
Mo Jingtian menatap Di Honghuo tanpa emosi. Awalnya dia merasa marah pada pria itu, tapi setelah mengetahui apa yang terjadi pada putranya, amarah di hatinya berkurang.
“Aku hanya membuatmu mengingat masa lalu,” ucapnya dengan pelan.
“Putramu dibunuh dengan kejam oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kenapa kau ingin membuat dunia kacau? Bukankah akan ada lebih banyak pria yang akan kehilangan putra mereka sepertimu?” lanjutnya.
“Di Futian! Apa yang kau tahu?! Tuan Pengadilan Surgawi melawan aturan langit untuk menyetarakan seluruh alam. Dia ingin dewa, manusia, dan iblis hidup berdampingan. Apa kau bahkan tahu itu?!”
Mo Jingtian menghela napas. Itulah alasan yang Baili Linwu katakan untuk membodohi mereka. Namun, dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan itu tujuan Baili Linwu yang sebenarnya.
“Manusia dan iblis tidak akan bisa hidup berdampingan. Sudah sejak lama aturannya selalu seperti itu,” ujar Mo Jingtian dengan lembut. “Apakah kau meragukan keputusan dewa-dewa sebelumnya yang mengunci mereka di dunia bawah? Mereka melakukannya bukan tanpa alasan.”
Di Honghuo menggertakkan giginya. Dia tidak ingin mendengarkan kata-kata Mo Jingtian agar tidak tenggelam dalam rayuannya. Dengan keras dia melawan kekuatan jiwa yang mencoba menguasainya.
Kedua matanya menyipit lalu memerah seolah menunjukkan bara api dan kebencian. Urat-urat di lehernya menggeliat, menonjol begitu jelas. Dia terlihat seperti bisa meledak kapan saja.
Mo Jingtian yang melihat itu menjadi lebih hati-hati. Dia mencoba menguatkan pengaruh kekuatan jiwanya dalam batas normal, tapi perlawanan Di Honghuo begitu kuat.
Qing Yue’er merasa situasinya mungkin tidak akan baik. Dia khawatir Di Honghuo bisa membebaskan diri dari belenggu kekuatan jiwa Mo Jingtian. Jadi, dia ingin menyerangnya sebelum pria itu berhasil.
“Jingtian, aku akan membantumu menjatuhkannya!” serunya dengan sungguh-sungguh. Dia tidak bisa hanya diam menonton.
Namun, Mo Jingtian menggeleng keras. “Tidak, Yue’er. Tetaplah di sana!”
Qing Yue’er tidak mendengarkan itu. Jika dia tidak melakukannya sekarang, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi. Akhirnya dia mengambil pedangnya lalu dengan cepat bergerak ke depan.
Kekuatan spiritual dari level 8 alam surgawi menyebar dengan cepat. Dia tidak ragu-ragu sama sekali. Seluruh kekuatannya didorong sampai batas mengingat lawannya kali ini bukan orang biasa.
Ujung pedangnya yang lancip bergerak menargetkan Di Honghuo. Itu begitu cepat seperti kilat. Bahkan sosoknya sama sekali tidak terlihat. Namun, ketika dia hampir sampai, kedua mata Di Honghuo tiba-tiba bersinar dengan cahaya api.
__ADS_1
“Aku akan membunuh kalian!” teriak pria itu dengan murka. Setelah itu ….
BOOMMM!
Ledakan dahsyat pun terjadi. Kekuatan destruktif yang diikuti dengan semburan api menyerang ke segala sisi. Qing Yue’er dan Mo Jingtian terdorong jauh ke belakang. Mereka tidak bisa menghindari serangan itu.
“Hahaha! Apa kalian pikir kalian akan bisa melukaiku?” Suara tawa Di Honghuo menggema di atas puncak bersalju itu. Dia menatap Mo Jingtian dan Qing Yue’er dengan dingin. Baginya mereka berdua hanya sedang menunggu kematian.
“Mo Jingtian, apakah kau begitu menyukai gadis ini? Bagaimana jika aku mengoleksi beberapa bagian tubuhnya untuk menyenangkan Tuan Pengadilan Surgawi?”
Tatapan Mo Jingtian menjadi dingin. “Jika kau berani menyentuhnya, apa kau percaya aku akan membiarkanmu menyaksikan bagaimana anjing liar menggerogoti tubuhmu sedikit demi sedikit?”
“Lakukanlah jika kau bisa!” Di Honghuo menggeram dengan dingin. Sosoknya kini diselimuti dengan api. Auranya yang dipenuhi dengan penindasan meningkat berkali-kali lebih kuat dari sebelumnya.
