
Setelah Qing Yue'er menciptakan resep yang tepat, dia langsung meninggalkan asrama. Dia pergi menuju tempat di akademi yang menjual berbagai herbal obat maupun tanaman beracun. Dia sudah mencatat apa saja yang harus dibeli dan jumlahnya memang tidak sedikit. Beruntung dia masih memiliki batu roh, bukan untuk membelinya tapi untuk menukarnya dengan poin.
Di akademi ini batu roh tidak begitu berguna karena segalanya menggunakan poin yang didapatkan dari sebuah misi. Ini memang terdengar seperti akademi pada umumnya. Namun, dia sendiri tidak ingin pergi melakukan misi. Jadi apa yang dia lakukan adalah sebuah jalan pintas untuk mendapatkan poin, yaitu dengan membelinya menggunakan batu roh.
Dia menawarkannya pada seorang murid perempuan yang kebetulan lewat di depannya. "Kawan, aku memiliki penawaran untukmu. Apa kamu tertarik?"
Murid itu menatap Qing Yue'er dengan sedikit kebingungan. Namun, pada akhirnya dia bertanya, "Penawaran apa itu?"
"Aku memiliki beberapa batu roh, tapi sekarang aku sangat membutuhkan poin misi. Mungkinkah kamu ingin menukarnya?" tanya Qing Yue'er dengan ramah. Bahkan, dia menepuk pundak murid itu dengan akrab.
Murid itu tampak berpikir sesaat, beberapa saat kemudian dia pun menyetujui tawaran itu. "Ini di sini." Dia menunjukkan catatan poin yang memiliki cap akademi. Kemudian memberikannya pada Qing Yue'er. "Beruntung akhir-akhir ini aku banyak melakukan misi. Jadi aku pikir aku akan memberikannya dengan sukarela."
Mata Qing Yue'er langsung berkilat dengan cahaya tertentu. Dia bisa menilai bagaimana ketulusan seseorang dan orang ini ternyata memiliki pikiran tersembunyi yang lain. Mungkin itu karena murid itu ingin memeluk pahanya atau mungkin juga karena ingin mendapatkan perhatiannya, mengingat saat ini dia sudah memiliki pengaruh di sini, siapa yang akan tahu?
Meskipun begitu, Qing Yue'er tidak bisa membiarkan niatan itu sia-sia bukan? Jadi akhirnya dia menerimanya dan berkata, "Kalau begitu aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikanmu. Terima kasih." Setelah mengatakan itu dia menepuk pundak murid itu lagi dan akhirnya pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Murid itu hanya bisa menghela napas. Sebenarnya dia langsung berdebar saat melihat Qing Yue'er mendekatinya. Dia takut kalau gadis itu akan melakukan hal buruk padanya. Beruntung tidak seperti itu, ternyata Qing Yue'er hanya menginginkan poin misinya. Daripada dia harus berselisih dengan Qing Yue'er lebih baik dia memberikan poin misi itu bukan?
Qing Yue'er tidak tahu kalau tebakannya ternyata salah. Saat ini dia akhirnya memasuki bangunan yang memiliki plakat bertuliskan 'Paviliun Herbal dan Racun' dengan gaya yang elegan. Di sana ada beberapa orang yang mungkin memilliki tujuan sama dengannya.
Dia masuk dan berhenti di depan seorang penatua. Penatua itu langsung bertanya, "Apa yang kamu butuhkan?"
Kemudian Qing Yue'er menyebutkan beberapa nama tanaman racun. Namun, setelah dia menyebutkan semuanya, penatua itu langsung mengerutkan kening dan menatapnya dengan cara menyelidik. "Racun apa yang ingin kamu buat?"
Qing Yue'er tersenyum. "Apa ada suatu masalah?"
Penatua itu tidak langsung menjawabnya. "Semua tanaman yang kamu sebutkan memiliki racun yang cukup keras, apa seorang guru mengizinkanmu untuk meramu racun itu?"
Qing Yue'er tidak tahu kalau penatua ini akan teliti hingga menanyakan hal-hal sampai di sana. Dia bahkan tidak memiliki guru yang menuntunnya untuk membuat racun. Saat itu Han Qiong hanya memintanya untuk menentukan yang mana obat dan yang mana racun, bukan untuk mengajarinya.
