Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Aku Akan Menjadi Layak


__ADS_3

Ming An yang sudah merasa mati rasa hanya bisa melihat kepergian semua orang. Dia melihat kedua anaknya yang pergi meninggalkannya. Harta yang dia pikir menjadi satu-satunya pelindung, ternyata tidak berakhir seperti yang diharapkan.


Dia terjatuh berlutut di tanah. Sekarang dia ditinggalkan di dalam kuil seorang diri. Tiba-tiba dia teringat pesan Chao Xing yang menyuruhnya untuk menjaga anak-anaknya dengan baik. Nyatanya sekarang dia sudah menyakiti mereka.


"Xing'er, suamimu ini tidak berbakti. Aku membuat banyak kesalahan, tolong maafkan aku," gumamnya lirih. Mungkin dia merasa menyesal, tapi hatinya menolak untuk melakukannya. "Anak-anak meninggalkanku, mungkin ini adalah sesuatu yang sudah seharusnya aku petik."


Ming An menutup matanya. Dia sudah melalui banyak hal di dunia ini. Banyak suka dan duka yang telah terjadi, tetapi ini adalah saat yang paling melegakan sekaligus menyakitkan. Tidak ada yang tahu kalau ini adalah permulaan baginya untuk hidup di bawah bayang-bayang penyesalan.


***


Saat ini Ming Yuxia telah kembali ke rumahnya. Ming Xuan yang sebelumnya pingsan sekarang sudah kembali sadar. Pria itu tidak mengatakan banyak hal, mungkin sudah bisa menebak apa yang telah terjadi.


"Kakak, setelah ini aku akan pergi jauh dengan nona Xinyu. Tidak tahu kapan aku bisa kembali," ucap Ming Yuxia.


Ming Xuan terkejut dengan kalimat itu. Meskipun dia tahu kalau adiknya sering bepergian tetapi baru kali ini gadis itu mengatakan ingin pergi jauh. Apakah dia memang benar-benar akan pergi jauh?


"Apa kamu sudah yakin?" tanya Ming Xuan untuk memastikan.


Ming Yuxia mengangguk. Dia juga memiliki mimpi untuk keluar dari tempat kumuh ini. Dia ingin berpetualang lebih jauh lagi, karena dia tahu masih ada dunia yang sangat luas di luar tanah ini. Ada banyak hal yang masih harus dia pelajari.


"Kamu harus menjaga keselamatanmu sendiri," ucap Ming Xuan.


Ming Yuxia menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan Kakak?"


"Aku masih memikirkannya. Mungkin aku juga akan pergi untuk menjalani pelatihan." Ming Xuan tersenyum.


"Jaga dirimu dengan baik," ucap Ming Yuxia. Hubungannya dengan Ming Xuan mungkin tidak terlihat begitu dekat, tapi mereka tetap seorang kakak dan adik. Mereka masih tetap menyayangi satu sama lain.


Ming Xuan mengangguk. Setelah itu mereka berdua pun keluar rumah untuk menemui Qing Yue'er dan Jing Ling yang sudah menunggu sedari tadi. Tidak perlu banyak ucapan perpisahan, sesungguhnya mereka benci dengan hal-hal menyedihkan seperti itu.


"Apa kamu sudah selesai?" tanya Qing Yue'er yang dibalas dengan anggukan oleh Ming Yuxia. "Baiklah, setidaknya kita harus mengembalikan cincin itu terlebih dahulu."


"Nona Xinyu, aku harus menitipkan adikku padamu," ucap Ming Xuan.


"Tidak apa-apa. Kita akan saling menjaga satu sama lain." Qing Yue'er tersenyum tipis.


Diam-diam Ming Yuxia juga tersenyum samar. Meskipun dia tidak tahu ke mana Qing Yue'er akan pergi, tapi dia memiliki keyakinan bahwa mengikutinya adalah keputusan yang bijak.

__ADS_1


"Ayo pergi sekarang."


"Tunggu!"


Tiba-tiba ada suara lain yang datang dari luar halaman. Orang itu tak lain adalah Daoist Black Three yang ingin menemui mereka. Dia terkekeh sambil menggosok dagunya, "Gadis, kalian belum tahu 'kan untuk apa aku ingin kalian menemui cucuku?"


Qing Yue'er mengangkat kedua alisnya. Dia memang belum diberi tahu tujuan persisnya dan dia juga belum tahu siapa nama cucu Daoist Black Three. Mereka belum membicarakan masalah ini secara lebih rinci.


"Jadi apa yang harus kami sampaikan?" tanya Qing Yue'er.


Daoist Black Thre merogoh lengan bajunya, lalu terungkaplah sebuah kantong kecil yang entah apa itu isinya. Dia menyerahkan kantong itu pada Qing Yue'er. "Berikan ini pada cucuku. Namanya adalah Yan Xiao."


Qing Yue'er menerima kantong itu. "Hanya ini?"


"Ya, aku hanya ingin kamu menyerahkan itu padanya. Katakan saja itu adalah pemberianku," ucap Daoist Black Three.


"Baiklah, aku pasti akan menyampaikannya."


