Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Orang Tua Mo Jingtian


__ADS_3

Langit tiba-tiba menjadi lebih gelap. Qing Yue’er mendongak dan merasa sedikit merinding dengan perubahan aura di sekitarnya. Udara terasa suram.


Dia sudah terbang cukup lama bersama Mo Jingtian menuju ke arah Barat Laut. Namun, pria itu masih belum memberi tahu apa-apa tentang tujuan mereka. Ini membuatnya semakin penasaran.


“Ke mana sebenarnya kita akan pergi?” dia bertanya pada Mo Jingtian.


“Sebentar lagi akan sampai,” kata pria itu.


Qing Yue’er memacu kecepatan mereka lebih cepat. Semakin ke depan, udara menjadi lebih suram dan berat. Kabut asap mulai muncul dan itu menambah perasaan negatif bagi siapa pun yang datang.


Dia menunduk dan mencoba melihat ke bawah. Area di sana hitam dan gosong. Pohon-pohon sudah mati dan menghitam, tanah juga terlihat sama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan apa pun di sana.


Beberapa saat kemudian, Mo Jingtian meminta untuk turun. Qing Yue’er dengan waspada menurutinya. Tempat itu terlihat berbahaya dan dia tidak ingin lengah.


Setelah mereka turun, Qing Yue’er bisa melihat sebuah gubuk kayu kecil yang masih cukup bagus. Itu terlihat mencolok di tengah-tengah tanah mati yang sudah gosong.


“Jingtian, tempat apa ini?” tanyanya dengan lirih.


“Kau tidak mengenalinya?”


Pertanyaan itu membuat Qing Yue’er bingung. Apakah dia seharusnya mengenali tempat itu? Memang ada sedikit perasaan familiar, tapi setelah mengamati tanah itu selama beberapa saat, dia masih tidak mengingatnya.


“Jangan membuat teka-teki denganku, Jingtian!” gerutunya dengan tidak sabar.


Mo Jingtian tersenyum. Dia menggenggam kedua tangan Qing Yue’er dan menatap matanya dengan lembut. “Apa kau ingat dengan cerita masa kecil Anak Surga?”


Kening Qing Yue’er berkerut. Beberapa saat kemudian, kedua matanya sedikit melebar. Ekspresinya menjadi rumit. “Kau mengajakku pulang ….”


Pria itu mengangguk dengan senyum yang tidak luntur. Kemudian dia melihat ke sekitar, mengamati tanah yang sudah lama mati.


“Sembilan ratus ribu tahun yang lalu, semuanya masih sangat hijau. Saat diasingkan oleh orang-orang, aku masih bisa mendengar suara kicauan burung dan mencium aroma musim semi. Namun, sekarang tidak ada apa pun lagi di sini.”


Qing Yue’er akhirnya mengingat kembali apa yang terjadi pada Mo Jingtian semasa kecil. Pria itu diasingkan dan dibuang di tempat terpencil pada usia tujuh tahun. Kesulitan, kesepian, dan rasa sakit harus ditanggung di usia semuda itu.


Kemudian Baili Linwu datang untuk membunuhnya dengan memberikan racun mematikan. Saat itu Mo Jingtian kecil begitu benci dan marah. Lalu amarahnya membawa malapetaka berupa hujan petir yang akhirnya berhasil melukai Baili Linwu tetapi juga membumihanguskan wilayah tempat tinggalnya.


Setiap kali Qing Yue’er mengingat penglihatan itu, hatinya merasa sakit. Anak Surga sudah diuji sejak kecil. Jika dia yang harus menjalaninya, mungkin dia sudah lama menyerah.

__ADS_1


“Jingtian, kau tidak membuat kesalahan. Orang akan menuai apa yang mereka tabur.”


Mo Jingtian menggeleng. “Petir itu membakar desa-desa di sekitar. Berapa banyak orang yang mati? Aku telah membunuh mereka, dan aku telah membunuh orang tuaku yang tidak bersalah.”


Qing Yue’er menatap Mo Jingtian dengan sendu. Namun, pria itu justru terkekeh. “Jangan merasa sedih untukku. Itu sudah sangat lama.”


“Meskipun sudah lama, tempat ini pasti akan mengingatkanmu kembali,” lirihnya. “Kenapa kau mengajakku ke sini?”


“Ayo ....”


Mo Jingtian menggandeng tangannya menuju ke belakang gubuk kayu kecil itu. Di sana ada dua tugu batu peringatan kematian yang diukir dengan sederhana. Nama yang tertera adalah nama suami-istri.


Yang Shen & Bing Lan


Perasaan Qing Yue’er berdebar-debar melihat itu. Dia menoleh menatap Mo Jingtian. Pria itu tiba-tiba menurunkan kakinya dan berlutut di depan papan peringatan itu.


“Ayah, Ibu, putramu yang tidak berbakti ini akhirnya bisa mengunjungi kalian lagi,” ucap Mo Jingtian dengan lirih.