Dia pun memikirkan sebuah alasan. "Penatua, sebenarnya guruku memintaku untuk mendapatkan tanaman-tanaman itu sebelum dia berhasil keluar dari pengasingannya. Aku tidak tahu kapan dia akan selesai dan seharusnya aku bersiap dari sekarang bukan?"
Orang itu menatap Qing Yue'er menyelidik lagi, tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan baginya. Lagipula siapa yang akan tahu apakah Han Qiong memang menugaskan hal seperti itu pada Qing Yue'er. Namun, alasan itu memang masuk akal.
"Jadi gurumu Han Qiong." Akhirnya dia mengambil tanaman-tanaman itu dan mberikannya pada Qing Yue'er. Sebelum itu dia telah membungkusnya terlebih dahulu. "Apa Xiao Mo masih hidup? Aku sudah lama tidak melihatnya."
Qing Yue'er menerima tanaman itu dan memberikan poin misi yang sesuai. "Tentu saja hidup. Aku pikir dia sering menjual tanaman herbal milik guru Han bukan? Kenapa Penatua tidak tahu?"
"Memang benar, tapi beberapa hari ini dia tidak terlihat," jawab penatua itu.
"Aku mungkin memeriksanya nanti. Terima kasih." Qing Yue'er mengatakan itu sebelum akhirnya berpamitan untuk pergi. Setelah itu dia pun kembali ke asrama. Dalam perjalanan dia sedikit terkekeh. Ternyata dia sudah menipu orang lagi.
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya dia sampai di asrama. Dia segera disambut oleh Luo Qingqi. "Apa kamu akan mulai membuat sekarang? Bolehkah aku melihatnya?"
__ADS_1
Qing Yue'er mengangguk dengan senang hati. "Tentu saja, tapi jangan heran jika pertama kali membuatnya aku akan mengalami kegagalan."
Luo Qingqi tersenyum. "Kamu bahkan belum mencoba tapi sudah pesimis seperti itu."
Qing Yue'er hanya tertawa canggung. Dia sudah mengetahui karakteristiknya sendiri. Seperti ketika dia meramu pil, dia akan mengalami kegagalan sekali sebelum akhirnya berhasil. Jadi dia sudah tahu bahwa dia pasti akan mengalami kegagalan sekali dalam meramu racun ini.
Dia mengeluarkan tungku satu-satunya. Saat melihat tungku itu, Qing Yue'er mengangguk. Itu masih tungku yang paling berkualitas meskipun dia mendapatkannya di tempat terpencil. Ya, itu karena tungku itu adalah miliki Dewa Alkimia.
Mengingat Dewa Alkimia, dia menjadi ingat pada buku warisannya. Dia lupa kenapa tidak membuka buku itu untuk mencari racun yang mematikan. Qing Yue'er langsung berdiri. "Tunggu sebentar."
Luo Qingqi tidak tahu apa maksudnya. Dia hanya melihat Qing Yue'er yang menjulurkan tangannya sebelum sebuah buku tebal muncul di sana. Buku itu terlihat sudah tua dan lusuh. Karena penasaran akhirnya dia pun bertanya, "Buku apa itu?"
"Catatan tentang obat, racun dan beberapa riwayat hidup seseorang," jawab Qing Yue'er. Akhirnya Luo Qingqi mengangguk dan menunggu sampai gadis itu selesai.
Sedangkan Qing Yue'er sedang mencari resep ramuan racun yang mungkin ada di sana. Tak selang lama dia pun menemukan sebuah ramuan yang menarik perhatiannya. Di sana tertulis bahan-bahan yang hampir sama dengan apa yang baru saja dia beli.
Dia langsung memeriksanya. Perasaannya menjadi terkejut ketika menemukan bahwa resep itu hampir sama dengan apa yang sudah dia tulis di gulungan kertas sebelumnya. Hanya saja ada sedikit perbedaan karena dalam buku ini ada dua bahan yang tidak ada dalam resep Qing Yue'er.
"Seharusnya tenaman ini tidak memiliki banyak pengaruh." Qing Yue'er bergumam sendirian. Dia sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Setelah beberapa saat akhirnya dia pun menyimpan buku itu lagi. "Tidak apa-apa. Ini tidak akan membuat banyak perubahan."
