
Tuan Song mengambil cangkir teh dan segera meminumnya. Dia perlu menenangkan diri setelah mengintip kehidupan Qing Yue’er yang begitu mengejutkan. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan sosok agung seperti kedua orang itu.
Bagaimana mungkin ada seorang dewa dan keturunan dewa yang muncul di kediamannya? Dia bahkan tidak pernah membayangkan adanya hal seperti itu.
“Jadi, kau benar-benar melihatnya?” Kali ini Mo Jingtian yang bertanya. Tuan Song belum mengatakannya, tapi dia bisa menebaknya. Orang biasa tidak akan bisa tenang setelah melihat identitas mereka.
Song Yangping menatap Mo Jingtian dengan rumit. Dia menunduk. “Aku tidak melihat sepenuhnya. Orang rendahan ini tidak berani melihat lebih jauh.”
“Tapi kau pasti tahu bagaimana aku bisa membantu Mo Jingtian mengembalikan kekuatannya. Benar, kan?” Qing Yue’er kembali bertanya.
Di sampingnya, Mo Jingtian mengepalkan tangannya. Dia menatap Song Yangping dengan dingin. Begitu dingin dan tajam seolah dia benar-benar akan membunuh pria tua itu jika mengatakan sesuatu pada Qing Yue’er.
Song Yangping menjadi dilema. Dia merasa takut dengan kemarahan Mo Jingtian. Bulu kuduk di punggungnya berdiri. Serigala besar seolah sedang berada di depannya, itu bisa memakannya kapan saja.
“Kenapa kau hanya diam? Ini adalah masalah yang krusial. Ini bukan hanya tentang nyawaku, tapi nyawa kalian, nyawa semua orang!” Qing Yue’er menjadi tidak sabar. Kenapa Song Yangping tidak segera mengatakannya?
Mo Jingtian yang merasakan ketidaksabarannya pun segera menenangkannya. “Yue’er, jangan marah. Mungkin dia tidak melihat sampai di sana.”
“Diam kau!” Qing Yue’er memelotot pada Mo Jingtian. “Jangan menakutinya! Apa kau pikir aku tidak tahu apa sedang kau lakukan?”
“Tidak. Bukankah aku hanya diam di sini?”
“Jangan berpura-pura. Siapa yang tahu apakah jiwamu mencoba merusaknya atau tidak!”
“Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Aku hanya ….”
“Hanya apa? Bukankah kau begitu takut aku akan mengetahuinya?” Qing Yue’er menjadi semakin kesal. Rasanya dia ingin menjambak rambut pria itu hingga dia memohon ampun.
“Aku hanya menatapnya saja.”
“Hanya menatapnya? Aku bahkan bisa merasakan niat membunuhmu. Kau pasti tidak akan membiarkannya mengatakan apa pun padaku. Jingtian, kau membuatku kesal setengah mati! Jika aku tahu kau akan melakukan ini, lebih baik aku—”
“Lebih baik apa? Apa kau akan memusuhiku dan memarahiku hanya karena ini?” Emosi Mo Jingtian ikut terpengaruh.
“Kenapa? Apa kau pikir aku tidak bisa memusuhimu?! Itu hal yang mudah. Aku bahkan bisa menendangmu sekarang!” seru Qing Yue’er dengan marah.
__ADS_1
“Kalau begitu ayo lakukan! Meskipun aku tidak memiliki kekuatan, aku tidak akan tumbang hanya dengan satu tendangan darimu.”
“Bagus! Hanya karena kau—"
“Aiyyaaa! Berhenti! Jangan bertengkar seperti ini!” Song Yangping menyela dengan frustrasi. Dia bahkan menggebrak meja hanya agar sepasang kekasih itu diam.
Surga, kenapa mereka terlihat begitu kekanakan? Song Yangping merasa kepalanya pusing.
“Dengar, apa yang aku ketahui belum tentu benar. Kenapa kalian harus bertengkar untuk sesuatu yang belum pasti?”
Qing Yue’er membuang napas dengan kasar. Wajahnya memerah. Napasnya naik turun tidak teratur. Dia menatap Mo Jingtian dengan tajam. “Tetap diam di sana!”
Mo Jingtian menarik napas dan menutup matanya untuk menenangkan diri. Vermillionnya tiba-tiba tertawa dari dalam dimensi. “Tuan, kau tidak terlihat seperti dewa yang agung.”
“Diam!” geramnya di dalam benak.
Bukan hanya Vermillion itu yang tertawa, Ying Jun dan Taotie yang ada di dalam dimensi Qing Yue’er juga tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak pernah melihat Qing Yue’er begitu marah pada Mo Jingtian hingga berdebat seperti itu. Ini adalah hal yang langka.
