
Qing Yue'er mengikuti kakeknya terus naik ke puncak menara. Dia melewati lantai 6 dan 7 dengan takjub. Benar saja apa yang dikatakan kakeknya, ada tekanan tertentu yang membuatnya harus mengeluarkan sedikit usaha.
Meskipun begitu, dia tidak begitu kesulitan. Setelah melewati dua lantai akhirnya dia tiba di lantai ke 8. Dengan perasaan antusias dia mengamati tangga yang mengarah ke lantai terakhir.
“Kakek, apakah klan Xie hanya menjunjung satu dewa?” tanya Qing Yue'er tiba-tiba.
“Tidak juga. Ada dewa lain juga, tapi kami meletakkannya di tempat yang berbeda,” ucap Xie Song. Kemudian dia memimpin Qing Yue'er untuk menaiki tangga terakhir. Di sana pintu berwarna emas masih tampak tertutup.
Dengan perlahan Xie Song mulai membuka pintu itu. “Kamu bisa melihatnya se—”
Boomm!
Suara ledakan tiba-tiba terdengar dari arah dalam. Itu benar-benar mengejutkan Xie Song. Dia langsung berlari masuk untuk melihat apa yang terjadi. Setelah melihat itu hatinya langsung bergetar.
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
Qing Yue'er mengikuti kakeknya masuk. Matanya langsung berkilat saat melihat ruangan di sana sudah berantakan. Dan yang membuatnya tertegun adalah bubuk dan reruntuhan patung yang tersebar di lantai. Kenapa patung itu bisa meledak?
“Kakek, apa yang terjadi?” tanya Qing Yue'er pada kakeknya.
Xie Song tidak bisa menjawab. Wajahnya sedikit memucat. Patung dewa yang hancur bukanlah pertanda baik bagi siapa pun. Itu bisa menjadi malapetaka. Dan ini terjadi di klan Xie. Apa yang akan terjadi pada klannya? Memikirkan itu membuat dia tidak tenang.
“Kakek, apa Kakek baik-baik saja?” Qing Yue'er bertanya dengan cemas.
“Tidak, aku harus memeriksa semuanya,” gumam Xie Song. Kemudian dia menatap Qing Yue'er dengan serius. “Kamu harus segera kembali. Aku akan pergi untuk memeriksa yang lainnya.”
Bahkan, sebelum Qing Yue'er sempat merespons, orang tua itu sudah terlebih dahulu menghilang. Hanya menyisakan dia sendiri dan kelengangan di sana. Ini benar-benar membuat Qing Yue'er tidak mengerti.
Dengan perasaan yang heran bercampur penasaran dia bergerak mengambil reruntuhan di lantai. Dia tidak bisa melihat lagi seperti apa wujud dewa yang dijunjung oleh klan Xie. Ini membuatnya sedikit kecewa.
Matanya bergerak untuk mencari tahu. Tangannya mengacak-acak reruntuhan di lantai hingga perasaannya kembali tertegun. Dia mengambil satu potong batu dari salah satu reruntuhan patung. Di atas potongan itu terdapat ukiran yang membuat hatinya bergetar.
Seakan sudah dibungkam, Qing Yue'er tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya. Namun, dia tidak menemukan ada siapa pun di sana. “Kenapa harus seperti ini?” gumamnya tidak mengerti.
Dia menggenggam batu reruntuhan yang sudah bobrok. Dengan cepat dia langsung berlari keluar dari ruangan itu lalu menuruni tangga dengan membabi buta. Dia harus mendapatkan jawabannya sekarang.
Pelariannya yang begitu cepat dan tidak peduli pada sekitar membuat orang yang melihatnya menjadi heran. Mereka bertanya-tanya tentang apa yang sedang dilakukan oleh Qing Yue'er.
“Apakah dia baru saja melihat hantu?”
“Jangan berbicara omong kosong.”
Qing Yue'er memang tidak peduli pada orang lain. Saat ini dia hanya ingin segera mendapatkan jawabannya. Namun, saat dia merasa tidak sabar, tiba-tiba seseorang menghentikan langkah kakinya.
“Yue'er, apa kau baik-baik saja?”
Qing Yue'er langsung menyembunyikan potongan batu yang dia pegang. Dia menatap ibunya yang ada di depannya lalu tersenyum singkat. “Aku baik-baik saja.”