Qing Yue’er tidak bisa menahan penindasan itu. Dadanya menjadi sesak seolah ada gunung besar yang menimpanya. Seberapa tinggi level kekuatan Di Honghuo? Dia tidak bisa melihatnya, tapi itu pasti di ranah roh perak atau lebih tinggi.
Bagaimana Mo Jingtian akan menghadapinya? Qing Yue’er menjadi cemas. Pria itu sama sekali tidak memiliki kultivasi. Dia mungkin akan dihancurkan dengan mudah.
Pada saat itu, sosok Di Honghuo tiba-tiba melesat cepat ke arah Qing Yue’er. Bukannya menyerang Mo Jingtian, dia justru ingin menyerang gadis itu. Tubuh berapinya berkelebat membuat salju yang dilewatinya mencair.
Mo Jingtian yang melihat itu tidak hanya diam. Dia dengan cepat berlari memblokir Di Honghuo. Tinjunya yang sekeras besi bertabrakan dengan tinju berapi pria itu.
Ledakan kembali tercipta hingga menggetarkan puncak Beifeng Xue. Udara panas menyebar semakin luas membuat salju yang mencair menjadi semakin banyak. Kelongsoran pun tidak bisa dihindari.
Qing Yue’er tidak peduli dengan kelongsoran di sekitar. Dia hanya peduli pada Mo Jingtian. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat kedua pria itu sama-sama mundur setelah mengalami bentrokan.
Itu hasil yang seimbang. Dia menjadi terkejut. Di Honghuo menyerang Mo Jingtian dengan kekuatan dewanya. Namun, Mo Jingtian bisa menahannya hanya dengan kekuatan fisik. Itu tidak bisa dibayangkan.
Di Honghuo menjadi semakin murka dengan hasil itu. Langit yang semua cerah berubah menjadi merah dan gelap seiring dengan emosinya yang membara.
__ADS_1
“Mo Jingtian! Bahkan jika kau bisa menahan satu pukulan dariku, kau tidak akan bisa menahan serangan yang lain!”
Pria berjubah hitam itu bergerak cepat mendekati Mo Jingtian. Sebuah pedang api merah membara tiba-tiba muncul di tangannya. Konon, jika pedang sang Dewa Api diayunkan, satu gunung es akan hancur terbelah hingga ke dasar.
Qing Yue’er menjadi takut melihat itu. Terutama karena Mo Jingtian tidak berpindah. Pria itu masih berdiri di tempatnya dengan punggung tegaknya.
“Jingtian! Apa yang kau lakukan?!” Dia ingin berlari dan menarik pria itu, tapi dia bahkan tidak bisa bergerak. Lututnya lemah dan bergetar karena penindasan aura Di Honghuo.
“Jingtian!”
Sosok berapi Di Honghuo menjadi semakin dekat. Kelopak mata Mo Jingtian terkulai ke bawah. Kedua matanya tertutup. Tangan kanannya disilangkan di dadanya. Ekspresinya menjadi begitu tenang.
“Matilah kauu!!” Pedang Di Honghuo diayunkan tepat di hadapan Mo Jingtian. Api yang membara berkilat hingga membelah langit.
Whoosshh!
Ketika serangan itu hendak menyentuh tubuh Mo Jingtian, cahaya emas yang begitu menyilaukan tiba-tiba meledak dari tubuh pria itu. Udara bergetar dan waktu seolah berhenti.
Kening Qing Yue'er berkerut dalam. Apa yang terjadi?
Beberapa saat kemudian, dia menyadari sesuatu. Ekspresinya berubah memucat seketika. Sorot matanya menyusut dalam ketakutan.
“Tidak, Mo Jingtiaann! Tahaannn!!!” dia berteriak sambil sekuat tenaga berlari ke depan. Namun, sebelum dia bisa mencapai pria itu, tiba-tiba ….
Booommm!
Kekuatan ledakan yang menghancurkan alam menyebar hingga bermil-mil jauhnya. Puncak Beifeng Xue runtuh dan hancur dalam sekejap. Saljunya menyebar bahkan hingga ke sudut Laut Utara.
Pada saat itu, seluruh Tongxuan terguncang. Roh-roh para leluhur bangkit. Raja-raja dan para penguasa berdiri dari takhta mereka. Rakyat-rakyat biasa berlari keluar rumah dalam kebingungan.
__ADS_1
“Surga, dewa mana yang murka?!”
“Musibah! Ini pertanda musibah!”