“Nona, kenapa kau tidak melanjutkan pertengkaranmu? Kami akan senang untuk melihatnya lagi,” ucap Ying Jun dengan semangat. “Kami pasti akan mendukungmu!”
“Kalian juga diam!” Qing Yue’er memarahi mereka dalam benaknya. Mo Jingtian sudah menjengkelkan, dia tidak ingin kedua makhluk itu membuatnya semakin kesal.
Ying Jun dan Taotie hanya memutar bola mata dengan malas. Mereka akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi.
Qing Yue’er menarik napas dalam-dalam. Dia merasa malu pada Tuan Song karena harus bertengkar seperti itu di depannya. “Maafkan kami yang kekanakan. Kami benar-benar … kebingungan.”
“Aku tahu.” Song Yangping mencoba memakluminya. Sepasang kekasih itu pasti sudah lama menahan kekhawatiran mereka, dan hari ini mereka menjadi sensitif.
Yang satu ingin mengetahui rahasia langit, sedangkan yang satunya ingin terus menyembunyikannya. Dia bisa mengerti perselisihan ini.
“Nona Qing, aku telah mendapatkan penglihatan tentang identitasmu dan masalah apa yang sedang kalian hadapi. Ini tentang mengembalikan kekuatan Tuan Mo bukan?”
Qing Yue’er mengangguk. “Aku percaya kau tahu apa yang harus kau katakan.”
Song Yangping tersenyum tipis. Kemudian dia bertanya pada mereka, “Nona Qing, Tuan Mo, apa kalian sungguh saling mencintai?”
__ADS_1
Kedua mata Mo Jingtian yang tertutup langsung terbuka. Dia menatap Qing Yue’er. Gadis itu menunduk dengan ekspresi yang tidak terbaca.
“Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan datang ke sini,” jawab gadis itu dengan suara yang lirih.
“Dan jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan mengikutinya datang ke sini.” Mo Jingtian akhirnya menjawabnya juga.
Senyum Song Yangping menjadi semakin lebar. “Sudah berapa lama kalian bersama?”
“Beberapa tahun belakangan ini,” kata Mo Jingtian. “Aku tidak tahu apakah itu waktu yang lama atau tidak. Namun, ratusan ribu tahun kehidupanku yang telah lalu sama sekali tidak berarti jika aku tidak memiliki empat tahun terakhir ini.”
“Itu waktu yang cukup lama. Kau tahu? Seorang gadis tidak perlu membuang waktu yang lama untuk menikahi seseorang.”
“Apa maksudmu?” Qing Yue’er bertanya. Dia tidak mengerti kenapa pria tua itu mengatakan itu.
Song Yangping tersenyum. “Ya, menikahlah.”
Qing Yue’er melebarkan matanya. Dia tidak mengerti apa hubungan antara menikah dengan mengembalikan kekuatan Mo Jingtian. Apakah itu kesimpulan yang dipikirkan oleh Song Yangping setelah melihat apa yang terjadi?
“Tuan Song—”
“Tapi itu tidak perlu. Itu terlalu terburu-buru.” Mo Jingtian menyela kata-kata Qing Yue’er. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Apa maksudmu tidak perlu?” Qing Yue’er menoleh. “Kita tidak perlu menikah?”
“Tidak, maksudku ….” Mo Jingtian tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana cara menjelaskannya pada gadis itu?
Song Yangping tersenyum. “Sepertinya Tuan Mo sudah tahu solusinya. Ini harus dipertimbangkan lagi.”
“Tidak perlu dipertimbangkan. Kami masih memiliki banyak urusan dan menikah bisa dilakukan nanti atau kapan pun,” ucap Mo Jingtian dengan tegas.
Qing Yue’er menatap pria itu dengan kening berkerut. Mo Jingtian mencintainya, tapi dia tidak ingin menikahinya. Mungkinkah itu benar-benar jalannya? Jalan untuk mengembalikan kekuatannya sekaligus juga berisiko merenggut nyawanya?
Tanpa sadar tangannya menyentuh benang transparan yang tersemat di jari manisnya. Dia menunduk hanya untuk menemukan cincin pemberian Mo Jingtian yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya.
Keyakinan yang begitu kuat tiba-tiba merasuki hatinya. Dia tersentak. Jawaban yang dia cari-cari akhirnya sudah ditemukan!
__ADS_1
Qing Yue’er menarik napas dalam-dalam lalu menatap pria di sampingnya dengan serius. “Jingtian, ayo menikah.”