“Apa kamu merasa sakit hati dengan apa yang dikatakan kakek Mao? Kamu tidak percaya padanya, 'kan?” tanya Xie Ying Fei. Dia melihat keadaan Qing Yue'er yang tidak biasa jadi dia pikir gadis itu masih terganggu dengan ucapan Xie Mao.
Qing Yue'er menatap ibunya lalu bertanya, “Apa ibu ingin mengatakan sesuatu?” Dia bertanya seperti ini karena dia sedang terburu-buru.
“Ya, tolong ikut denganku. Aku ingin berbicara mengenai ayahmu,” ucap Xie Ying Fei dengan serius.
__ADS_1
Akhirnya Qing Yue'er menutup matanya sejenak. Sepertinya dia harus mementingkan ibunya terlebih dahulu. Tentang potongan batu itu dia akan menyelesaikannya nanti. Dengan pelan dia pun mengangguk. “Baik.”
Potongan batu di tangannya langsung dia simpan dengan baik. Kemudian dia mengikuti ibunya pergi ke kediaman ibunya. Sepertinya wanita itu ingin mengatakan semuanya. Ini membuat dia merasa sedikit lega dan juga penasaran.
“Yue'er, berbicara mengenai ayahmu, dia tidak sama seperti apa yang dikatakan Xie Mao. Ayahmu bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Dia tidak meninggalkan kita dengan begitu saja. Dia punya alasan melakukan ini semua,” ucap Xie Ying Fei setelah mereka sampai di kediamannya.
Hari ini juga dia ingin mengatakan semuanya pada Qing Yue'er. Gadis itu berhak tahu agar orang seperti Xie Mao tidak bisa memengaruhi pikiran Qing Yue'er.
“Ibu, aku percaya apa yang Ibu katakan. Ayah pasti bukan orang seperti itu,” ucap Qing Yue'er. Dia memegang tangan ibunya dengan lembut. Wanita di depannya itu sepertinya merasa takut jika dia akan menganggap ayahnya sudah bersikap buruk.
Xie Ying Fei tampak menghela napas lega. “Bagus jika kamu berpikir seperti itu.”
Qing Yue'er mengangguk lalu bertanya, “Kalau begitu bisakah Ibu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah?”
“Yue'er, ayahmu bukanlah orang biasa. Saat aku bertemu dengannya itu adalah saat-saat yang paling tidak terduga,” ucap Xie Ying Fei dengan tatapan menerawang. Ingatannya kembali ke tahun-tahun yang sudah lalu.
Saat itu Xie Ying Fei sedang menjelajah Celestial untuk mencari harta yang bisa meningkatkan kekuatannya. Saat dia sedang dalam keadaan terpojok oleh bahaya, dia bertemu dengan seorang pria yang berbudi luhur. Pria itu menolongnya dan menyelematkannya dari bahaya.
Xie Ying Fei terluka dan pria itu merawatnya dengan baik. Bagaimana perasaannya yang lembut tidak bisa tersentuh? Meskipun dia adalah seseorang yang sudah bertemu dengan banyak pria dan banyak juga yang sudah mencoba untuk melamarnya tetapi tidak ada yang benar-benar meyakinkan hatinya.
Semuanya berbeda dengan pria itu. Hanya dari tutur katanya saja dia sudah tersentuh. Belum lagi dengan penampilannya yang tidak manusiawi. Xie Ying Fei tidak bisa tidak luluh. Hanya dalam waktu yang singkat dia sudah merasa jatuh cinta.
“Pada dasarnya ini seperti kisah seorang pahlawan yang menyelamatkan kecantikan,” ucap Xie Ying Fei yang diakhiri dengan kekehan.
Qing Yue'er tidak bisa menahan senyumnya. “Kalau begitu ayah pastilah orang yang baik.”
Xie Ying Fei mengangguk. “Dia baik, tapi sayangnya itu mungkin adalah sebuah kesalahan,” ucapnya lirih.
“Bagaimana itu bisa menjadi kesalahan? Harap Ibu menjelaskan padaku.” Qing Yue'er menatap penasaran pada ibunya. Dia sangat senang mendengar apa yang ibunya ceritakan. Namun, dia merasa tidak nyaman saat melihat wanita itu tampak bersedih.
