
Kedua mata Qing Yue’er berbinar ketika melihat Yuan Xin’er ikut datang bersama ayah dan kakaknya. Sejak terakhir kali bertemu di Istana Rongyao ketika menemani pamannya, dia belum memiliki kesempatan untuk bertemu dengan wanita itu lagi.
Yuan Xin’er masih sama cantiknya seperti dulu. Perempuan itu menunduk dan tampak gugup. Qing Yue’er langsung melirik pamannya. Ternyata pria itu sedang menatap wanita itu dengan penuh kerinduan dan kekaguman.
Dia merasa ingin muntah. “Paman, sudah berapa lama kau tidak bertemu dengannya?” dia berbisik di belakang Kakek Xie.
“Hampir satu bulan,” gumam Xie Wuqing tanpa mengalihkan perhatiannya dari Yuan Xin’er. Entah dia sadar dengan kata-katanya atau masih berada dalam dimensi cinta.
Qing Yue’er tidak bisa berkata-kata. Apakah dia dan Mo Jingtian juga terlihat menggelikan seperti itu bagi orang lain?
Setelah itu, Xie Song dan Yuan Dawei saling menyapa dengan akrab. Mereka benar-benar terlihat seperti teman lama.
“Yuan Tua, kau pasti sudah terbiasa melihat Wuqing, bahkan mungkin sudah muak. Tapi kau pasti belum pernah bertemu dengan cucuku yang satu ini.” Xie Song segera menarik Qing Yue’er ke depan.
“Nak, beri salam pada Tuan Yuan!” perintah pria tua itu dengan antusias. Sudah lama dia ingin memamerkan cucunya ini kepada orang lain.
Qing Yue’er tersenyum canggung lalu membungkuk sopan pada Yuan Dawei. “Tuan Yuan ….”
Yuan Dawei terkekeh dan mengibaskan tangannya. “Meskipun baru melihatnya hari ini, aku sudah lama mendengar kehebatannya. Memang benar-benar keturunan klan Xie,” pujinya dengan tulus.
Tawa yang penuh dengan rasa bangga dan puas langsung keluar dari mulut Xie Song. “Benar bukan? Dia menerobos lagi semalam, padahal dia baru menerobos belum lama ini!”
Ketiga orang dari keluarga Yuan yang mendengar itu langsung terkejut. Mereka mencoba memeriksa tingkat kultivasi Qing Yue’er, tapi itu begitu tersembunyi.
Mereka tiba-tiba teringat dengan fenomena kesengsaraan surgawi yang muncul belum lama ini. Apakah itu Qing Yue’er dan bukan Xie Song?
Yuan Dawei menatap Qing Yue’er dengan takjub. Dia sudah banyak melihat seorang jenius di Celestial. Namun, baru sekarang dia melihat seorang gadis memasuki ranah roh perak dalam usia semuda itu.
“Benar-benar tidak menyangka. Ini akan menjadi kesenanganku bisa bertemu dengan jenius muda klan Xie,” ucap Yuan Dawei dengan senang.
Qing Yue’er menggosok hidungnya. Dia melirik kakeknya dengan sedikit jengkel. Bisakah orang tua itu tidak menyombong? Bukankah terobosannya terjadi hanya karena mendapatkan harta-harta langka?
Pria tua itu tertawa melihat lirikan Qing Yue’er. Akhirnya dia berdeham dan mengalihkan perhatiannya pada Yuan Xin’er dan Yuan Yichuan. “Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak ingin menyapa orang tua ini?”
Kedua anak muda itu tersenyum dan segera memberi salam. “Tuan Xie ….”
“Xin’er, belakangan ini kekacauan ada di mana-mana. Jadi, jangan salahkan Wuqing jika dia tidak bisa sering datang menemuimu,” ucap Xie Song yang mencoba meminta pengertian.
Yuan Xin’er tentu saja terkejut mendengar kata-kata itu. Wajahnya menjadi merah. Kenapa orang tua itu berpikir dia menyalahkan Xie Wuqing karena tidak datang ke Istana Rongyao?
“Tuan Xie, aku tidak …. Aku hanya …. Maksudku ….”
Yuan Dawei terkekeh melihat kegugupan putrinya. Akhirnya dia berkata, “Gadis, kita sudah di sini sekarang. Kau bisa berbincang dengannya jika mau.”
Xie Wuqing tersenyum. “Xin’er, ayo. Terakhir kali aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, tapi waktunya tidak begitu tepat.”
