
Qing Yue’er merasa cukup senang. Dia berseru, “Ying Jun, Jinlong! Tahan Dewa gadungan itu!”
Ukuran tubuh Ying Jun dan Jinlong tiba-tiba membesar. Ukuran mereka semakin menjangkau tempat yang lebih luas.
Qing Yue’er tidak menghentikan trisulanya. Dia menggantungkan senjata panjang itu ke udara kosong. “Trisula yang baik, teruslah pengaruhi Di Feng Xuan. Kau akan mandi energi spritual jika bisa memuaskanku.”
Trisula itu bergetar seakan mendengar ucapan Qing Yue’er. Setelah itu bahkan tanpa harus digerakkan dan dikendalikan Qing Yue’er, trisula itu masih terus mencoba mengacaukan Di Feng Xuan.
Dalam kesempatan itu Qing Yue’er langsung menarik Taotie agar duduk berhadapan. “Rapalkan itu dengan pikiran yang fokus. Kau … kau mungkin binatang iblis, tapi aku yakin kau pasti bisa.”
Taotie tersenyum lebar mendengr ucapan itu. Kemudian mereka pun memulai ritual penyegelan. Qing Yue’er masih menghafal mantra lama, jadi dia tidak perlu menghafalnya lagi.
Hal yang terjadi sama seperti terakhir kali ketika Qing Yue’er bekerja sama dengan Cloud Fairy. Keduanya mulai diselimuti dengan cahaya yang terang bersamaan dengan ritme rapalan mantra yang meningkat cepat.
Di Feng Xuan yang melihat ini langsung mengerutkan kening. Firasat buruk menghinggapi pikirannya. Dia pernah mendengar tentang mantra magis penyegel kekuatan Dewa. Yang dia tahu mantra itu harus dilakukan sedikitnya oleh dua orang.
Jangan bilang kalau Qing Yue’er dan Taotie sedang melakukan itu? Ini semakin berbahaya. Di Feng Xuan merasa terpojok dan dipaksa mengeluarkan senjata pamungkasnya.
Sebuah pedang bermata ular muncul di tangannya. Mata ular tunggal itu tampak merah menyala-nyala dengan aura mematikan yang sangat kuat.
“Baik. Kalian benar-benar memaksaku untuk melakukan lebih,” gumam Di Feng Xuan.
Di hadapan pedang bermata ular milik Di Feng Xuan, pengaruh trisula menjadi berkurang. Bahkan nyaris tidak memberi pengaruh, apalagi senjata itu sedang tidak dikendalikan oleh Qing Yue’er.
Di Feng Xuan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi hingga memancing petir di langit. Suaranya mengalihkan perhatian Ying Jun dan Jinlong. Keduanya merasa terkejut. Mereka ingin menghentikan Di Feng Xuan, tapi dua Di Feng Xuan yang lain langsung mencegat mereka.
“Jangan pernah berpikir menyelamatkan mereka!”
Ying Jun menjadi gusar. Pedang bermata ular adalah senjata Di Feng Xuan yang membuatnya cukup ditakuti. Pedang itu bisa membelah lautan dan meruntuhkan gunung hanya dengan satu tebasan.
Tanpa keraguan Di Feng Xuan menebaskan pedangnya ke arah trisula. Suara ledakan yang memekakkan telinga langsung menyebar di langit malam.
__ADS_1
Boommm!
Sekali lagi Benua Tongxuan terguncang. Trisula Qing Yue’er langsung terlempar jauh entah ke mana. Sosoknya sudah tidak terlihat lagi.
Di Feng Xuan tersenyum mengejek. “Senjata itu tetap akan kalah dari pedang milikku,” ucapnya dengan bangga.
Kemudian dia beralih menatap Qing Yue’er dan Taotie. “Apa kalian sedang mencoba menyegel kedewaanku? Itu tidak akan pernah terjadi!” geram Di Feng Xuan.
Pedang bermata ular itu kembali terangkat tinggi. Guratan-guratan kilat menyelimuti bilahnya yang panjang.
Tatapan mata Di Feng Xuan dipenuhi dengan kilat kebencian. Hanya dengan satu gerakan pedang itu ditebaskan ke arah Qing Yue’er dan Taotie.
Whoosshh!
Kilatan putih penuh kehancuran melesat cepat ke depan. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba sosok hitam melesat cepat dan langsung menghentikan kilatan itu.