Baamm.
Qing Yue'er merasa seperti baru saja dipukul di kedalaman jiwanya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia pikir ayahnya hanya seseorang yang terkemuka di Celestial, atau mungkin orang yang memiliki kekuasaan di alam Celestial ini. Namun, itu adalah dewa! Bagaimana dia harus merespons semua ini?
“Benar, Nak. Ayahmu adalah salah satu dari keberadaan tinggi itu. Aku juga .... awalnya aku tidak percaya. Dia menyembunyikan semuanya dengan sangat baik.”
Tenggorokan Qing Yue'er terasa kering. Lidahnya menjadi kelu. Dengan suara yang tersekat, dia bertanya, “Bagaimana ... lalu apa yang terjadi?”
Xie Ying Fei menatap Qing Yue'er dengan serius. Dia memastikan tidak ada orang yang sedang mendengar pembicaraannya. Bahkan akses tempat ini langsung ditutup menggunakan kekuatannya. Setelah semua itu barulah dia mulai menjelaskan.
“Seperti yang aku katakan, tidak seharusnya manusia dan dewa saling mencintai. Itu adalah larangan dan ini membuat ayahmu harus mendapatkan hukuman yang sulit. Bagi manusia biasa sepertiku, apa yang bisa aku lakukan?”
Qing Yue'er merasa mulutnya menjadi pahit. Jadi, ini adalah kebenarannya. Kalau begitu apa yang harus dia lakukan? Bagaimana agar dia bisa menghentikan ayahnya dari hukuman? Atau setidaknya bagaimana agar dia bisa bertemu dengannya?
“Menghentikan ayahmu dari hukuman mungkin akan sulit karena dia memiliki masa hukumannya tersendiri. Namun, jika kamu ingin bertemu dengannya maka kamu harus naik dan menjadi salah satu dari penghuni Pengadilan Surgawi.”
Qing Yue'er bertanya, “Pengadilan Surgawi? Apakah itu tempat para dewa?”
Xie Ying Fei mengangguk. “Kamu benar. Jadi, apakah aku salah jika aku ingin kamu bisa menjadi salah satu bagian dari mereka?” tanya Xie Ying Fei dengan sendu.
“Tidak, Ibu. Ibu tidak salah. Aku ... aku memang harus bisa pergi ke sana,” ucap Qing Yue'er dengan kelopak mata yang terkulai.
“Terima kasih,” ucap Xie Ying Fei dari kedalaman hatinya. Kemudian dia memeluk Qing Yue'er dengan lembut. Tanpa sadar tetesan bening keluar dari sudut matanya. “Akhirnya apa yang membebani pikiranku sudah lepas. Aku merasa lega sudah menceritakannya kepadamu.”
__ADS_1
Qing Yue'er tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk sampai ibunya melepaskan pelukannya. Wanita itu menatapnya dengan serius. “Apa aku boleh tahu siapa pria itu?”
“Dia ... bukan siapa-siapa. Aku pikir dia hanya seseorang yang pernah tinggal di Celestial,” ucap Qing Yue'er sambil memalingkan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah ibunya.
“Aku tidak tahu apakah yang kamu katakan ini benar atau tidak. Namun, kamu harus tahu, aku tidak ingin kamu menjalani penderitaan yang sama denganku. Kamu ... aku harap kamu tidak akan mencintai seseorang yang tidak seharusnya kamu cintai.”
Qing Yue'er menundukkan kepalanya. Kemudian dia memaksa untuk tersenyum. “Ibu, jangan khawatirkan aku,” ucapnya dengan lirih. Dia paham, ibunya pasti tidak ingin dia mengalami keadaan yang sama. Terpisah dengan suaminya hingga bertahun-tahun.
“Apa Ibu sudah selesai? Aku harus pergi sekarang.”
“Ya, aku sudah selesai. Maaf jika aku terlambat mengatakan ini semua.”
“Ibu tidak bersalah,” ucap Qing Yue'er. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi dia langsung keluar dari ruangan. Dengan perasaan yang tidak menentu dia berlari menuju satu tempat.
