Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Susun Rencana


__ADS_3

Qing Yue’er bergegas kembali ke istana. Dia segera menemui ayah dan ibunya untuk menanyakan apakah mereka tahu ke mana Mo Jingtian pergi.


Namun, kedua orang itu tidak tahu. Mereka bahkan baru mengetahui kalau Mo Jingtian pergi meninggalkan istana.


Ini membuat Qing Yue’er uring-uringan sepanjang malam. Apakah dia terlalu banyak mendesak Mo Jingtian sehingga pria itu mengambil langkah dengan gegabah?


“Apa yang kau pikirkan? Pria itu bukan manusia biasa. Apa kau pikir dia akan bertindak dengan gegabah dan ceroboh seperti manusia bodoh?” Ying Jun keluar dari dalam dimensi dan segera mengkritiknya.


Qing Yue’er menatap guci anggur yang dia ambil dari Duan Mu dengan cemberut. “Tetap saja aku khawatir.”


“Aku tahu siapa pria yang menjemputnya.”


“Siapa?” Qing Yue’er langsung bertanya dengan cepat.


“Di Feng Xi, salah satu dewa pengikut Mo Jingtian. Jadi, kau tidak perlu khawatir dengan keselamatannya. Di Feng Xi pasti akan melindungi Tuan.”


“Benarkah?” Qing Yue’er merasa skeptis. Namun, mengetahui identitas Di Feng Xi membuatnya sedikit lebih lega. Setidaknya Mo Jingtian pergi bersama dewa, bukan manusia biasa.


Dia menghela napas. Akhirnya perhatiannya beralih pada Ying Jun. “Apa kau baik-baik saja sekarang? Bagaimana dengan segel di dasar kolam Yin Yang?”


Ying Jun tersenyum. “Aku sudah menyegelnya lagi untuk sementara. Namun, kekuatanku tidak sekuat Tuan. Segelnya pasti tidak akan bertahan lama.”


“Kalau begitu nanti ajarkan segelnya padaku. Selain itu … mungkin lebih baik kalian mengosongkan dimensi untuk sekarang. Kalian bisa tinggal di sini,” kata Qing Yue’er dengan sungguh-sungguh.


Kedua mata Ying Jun langsung melebar. “Apa kau serius?”


“Ya, tentu saja.”


Pada saat itu juga, Jinlong, Bulu Gelap dan Bulu Terang langsung keluar dari dimensi. Taotie juga keluar sambil menyeret Hong Xiayin. Wanita itu bersungut-sungut dengan marah.


“Lepaskan aku!” Hong Xiayun berteriak pada Taotie yang mengikat tangannya menggunakan tali spiritual. Wanita itu benar-benar terlihat tertekan dan menderita.


Taotie tertawa puas. “Jika aku melepaskanmu, kau pasti akan memukulku. Jadi, lebih baik seperti ini.”


Qing Yue’er menyilangkan kaki sambil menatap Taotie dengan datar. Tidak bisakah binatang iblis itu bersikap baik? Sebagai wanita, dia merasa cukup prihatin pada Hong Xiayin.

__ADS_1


“Kalian bisa menempati kamar ini. Hong Xiayin akan ikut denganku,” ucapnya kemudian.


“Apa? Kau ingin menempatkan kami berlima di sini?” Ying Jun dan Taotie memprotes secara bersamaan.


Mereka mungkin sudah terbiasa hidup bersama di dalam dimensi karena tempat itu besar dan luas. Namun, kamar Qing Yue’er tidak sama dengan dimensi itu. Bagaimana mungkin mereka akan menghabiskan hari-hari di sana?


“Aiyyaa! Aku akan mengatur itu besok. Jangan berisik!”


Qing Yue’er menatap tajam pada mereka. Dia sudah cukup pusing dengan masalah Mo Jingtian dan tidak ingin semakin pusing karena binatang-binatang itu.


Jinlong yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya berdeham. Dengan bijak dia berkata, “Tidak apa-apa. Lagi pula kita tidak seperti manusia yang harus melakukan ini dan itu. Kita bahkan bisa tidur di bawah ranjang.”


“Itu kamu! Bagaimana mungkin aku bisa?” balas Taotie dengan muram.


Qing Yue’er menggeleng pelan dan menghela napas. Dia mengibaskan tangannya lalu tali spiritual yang mengikat tangan Hong Xiayin langsung terputus. Tanpa mengatakan apa-apa, dia berjalan keluar kamar.


Hong Xiayin segera menyusulnya. Sebenarnya dia merasa malu atas perbuatannya di masa lalu. Namun, saat ini dia hanya bisa berlindung pada Qing Yue’er. Jadi, dia harus menghadapi rasa malunya.


“Nona, kenapa kau masih begitu baik padaku?” tanya Hong Xiayin sambil berjalan mengikuti Qing Yue’er.