Boomm!
Tepat pada saat itu berkas sinar melesat dari tempat Qing Yuer dan Taotie berada. Di Feng Xuan terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak memerhatikan cahaya yang melesak masuk ke otaknya.
Pada detik berikutnya dia langsung berteriak kesakitan. Pedang di tangannya terlepas begitu saja. Kedua tangannya memegangi kepala yang terasa seolah sedang dipukul dengan palu godam.
Qing Yue’er yang sudah menyelesaikan ritual sama sekali tidak peduli pada Di Feng Xuan. Selama segelnya sudah memasuki kepala Dewa maka itu berarti sudah berhasil.
Sekarang dia lebih peduli dengan sosok penyelamatnya. Dia melesat cepat turun ke bawah mengejar sosok berpakaian hitam yang melayang jatuh.
Untungnya Qing Yue’er gesit. Sebelum sosok itu benar-benar menghantam tanah, dia sudah terlebih dahulu menangkap tubuhnya. Ketika melihat siapa orang itu, perasaan Qing Yue’er menjadi rumit.
Dia segera mendarat ke tanah dan meletakkan orang itu dengan hati-hati. Sosok berpakaian hitam itu adalah pria yang sudah tidak asing lagi baginya. Sekali dua kali dia pernah melihatnya.
Orang itu tak lain adalah Mo Yu, bawahan Mo Jingtian yang dulu sempat diutus untuk menemani Mo Feng mengurus iblis di alam bawah. Namun, Qing Yue’er tidak pernah tahu kalau mereka juga berada di Tongxuan.
__ADS_1
“Kenapa kau harus melakukan ini …,” lirih Qing Yue’er. Dia tidak sanggup melihat luka di tubuh Mo Yu.
Pria itu terluka begitu serius. Dadanya sudah tertembus kekuatan pedang Di Feng Xuan. Lukanya menganga lebar, bahkan Qing Yue’er bisa melihat organ bagian dalamnya yang seakan teraduk-aduk.
“Nona, un … tunglah kau … selamat ….”
Qing Yue’er mengigit bibirnya. Matanya sudah digenangi oleh cairan bening. Padahal dia tidak begitu mengenal Mo Yu. Mereka bahkan tidak pernah saling berbicara. Namun, pria itu rela mengorbankan nyawa untuknya.
Bagaimana mungkin Qing Yue’er bisa menerima pengorbanan sebesar itu tanpa merasa bersalah?
“Maaf, maafkan aku. Kau … tolong bertahanlah, aku pasti akan menyelamatkanmu,” pinta Qing Yue’er dengan suara tergagap. Dia sudah menyelimuti tangannya dengan kekuatan roh, tetapi Mo Yu segera menahannya.
“Ti … dak. Aku … tidak bisa … bertahan lebih lama,” bisik Mo Yu dengan tersendat-sendat. Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Tolong … temani tuanku. Jangan pernah … tinggalkan dia ….”
Kedua mata Mo Yu mulai menutup. Napasnya yang terputus-putus akhirnya berhenti begitu saja.
Qing Yue’er nyaris tidak percaya melihat ini. Dia segera memeriksa denyut nadi Mo Yu dan semuanya sudah selesai. Pria itu benar-benar pergi.
Air mata yang ditahan-tahan akhirnya meloloskan diri dari kelopak mata. Qing Yue’er terdiam selama beberapa saat. Seharusnya orang yang mati adalah dia, tetapi Mo Yu dengan rela melompat menggantikannya.
Qing Yue’er merasa tidak enak, dia merasa bersalah, dia juga berterima kasih. Entah bagaimana dia harus mengutarakan terima kasihnya.
Dengan perlahan Qing Yue’er menumpuk kedua tangan Mo Yu di atas perut. Kemudian dia bergerak mundur beberapa lagkah.
Qing Yue’er membungkuk tiga kali pada jazad Mo Yu. Itu adalah penghormatan terakhirnya.
“Terima kasih. Kau sungguh pria yang baik. Aku mendoakanmu tiba di altar surga diiringi dengan kedamaian abadi,” ucap Qing Yue’er dengan lembut. Dia menyeka sudut matanya yang basah.
“Dan aku pastikan tidak akan pernah meninggalkan tuanmu.”
__ADS_1