__ADS_1
Gadis itu menjadi semakin malu. Yuan Yichuan terkekeh lalu mendorong pelan adiknya dengan puas. “Pergilah! Kami semua memakluminya jika kau memang ingin memuaskan kerinduanmu.”
Yuan Xin’er hanya bisa menunduk dengan wajah bersemu merah. Xie Wuqing menunjukkan jalan padanya, jadi dia pun mengikutinya pergi. Namun, sebelum berjalan jauh, dia menoleh pada Qing Yue’er.
“Nona Qing, aku ingin membandingkan kekuatan roh denganmu setelah ini. Apa kau bersedia?”
Qing Yue’er langsung tersenyum lebar. “Tentu saja.”
Yuan Xin’er tersenyum senang. Setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya bersama Xie Wuqing.
Yuan Dawei dan Xie Song saling tersenyum melihat kepergian kedua orang itu. Mereka terkekeh dengan perasaan puas. Keduanya memang sudah lama merestui kedekatan mereka. Bahkan akan sangat senang jika bisa menjadi besan.
Sementara itu, Yuan Yichuan tersenyum pada Qing Yue’er. “Nona Qing, aku ingin berterima kasih atas bantuanmu malam itu di Istana Guang. Jika bukan karena tindakanmu saat itu, mungkin aku harus terlibat dengan kekacauan di sana.”
Qing Yue’er terkekeh santai. Dia memanaskan teh di meja lalu menjawab, “Itu bukan apa-apa. Lagi pula kita adalah kenalan yang baik. Duduklah.”
Pria itu tersenyum malu dan duduk. “Aku sempat mengkhawatirkanmu. Namun, melihatmu baik-baik saja sekarang dan bahkan menjadi lebih kuat, kekhawatiranku pasti berlebihan.”
“Memang berlebihan.” Tiba-tiba suara yang datar terdengar dari jauh. Mereka menoleh dan melihat pria berambut putih yang wajahnya ditutup topeng.
Xie Song tersenyum lebar melihat kedatangan Mo Jingtian. Dia segera berdiri dan menyambut kedatangannya dengan antusias. Di mana pun Mo Jingtian muncul, dia pasti akan selalu menyambutnya.
Qing Yue’er mendengkus, lalu menyajikan tehnya pada Yuan Yichuan. Dia tersenyum manis pada pria itu dan berkata, “Tuan Muda Yuan, sangat jarang kau mendapatkan perawatan ini dariku. Silakan cobalah.”
“Terima kasih.” Dia hanya mengatakan itu dan mencoba mengabaikan Qing Yue’er.
Mo Jingtian duduk sesuai arahan Xie Song. Dia menatap Qing Yue’er dengan intens, tapi gadis itu berpura-pura tidak melihatnya. Justru sibuk mencoba mendekati Yuan Yichuan.
Perasaannya menjadi tidak senang. Apa Yuan Yichuan itu lebih menarik darinya? Kenapa Qing Yue’er lebih memilih duduk di dekatnya dan bersikap manis seperti itu?
Sungguh pemandangan yang merusak mata!
Xie Song menyadari atmosfer yang tidak mengenakkan itu. Dia berdeham lalu mencoba memperkenalkan Mo Jingtian pada Yuan Dawei.
“Yuan Tua, jika kau mendapat kabar Qing Yue’er menikah, maka inilah calon suaminya. Aku tidak akan menyembunyikannya darimu.”
Yuan Dawei mengamati Mo Jingtian dengan kening berkerut. Dia memang sudah mendengar dari Yuan Yichuan bahwa Qing Yue’er membawa kekasihnya ke perjamuan Istana Guang. Jadi, inikah orangnya? Kenapa rasanya sangat familiar?
Pria tua itu tampak kebingungan seolah berbagai pertanyaan telah melintas di kepalanya. Sudut bibir Mo Jingtian sedikit terangkat. “Yuan Dawei, apa yang membuatmu begitu tertegun?”
Orang yang ditanya itu sedikit terkejut dengan sikap Mo Jingtian. Pria itu bahkan tidak memanggilnya dengan sapaan “tuan” seperti yang biasa dilakukan orang-orang ketika pertama kali bertemu.
Dia menggeleng pelan. “Aku merasa kau terlihat familiar. Mungkinkah aku telah melihatmu secara tidak sengaja?”
Xie Song terkekeh mendengar itu. “Seharusnya kau ingat dengan Dewa Kehancuran.”
