
Qing Yue'er membawa ibunya pergi ke Puncak Awan Abadi bersama dengan Cloud Fairy. Hanya butuh beberapa waktu hingga mereka tiba di tempat tujuan. Sangat bagus karena tidak ada masalah yang terjadi di perjalanan.
Puncak Awan Abadi sepenuhnya diselimuti oleh awan yang sangat padat. Orang yang tidak benar-benar melewati awan itu pasti tidak akan tahu seperti apa pemandangan di dalamnya. Namun tidak semua orang bisa melewatinya karena di dalam awan terdapat zat berbahaya yang bisa melumpuhkan para penyusup.
Qing Yue'er harus mengagumi tingkat keamanannya. Dia yakin Puncak Awan Abadi adalah salah satu tempat yang bisa menjaga nyawa penghuninya dengan baik.
Masuk bersama Cloud Fairy membuat Qing Yue'er tidak perlu bersusah payah. Dia menatap ke depan dan tersenyum setelah melihat penampilan Puncak Awan Abadi. Ini benar-benar suasana yang lembut khas para wanita. Energi Yin terasa lebih kuat dibandingkan tempat di luar sana.
Seperti rumornya, Puncak Awan Abadi memang sebagian besar dihuni oleh kaum wanita. Hanya ada segelintir pria di sana dan itu pun kebanyakan adalah seseorang yang tidak tertarik dengan hal-hal berbau kesenangan duniawi.
Ketika mereka tiba di sana, Cloud Fairy langsung membawa Qing Yue'er pergi ke sebuah kediaman. Xie Ying Fei terluka jadi mereka mungkin tidak bisa berbicara lebih banyak sekarang.
“Yue'er, sampaikan ini padanya. Aku membutuhkan waktu untuk memulihkan diri,” ucap Xie Ying Fei setelah tiba di sebuah kamar. Dia menyerahkan gulungan yang sebelumnya diberikan oleh Mo Jingtian.
Qing Yue'er mengangguk. “Apa Ibu perlu bantuanku?”
Xie Ying Fei menggeleng. “Tidak perlu. Lagi pula ini tidak separah kelihatannya.”
“Baiklah.” Qing Yue'er mengambil gulungan itu, lalu menatap Xie Ying Fei sekali lagi. Setelah mendapat anggukan dia pun keluar dari tempat itu. Di luar ternyata Cloud Fairy sudah menunggunya.
“Bagaimana?” tanya Cloud Fairy.
“Ibuku akan baik-baik saja,” jawab Qing Yue'er. Kemudian dia menatap Cloud Fairy dengan serius. Sebenarnya dia penasaran apa hubungan Mo Jingtian dengan wanita itu. Kenapa Mo Jingtian memberikan gulungan ini juga?
“Duduklah. Aku ingin tahu apa alasan ibumu ingin pergi ke Puncak Awan Abadi,” ucap Cloud Fairy.
__ADS_1
Qing Yue'er duduk di seberang wanita itu. Kemudian dia meletakkan gulungan di tangannya ke atas meja. “Seseorang ingin memberikan ini untukmu.”
“Apa ini?” Cloud Fairy segera membuka gulungan itu. Dia membaca isinya dan wajahnya langsung menampilkan keterkejutan. Dia terdiam selama beberapa saat hingga akhirnya perasaannya sedikit lebih santai.
Qing Yue'er benar-benar dibuat penasaran. Ingin sekali dia bertanya, tetapi harga dirinya melarang melakukan itu. Akhirnya dia hanya bisa menebak-nebak dengan acak. Mungkin Cloud Fairy mengenal Mo Jingtian, mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya, atau mungkin mereka berteman?
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Cloud Fairy setelah mendapati ekspresi Qing Yue'er. Gadis itu terlihat sedang menerawang.
“Tidak ada. Aku hanya ... tidak menyangka ternyata kamu berasal dari ras peri,” jawab Qing Yue'er beralibi.
“Apa aku tidak terlihat seperti peri?” Cloud Fairy bertanya dengan asal. Sebenarnya orang lain pasti juga akan berpikir seperti itu. Lagi pula penampilan ras peri memang berbeda. Hanya saja sekarang ini dia selalu menyembunyikan penampilan aslinya.
