Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Tunggu Sebentar Lagi


__ADS_3

Jiwa Mo Jingtian terus membakar kabut hitam yang mencoba menempati danau hati dan dantian Qing Yue’er. Setelah waktu yang lama, kabut itu akhirnya didorong mundur hingga kembali ke dalam dimensi.


Qing Yue’er segera bangkit dan duduk. Napasnya terengah-engah, naik turun tidak teratur. Keringat sudah membasahi punggung dan bajunya.


Rasanya seperti baru saja terlepas dari jeratan iblis. Perasaan lega yang luar biasa melanda hatinya. Berkas cahaya lembut tiba-tiba keluar dari dadanya dan melayang memasuki tubuh Mo Jingtian.


Pria itu kemudian membuka matanya. Qing Yue’er langsung memeluknya dengan perasaan bingung yang bercampur dengan takut.


Sebenarnya benda apa yang disegel di dalam kolam Yin Yang? Dia benar-benar tidak mengerti.


Mo Jingtian balas memeluk Qing Yue’er. Pikirannya menjadi kalut. Bahaya kini menyerang dari segala sisi. Jika dia tidak segera memulihkan kekuatannya, dia atau gadis itu tidak akan bisa hidup lama.


Apakah dia benar-benar harus memulihkan kekuatannya? Namun, bagaimana jika kekuatannya kembali tapi orang yang ingin dia lindungi justru mati?


“Jingtian …. Apa itu sebenarnya?”


Mo Jingtian menghela napas panjang. Kebenaran tentang benda yang ada di dasar kolam Yin Yang memang belum dia katakan pada Qing Yue’er. Akhirnya dia pun menceritakannya.


“Di masa lalu ada seorang dewa dari Pengadilan Surgawi yang terjerumus ke dalam ilmu iblis. Dia menciptakan item khusus dengan menggabungkan dua elemen dewa dan iblis. Item itu bisa menjadi senjata yang sangat kuat, atau harta yang sangat berharga.


“Namun, karena dalam benda itu terdapat energi iblis, itu memiliki banyak pengaruh buruk. Benda itu menjadi haus darah. Itu bisa memengaruhi seseorang untuk membunuh dan membantai orang lain.


“Benda itu memiliki pikiran seperti makhluk yang bernapas. Memiliki nafsu dan juga ambisi. Itulah kenapa aku harus menyegelnya. Aku hanya tidak menyangka suatu hari akan ada gadis yang menempati dimensi itu.”


Mo Jingtian menatap Qing Yue’er dengan serius. “Sekarang segelnya melemah. Benda itu akhirnya mencoba untuk memengaruhimu.”


Qing Yue’er yang mendengar penjelasan itu menjadi terkejut. Ternyata ada benda seberbahaya itu di sekitarnya. Ini merupakan ancaman jangka panjang untuknya.


Hari ini mungkin dia bisa selamat. Namun, belum tentu di lain waktu dia masih seberuntung ini. Jika dia jatuh ke dalam pikiran benda itu, bukankah dia akan menjadi iblis haus darah?


Membayangkan itu membuatnya bergidik. “Kalau begitu kau harus menyegelnya kembali.”


Mo Jingtian menunduk. “Ying Jun bisa melakukannya,” gumamnya.


“Aku tahu, tapi itu tidak akan maksimal karena dia hanya binatang ilahi.”


“Beberapa kali aku ingin mengajarkannya padamu. Mungkin ini memang waktumu untuk mempelajari segel itu.”


Qing Yue’er menggeleng. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk membujuk Mo Jingtian mengembalikan kekuatan. Tidak ada waktu untuk menunda-nunda lagi.


“Aku ingin kau yang melakukannya untukku,” ucap Qing Yue’er dengan lirih. “Bisakah?”

__ADS_1


Mo Jingtian menatap gadis itu dengan sendu. Melihat permohonan di matanya membuat hatinya merasa tergerak. Apakah dia benar-benar harus mengambil langkah itu?


“Aku selalu bangga memilikimu, Jingtian. Aku selalu berpikir bahkan jika aku menyerah dengan apa yang kumiliki sekarang dan hanya menjadi gadis yang lemah, aku akan baik-baik saja karena aku memilikimu.”


Qing Yue’er tersenyum. “Kau tidak akan membiarkan pikiranku itu salah, kan?”


Mo Jingtian tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya menggeleng pelan dan berkata, “Maafkan aku, Yue’er. Mungkin aku mengecewakanmu.”


Senyum di wajah Qing Yue’er memudar. Ekspresi kekecewaan di wajahnya terlihat begitu nyata. Entah itu hanya kepura-puraan atau justru perasaan yang sebenarnya.


Dia akhirnya berdiri membelakangi Mo Jingtian. “Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi. Maaf jika sikapku menjadi kekanakan belakang ini.”


Setelah mengatakan itu, dia keluar dari kamar Mo Jingtian. Kakek dan ibunya sudah menunggunya, tapi dia tidak memiliki keinginan untuk berbicara dengan mereka.


“Kakek, Ibu, aku sangat lelah sekarang. Aku ingin beristirahat.”


