
“Kamu salah jika berpikir aku akan berhenti.”
Kata-kata itu masih terngiang di kepala Qing Yue'er. Setelah ditepis kalimat itu masih tetap datang lagi, membuatnya merasa pusing. Dia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Sudah sejak beberapa waktu yang lalu dia hanya berdiam diri sambil menatap langit yang hitam.
Ada banyak hal yang dia pikirkan. Tentang masa depannya, tentang apa yang harus dia raih dan apa yang sejujurnya dia inginkan. Hanya dalam waktu satu malam semuanya berubah menjadi terlalu rumit untuknya. Sejujurnya dia merasa lelah dan ingin menyepi.
Qing Yue'er tidak bisa mengabaikan semua ini dengan mengatakan jika dia baik-baik saja. Sekarang perasaannya semakin jelas. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dia menganggap Mo Jingtian sebagai sosok yang yang sudah menempati hatinya.
Sekarang semuanya tidak akan mudah lagi. Dia tidak bisa egois dengan terus menginginkan Mo Jingtian bersamanya. Namun, bagaimana jika pria itu yang ingin tetap bersama?
“Bodoh. Kamu benar-benar bodoh, Jingtian,” gumam Qing Yue'er dengan sendu.
“Berhenti berpikir banyak hal. Bukankah kamu hanya perlu menjadi seorang dewi? Kenapa kamu terlihat begitu frustrasi?” tanya Ying Jun yang mulai mendekati Qing Yue'er. Dia merasa jenuh melihat gadis itu yang terlihat seperti sedang kehilangan arah.
“Ying Jun, kenapa kamu berbicara begitu mudah?” tanya Qing Yue'er dengan lesu.
“Karena aku hanya pengamat,” ucap Ying Jun dengan jujur. Memang benar. Jika dia yang mengalami hal itu pasti dia juga perlu banyak berpikir.
Qing Yue'er menarik napas dalam-dalam lalu melepaskannya secara perlahan. “Aku ingin tahu, jika seseorang menjalani penyucian, apakah perasaannya masih sama? Apakah dewa atau dewi bisa memiliki sebuah perasaan? Apakah mereka masih akan memiliki 6 keinginan dan 7 emosi?”
Ying Jun terdiam sejenak. “Kenapa tidak? Ayahmu bisa mencintai ibumu, sedangkan Mo Jingtian sendiri bisa menyimpan perasaan untukmu. Itu berarti dewa atau dewi juga masih bisa memiliki perasaan, 'kan?”
Qing Yue'er tidak menjawab pertanyaan Ying Jun. Kemudian Ying Jun kembali bertanya, “Apa kamu takut semuanya akan hilang setelah pengangkatan? Kalau masalah ini sepertinya aku juga tidak tahu.”
Penyucian diri untuk menjadi dewa adalah sesuatu yang harus dijalani oleh calon dewa. Upacara itu akan menghapuskan semua kesalahan di masa lalu dan menghapuskan emosi seseorang. Meskipun kadangkala emosi itu tidak akan benar-benar terhapus tapi setidaknya dewa tidak akan memiliki emosi sebanyak manusia normal.
Jika Qing Yue'er menjalani upacara itu ada kemungkinan semua emosi dan perasaannya akan terhapus. Mungkin ini juga yang harus dipertimbangkan oleh Qing Yue'er. Ah, betapa rumitnya ini.
“Ying Jun, apa menurutmu aku terlalu berlebihan? Seharusnya aku tidak berkata seperti itu pada Mo Jingtian?”
Ying Jun hanya mengangkat bahunya tidak tahu. Dia bukan manusia dan dia tidak bisa merasakan apa yang Qing Yue'er rasakan. Kedatangannya ke sini hanya untuk sedikit menghiburnya.
__ADS_1
“Bagaimana cara mendapatkan kehendak surga?” tanya Qing Yue'er sambil menerawang ke kejauhan. “Kenapa aku menjadi ragu?”
“Kenapa kamu tidak berbicara saja dengan pria itu? Mungkin dia memiliki solusi yang bagus,” usul Ying Jun.
“Ying Jun, kamu harus tahu dia adalah pria terbodoh yang pernah aku temui. Jika aku membicarakan masalah ini dengannya maka dia hanya akan mengatakan tidak apa-apa, ini baik-baik saja, ini tidak bermasalah baginya. Hah, bagaimana aku tahu dia akan tetap baik-baik saja saat berada di belakangku?”
Qing Yue'er sedikit mendengus. Kemudian dia melanjutkan, “Dia selalu menyembunyikan masalahnya sendiri. Bahkan, aku tidak tahu apakah dia memang setangguh itu atau hanya bermain akting di depanku.”
Ying Jun mengangguk. Memang Mo Jingtian hampir selalu menunjukkan sisi sempurnanya pada Qing Yue'er. Sehingga gadis itu tidak pernah tahu apa yang benar-benar dilakukan oleh Mo Jingtian. Kadang-kadang dia heran, kenapa hubungan mereka begitu rumit?
“Kenapa kamu tidak pergi saja untuk mencoba berkultivasi di menara? Itu akan lebih menghasilkan dari pada hanya berdiam diri seperti ini. Menyia-nyiakan waktu kau tahu?”
Qing Yue'er menghela napasnya. “Kamu memang benar. Sepertinya aku harus melupakan hal-hal ini sejenak.”
