
Kedua mata Jing Ling berbinar ketika melihat Zhang Wudi memasuki arena. Bukan karena dia tertarik dengan pria itu melainkan tertarik pada cakram di tangannya. Cakram itu meskipun tidak terlalu mewah tetapi memiliki daya tarik tersendiri. Dan itu membuat Jing Ling merasa ingin memilikinya.
Qing Yue'er terkekeh menyadari keinginan Jing Ling. Dia merangkul gadis itu dengan akrab. "Apa kau menginginkan cakram itu?"
Jing Ling menoleh. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Ekspresimu telah menjelaskan segalanya," jawab Qing Yue'er.
"Heheh, aku berharap pria itu akan mengalahkan Kepala Botak," ucap Jing Ling setelah terkekeh.
"Aku juga berharap seperti itu." Qing Yue'er berkata dengan santai. Kemudian dia melihat ke sekiling untuk mencari tempat duduk. Dia paling malas ketika menonton pertandingan dengan berdiri seperti sekarang.
Setelah beberapa saat akhirnya dia menemukan tempat duduk yang strategis untuk menonton. Mereka berdua pun langsung pindah ke tempat itu. Tepat di sebelah Qing Yue'er, ada seorang pria tua yang sudah duduk di sana sejak awal.
Pria itu menyangga dagunya menggunakan tongkat rotan yang dipilin sedemikian rupa. Matanya hanya terbuka setengahnya. Entah itu karena mengantuk atau itu memang kebiasaan.
"Pak Tua, itu bukan tongkat yang buruk," ucap Qing Yue'er setelah mengamati tongkat itu dengan teliti.
Orang tua itu langsung membuka matanya dengan benar. Dia menoleh pada Qing Yue'er dan mengamatinya selama beberapa saat. Setelah itu dia kembali menutup setengah matanya.
"Penglihatanmu tidak buruk," jawab orang tua tersebut.
Qing Yue'er mengendikkan bahunya dan hanya tersenyum. Setelah itu dia kembali fokus pada pertandingan antara Zhang Wudi dengan Ye Ganghao. Sepertinya mereka berdua adalah musuh bebuyutan yang sudah lama saling bersaing.
Whoossh!
Zhang Wudi melemparkan salah satu cakram ke depan. Cakram itu berputar dalam lintasan miring membentuk cahaya yang bergerak dengan kecepatan kilat. Terlihat jika cakram itu melintas memutari tubuh Ye Ganghao.
Jing Ling semakin terpesona saja saat melihat permainan cakram itu. Seandainya dia yang memainkannya, pasti itu akan sangat keren.
Ye Ganghao memutar tubuhnya untuk mewaspadai arah cakram. Dia mencengkeram gadanya dengan erat, lalu dalam sekali gerakan dia memukul cakram itu hingga terpelanting jauh.
Dia tertawa terbahak-bahak. "Hanya memukul cakram, itu adalah sesuatu yang begitu mudah!"
Cakram yang terpelanting langsung ditarik kembali oleh Zhang Wudi hingga kembali ketangannya. "Kepala Botak, ini baru permulaan."
Zhang Wudi memutar cakram di tangannya dengan cepat. Kali ini dia berlari mendekati Ye Ganghao. Dengan gerakan lincahnya dia mulai bergerak memutari tubuh gempal Ye Ganghao. Gerakannya begitu cepat hingga membentuk angin yang menerbangkan debu di tanah.
Ye Ganghao menajamkan penglihatannya. Dia melakukan persiapan utuk mendaratkan serangan gadanya. Beberapa saat kemudian dia mulai mengayunkan lengannya, tetapi kali ini dia tidak tepat sasaran.
Tangan Zhang Wudi masih memutar cakram. Ketika melihat Ye Ganghao gagal menyerangnya, dia mengayunkan salah satu cakramnya untuk menggores lengan pria gempal itu di bagian dalamnya.
Sreettt!
Ye Ganghao langsung meringis saat rasa sakit yang menyengat datang di lengannya. Dia melihat darah yang sudah memercik menodai lengan bajunya. Amarahnya langsung meledak.
__ADS_1
"Sial! Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja!" seru Ye Ganghao dengan marah.
Sedangkan Zhang Wudi terkekeh penuh semangat. Mendaratkan serangan di tubuh Ye Ganghao membuat semangatnya naik beberapa kali lipat. Kali ini dia benar-benar harus mengungguli pria botak itu.