Xie Song dan Xie Yingfei tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya bisa mengangguk dan memerhatikan gadis itu pergi ke kamarnya sendiri.


“Suasana hatinya sepertinya tidak begitu baik,” kata Xie Yingfei dengan hati-hati.


“Tidak apa-apa. Setidaknya dia baik-baik saja sekarang,” balas Xie Song.


“Aku pasti sudah menyakitinya.”


Perasaannya menjadi tidak tenang. Bahkan sampai keesokan harinya pun dia masih merasa bersalah.


“Apakah dia marah padaku?” dia bergumam sambil menatap cangkir teh di depannya. Ini sudah tengah hari, tapi dia tidak melihat kehadiran Qing Yue’er sama sekali.


“Mungkin dia memiliki urusan lain.”


Jarak antara kamarnya dengan kamar Qing Yue’er sangatlah dekat. Namun, dia ragu untuk datang menemuinya. “Jika dia memiliki waktu luang, dia pasti akan datang ke sini.”


Dia mencoba berpikir santai. Namun, hingga sore hari, dia masih tidak melihat tanda-tanda kedatangannya. Jangankan kedatangannya, bahkan dia tidak mendengar suaranya sedikit pun.


Mo Jingtian mengerutkan kening. Pada saat itu, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar. Dengan cepat dia segera membukanya, berharap itu Qing Yue’er. Namun, bukan. Itu adalah Xie Wuqing.


“Tuan, apa aku boleh masuk?”


Dia mengangguk pelan lalu membiarkan Xie Wuqing masuk. Pria muda itu duduk di kursi teh dengan wajah serius. “Ada apa?”


Xie Wuqing berdeham. “Semalam aku melihat ada banyak orang yang pingsan setelah melihatmu.”

__ADS_1


Mo Jingtian sudah mendengar masalah itu dari Xie Song pagi ini. Pria tua itu memberi tahunya mengenai para penjaga dan pelayan yang jatuh ke dalam Pesona Surgawinya.


Tidak banyak yang bisa dia lakukan tentang itu. Lagi pula dia tidak bersalah. Merekalah yang telah memasuki kamarnya pada situasi yang tidak tepat.


“Dengan kondisiku sekarang, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka,” ucapnya.


Xie Wuqing menghela napas. “Ayahku sudah mencoba menyadarkan mereka. Mungkin perlu beberapa saat untuk kembali pulih.”


Mo Jingtian hanya mengangguk-angguk pelan. Dia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Suara Xie Wuqing kembali terdengar, “Yue’er pergi pagi-pagi sekali. Tuan, apa kau tahu?”


Kening Mo Jingtian berkerut dalam. “Tidak.”


“Ah?” Xie Wuqing sedikit bingung. Semalam ketika Qing Yue’er keluar dari kamar Mo Jingtian, dia terlihat tidak begitu bahagia. Mungkinkah mereka sedang memiliki masalah?


“Mungkin dia memang marah padaku,” gumam Mo Jingtian. Ekspresinya menjadi semakin muram.


“Marah?” Xie Wuqing semakin heran. ”Tenang saja. Itu pasti hanya sebentar. Dia akan kembali dengan hati yang bahagia nanti.”


Mo Jingtian hanya mengangguk. Qing Yue’er hampir tidak pernah marah dan mengabaikannya apalagi sampai berhari-hari. Jadi dia tidak terlalu khawatir. Mungkin gadis itu akan menemuinya setelah merasa lebih tenang.


Namun, perkiraannya salah. Sampai besok dan besoknya lagi Qing Yue’er masih tidak menemuinya. Berhari-hari gadis itu menghilang entah ke mana.


Mo Jingtian menjadi khawatir. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Qing Yue’er. Namun, setelah menanyakannya pada beberapa pelayan, mereka mengatakan gadis itu baik-baik saja.


Qing Yue’er selalu meninggalkan istana di pagi buta dan pulang larut malam. Namun, tidak ada yang tahu ke mana perginya gadis itu.


Ini membuat Mo Jingtian gelisah. Apakah Qing Yue’er akhirnya menyerah dan benar-benar tidak akan mengganggunya lagi?


Apa gadis itu tidak menginginkan pernikahan mereka lagi dan akan segera meninggalkannya?


Tiba-tiba Mo Jingtian merasa sesak. Ada sesuatu yang hilang di hatinya. Sesuatu yang tidak terlihat tapi membuatnya begitu tersiksa.


Pada saat dia sedang melamun, tiba-tiba seseorang muncul di hadapannya. Itu adalah Di Feng Xi. Pria itu membungkuk hormat padanya.


“Guru, aku sudah menemukan akses untuk bertemu Di Shi. Malam ini juga kita bisa pergi menemuinya.”


Mo Jingtian mengepalkan tangannya. Matanya berkilat penuh tekad. ‘Tunggu sebentar lagi, Yue’er. Aku akan mendapatkan jawabannya.’


Dia menatap Di Feng Xi dan mengangguk dengan mantap. “Kalau begitu malam ini juga kita akan pergi. Ingat, jangan sampai ada yang mengetahuinya.”


“Guru tenang saja. Aku akan melakukan yang terbaik.”

__ADS_1


__ADS_2