Akhirnya dia pergi meninggalkan halaman hijau dan kembali bergerak menuju menara klan Xie. Meskipun suasana hatinya tidak begitu bagus tapi dia harus bisa mengendalikan diri. Benar. Jangan sampai masalah ini mengganggunya hingga membuatnya lupa untuk menyerang klan Liu
Saat ini sudah dini hari jadi tidak ada banyak orang yang melihatnya. Hanya ada beberapa penjaga yang bertugas di malam hari.
Setelah beberapa saat dia pun tiba di menara dan langsung bergerak naik. Tujuannya kali ini adalah mencoba berkultivasi di lantai ke 7. Dia ingin melihat apakah tekanan yang ada di sana itu bisa membantunya menerobos atau tidak.
Sementara itu hal yang sedikit berbeda terjadi pada Mo Jingtian. Pria itu kini pergi mendatangi orang yang masih bisa diajak berbicara olehnya. Siapa lagi jika bukan Dewa Air, Di Moxie.
Mo Jingtian duduk sambil menyilangkan tangannya. Dia baru saja mendapat pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara cepat. Dia harus memikirkannya sebentar.
“Bagaimana? Apakah Taotie benar-benar datang? Siapa yang mungkin membebaskannya?” tanya Di Moxie pada Mo Jingtian. Pria itu datang menemuinya pasti karena ada hal-hal yang ingin dikatakan.
“Bagaimana aku bisa tahu? Dan bagaimana kamu bisa mengetahui tentang kemunculan Taotie?”
“Seseorang mengatakannya padaku. Jangan lupa, ada banyak mata yang mengawasi Celestial. Aku mungkin hanya mengawasi wilayah airku tapi tidak dengan dewa yang lain,” ucap Di Moxie dengan tenang.
“Kamu memang benar.”
__ADS_1
“Jadi, kamu harus berhati-hati.” Di Moxie menatap Mo Jingtian dengan penuh arti. “Jingtian, jangan terlalu lama bermain dengan manusia. Apa kamu masih belum puas membuat Pengadilan Surgawi bermasalah?”
“Aku tidak bermain-main dengan manusia,” jawab Mo Jingtian.
“Sudah hampir dua tahun kamu tidak membuat kegemparan. Ke mana kamu pergi?”
Mo Jingtian menatap Di Moxie dengan datar. “Ketika aku membuat masalah, kalian mengejarku untuk dihukum. Sekarang aku diam, kamu mempertanyakanku. Seharusnya kamu tahu aku sedang mencoba melepaskan semuanya.”
“Kenapa? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu,” ucap Di Moxie. “Apa tujuanmu dengan menjadi dewa? Kenapa sekarang kamu ingin melepaskan statusmu?”
Mo Jingtian terkekeh. Dia menundukkan kepalanya. “Aku pikir dengan menjadi dewa aku akan kehilangan seluruh emosiku. Aku juga ingin sepertimu yang tetap tenang melihat apa pun. Namun, kau tahu? Aku masih sama seperti manusia lainnya. Penyucian itu hanya omong kosong untukku.”
Di Moxie mengerti apa yang dipikirkan Mo Jingtian. Dari awal dia memang sudah memikirkan keanehan itu. Seharusnya penyucian diri akan menghapuskan semua emosi dan keinginan. Namun, beberapa dewa justru tidak menjalani penyucian yang sempurna. Hal ini menyebabkan mereka masih bisa merasakan emosi layaknya manusia.
Meskipun begitu, apa yang terjadi pada Mo Jingtian ini adalah kasus yang berbeda. Jika dia boleh mengambil kesimpulan, itu seperti penyucian dirilah yang tidak sanggup untuk menghapus emosinya. Sepertinya Mo Jingtian adalah satu kesatuan yang tidak bisa diubah oleh apa pun.
“Apa mungkin kamu melihat sesuatu sebelum menjalani penyucian? Jingtian, ini hal yang serius.”
Mo Jingtian tersenyum misterius. “Aku memang melihat sesuatu. Sesuatu yang kamu sendiri tidak akan pernah menduga, yang jika kamu melihatnya pun kamu tidak akan percaya.”
Di Moxie menatap Mo Jingtian dengan tenang. Meskipun Mo Jingtian mengatakan hal yang serius, dia tidak pernah terlihat tegang. Seperti itulah dewa yang benar-benar dewa.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Di Moxie.
“Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Namun, aku ingin memberi tahumu bahwa ... Pengadilan Surgawi sudah tercemar,” ucap Mo Jingtian dengan kedua mata yang menyipit.
“Tercemar? Apa kamu mengatakan ini karena kamu membenci Pengadilan Surgawi?”
Mo Jingtian menggelengkan kepalanya. Mata emasnya bersinar dengan cahaya tertentu. “Kamu boleh tidak memercayaiku. Namun, kamu akan mulai melihatnya untuk satu atau dua tahun lagi,” ucapnya dengan maksud tertentu.
Dengan perlahan dia berjalan menuju pintu keluar istana air milik Di Moxie. Sebelum benar-benar pergi, dia tampak menghentikan langkahnya sebentar. “Moxie, kamu tahu, aku tidak akan menentang Pengadilan Surgawi tanpa alasan.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Mo Jingtian langsung menghilang begitu saja. Di tempat itu hanya menyisakan Di Moxie dan keagungannya. Dia tidak banyak mengekspresikan wajahnya. Hanya diam di tempatnya.
“Aku akan menunggu apakah yang kau katakan itu benar atau tidak,” gumam Di Moxie.