Qing Yue'er hanya mengangguk-angguk. Kemudian dia mendengar Cloud Fairy kembali bertanya, “Ini ... dari mana kalian mendapatkan ini?” Yang dimaksud adalah gulungan itu.
Keraguan mendarat. Qing Yue'er tidak tahu apakah harus menjawab dengan jujur atau tidak. “Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawab,” kata Cloud Fairy. “Sesuatu yang besar sepertinya akan segera terjadi,” gumamnya.
Cloud Fairy menghela napas. “Aku takut akan ada perang iblis ke dua. Mungkin tidak, yang ini sedikit berbeda.”
Qing Yue'er terkejut. Dia tidak berpikir akan ada hal besar seperti itu. Sepertinya dunia tidak sekacau itu. Namun seperti halnya tentang iblis wanita yang sempat dia bunuh di hutan, sepertinya ada hal yang tidak berada pada tempatnya. Apakah ada banyak hal seperti itu yang terjadi di luar sana?
“Sebelumnya kamu mengatakan pada Dewa Alkimia jika dia sempat mencarimu karena kamu sudah membebaskan Taotie. Apa ini benar? Jadi rumor tentang kemunculan Taotie itu memang benar?” tanya Cloud Fairy.
“Itu memang benar.” Qing Yue'er mengangguk. “Aku akan menjaganya dengan benar.”
Cloud Fairy terkekeh. “Aku hanya tidak menyangka. Ah, aku jadi ingat Qi Rong. Bagaimana dia sekarang ... apakah dia masih pemalas seperti dulu. Seharusnya aku membawanya ke sini bukan?”
__ADS_1
“Aku harap mereka baik-baik saja di sana,” ucap Qing Yue'er. Dia tiba-tiba berdiri dan berkata, “Kalau begitu, Nona Lin, aku akan melihat bagaimana keadaan ibuku.”
“Akan lebih bagus jika kau tidak memanggilku seperti itu.”
“Apa aku harus memanggilmu Cloud Fairy?” tanya Qing Yue'er.
Cloud Fairy menggelengkan kepalanya. “Panggil aku kakak.” Dia menatap Qing Yue'er sambil tersenyum.
Qing Yue'er mengedipkan matanya terkejut. Tidak menyangka wanita itu ingin menjadi lebih dekat dengannya. Ini bukan hal yang buruk untuknya. Dia tersenyum, lalu bergumam, “Kakak Lin.”
Cloud Fairy tersenyum senang. Kemudian dia pun berlalu pergi dari sana, tak lupa pula membawa gulungan yang diberikan oleh Qing Yue'er.
***
Di tempat yang jauh, Tuan Pengadilan Surgawi berdiri di tepi kolam. Ada banyak teratai yang mengambang di permukaan kolam. Itu bukan teratai biasa karena ada banyak energi spiritual yang terkumpul di setiap kelopak-kelopaknya.
“Anak Surga .... Ke mana lagi aku harus mencarinya?” gumamnya pada diri sendiri.
Tiba-tiba seseorang muncul tak jauh darinya. Seorang pria dengan jubah abu-abu. Wajahnya tidak banyak menunjukkan ekspresi. Dia berjalan mendekati Tuan Pengadilan Surgawi lalu membungkuk hormat. “Tuan, dia gagal.”
“Aku tahu,” jawab si tuan. “Liu Chang Mo memang tidak bisa diandalkan.”
Di Feng Xuan hanya menunduk. Kemudian dia mendengar tuannya kembali berkata, “Itu tidak terlalu penting. Aku ingin lebih cepat menemukan Anak Surga.”
“Anak Surga? Jadi dia benar-benar tidak mati?” tanya Di Feng Xuan dengan heran. Ada keterkejutan di balik sorot matanya.
__ADS_1
“Tidak.” Tuan Pengadilan Surgawi menggeleng. Tatapannya berubah menjadi dingin dan tajam. “Kita harus membunuhnya. Dia akan sangat mengancam. Dia sangat ... berbahaya.”