Qing Yue'er terus bergerak hingga tiba di depan pintu yang tertutup rapat. Dengan kasar dia langsung menendang pintu itu hingga terbuka dengan keras. Sebuah potongan batu kembali muncul di tangannya sebelum akhirnya dia melemparkannya ke atas meja.
Braakk!
Tentu saja tindakannya langsung membuat Mo Jingtian terkejut. Dia tidak tahu harus mengatakan apa sampai gadis yang diselimuti oleh amarah itu bertanya, “Kenapa kamu menghancurkannya? Apa kamu pikir dengan cara seperti itu aku tidak akan mengetahui kebenarannya?”
Qing Yue'er menatap Mo Jingtian tidak mengerti. Perasaannya menjadi semakin tidak menentu. Amarah, keterkejutan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Dan ini adalah pertama kalinya dia merasakan perasaan seperti ini.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu begitu marah?”
“Jingtian, aku tahu itu adalah kamu. Ukiran bulu vermillion ini, aku tahu hanya kamu yang memilikinya. Jadi, kamu salah jika aku tidak akan mengetahui identitasmu. Bukankah kamu menghancurkan patung di menara itu hanya karena tidak ingin aku mengetahuinya?”
Kedua mata Qing Yue'er memerah. Meskipun dia pernah berpikir jika Mo Jingtian adalah dewa, tapi dia tidak mengindahkannya sebelum benar-benar ada bukti. Sekarang semuanya sudah terbukti nyata. Ukiran yang ada di atas batu reruntuhan patung adalah ukiran bulu vermillion. Sedangkan Mo Jingtian adalah seseorang yang identik dengan burung itu.
Hatinya tidak bisa terhindar dari keterkejutan. Ditambah lagi dia mengerti ini adalah sebuah kesalahan. Seperti yang ibunya katakan, dia tidak seharusnya menyukai seseorang seperti Mo Jingtian. Dia tidak seharusnya berhubungan dengannya.
Mo Jingtian menghela napas panjang. Dia mengangguk beberapa kali lalu berkata, “Jadi, kamu sudah mengetahuinya. Itu baik-baik saja.”
“Ya, itu baik-baik saja. Dan semua akan berakhir di sini,” ucap Qing Yue'er.
Mo Jingtian menatap Qing Yue'er lekat-lekat. Dia tahu hari ini pasti akan tiba. Entah itu sekarang atau dia menundanya sampai bertahun-tahun, tetap saja hari ini pasti akan tiba.
“Lalu bagaimana jika aku dewa? Dan bagaimana jika kamu adalah manusia? Kenapa antara aku dan kamu harus berpegang pada tempat kita?” tanya Mo Jingtian sambil berjalan mendekat. Namun, gadis itu mundur untuk menjauh.
“Kenapa kamu masih bertanya ‘lalu?” Kedua mata Qing Yue'er menjadi berkaca-kaca. Dia menahannya agar tidak menangis di depan Mo Jingtian. “Aku tidak ingin melihatmu. Jangan, jangan pernah mendekatiku lagi.”
“Yue'er, dengarkan aku—”
“Aku tidak akan mendengarkanmu!” seru Qing Yue'er yang langsung memotong ucapan Mo Jingtian. “Aku tidak pernah mencintaimu dan kamu ... jangan pernah mencintaiku. Jangan pernah menyukaiku,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Mo Jingtian menatap Qing Yue'er dengan sendu. Inilah kenapa dia tidak ingin Qing Yue'er mengetahuinya sekarang. Waktunya tidak tepat. Pertengkaran tidak akan bisa dihindari dan dia juga tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. Qing Yue'er tidak ingin dia mendapatkan hukuman. Hanya itu.
“Kamu butuh waktu untuk berpikir dengan jernih,” ucap Mo Jingtian. “Aku akan membiarkanmu sendiri sekarang. Namun, aku harus memberi tahumu satu hal.”
Qing Yue'er tidak menanggapi ucapan Mo Jingtian. Jika dia berbicara lebih banyak mungkin dia akan segera menangis. Namun, apa yang dia dengar selanjutnya benar-benar membuatnya terhenyak.
“Yue'er, kamu salah jika berpikir aku akan berhenti.”
***
__ADS_1
Sesekali author memberi masalah pada pasangan ini.
Jangan lupa jempol like dan komentar yee.