Pertarungan sengit kembali berlanjut. Zhang Wudi bergerak semakin lincah dari sebelumnya. Kali ini dia benar-benar memancing kemarahan Ye Ganghao. Hal itu tentu saja membuatnya menjadi lebih mudah menjatuhkan serangan-serangan lainnya.
Qing Yue'er menyedekapkan tangannya. Pada dasarnya pertarungan yang dia lihat lebih seperti membandingkan senjata. Bukan pertempuran sungguhan yang melibatkan teknik kultivasi karena kebanyakan dari mereka akan mengeluarkan senjata-senjata yang khas.
Meskipun begitu seseorang tetap bebas akan menggunakan senjata atau hanya menggunakan teknik kultivasi. Hanya saja karena kebanyakan peserta memakai senjata akhirnya peserta lainnya ikut-ikutan mengeluarkan senjata andalan masing-masing.
"Aih, anak muda sekarang semakin pintar saja." Tiba-tiba pria tua yang duduk di sebelah Qing Yue'er mengeluarkan suaranya. Meskipun dia hanya membuka setengah matanya, ternyata dia masih bisa memperhatikan pertandingan dengan baik.
"Nanti pasti akan ada yang lebih pintar lagi," ucap Qing Yue'er untuk menyahuti perkataan pria itu.
"Kalau begitu aku akan menunggu seseorang yang lebih pintar."
Qing Yue'er hanya terkekeh. Tingkah orang tua itu cukup aneh baginya. Namun dia hanya menganggap itu sebagai hal yang bagus.
Ye Ganghao mengusap keringat yang mengalir di kepala botaknya. Baju yang melekat di tubuhnya sudah berubah menjadi robekan-robekan yang sangat jelek. Bahkan ada banyak noda darah yang mengotorinya. Dia benar-benar terlihat menyedihkan.
Banyak orang yang menertawakan penampilannya. Terutama karena robekan yang dibuat oleh cakram Zhang Wudi tidak tanggung-tanggung. Robekan itu memperlihatkan bagian tubuhnya yang dipenuhi oleh tumpukan lemak. Bagaimana ini tidak lucu?
Jing Ling tertawa terbahak-bahak. Sekarang Ye Ganghao lebih terlihat seperti lelucon di depan umum. Qing Yue'er pun terkekeh. Akhirnya orang yang angkuh itu menerima karmanya.
"Berhenti! Aku tidak mau bermain lagi denganmu! Aku mengaku kalah!" teriak Ye Ganghao yang sosoknya sudah semakin menjauh.
Mungkin dia adalah orang yang angkuh, tetapi dia juga orang yang malu menghadapi kekalahan. Dia berlari menjauh karena merasa sudah tidak memiliki wajah lagi. Apalagi setelah tumpukan lemaknya ditonton di depan umum.
Zhang Wudi tertawa dengan puas. Akhirnya kali ini dia berhasil mengungguli si botak itu atau jika tidak dia akan berlutut di depan leluhur keluarga Zhang. Sejujurnya dia memang sudah lama sikut menyikut dengan Ye Ganghao, tetapi baru kali ini dia benar-benar membalasnya.
Zhang Wudi membersihkan cakramnya yang memiliki noda darah. Setelah itu dia mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling. "Siapa yang ingin menantangku?!"
Qing Yue'er melirik Jing Ling. Jing Ling juga sedang menatapnya untuk meminta persetujuan darinya. Akhirnya Qing Yue'er pun mengangguk. "Pergilah. Lakukan dengan baik, jangan mempermalukan dirimu sendiri."
Jing Ling mengangguk dengan senang. "Aku pasti akan mengalahkannya!"
Setelah berseru dengan percaya diri, dia pun keluar dari barisan dan bergerak menuju arena. Dengan penampilannya yang cantik dan masih terlihat asing, banyak pasang mata yang mengamatinya dengan penasaran.
"Apa kamu mengenalnya?" bisik seseorang kepada rekan sebelahnya.
"Tidak. Aku baru melihatnya kali ini."
"Dia masih muda, apa dia bisa mengalahkan Zhang Wudi?"
"Mari kita lihat bagaimana hasilnya."
