
Formasi yang melindungi Pulau Langit benar-benar hancur hanya dengan satu serangan. Namun guncangan yang dihasilkan membuat orang-orang yang ada di sana harus terlempar jauh. Bahkan beberapa orang mengalami cedera internal yang cukup serius.
Xie Ying Fei sendiri terdorong dan hampir jatuh dari udara. Tangannya menggenggam kipas lipat yang masih terbuka lebar. Tatapannya penuh dengan keterkejutan setelah apa yang baru saja terjadi.
Sebelumnya dia tidak menggunakan banyak kekuatan saat menggunakan kipas itu. Namun ternyata kekuatan destruktifnya sangat luar biasa. Itu berada di level yang jauh berbeda dari senjata lainnya.
Sesaat kemudian Xie Ying Fei segera tersadar. Dia bergegas menyimpan benda itu dan menyembunyikannya dari orang-orang. Jika mereka mengenalinya mungkin itu akan menjadi masalah baru.
Ini adalah hal yang krusial. Selama ini dia tidak pernah berniat untuk menggunakan kipas itu. Bahkan ketika bertempur dengan klan Liu pun dia tidak menyentuhnya sama sekali.
Dia masih ingat pesan Qing Yexuan sebelum mereka berpisah. Pria itu melarangnya menggunakan kipas itu secara sembarangan. Bahkan sebisa mungkin dia harus menjaga benda itu agar tetap tersembunyi.
Namun, ini adalah situasi yang berbeda. Dia tidak tahu isi Pulau Langit misterius itu dan makhluk macam apa yang bernaung di dalamnya. Daripada terus menyembunyikan kipas itu, lebih baik dia menggunakannya untuk menemukan Qing Yue'er.
Tanpa menunggu lebih lama lagi akhirnya Xie Ying Fei bergerak melesat memasuki Pulau Langit. Dia mengabaikan kebingungan dan tanda tanya dari orang-orang di luar sana.
Di sisi lain Hua Yan merangkul Hua Tian yang memiliki kondisi buruk. Dia mendengus dan mengerutkan keningnya hingga beberapa kali.
“Ayah, apa kau tahu benda apa itu tadi? Kenapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas?” tanya Hua Tian dengan bingung.
“Kamu tidak bisa melihat itu?” Hua Yan menjadi heran. Kemudian dia mencoba mengamati orang lain. Ternyata mereka juga tidak bisa melihat dengan jelas benda apa yang digunakan oleh Xie Ying Fei.
__ADS_1
“Apa yang kamu lihat?” tanya Hua Yan.
“Itu benda putih yang bercahaya, detailnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Aku pikir mataku yang bermasalah, tapi orang lain sepertinya juga tidak bisa melihatnya.”
“Hmm.” Hua Yan mengerutkan keningnya lagi. Dia tahu benda apa yang digunakan Xie Ying Fei. Itu adalah sebuah kipas lipat. Kenapa orang lain tidak mengetahuinya sementara dia bisa melihatnya dengan jelas?
“Apa Ayah melihatnya?” tanya Hua Tian.
Hua Yan tidak menjawab pertanyaan itu. Pikirannya melayang pada saat ketika dia baru saja meninggalkan istana Tianjun. Saat di mana suara misterius mendatanginya dan mengajaknya untuk bekerja sama melawan klan Xie.
Suara itu berbicara tentang hal yang tidak bisa dia pahami. Namun, kemungkinan suara misterius itu mengetahui tentang kipas Xie Ying Fei. Sepertinya dia harus menanyakan hal ini padanya.
***
Dengan perlahan dia mengubah penampilannya menjadi seperti Mo Jingtian yang sebelumnya muncul di klan Xie. Kemudian dia pergi meninggalkan Qing Yue'er yang masih fokus dengan kultivasinya. Dimensi di dalam danau itu adalah tempat yang cukup aman jadi dia tidak perlu terlalu mencemaskan gadis itu.
Dalam sekejap Mo Jingtian muncul di perbukitan yang dihuni oleh peri jamur. Saat ini dia duduk tepat di antara mereka sambil memainkan salah satu peri jamur yang sangat kecil.
“Tebak, siapa yang akan datang?” tanya Mo Jingtian dengan wajah datarnya.
Peri jamur itu meringis, sementara itu peri jamur yang lain hanya bisa mengintip dari balik pohon jamur sambil menahan napas. Jamur-jamur itu memang menjadi rumah bagi mereka.
__ADS_1
“Ah, dia cukup mengesalkan,” gumam Mo Jingtian. “Aku tidak bisa kasar padanya, tapi aku juga tidak tahan jika membiarkannya terus bersikap seperti itu.”
“Me—mangnya siapa yang Tuan maksud?”
“Xie Ying Fei,” ucap Mo Jingtian. “Kau tahu siapa dia?”
“Xie Ying Fei? Bukankah itu nama istri Dewa Angin?”
Mo Jingtian mengangguk.
“Nyonya Xie datang ke sini?” tanya peri jamur lagi.
“Gadis yang sebelumnya itu adalah putrinya,” ucap Mo Jingtian.
“Kalau begitu ....”
“Ssst. Kalian pergilah. Beri sambutan yang cocok untuknya,” ucap Mo Jingtian, memotong ucapan si peri jamur.
“Ini adalah perintah Dewa Kehancuran!” lanjutnya dengan dingin.
“Baik!”
__ADS_1
Peri-peri jamur itu menjawab dengan serentak. Setelah itu mereka langsung bergerak ke depan dengan membentuk gerombolan berwarna merah.
Kepergian peri jamur menyisakan ruang yang senyap. Mo Jingtian masih belum bergerak dari tempatnya duduk. Saat ini dia memang harus mendisiplinkan Xie Ying Fei. Karena Dewa Angin tidak bisa mengajarinya maka dia akan melakukannya untuknya.