Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Kediaman untuk Sang Legenda


__ADS_3

“Penatua Dongfang, bukankah kata-katamu terdengar tidak begitu bagus di telinga?” Qi Rong bertanya dengan tidak senang. Sebagai sahabat Qing Yue’er, dia tidak ingin kekasih gadis itu diremehkan di depan begitu banyak orang.


“Aku hanya menyampaikan apa yang harus aku sampaikan. Segel ini pasti akan sangat penting. Bagaimana jika terjadi sebuah kesalahan?” Dongfang Gu membalas dengan ekspresi muram. Dia sebenarnya merasa kecewa karena Qing Yue’er memiliki pasangan yang terlihat lemah seperti Mo Jingtian. Apakah gadis itu terlalu dibutakan oleh hatinya?


Penilaiannya terhadap Qing Yue’er akhirnya mengalami perubahan. Sama seperti Chi Yuntian. Mereka berdua mulai berpikir kalau para penatua di sana terlalu mengagung-agungkan gadis itu. Pada akhirnya seorang wanita tetaplah makhluk yang lemah. Mereka akan tunduk pada perasaan cinta semata, tidak peduli seberapa lemahnya kekasih mereka.


Qing Yue’er mendengkus dingin. Dia secara alami bisa mengerti apa yang kedua pria tua itu pikirkan. Itu membuatnya merasa tidak senang.


“Bahkan jika saat ini kultivasi Mo Jingtian bermasalah, atau bahkan jika dia mengalami kelumpuhan, kalian masih tidak layak untuk menyeka sepatunya,” ucapnya dengan datar. Mereka pikir mereka siapa?


Para penatua yang mendengar itu menjadi sedikit terkejut. Kata-katanya terdengar acuh tak acuh dan penuh arogansi. Namun, dengan tingkat kekuatannya yang sekarang, dia layak bersikap seperti itu.


Ini mengingatkan mereka pada bagaimana Qing Yue’er di masa lalu. Gadis itu telah membunuh banyak orang dan bahkan meruntuhkan akademi ini, meskipun dengan cara yang tidak sengaja. Bagaimanapun juga, dia benar-benar gadis yang kejam dan tidak ragu untuk membunuh.


Gu Xingren, penatua yang dulu pernah menginginkan naga milik Qing Yue’er tapi ketakutan setelah diancam, segera menegur Dongfang Gu dan Chi Yuntian, “Jangan membuat keributan untuk masalah ini! Mereka pasti tahu lebih banyak daripada kita.”


Peng Liang mengangguk setuju. “Benar. Kalian seharusnya senang karena Xinyu dan Tuan Mo mau datang ke benua Tongxuan dan membantu kita.”


Chi Yuntian dan Dongfang Gu hanya menunduk. Mereka hanya bisa mencibir dalam hati karena tidak ada orang yang memihak mereka.


Mo Jingtian tersenyum malas di tempat duduknya. Dia menarik Qing Yuer lebih dekat. Tangannya memeluk pinggang gadis itu dengan intim. Tindakannya langsung membuat gadis itu menoleh. 


“Kapan ini selesai? Aku tidak sabar untuk mengobrol denganmu,” ucap Mo Jingtian dengan santai. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh orang-orang itu.


Qing Yue’er menarik sudut bibirnya dengan datar. Ini bukan waktunya untuk sebuah keintiman. Dia sebenarnya tidak ingin melepaskan kedua penatua itu, tapi sepertinya Mo Jingtian malas berurusan dengan mereka.


Akhirnya dia hanya bisa menghela napas. “Tunggu sebentar lagi.”


Kepala akademi terbatuk. “Xinyu, Tuan Mo, tentang penyegelan itu kami akan menyerahkannya pada kalian. Mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan.”


“Masalah sepele. Ketidaktahuan memang menciptakan kebodohan,” ucap Mo Jingtian dengan acuh tak acuh.


Niu Longhao berdeham dan tersenyum dengan canggung. “Baiklah. Kalian pasti membutuhkan tempat tinggal. Biarkan Qi Rong pergi mengantar kalian.”

__ADS_1


Qing Yue’er akhirnya bangkit. Dia dan Mo Jingtian segera meninggalkan aula itu bersama Qi Rong. Sementara Mo Tianyu masih duduk di sana untuk berbicara banyak hal dengan Han Qiong.


Qi Rong mengantarkan pasangan itu ke sebuah kediaman besar yang berada di sisi barat akademi. Ada gerbang khusus yang memisahkannya dari keramaian akademi. Orang luar tidak akan bisa melihat dengan jelas bagaimana situasi di dalamnya.


Ketika mereka melewati gerbang, suasananya langsung berubah. Itu seperti mereka telah memasuki tempat yang sama sekali berbeda. Udaranya begitu tenang dan seolah terpisah dari kehidupan duniawi.


Halaman di sana cukup luas. Banyak pohon-pohon persik yang tumbuh, meskipun sekarang tidak sedang berbunga. Bangunan kediamannya dicat dengan warna putih. Ada banyak ukiran naga dan phoenix yang terlihat begitu anggun dan elegan.


