Ancient Realm Goddess

Ancient Realm Goddess
Jurang Iblis


__ADS_3

Qing Yue'er menarik napas lalu mengembuskannya dengan perlahan. Jika dipikirkan baik-baik, ini memang masuk akal. Tentang pergantian nama di bumi, lalu tentang nama Qing Yue'er yg dikenakan kembali setelah perubahan sikap.


Ini seperti serangkaian kejadian yang sudah direncanakan. Bukankah ini benar-benar mengagumkan? Ayahnya, mungkin sangat hebat karena mampu membuka ruang dimensi menuju bumi dan menukar jiwa orang lain. Sebarapa kuatkah dia?


Selain itu bukankah ini berarti dia masih memiliki orang tua? Dan wanita di depannya ini ....


Sudut mata Qing Yue'er menjadi basah. Benarkah dia adalah ibunya?


"Putriku, kemarilah. Biarkan ibumu ini melihatmu dengan baik," ucap Xie Ying Fei.


Qing Yue'er menurutinya begitu saja. Dia berjalan mendekati Xie Ying Fei hingga jarak mereka begitu dekat. Setelah itu dia bisa merasakan kepalanya yang diusap dengan lembut.


Kehangatan menjalar ke dalam hatinya. Sudah berapa lama dia menginginkan kehadiran orang tua? Sudah bertahun-tahun, dan itu sangat lama. Dia tidak pernah menduga kalau ternyata dia masih memiliki orang tua.


Ini adalah kejutan yang menyenangkan. Bahkan setelah sekian lama dia berpikir keras tentang apa yang pernah Bai Su ceritakan, dia masih tidak akan menduga kalau kebenarannya akan seperti ini.


"Kamu telah menjalani banyak hari yang sulit. Namun jalan ke depan bahkan akan lebih sulit," ucap Xie Ying Fei.


Qing Yue'er menatap wanita di depannya dengan pandangan lembut. "Ibu ...."


Senyum manis muncul di bibir Xie Ying Fei. Dia menatap putri satu-satunya dengan penuh kasih sayang. Panggilan ini, sudah berapa lama dia ingin mendengarnya?


Awalnya dia juga tidak menduga jika Qing Yue'er akan datang lagi ke dunia ini. Dulu dia sudah bersiap untuk tidak pernah bertemu lagi dengan anak itu. Menurutnya dunia yang bernama bumi itu lebih aman untuk putrinya.


Namun mungkin takdir sudah menggariskan segalanya. Dia hanya bisa bersyukur karena sekarang bisa bertemu lagi dengan Qing Yue'er.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Qing Yue'er tiba-tiba.


Tanpa menunggu respon dari ibunya, Qing Yue'er langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Air matanya langsung tumpah begitu saja. Bukan karena dia cengeng, namun bertemu dengan ibunya adalah sesuatu yang selama ini dia impikan. Sekarang setelah terwujud, bukankah dia harus bahagia?


Xie Ying Fei terkejut. Melihat bagaimana ekspresi Qing Yue'er, awalnya dia pikir gadis itu akan sulit menerima kenyataan ini. Namun ternyata dia salah.

__ADS_1


"Maafkan ibumu ini yang sudah meninggalkanmu begitu lama," ucapnya sambil mengelus rambut Qing Yue'er.


"Tidak. Yue'er tahu Ibu memiliki alasan tersendiri," balas Qing Yue'er.


Jawaban itu tentu saja membuat hati Xie Ying Fei merasa lega. Pemikiran Qing Yue'er lebih dewasa dari yang dia pikirkan. Setidaknya ini menambah poin positif untuk menjadi pemimpin yang baik.


"Aku memiliki satu permintaan untukmu," ucapnya.


"Selama Yue'er mampu maka aku pasti akan melakukannya," ujar Qing Yue'er.


"Apa kamu ingin kembali ke klan?"


Tanpa ragu Qing Yue'er langsung mengangguk. Dia ingin melihat di mana tempat tinggal keluarganya. Akan menyenangkan jika dia bisa memiliki saudara lebih banyak.


"Tapi ini akan melalui banyak rasa sakit. Apa kau mau melakukannya?" tanya Xie Ying Fei.