Dia mulai menyiapkan semuanya. Ada banyak bahan dan dia harus melakukannya dengan teliti. Setelah siap dia pun memulai pekerjaannya. Sementara dia sedang bekerja keras, Luo Qingqi mengamatinya dari samping. Dia melihat bahan-bahannya yang sebenarnya memang cukup langka dan mahal.
Kemudian dia melihat cara kerja Qing Yue'er yang efisien. Gadis itu memasukkan satu demi satu bahan yang digunakan tanpa terlihat ragu. Bahkan ketika sedang mengerjakan hal seperti itu, dia masih terlihat menakjubkan.
Qing Yue'er tertawa. "Tanganku yang salah. Aku akan mengganti bahan lagi." Setelah itu dia membuang semua ramuan yang sebenarnya hampir jadi.
'Sayang sekali.' Luo Qingqi merasa hatinya berdarah. Itu adalah tanaman mahal dan diubah menjadi sia-sia begitu saja. Namun pikirannya langsung terhempas ketika ramuan kedua mulai terbentuk.
Tidak ada aroma racun atau sesuatu yang mencurigakan. Orang lain tidak akan tahu jika Qing Yue'er sedang membuat racun yang mematikan. Jika dia tidak diberitahu mungkin dia juga tidak akan tahu.
Setelah melalui banyak langkah akhirnya ramuan yang diinginkan oleh Qing Yue'er berhasil terbentuk. Teksturnya sangat cair. Jika dilihat-lihat bentuknya akan terlihat sama dengan milik Han Qiong. Namun, jika ahli racun memeriksanya dengan lebih teliti maka mereka akan menemukan perbedaannya.
Luo Qingqi merasa takjub. Sebenarnya dia sudah lelah karena sudah terlalu sering dibuat terkejut oleh Qing Yue'er, tapi bagaimanapun juga dia masih tetap terkejut. Dia mengambil racun itu tapi sepertinya dia tidak begitu berhati-hati. Hasilnya racun itu menetes dan mengenai pakaiannya.
Pada saat itu juga pakaian yang terkena racun langsung menguap dan hancur menjadi bubur. Luo Qingqi menatap ngeri. Surga, jika racun itu masuk ke dalam peredaran darah manusia bagaimana akhirnya? Kematian adalah hasil pasti.
"Kamu terlalu mengerikan," ucap Luo Qingqi. Dia segera mundur. Tidak tahu apakah mengenal Qing Yue'er adalah sebuah keberuntungan atau kesialan. Kenapa dia berpikir begitu? Karena gadis itu selalu mengubah penilaiannya terhadap dunia. Dia jadi berpikir kalau semua generasi muda di sini hanyalah sampah.
Qing Yue'er tidak memedulikan ucapan Luo Qingqi. Dia menuangkan cairan racun itu ke dalam botol porselen. Dia menatap Luo Qingqi. "Barangkali kamu menginginkannya?"
"Tidak, terima kasih." Luo Qingqi menggelengkan kepalanya dengan senang hati. Lagipula dia tidak ingin bermain dengan racun. Maksudnya, dia pikir itu tidak perlu karena tidak ada begitu banyak musuh di depannya.
Qing Yue'er mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Dia membereskan segalanya sebelum akhirnya menghela napas lega.
__ADS_1
Ketika malam tiba, Qing Yue'er pergi ke dalam dimensi. Dia menuangkan racunnya ke dalam sebuah wadah sederhana. Kemudian membiarkan lebah-lebah miliknya mencium udaranya. Hanya dengan cara seperti itu racun tersebut masuk ke dalam tubuh lebah tanpa bisa melukainya.
Memang racunnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak bisa melukai tubuh lebah. Dia hanya mengira-ngira dan berharap itu akan berhasil. Ternyata dia memang berhasil. Sungguh memuaskan hatinya.
Qing Yue'er membirkan lebah-lebah itu bekerja sealami mungkin. Dia meninggalkan mereka dan masuk ke dalam gua. Dia pikir Mo Jingtian ada di sana, tapi ternyata tidak. Ke mana dia?
Ketika dia sedang bingung akhirnya dia mendengar suaranya. "Gadis, masuklah ke lubang di atas kolam."
Qing Yue'er ragu-ragu. "Itu aliran ruang dan waktu, bukankah akan menghancurkan tubuh seseorang?"
"Tidak, kamu akan baik-baik saja."