Qing Yue’er tersenyum lebar. Dia menyukai tempat itu, terutama karena suasananya yang tenang dan damai. Energi spiritual di sana juga lebih padat jika dibandingkan dengan bagian lain akademi. Ini membuatnya heran.


“Terakhir kali aku di sini, aku tidak melihat ada bangunan seperti ini.”


Qi Rong tertawa. “Itu karena mereka membangun tempat ini setelah kau pergi. Mereka percaya suatu saat nanti kau pasti akan datang. Dan jika itu terjadi, ini akan menjadi tempat tinggalmu di sini.”


Qing Yue’er tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan khusus ini. Hatinya menjadi hangat. “Mereka sungguh tidak mengecewakan,” ucapnya dengan senang.


“Tentu saja!” Qi Rong tersenyum. Kemudian dia bertanya, “Bagaimana jika aku mengajak kalian melihat-lihat ke sekeliling?”


Mo Jingtian menatapnya dengan datar. Itu membuat Qi Rong menelan ludah. Dia segera mengambil langkah mundur.


Qing Yue’er hanya bisa menggeleng pelan. Dia menatap Mo Jingtian dengan heran. “Kau tetap bisa membuat dia ketakutan.”


“Dia yang penakut. Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Mo Jingtian dengan santai.


“Baiklah. Ada banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Tapi akhirnya aku bisa melihatmu lagi,” ucap Qing Yue’er dengan senang. Dia sempat khawatir dan takut seandainya Mo Jingtian tidak bisa bangun lagi.


“Jangan khawatir. Belenggu ini tidak akan bisa mengambil nyawaku.”


Mo Jingtian menarik Qing Yue’er duduk di kursi santai yang ada di bawah pohon persik. Dia menatap gadis itu dengan lembut. “Ini hanya cukup untuk menyegel kekuatanku.”


“Bagaimana cara melepasnya? Apakah gurumu tidak bisa membantu?” tanya Qing Yue’er dengan serius.


Saat ini pengadilan surgawi sedang kacau. Banyak pengikut Baili Linwu yang memusuhi Mo Jingtian. Jika mereka menemukan pria itu pada saat-saat seperti ini, situasinya akan sangat berbahaya. Mo Jingtian akan kesulitan melawan mereka.

__ADS_1


“Ini hal yang sulit,” bisik Mo Jingtian.


“Pasti ada cara, kan? Jingtian, jika kau tahu sesuatu, katakan padaku.” Qing Yue’er memegang tangan Mo Jingtian dengan erat. “Kau sudah banyak membantuku selama ini. Aku juga bisa melakukan hal yang sama untukmu.”


Mo Jingtian menatap Qing Yue’er dengan rumit. Dia sebenarnya tahu cara untuk menghapus belenggu iblis di lehernya. Namun, dia tidak ingin menggunakan cara itu. Tidak akan.


Dia tersenyum tipis. “Aku mungkin harus menemukan seseorang untuk menanyakan hal ini.”


“Siapa?”


“Anak Surga yang terlahir sebelum aku.”


Qing Yue’er terkejut mendengar itu. “Jadi, ada Anak Surga yang lain?”


Mo Jingtian mengangguk. “Aku juga baru mengetahui tentang itu. Tuan Abadi yang sudah memberi tahuku. Apa kau tahu siapa orang tua itu?”


“Bukankah dia orang yang tinggal di Pegunungan Jingcai? Mungkinkah dia memiliki identitas lain?”


“Itu benar.” Mo Jingtian mengangguk. “Dia adalah mantan tuan pengadilan surgawi, guru rahasia ayahmu, yang juga berarti adalah kakek gurumu.”


Sekali lagi Qing Yue’er dibuat terkejut. Dia sudah pernah melihat gambaran mantan tuan pengadilan surgawi di dalam rahasia kipas Sheng Feng. Namun, wajahnya berbeda dengan wajah Tuan Abadi yang sudah menolong Mo Jingtian.


“Kenapa wajah mereka berbeda?” dia bertanya.


“Kemungkinan dia sengaja menyamarkan wajahnya ketika kalian bertemu di Pegunungan Jingcai. Saat itu aku pingsan, jadi tidak tahu situasinya,” jawab Mo Jingtian dengan tenang.


Qing Yue’er mengangguk beberapa kali. Itu kemungkinan yang paling besar. Kedua matanya menjadi berbinar. “Kau mengatakan dia adalah guru ayahku. Kalau begitu bukankah ayahku memiliki guru yang hebat?”


Sudut bibir Mo Jingtian terangkat. “Seperti guru seperti murid. Mantan pengadilan surgawi adalah orang yang hebat, itulah kenapa dia bisa memiliki murid yang hebat seperti ayahmu.”


“Itu luar biasa!” Qing Yue’er menjadi semakin penasaran tentang identitas ayahnya. Hingga saat ini, dia masih belum mengetahui apa pun tentang Qing Yexuan.


Apakah pria itu berasal dari Celestial? Atau mungkin dari Tongxuan? Apakah keluarganya masih hidup? Siapa kakek dan neneknya?

__ADS_1


Dia menghela napas panjang. Pada saat itu, tiba-tiba pria berjubah hitam muncul di hadapan mereka. Pria itu membawa guci porselen yang tidak begitu besar. Dia tak lain adalah Mo Feng.


__ADS_2