis muda yang menyaksikan adegan ini tampak tersipu malu.
Wajah Mo Jingtian mejadi merah menahan malu sekaligus marah. Dia mencoba melepaskan tangan Qing Yue’er di lehernya. Namun, gadis itu menjadi seperti lintah yang ingin terus melekat di tubuhnya. Bahkan dengan tak tahu malunya dia menyandarkan kepala di dadanya.
__ADS_1
Sakit kepala parah tiba-tiba menyerang Mo Jingtian. Dia tidak tahu bahwa setelah ini hidupnya tidak akan berhenti diganggu oleh Qing Yue’er kecuali keinginannya dikabulkan.