"Kalau begitu pergilah sekarang. Tetap berhati-hatilah ketika menginjak tanah asing."


Qing Yue'er mengangguk dengan tenang. "Kalau begitu kami akan pergi sekarang." Mereka bertiga pun mulai terbang meninggalkan rumah Ming Yuxia. Tujuan pertama adalah mengembalikan cincin roh kepada keluarga Chao, setelah itu mereka akan langsung pergi menuju Akademi Surgawi.


***


Qing Yue'er meneguk teh dari cangkirnya. Rasanya sedikit spesial tidak seperti rasa teh pada umumnya. Mungkin ada aroma madu yang ditambahkan ke dalamnya.


"Apa dia bisa melakukannya sendirian?" Jing Ling bertanya. Dia sedikit khawatir kalau ternyata keluarga Chao masih menyimpan kebencian pada Ming Yuxia dan berakhir dengan melukainya.


"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja," ucap Qing Yue'er.


Jing Ling tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia lebih memilih untuk memesan makanan sebagai pengganjal perutnya. Dia belum makan sejak pagi.


Sementara itu, Ming Yuxia sudah menghadap Chao Long. Dia mengambil cincin roh dan menyerahkannya pada pria itu. Meskipun dia sendirian dan banyak pasang mata yang masih membencinya, tapi nyalinya tidak pernah surut.


"Seperti apa yang aku katakan, aku akan mengembalikan sesuatu yang sudah dicuri oleh ayahku," ucapnya.


Chao Long menerima cincin roh tersebut. Raut wajahnya terlihat lebih cerah saat ini. Harta itu adalah sesuatu yang sudah mereka inginkan selama bertahun-tahun. Mereka sudah berusaha untuk mengambilnya tetapi ternyata masih membutuhkan waktu begitu lama.

__ADS_1


Dia menyimpan cincin itu, kemudian berkata dengan tulus pada Ming Yuxia, "Kamu adalah gadis yang baik. Kami akan menerimamu jika memang ingin kembali ke keluarga ini."


Ming Yuxia tertegun. Dia tidak menyangka Chao Long akan mengatakan hal seperti itu. Namun itu bukan hal yang diinginkan, jadi dia menolak niat baik Chao Long. "Aku mengucapkam terima kasih, tapi aku tidak bisa tinggal.


"Tidak apa-apa. Keluarga kami juga telah salah, jadi aku ingin meminta maaf untuk kejadian di masa lalu," ucap Chao Long.


"Ayahku juga telah salah, aku meminta maaf atas kesalahannya."


Chao Long menepuk bahu Ming Yuxia. Sekarang dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Yang terpenting harta keluarga mereka sudah kembali di tangannya, dan itu sudah lebih dari cukup.


"Aku akan pergi sekarang," ucap Ming Yuxia.


Chao Long hanya bisa tersenyum saat melihat kepergian Ming Yuxia. Gadis itu sudah tumbuh menjadi dewasa. Kadang-kadang dia menyesali tentang kematian Chao Xing, tetapi itu hanyalah masa lalu. Sekarang semuanya sudah adil. Nyawa sudah dibalas dengan nyawa dan harta yang menjadi hak mereka pun sudah dikembalikan. Mungkin ini adalah akhir yang seharusnya.


***


Ketika Qing Yue'er dan Jing Ling sedang menikmati makan, Ming Yuxia pun datang menemui mereka. Sekarang gadis itu sudah tidak terlihat begitu dingin. Ada sedikit kehangatan di wajahnya, mungkin karena akhirnya dia sudah melepaskan tekanannya.


"Makanlah terlebih dahulu. Sebentar lagi malam akan turun, mungkin kita akan bermalam di kota ini dulu," ucap Qing Yue'er.


"Tidak masalah," ucap Ming Yuxia.


"Ngomong-ngomong ini adalah bulan purnama. Aku mendengar kalau kota Li memiliki tradisi setiap malam bulan purnama," ucap Jing Ling dengan antusias.


"Tradisi apa itu?"


"Kamu pasti belum mengetahuinya. Ini adalah tradisi mengirim lampion ke langit. Saat itu para Dewa akan memberikan jawaban untuk doa-doa yang ditulis di masing-masing lampion."


Qing Yue'er diam-diam mengangguk. Dewa ... apa seseorang yang menyandang gelar seperti itu benar-benar berkuasa atas urusan manusia? Manusia begitu memujanya, apakah Dewa benar-benar mampu mewujudkan doa-doa mereka?


"Apa kamu penasaran dengan para dewa?" Tiba-tiba Mo Jingtian berbicara dengannya.


"Bagaimana jika aku penasaran? Apa ada jalan untuk menjadi seorang Dewa?" tanya Qing Yue'er.


"Tentu saja ada. Itu akan sangat jauh, kamu masih belum layak," jawab Mo Jingtian dengan begitu gamblang.


Qing Yue'er meringis. Kenapa mulut pria itu begitu jujur? Dia menarik napasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya mengembuskan dengan pelan. "Aku akan menjadi layak, nanti."

__ADS_1


Mo Jingtian menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu aku akan mempercayaimu."


__ADS_2