Akhirnya Qing Yue'er mengangguk. Dia terbang dan bergerak menuju lubang di atas kolam seperti yang Mo Jingtian inginkan. Udara di depannya terlihat berfluktuasi, tapi dia tetap masuk ke dalamnya. Benar saja, tidak ada rasa sakit atau apa pun.
Dia merasa pandangannya berkelebat sesaat sebelum akhirnya lingkungannya menjadi berubah. Suhu udara di tubuhnya sedikit naik, membuatnya merasa hangat. Apa yang ada di depannya sangat berbeda dengan keadaan dimensinya. Jika dimensi miliknya didominasi oleh lautan salju dan udara sejuk yang cenderung dingin, maka di sana berbeda.
Dia melihat lautan api yang bergejolak. Lautan api yang akan terlihat menakutkan di mata siapa pun. Tak jauh darinya sesosok pria yang dikenalnya sedang menunggu. 'Jadi ini dimensi milik Mo Jingtian?' pikir Qing Yue'er. Dia cukup terkejut karena tidak menduga akan seperti ini. Dia pikir keadaannya akan berbau abadi, seperti tempat tinggal kakek guru misalnya.
"Sekarang kamu sudah bebas untuk masuk ke sini," ucap Mo Jingtian.
Qing Yue'er tersenyum senang. Dia berlari dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Mo Jingtian. Suasana hatinya membuat dia ingin berdekatan dengannya.
Mo Jingtian mengangkat sudut bibirnya. Hal-hal kecil seperti ini saja sudah membuatnya merasa dalam suasana hati yang baik. "Apa kamu ingin melihat Taotie?"
"Di sini terlalu banyak api, aku yakin dia banyak menderita." Qing Yue'er terkekeh. Meskipun di tubuhnya api-api itu tidak memberikan pengaruh, tapi bagi orang-orang tertentu atau bagi siapa pun yang dikehendaki oleh Mo Jingtian, api itu bisa saja berubah menjadi kekuatan penghancur.
"Tidak perlu. Aku sudah cukup dengan mengetahui seperti apa tempat ini," ucap Qing Yue'er. Akhirnya dia hanya meminta untuk pergi menjelajahi dimensi itu.
Mereka pergi bersama-sama untuk melihat isi dimensi. Qing Yue'er terkejut ketika melihat ada banyak hal yang menakjubkan. Dia melihat sepasang vermillion. Oh, dia ingat Ying Jun pernah bercerita tentang burung vermillion yang menyerangnya. Jadi sepertinya itu adalah burung ini.
Vermillion yang sering kali menandakan sebuah pesan dari Mo Jingtian, jadi seperti itu rupanya. Mungkin memiliki beberapa persamaan dengan phoenix pada umumnya. Itu memang cantik.
Selain itu dia juga melihat naga hitam yang sebelumnya telah menyiksa Jinlong. Qing Yue'er hanya mendengus. Kemudian ada hal yang menarik perhatiannya. Dia melihat platform kecil yang di atasnya terdapat baju armor. Armor itu sepertinya memiliki makna yang cukup berarti bagi Mo Jingtian. Dia berpikir begitu karena ada formasi yang melindungi armor tersebut.
Selain itu bentuknya juga sangat menakjubkan. Dia tidak bisa membayangkan jika Mo Jingtian memakainya. Mungkin di masa depan dia akan melihatnya.
Ada banyak hal yang dapat dikagumi oleh Qing Yue'er. Luasnya juga tidak bisa ditentukan, dia terlalu malas untuk melihat semuanya sekarang. "Aku yakin kamu tidak hanya memiliki semuanya di sini."
Mo Jingtian menatap Qing Yue'er. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Ya, itu hanya perkiraanku." Qing Yue'er tersenyum. Seseorang seperti Mo Jingtian pasti menyimpan banyak misteri dan rahasia. Mungkin terlalu dalam dan dia belum pantas untuk mengetahuinya sekarang. Untuk saat ini, semuanya sudah cukup untuknya.
Mo Jingtian membelai rambut hitam Qing Yue'er. Dia menatap di kedalaman matanya. "Kamu akan tahu semuanya seiring berjalannya waktu. Untuk saat ini kamu hanya perlu tahu bahwa siapa aku dan siapa kamu ... itu tidak akan memberikan perbedaan apa pun."
__ADS_1