Qing Yue’er yang mendengar itu menjadi terkejut. Itu adalah tugu peringatan kematian orang tua Mo Jingtian. Sungguh tidak menyangka pria itu akan membawanya menghadap mereka.


“Dia gadis yang akan menjadi istriku. Gadis baik yang mau mengorbankan hidupnya untukku dan orang-orang. Jika kalian masih di sini pasti akan menyukainya,” katanya.


Perasaan Qing Yue’er menjadi hangat mendengar penuturan itu. Dia segera berlutut di samping Mo Jingtian dan menatap kedua tugu peringatan itu dengan sungguh-sungguh.


“Paman, Bibi, aku Qing Yue’er. Meskipun aku terlahir jauh lebih terlambat dari Mo Jingtian, meskipun waktuku dan dia hanya sebentar, aku tidak pernah meragukan hatiku.”


Dia mengangkat tiga jarinya lalu bersumpah, “Aku akan mencintainya seperti bagaimana kalian melakukannya.”


Mo Jingtian tersenyum melihat itu. Dia mengganggam tangan Qing Yue'er dan menurunkannya.


Mereka saling menatap sebelum akhirnya mulai membungkuk dan bersujud di depan tugu peringatan kematian untuk memberikan penghormatan.


Setelah itu, mereka kembali berdiri. Mo Jingtian menunduk menatap wajah Qing Yue’er. Tangannya bergerak mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


“Aku senang akhirnya bisa membawamu ke sini.”


Qing Yue’er tersenyum. “Kupikir kau tidak akan pernah mau menunjukkan orang tuamu padaku.”

__ADS_1


“Bagaimana mungkin aku akan menyembunyikan calon istriku dari mereka? Jika tidak sekarang, aku takut aku tidak akan memiliki kesempatan,” lirih Mo Jingtian.


Pria itu menggandeng Qing Yue’er menuju gubuk kayu di belakang mereka. Ada bangku panjang di depannya dan mereka pun duduk di sana.


Qing Yue’er menyandarkan kepalanya di pundak Mo Jingtian. Kemudian tangan pria itu merengkuh bahunya dengan lembut.


“Sembilan ratus ribu tahun telah berlalu. Aku tidak menyangka sisa-sisa kerusakan ini tidak pernah hilang,” ucap Qing Yue’er dengan perasaan rumit.


Pohon-pohon yang gosong dan menghitam itu tetap ada, tanah itu juga tetap seperti itu. Bahkan kabut asap yang menyelimuti tempat itu tetap ada seolah-olah kebakaran itu baru terjadi kemarin malam.


Mereka tidak termakan waktu. Itu merupakan kerusakan abadi yang menakutkan. Apakah orang-orang di Celestial mengetahui tragedi itu?


“Aku pernah mencoba untuk menghidupkannya kembali, membangun ladang dan kehidupan baru. Namun, itu tidak bekerja. Tanah ini benar-benar sudah mati. Orang lain juga pasti enggan tinggal di tempat seperti ini,” sahut Mo Jingtian.


“Bagaimana dengan gubuk ini? Apakah kau yang membangunnya?”


Pria itu mengangguk. “Meskipun sudah hangus dan mati, tempat ini tetap menjadi kampung halamanku.”


Qing Yue’er tersenyum. Tangannya menautkan jarinya ke tangan Mo Jingtian. “Ayahmu bernama Yang Shen. Aku menjadi penasaran siapa namamu yang sebenarnya.”


Mo Jingtian sedikit terkekeh. “Saat itu kelahiranku menjadi harapan bagi mereka di tengah-tengah kekacauan perang. Jadi ayahku memberiku nama Xi, diambil dari Xiwang, yang berarti harapan.”


“Yang Xi.” Qing Yue’er melafalkan nama itu dengan mata berbinar. “Itu sangat tepat. Bahkan sampai sekarang kau menjadi satu-satunya harapan yang bisa mengakhiri masalah Baili Linwu.”


“Kau membuatku tersanjung.”


“Tapi namamu memang bagus, Tuan Muda Yang. Ah, tidak, kau sudah tidak muda lagi.”


Pria itu terkekeh. “Sebentar lagi malam. Ayo kembali.”


Qing Yue’er mengangguk. Dia berdiri lalu menatap seluruh tempat itu sekali lagi sebelum akhirnya membawa Mo Jingtian pergi.


Sepulangnya dari tanah mati itu, Qing Yue’er segera mengeluarkan inti ikan spiritual yang didapatkannya hari ini. Malam ini juga dia akan mencoba menyempurnakannya dan melihat apakah bisa menerobos ke level dua.


Dia menutup pintu dan meminta Ying Jun untuk tetap siaga. Setelah itu, dia pun memulai kultivasinya dengan fokus.


Tanpa sepengetahuan mereka, pembantaian telah dilakukan secara diam-diam dari kediaman ke kediaman. Semuanya dilakukan dengan cepat dan tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2