__ADS_1
Kedua mata Yuan Dawei langsung melebar. Dia mencoba mencocokkan penampilan Mo Jingtian dengan Di Futian. Meskipun belum pernah melihatnya secara langsung, tapi beberapa orang telah membuat lukisan ataupun patung penghormatannya.
Dia langsung menemukan itu memang mirip. Mungkin karena pria itu memakai pakaian putih dan bukan jubah merah identiknya jadi dia tidak bisa dikenali secara langsung.
Selain itu, dia tidak merasakan kekuatan spiritual di tubuhnya. Sehingga sama sekali tidak menduga kalau orang itu sebenarnya adalah dewa. Pasti itu juga yang membuat orang-orang di perjamuan Istana Guang tidak mengenalinya.
Tangan Yuan Dawei menjadi gemetar. Dia segera menarik putranya untuk membungkuk hormat pada sosok itu. “Maafkan kami yang tidak bisa mengenalimu, Tuan Dewa.”
Mo Jingtian tersenyum lebar. “Itu bukan apa-apa. Lagi pula aku tidak ingin orang mengetahuinya.”
Yuan Dawei mengangguk pelan. Sementara Yuan Yichuan hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata. Dia masih terlalu terkejut mengetahui identitas Mo Jingtian.
“Jadi, kalian akan … menikah? Apakah waktunya sudah dekat?” Yuan Dawei bertanya dengan hati-hati.
Dia masih ingat dengan kisah tentang larangan dewa yang menikah dengan manusia. Mungkinkah sekarang tidak ada aturan seperti itu lagi di Pengadilan Surgawi?
“Aku memang akan menikah dengan Yue’er. Jadi … jika dia membuat kesalahan dengan mendekati pria lain, kalian harus menegurnya.”
Qing Yue’er terbatuk mendengar itu. Dia langsung memelotot pada Mo Jingtian. Namun, dia tidak ingin bertengkar dengannya, jadi lebih baik diam.
Xie Song terkekeh. “Tuan Mo, Yue’er hanya akan menyukaimu. Bagaimana mungkin dia akan mendekati pria lain?” Dia akhirnya menuangkan teh untuk Mo Jingtian.
“Kebetulan Tuan Mo ada di sini. Yuan Tua, mungkinkah kau ingin menceritakan kenapa kau datang ke sini?” Xie Song bertanya.
Yuan Dawei mengangguk. Bukankah Mo Jingtian adalah dewa? Mungkin keresahannya bisa ditenangkan dengan adanya pria itu.
Dia menghela napas. “Sebenarnya tidak ada yang begitu mendesak. Aku hanya merasa cemas setelah mendengar kabar pembantaian di Celestial. Tidak tahu apakah ini masih akan berlanjut atau tidak.”
Mo Jingtian diam-diam melirik Qing Yue’er dan gadis itu mendelik padanya seolah mengatakan, ‘Kau menyembunyikan masalah ini dariku, kan?!’
Akhirnya dia tahu kenapa Qing Yue’er mengabaikannya. Dia berdeham lalu memalingkan wajahnya. Dengan santai berkata, “Kalian tidak perlu mencemaskan itu. Dewa tidak akan diam melihat orang yang tidak bersalah dibantai oleh iblis.”
“Jadi itu tindakan iblis?”
“Perintah pemimpin iblis,” Qing Yue’er membenarkan. Dia menatap Mo Jingtian dengan datar. “Apa kau yakin akan ada dewa yang membantu?”
Pria itu meniup tehnya dengan pelan. “Akan ada dewa yang membantu, tapi kemarahan orang itu pasti akan menjadi semakin kuat,” jawab Mo Jingtian dengan nada santai.
Qing Yue’er membuang napas kasar. Sementara orang lain mengerutkan kening mereka. “Pemimpin iblis itu akan marah? Bukankah itu semakin berbahaya?”
“Tentu saja. Jadi ….” Tatapan Mo Jingtian menjadi lebih serius. “Bersiap-siaplah. Mungkin kalian akan mendengar lebih banyak kekacauan lagi.”
Pada saat itu, seorang pelayan tiba-tiba berlari dan berteriak panik dari kejauhan, “Tuan, ini gawat! Sesuatu telah terjadi pada Nyonya!”
Qing Yue’er yang mendengar itu langsung berdiri. “Apa? Ada apa dengan ibu?”
__ADS_1