“Kenapa? Aku hanya tidak ingin Taotie menjadi penindas lagi,” balas Qing Yue’er dengan acuh tak acuh. “Aku akan meminta pelayan menyiapkan kamar untukmu. Jangan melarikan diri atau aku tidak akan bisa melindungimu dari amarah Mo Jingtian.”


Setelah urusan binatang ilahi itu selesai, dia pergi ke kamar Mo Jingtian. Aroma cendana masih memenuhi ruangan, membuatnya merindukan pria itu.


Dia membelai tempat tidur di sana, lalu membaringkan tubuhnya. Tempat di sebelahnya kosong. Dia hanya memejamkan mata hingga tanpa sadar mulai tertidur.


Siapa yang tahu dia akan melakukan itu hingga berhari-hari? Mo Jingtian masih belum kembali dan itu membuatnya resah.


“Dua hari lagi perjamuan di Istana Guang dilaksanakan. Kenapa Tuan Mo masih belum kembali?” Xie Song bertanya pada Qing Yue’er.


Mo Jingtian sempat mengatakan kalau mereka tidak perlu datang ke sana. Dia dan Qing Yue’er yang akan pergi. Namun, sekarang pria itu menghilang. Bagaimana mungkin Xie Song tidak gelisah?


“Kakek, apakah aku perlu mengunjungi Guru Mo? Mungkin dia tahu ke mana perginya pria itu.”


Baru saja Qing Yue’er mengatakan itu, orang yang disebutkan tiba-tiba datang. Saat itu, Mo Tianyu bergegas mememasuki ruangan dengan ekspresi yang sama tidak pastinya dengan mereka.

__ADS_1


Qing Yue’er hanya bisa mengerutkan kening. Jangan katakan kalau Mo Tianyu juga tidak tahu ke mana perginya Mo Jingtian.


Xie Song segera menyambut kedatangan tamu yang tidak terduga itu. Dia mempersilakan Mo Tianyu duduk. Kedua pria itu tampaknya saling memahami satu sama lain.


Mo Tianyu menghela napas. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Jika kalian sedang mencemaskan keberadaan Mo Jingtian, maka aku juga tidak bisa membantu. Dia bahkan belum menemuiku sejak kembali dari benua Tongxuan.”


Perasaan Qing Yue’er hanya menjadi semakin muram. Sepertinya dia harus merencanakan sendiri. Jika hanya berdiam diri menunggu Mo Jingtian, waktunya akan terbuang sia-sia.


“Kakek, Mo Jingtian memintamu untuk tidak datang. Maka kalian jangan datang.”


“Ini ….” Xie Song sedikit ragu. “Tidak satu pun dari Istana Tianjun?”


Qing Yue’er menggeleng. “Aku akan datang.”


“Sendirian? Mustahil! Tidak boleh!” Xie Song segera menolak itu.


Bagaimana mungkin Qing Yue’er akan masuk ke sarang harimau sendirian?


Bahkan jika dia seorang jenius di Celestial, dia hanya gadis muda yang bahkan belum berusia 20 tahun. Dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah hidup ratusan tahun, dia masih kurang.


“Jangan khawatir, aku akan pergi bersamanya,” kata Mo Tianyu pada Xie Song. “Mo Jingtian pergi, jadi aku akan bertanggung jawab untuk menggantikannya.”


“Itu bagus.” Qing Yue’er tersenyum. “Selain itu, aku masih memiliki banyak rekan dari binatang-binatang peliharaanku. Mereka pasti akan sangat senang bisa bermain-main di luar.”


Xie Song mendengkus mendengar itu. “Mereka boleh ikut, tapi aku tidak boleh? Gadis, bukankah kau terlalu pilih kasih?”


Mo Tianyu terkekeh. “Tuan Xie, semakin sedikit kultivator yang datang, maka akan semakin bagus. Itulah yang diinginkan Mo Jingtian. Dia tidak ingin kalian datang karena tidak ingin lebih banyak ahli alam surgawi di sana.”


Akhirnya Xie Song mengerti. Yang dikatakan Guru Mo memang benar. Namun, dia tetap mencemaskan cucunya.


“Aiyya! Aku tidak akan mati, Kakek. Percayalah …. Sebelum menikah dengan Mo Jingtian, aku tidak akan mati,” ucap Qing Yue’er sambil menyeringai.


“.…”


Bibir Xie Song berkedut. Sepertinya hanya cucunya, gadis yang mau menunjukkan gairah menikah tanpa malu-malu.

__ADS_1


“Baiklah. Jadi itu sudah diputuskan. Dua hari lagi aku akan menjemputmu, Nak,” ujar Mo Tianyu pada Qing Yue’er.


Gadis itu mengangguk patuh. “Baik. Aku akan mempersiapkan diri.”


__ADS_2