Qing Yue'er menguatkan hatinya. Rasa sakit? Bukankah selama ini hidupnya sudah banyak menelan rasa sakit. Apa yang harus dia takutkan?


"Yue'er akan melakukannya," ucap Qing Yue'er.


"Kamu tidak harus menjawab sekarang. Ini bukan hal yang bisa dijawab dengan tergesa."


"Tidak, Ibu. Biarkan aku cepat menjadi kuat. Seberapa sakitnya, seberapa menakutkannya, Yue'er masih akan menyelesaikannya dengan baik," ucap Qing Yue'er dengan keyakinan penuh.


Xie Ying Fei memejamkan matanya sejenak. Setelah beberapa saat kedua matanya kembali terbuka dan berkilat dengan kilatan aneh.


Dia menarik Qing Yue'er dengan gesit dan dalam sekejap mata sosok mereka telah menghilang tanpa jejak.


Qing Yue'er tidak tahu apa yang terjadi. Pandangannya menjadi buram sesaat. Ketika pandangannya kembali jelas, dia merasa bingung dengan lingkungan yang sama sekali berbeda.


Ini bukan lagi hutan bambu yang sebelumnya, melainkan sebuah tanah gelap yang terasa sangat gersang. Namun bukan itu yang membingungkannya, melainkan sebuah jurang yang ada di depannya.

__ADS_1


Dia bisa melihat warna merah berapi di kedalaman jurang yang terlihat sempit. Rasa panas bisa dia rasakan dari tempatnya berdiri.


Qing Yue'er tertegun. Tempat aneh macam apa ini? Kenapa ibunya membawa dia ke sini?


Dia ingin bertanya, tapi sebelum dia memiliki kesempatan, tubuhnya sudah di dorong ke belakang. Hatinya bergetar dengan jantung yang berdetak cepat. Wajahnya memucat ketika menyadari bahwa saat ini dia telah di dorong masuk ke dalam jurang berapi.


"Ibu!" Qing Yue'er berteriak dengan keras. Matanya mempertanyakan apa yang sedang terjadi. Namun wanita berjubah putih itu hanya menatapnya dengan datar.


Apa ini?!


Apa yang sedang terjadi? Apa dia telah ditipu? Apa orang itu bukan ibunya?


Qing Yue'er tidak bisa merespon. Tubuhnya meluncur dengam cepat ke bawah. Yang biaa dia lakukan hanyalah berteriak penuh rasa putus asa.


"Tidakk! Aku tidak mau mati!!"


"Aaahhh!"


***


Xie Ying Fei menghela napasnya. Sudut matanya menjadi basah. Mungkin sekarang dia telah menjadi orang tua paling kejam. Namun dia harus melakukannya. Tidak peduli pada hati nurani, dia harus mengirim putrinya pergi.


Jurang yang ada di depannya memiliki nama Jurang Iblis. Itu karena di dalamnya berisi dunia yang sama sekali berbeda. Bisa dikatakan kalau Jurang Iblis adalah penjaranya para iblis.


Siapa pun bisa menebak bagaimana isinya. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah berharap agar Qing Yue'er mampu melewati api penyucian yang ada di tempat itu.


"Kamu melakukan ini terlalu cepat. Dia masih hanya anak kecil yang berada di alam langit. Bagaimana kamu bisa setega itu? Bagaimana kalau dia tidak mampu melewatinya?" tanya seseorang dari arah belakang.


Xia Ying Fei langsung menoleh. Apa yang dia lihat adalah seorang pria tua dengan tongkat yang di panggul di pundak. Di ujung belakang tongkat itu ada dua kendi arak yang digantung.


"Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan, Duan Mu," ucap Xie Ying Fei.

__ADS_1


"Hmm. Jangan menangis jika nanti dia tidak akan bisa keluar dari tempat ini."


Xie Ying Fei hanya terdiam. Dia sendiri tidak tahu apakah Qing Yue'er bisa kembali. Namun tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Sudah terlambat jika dia menyesal, maka apa yang dia lakukan sekarang hanyalah berharap untuk keselamatan putrinya.


__ADS_2