__ADS_1
Beberapa orang membicarakan hal yang sama. Mereka tidak mau meremehkan Jing Ling, tetapi mereka juga tidak begitu mempercayainya. Apalagi gadis itu berjalan dengan tangan kosong, bisakah dia memenangkan pertempuran dengan Zhang Wudi?
Jika kebanyakan orang berpikir seperti itu, maka pria tua yang ada di sebelah Qing Yue'er berbeda. Dia akhirnya mau membuka matanya dengan benar.
"Kalian orang baru kenapa begitu berani turun langsung ke arena?" tanya orang itu.
Qing Yue'er menoleh. Dia cukup terkejut juga karena orang itu memahami kalau dia dan Jing Ling adalah pendatang baru. Namun jika dipikir-pikir itu tidak mengherankan, mungkin orang itu memahami penduduk sini dengan baik.
"Bukankah itu bagus jika memiliki banyak keberanian?" tanya Qing Yue'er.
Orang tua itu terkekeh dan membelai janggutnya sendiri. Padahal dia tidak memiliki jenggot panjang di sana seperti kebanyakan orang tua lainnya. "Kalian memang berbeda dari gadis-gadis lainnya."
Kedua alis Qing Yue'er terangkat. "Pak Tua, apa kau akan masuk arena juga?"
"Memangnya kenapa? Apa kau ingin bertanding denganku?" tanya orang tua itu yang seakan bisa membaca pemikiran Qing Yue'er.
"Heheh, bukankah ini ide yang bagus?" tanya Qing Yue'er.
Orang tua itu cukup terkejut. Bahkan gadis itu tidak mempertimbangkan seberapa tingkat kekuatannya dan langsung berniat untuk menantangnya. Bukankah ini seperti sedang mencari kematian?
"Nak, menjadi berani itu baik, tetapi kamu harus mengetahui batasanmu," ucapnya. Dia hanya menyayangkan sikap Qing Yue'er yang terlalu sembrono.
Qing Yue'er tersenyum. Tangannya bergerak dengan cepat untuk merebut tongkat rotan dari tangan pria tua itu. Namun pria itu ternyata menyadari niatnya. Dia langsung bergerak untuk memindahkan tongkatnya ke samping.
Whoossh whoossh!
Tangan Qing Yue'er tidak berhenti. Dia masih bergerak dengan gesit untuk mengambil alih tongkat rotan itu. Senyumnya mengembang, dia merasa tertantang dengan perebutan tongkat rotan itu.
Orang-orang yang melihat mereka berdua menjadi heran. Yang satu seorang gadis muda, sedangkan yang satunya lagi seorang kakek tua. Mereka benar-benar terlihat seperti kakek dan cucu yang sedang memperebutkan sepotong makanan.
Orang tua itu memindahkan tongkat rotannya dengan berbagai cara. Dia benar-benar terkejut dengan kelincahan Qing Yue'er. Meskipun dia tidak dapat merasakan tingkat kultivasi gadis itu, tetapi jika dilihat dari kecepatannya setidaknya itu hampir di puncak alam langit.
Bukankah ini terlalu mengejutkan? Puncak alam langit di umur yang mungkin hanya 15 tahun, apakah gadis itu berasal dari kekuatan besar Dataran Tengah? Tapi bagaimana mungkin? Apa pun itu dia tetap merasa senang karena telah bertemu dengan seorang jenius muda.
"Heheh, kamu ingin mengambil tongkatku bukan?" tanya orang tua itu setelah kembali mengamankan tongkatnya.
Qing Yue'er menjawab dengan kekehan. Dia memang cukup tertarik dengan tongkat rotan itu. Semacam ada aura unik yang terpancar darinya. Dan itu membuat dia merasakan getaran tertentu di dasar hatinya.
"Kalau begitu setelah ini turunlah ke arena untuk menentangku, Daoist Black Three."
"...."
Qing Yue'er tertegun. Jadi orang ini adalah Daoist Black Three yang katanya selalu mendapat urutan tiga besar? Apakah sekarang dia telah bermain dengan orang yang salah?
Sudut bibir Qing Yue'er berkedut. Meskipun dia merasa terkejut tetapi dia sudah terlanjur membuat masalah. Jadi apa yang harus dia lakukan adalah memikirkan strategi untuk dapat mengalahkan orang tua itu di pertandingan selanjutnya.
__ADS_1